Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 153


__ADS_3

Seminggu berlalu, perlombaan mewarnai yang diadakan di sebuah mal cukup terkenal di kota itu pun digelar. Semua perwakilan sudah menempati posisi masing-masing. Duduk berhadapan dengan meja belajar juga alat pertempuran mereka.


Tak hanya Halwa, tapi Kakak-kakaknya yang setingkat sekolah dasar pun ikut dalam perlombaan tersebut. Naina menemani si Bungsu, Halwa, dan Alfin menemani kedua kakaknya.


"Ibu, gimana kalo Halwa nggak menang?" tanya Halwa mulai merasa gugup melihat banyaknya orang di dalam gedung tersebut.


"Nggak apa-apa, sayang. Halwa udah berani tampil aja udah jadi pemenang. Nggak usah mikirin soal menang dan kalah, yang penting Halwa konsentrasi dulu keluarkan semua imajinasi yang ada di pikiran Halwa. Tenang, yakin aja kalo Halwa pasti bisa." Naina mengepalkan tangannya ke atas, menyemangati Halwa.


Ia tak berharap Halwa akan menjadi juaranya karena keberanian untuk tampil adalah pokok utama.


"Siap! Makasih, Ibu." Halwa memeluk Naina, kembali bersemangat karena mendapat dukungan luar biasa dari wanita itu.


"Pokoknya kamu nggak boleh kalah dari dia. Kalo pun nggak jadi juara, tapi gambar kamu harus lebih bagus dari dia. Kamu ngerti? Papah kamu itu manager di mal ini, jadi udah pasti papah bisa bantu kamu buat menang," ujar wanita angkuh yang tempo hari mengejek Naina.


Ia melirik Halwa, mencibir Naina ketika pandang mereka bertemu. Melengos sambil memandang rendah pada mereka berdua.


"Baiklah, perlombaan hari ini akan dibuka langsung oleh pemilik acara sekaligus mal ini. Kepada yang terhormat Bapak Adrian Hutomo Wijaya beserta istri, dipersilahkan untuk naik ke atas panggung," panggil MC dengan suara lantang dan tegas.


Mendengar nama Adrian, Naina mendongak. Apakah itu ayahnya, ataukah orang lain yang memiliki nama yang sama. Kedua matanya membelalak ketika Adrian dan Habsoh menaiki panggung acara.


"Papah?"


"Kakek? Ibu, itu Kakek! Itu Kakek!" pekik Halwa berbarengan dengan anak-anak Alfin yang lainnya.


Wanita yang mengejek Naina melirik, mendengus karena Naina yang dianggap mengada-ada olehnya.


"KAKEK!" teriak Halwa cukup lantang dan tak dapat dicegah oleh Naina.


Adrian mendengar suara kecil itu, keduanya melambai saat melihat Halwa yang melompat-lompat sambil mengangkat tangannya.


"Dengan membaca basmallah, bismillahirrahmanirrahim, perlombaan hari ini dimulai!"


Gong ditabuh, pertanda lomba dimulai. Semua peserta duduk rapi, dan bersiap menerima lembar gambar yang harus mereka kerjakan.


"Sayang!" panggil Habsoh yang sengaja menghampiri Naina.

__ADS_1


"Mamah!" Naina menyalami wanita itu, dan memeluknya.


"Nenek!" Diikuti Halwa dengan riang.


"Wah, cucu Nenek ikut lomba? Pintar sekali!"


Wanita yang mengejek Naina meringis, berpaling muka dan menelan ludahnya sendiri. Siapalah dia bila di hadapan Habsoh? Hanya istri seorang bawahan yang berani menghina anak atasan suaminya.


****


"Kalian senang?" tanya Adrian saat mereka berkumpul di sebuah meja makan usai perlombaan selesai.


"Ya, Kakek, tapi nggak menang," seru mereka tak terlihat sedih sama sekali.


"Nggak apa-apa. Mungkin kali ini nggak, tapi kita nggak tahu lain kali. Maka jangan pernah berhenti untuk mencoba," tutur Habsoh menasihati mereka.


"Siap!" Mereka menjawab dengan serempak.


"Jadi, mal ini punya Papah?" tanya Naina karena mereka sering mengajak semua anak-anak untuk bermain di dalamnya.


Matanya yang sendu melirik Habsoh, mencari ketidakrelaan di kedua manik itu. Akan tetapi, tak ia temukan. Senyum dan tatapan mata wanita itu menyiratkan ketulusan hatinya.


"Makasih, Pah, Mah. Nai nggak tahu gimana cara membalas semuanya. Kalian sangat baik," ujar Naina sembari mengusap air matanya.


Habsoh memeluk wanita itu, menyalurkan kasih sayangnya sebagai seorang ibu.


"Kapan kita akan ke Jakarta?" tanya Alfin teringat rencananya untuk mengunjungi makam Lita.


"Kalo besok aja gimana?" usul Naina setelah melepaskan pelukan.


"Mmm ... boleh. Berarti nanti malam siap-siap, pagi-pagi kita berangkat." Adrian menyetujui.


"Ibu, kita ngapain ke Jakarta?" tanya Halwa mengingatkan Naina tentang tawaran Biya untuk Salma.


"Ya, kita akan berziarah, sayang." Singkat saja, ia melirik Alfin ingin membahas tentang sekolah Salma dan tawaran dari Biya. Mungkin malam nanti, saat mereka sedang beristirahat.

__ADS_1


****


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!" sambut Naina sepulangnya Alfin dari masjid.


Wanita itu membukakan pintu, menyalami suaminya dengan takzim. Alfin duduk di sofa depan. Naina datang membawakan secangkir kopi untuk suaminya.


"Minum dulu, Mas. Aku pijit, ya," ucap Naina.


Alfin berbalik membelakangi, menunjuk kedua bahunya untuk dipijat.


"Mas, aku mau ngomong soal Salma," ucap Naina memulai pembahasan.


"Ya, kenapa sama Salma?" tanya Alfin sambil menikmati pijatan istrinya yang mengendurkan otot-otot.


"Mas, 'kan, tahu kalo tante Biya itu punya butik. Beliau juga designer, kemaren bilang sama aku kalo tante Biya tertarik sama design Salma. Dia mau memamerkan hasil rancangan anak kita di fashion show yang selalu rutin diadakan tante. Menurut Mas gimana?" Naina melingkarkan tangan di perut Alfin, sengaja menjatuhkan kepala di bahu suaminya.


"Hhmm ... terus sekolahnya gimana?" tanya Alfin melirik istrinya.


Naina hendak menjauh, tapi ditahan olehnya.


"Kemarin kata tante, di Jakarta ada sekolah khusus yang mendukung bakat Salma. Selama di sana, Salma akan tinggal sama tante Biya. Dia juga mau membiayai sekolahnya. Gimana, Mas?" ucap Naina.


Alfin berbalik, merengkuh tubuh sang istri dan mendekapnya. Mencium ubun-ubun Naina sambil memikirkan tawaran itu. Hati Alfin berat berpisah dengan anaknya, meskipun Salma sudah besar dan mandiri, di mata Alfin dia tetap seorang anak kecil yang kemarin diasuhnya.


"Kalo Salma emang mau, nggak masalah, tapi masalah biaya biar Mas yang menanggungnya karena Salma tanggung jawab Mas," ujar Alfin meski dengan berat hati.


"Nanti kita bicarakan sama dia. Apapun cita-cita dan harapan mereka, kita harus mendukungnya." Naina mendongak, ia tahu suaminya itu berat berpisah dengan salah satu dari mereka.


Namun, Alfin tetap mengangguk, menyetujui ucapan Naina. Ia menjatuhkan kepala di pangkuan sang istri, sengaja menghadapkan wajah di perut wanita itu. Menciuminya di sana, berdoa sambil mengusap permukaan perut tersebut. Ditiupnya dengan pelan, dan mendekapnya penuh cinta.


Ya Allah, semoga apa yang dilangitkan suamiku Engkau kabul dengan segera. Aamiin.


Keduanya beranjak, mempersiapkan keperluan untuk pergi ke Jakarta besok pagi. Aktivitas yang sama, yang rutin mereka lakukan setelah pernikahan tak pernah tertinggal. Berharap Allah akan segera menitipkan buah hati pada rahim sang istri.

__ADS_1


Malam itu, Alfin tak dapat memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi tentang Salma dan cita-citanya. Dia khawatir gadis remaja itu akan terbawa arus pergaulan kota besar. Seperti dirinya dikala masa muda dulu, selalu ingin mencoba hal-hal baru yang belum pernah dia temui. Semoga saja Salma dilindungi Allah dan selamat dari hal-hal buruk apapun. Aamiin.


__ADS_2