Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 111


__ADS_3

Pukul dua puluh tiga lebih tiga puluh menit, pengajian selesai setelah mencapai kata sepakat dalam diskusi. Para jamaah membubarkan diri secara teratur, di masing-masing tangan mereka membawa oleh-oleh makanan buatan para wanita siang tadi.


"Pah, cepat! Nanti keburu pergi orangnya," ucap Fathya tak sabar ingin membawa Fatih dan Seira menemui Asep. Berkali-kali kepalanya menoleh memastikan laki-laki tua itu masih berada di gazebo depan asrama.


"Iya, iya, sabar. Maaf, Pak Ustadz, anak saya ini nggak sabaran. Pengen ketemu seseorang," pamit Fatih tak enak pada Ustadz Hasan.


Ia tengah berbincang ringan bersama pemuka-pemuka agama, selanjutnya akan menyerahkan sumbangan yang telah disiapkan Fatih untuk anak-anak juga keperluan masjid.


"Nggak apa-apa, Pak. Silahkan!" Ustadz Hasan mempersilahkan mereka untuk pergi.


"Ini, saya titip untuk keperluan anak-anak juga masjid ini. Mohon diterima!" Fatih memberikan sebuah amplop kepada laki-laki berjubah putih itu.


"Alhamdulillah, jazaakallaah laka khoiron katsiir. Saya terima sedekah ini. Semoga rezeki Pak Fatih dan keluarga selalu mendapatkan berkah dari Allah."


"Aamiin!" Fatih menyalami mereka semua, kemudian berlalu dengan sopan. Menghampiri Asep yang baru saja beranjak dari gazebo.


"Pak! Tunggu!" panggil Fathya menghentikan langkah Asep.


Laki-laki itu celingukan mencari orang lain, tapi tak ada siapapun jua di sana selain dirinya.


"Saya?" Asep menunjuk dadanya sendiri memastikan bahwa dialah yang dimaksud gadis itu.


"Iya, Pak. Tunggu sebentar!" Fathya menarik tangan Fatih dan Seira, mendekati sosok Asep yang mematung dengan bingung.


"Ada apa, Neng?" tanya Asep masih terlihat bingung.


Fathya tersenyum, tak segan menyalami Asep diikuti Rayan. Fatih dan Seira turut bersalaman dengan laki-laki itu.


"Bapak masih ingat kami nggak?" tanya Fathya tersenyum semakin lebar.


Dahi Asep berkerut, memicing pada kedua anak muda yang menatapnya penuh harap. Berharap dia akan mengenali mereka.


"Siapa, ya? Saya nggak inget," ujar Asep menggelengkan kepala pelan.


Fatih dan Seira saling memandang menunggu kedua anak itu menunjukkan bahwa mereka mengenal paman Naina. Fathya meringis, menoleh kepada Fatih yang terkekeh menatapnya.

__ADS_1


"Kami yang dulu nganter kak Naina ke rumah Bapak. Masih inget?" Fathya memelas kepada Asep berharap laki-laki tua itu akan mengingat dia dan juga Rayan.


"Oh, ya, ya! Saya inget, kalian ini yang mengantarkan Naina ke rumah saya. Maa syaa Allah! Nggak nyangka kita ketemu di sini. Mau ketemu Naina?" ujar Asep tersenyum saat mengingat siapa dua anak muda di hadapannya.


"Bener, Pak, itu aku sama Kakak. Ini Papah sama Mamah aku, Pak. Kami kebetulan aja ikut pengajian di sini sekalian mau ketemu kak Naina," ucap Fathya.


"Saya nggak nyangka ternyata Naina ada di kota ini." Fatih mendekat mengulurkan tangan hendak berjabat ulang dengan Asep.


"Saya Fatih, dan ini istri saya Seira." Fatih memperkenalkan diri setelah Asep menyambut uluran tangannya.


"Asep." Laki-laki tua itu tertegun, mengingat-ingat nama yang disebutkan Fatih tadi. "Kayaknya saya pernah denger nama istri Bapak ... oh, maa syaa Allah! Iya, Naina sering bercerita tentang perempuan yang bernama Sei. Apa itu istri Bapak?" Asep berbinar ketika berhasil menemukan ingatannya.


Fatih dan Seira tersenyum, menatap berbinar pada kedua anak mereka.


"Benar, Pak. Itu saya. Gimana kabar Nai? Dan bisa kami menjenguknya? Saya kangen anak sulung saya itu, Pak," ucap Seira membuat Asep sedikit bingung.


Namun, kemudian ia mengangguk mengingat cerita Naina tentang seorang wanita baik yang menganggapnya seperti anak sendiri.


"Alhamdulillah, Naina baik-baik saja. Dia sekarang tinggal sama orang tuanya. Kami juga tinggal di sana," jawab Asep memberitahu mereka.


"Itu ... papah Naina. Dia dan istrinya membawa Naina tinggal di rumah mereka. Kalo Bapak dan keluarga mau ketemu sama dia, mari ikut sama saya. Kebetulan papah Naina juga ada di sini." Asep menjawab kebingungan mereka.


Seira mendesah mengerti, mungkin laki-laki yang telah menghamili Lita dulu yang dimaksud ayah Naina. Tanpa banyak bertanya, mereka sangat berharap dipertemukan dengan laki-laki yang dimaksud.


Di kejauhan, Adrian baru saja keluar masjid. Menatap Asep yang berbincang dengan sekelompok orang di teras masjid. Ia menghampiri berniat mengajak pulang paman Naina itu.


Namun, alis Adrian terangkat saat mengenali sebuah suara. Ia menerka, mencari-cari satu nama pemilik suara berat itu. Senyum Adrian berkembang begitu menemukan ingatannya.


"Pak Fatih!" panggilnya cukup percaya diri.


Fatih dan Seira sama-sama menoleh, Asep tertegun. Mulutnya terbuka hendak memberitahu mereka, tapi urung ketika Fatih menyambut seruan Adrian.


"Pak Adrian! Maa syaa Allah! Nggak nyangka kita bisa ketemu di sini." Fatih menghampiri, berjabat tangan dengan papah Naina. Mereka saling memeluk selayaknya teman lama yang bertemu kembali.


Asep meneguk ludah, sungguh dunia itu sempit. Niat hati ingin mengenalkan mereka kepada Adrian, tapi ternyata mereka sudah saling mengenal.

__ADS_1


"Gimana kabarnya, Pak? Ternyata datang rame-rame ke sini?" tanya Adrian menatap ketiga orang lainnya yang memandang mereka.


"Iya, Pak. Alhamdulillah. Ini istri saya, dan ini kedua anak saya. Pak Adrian sering datang ke pengajian di sini? Kenapa kita nggak pernah ketemu, ya?" Fatih terlihat bingung, pasalnya sudah tiga kali ia mengikuti pengajian rutin di masjid Alfin tersebut.


Adrian terkekeh, ini adalah pertama kalinya laki-laki itu mengikuti kegiatan keagamaan. Sebelumnya, Adrian tak pernah tertarik pada acara-acara seperti pengajian dan lain sebagainya. Setelah mengenal Naina dan melihat seperti apa kehidupan anaknya itu, hati Adrian tertarik untuk menemukan jalannya.


"Ini pertama kali saya mengikuti pengajian, Pak. Sebelumnya saya nggak pernah ikut acara-acara kayak gini. Jujur aja, dulu itu saya malas sama ibadah, tapi setelah ketemu anak saya. Nggak tahu kenapa, hati saya jadi tertarik," jawab Adrian dengan jujur.


Fatih menghela napas, betapa mengerti akan keadaan Adrian. Sama seperti dirinya sebelum bertemu dengan Seira. Ia melirik sang istri yang diapit kedua anaknya.


"Ah, mampir ke rumah saya, Pak. Menginap aja sekalian. Ini udah larut, nggak mungkin balik ke Jakarta," tawar Adrian berharap Fatih akan menerimanya.


"Duh, sebenarnya saya mau, Pak, tapi saya harus ke tempat lain. Anak-anak kangen sama kakak mereka. Mungkin lain kali, nggak apa-apa, 'kan?" tolak Fatih penuh sesal.


Asep terkekeh merasa lucu dengan takdir yang digariskan untuk mereka. Keduanya mengenal Naina, tapi belum menemukan jalan.


"Ya, mau gimana lagi? Saya juga nggak bisa maksa, Pak. Ya sudah, kalo gitu saya duluan," ucap Adrian kembali memeluk Fatih.


Asep tersentak, dia memang tengah menunggu Adrian untuk pulang bersama.


"Tunggu, Pak. Kenapa harus lain waktu, malam ini aja karena yang Bapak cari ada di sini. Pak Adrian ini adalah papahnya Naina," sergah Asep membuat keempat orang itu menahan napas seketika.


Fatih dan keluarganya membelalak menatap Adrian, sedangkan laki-laki itu berkerut dahi bingung.


"Ada apa? Apa kalian mencari anak saya?" tanya Adrian menilik satu per satu wajah-wajah kaku di depannya.


"Jadi, Naina ...." Suara Seira tercekat di tenggorokan, sungguh tak menduga jalan mereka bertemu Naina dimudahkan oleh Allah.


"Ya, apa kalian kenal Naina?" Adrian semakin bingung.


"Dia Kakak kami, Pak. Jadi, kami boleh ikut ke rumah Bapak? Aku kangen kak Nai." Fathya menyahut sedikit lantang, melangkah ke hadapan Adrian.


Kali ini, Adrian yang kebingungan. Untuk selanjutnya mereka tertawa, menertawakan diri mereka sendiri.


"Ya Allah! Aku benar-benar nggak nyangka. Mari! Kita pulang sekarang. Ayo, Mang!" Adrian merangkul Fatih, wajah-wajah mereka berseri.

__ADS_1


Kedua mobil beriringan di jalan raya menuju kediaman Adrian.


__ADS_2