
Adrian tertegun setelah mendengar cerita Naina tentang bawahannya yang begitu terobsesi terhadap gadis itu. Diam dan larut di alam pikirannya sendiri. Mungkin itulah yang dia cari, sebab kenapa Naina keluar dari pekerjaan.
"Jadi, dia yang udah bikin kamu nggak betah kerja di sana?" tanya Adrian menatap tajam Naina.
Gadis itu mengangguk pelan, memang sebaiknya berterus-terang daripada ada korban lagi karena obsesi dari laki-laki itu. Adrian menghela napas, merapatkan rahang menekan rasa yang bergejolak.
"Sebenarnya Papah emang lagi cari tahu kenapa kamu keluar dari toko? Papah juga sedang menyelidiki Anton terkait tanggung jawabnya sebagai manager. Papah perhatikan dia lebih sering keluar dari pada duduk di ruangannya memantau keadaan toko," ungkap Adrian sejujurnya.
Sungguh tak dinyana, orang yang dia percaya justru yang mengkhianatinya.
"Jadi, Papah ... Apa Alfin bisa bebas? Aku nggak mau dia penjara. Alfin nggak salah, Pah." Naina menatap sang ayah, matanya memancarkan cahaya harapan sepenuhnya.
Alfin tersenyum melihat raut cemas di wajah sang kekasih. Dia tulus, apa adanya.
"Papah nggak tahu, sayang. Semoga saja bisa, dan walaupun nggak bebas setidaknya bisa meringankan hukuman Alfin," sahut Adrian mengalihkan tatapan dari anaknya pada pemuda itu.
Alfin menunduk sembari menahan senyum, hatinya tergelitik membayangkan jika ia keluar maka, mereka akan segera menikah.
"Aku nggak apa-apa, Nai. Semua ini harus aku jalanin sebagai balasan atas apa yang aku lakukan," ucap Alfin terdengar ringan, dan tanpa beban.
Naina mematri pandangan pada kedua manik teduh itu, kepalanya menggeleng pelan menolak ucapan alfin.
"Kamu nggak salah, kamu nggak sengaja ngelakuin itu. Seandainya ada bukti yang menguatkan kesaksian aku ... kamu nggak harus ada di sini, Alfin. Nggak!" Mata Naina terasa panas, timbul bulir bening menggenang di kedua sudutnya.
Alfin tak tega jika harus melihatnya menangis lagi, ia menggeleng meminta Naina untuk tidak menjatuhkan air mata.
"Iya, mudah-mudahan kesaksian kamu cukup meyakinkan pihak penyidik untuk menuntaskan kasus ini," ucap Alfin pasrah.
Naina mengangguk sambil tersenyum, dalam hati berharap hal yang sama.
"Bukti, ya. Coba kalian lihat ini, mungkin ada kaitannya dengan apa yang terjadi sama kalian," ucap Adrian seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Ia memutar video rekaman yang diambilnya di parkiran rumah sakit. Memperlihatkannya kepada Alfin dan Naina juga polisi muda yang berdiri di sana mengawasi.
"Dia perempuan yang aku temui semalam," ujar polisi tersebut menunjuk wanita di dalam video.
__ADS_1
"Laki-laki ini mantan atasan aku," tunjuk Naina memberitahu Bas.
"Dia juga yang pernah memerintah orang untuk membunuh aku," lirih Alfin tanpa sadar.
"APA?!" pekik Naina berbarengan dengan polisi muda itu.
Alfin mengangkat wajah kikuk, tak menduga kalimat yang ia ucapkan dalam hati akan tergerak bersama lisan. Alfin salah tingkah, memutuskan pandangan dari tatapan kedua orang itu.
"Coba lihat dan dengar, kayaknya memang kedua orang ini dalang kejadian di malam itu," ucap Alfin mengalihkan perhatian.
Naina dan Bas segera menajamkan indera pendengaran mereka, melihat dengan saksama setiap detik yang diputar dalam video tersebut.
"Apa yang mereka bicarakan itu terkait masalah yang menimpa kamu, sayang?" tanya Adrian sudah menduga dari awal.
"Iya, Pah. Yang mereka bicarakan itu Alfin. Aku nggak nyangka mereka tega melakukan itu. Manusia-manusia nggak berhati," ujar Naina geram.
Hatinya bergejolak perih, mendapati kenyataan bahwa kedua orang yang ia segani tega merencanakan kebusukan untuk menghancurkan kehidupannya.
"Makanya Papah nggak kasih kamu izin keluar sendirian. Mendengar cerita bibi, Papah langsung menyelidiki kejadian itu. Dan yang Papah temukan, Anton lah otak rencana busuk itu," ucap Adrian mengepalkan tangannya di atas meja dengan geram.
"Maafin Nai, Pah, karena Nai masih belum bisa mempercayai Papah. Padahal Papah udah baik sama Nai," lirih Naina menyesal.
Laki-laki itu tersenyum memaklumi sikap anaknya.
"Nggak apa-apa, sayang. Papah ngerti." Keduanya terlibat perasaan, diperhatikan Alfin yang diam-diam tersenyum.
Sementara Bas, memfokuskan pandangan pada video yang masih diputar.
"Maaf, Pak. Anda bisa memberikan bukti video ini kepada tim penyidik. Saya yakin ini bukti yang kuat untuk menjerat otak perencana kejahatan itu," ujar polisi muda tersebut yang disetujui oleh Naina dan Alfin.
Adrian menyerahkan bukti tersebut kepada Bas dengan senang hati. Semua yang membuat Naina bahagia, akan dilakukannya. Dalam hati mengancam Anton yang telah berbuat jahat kepada putrinya.
Ia memperhatikan Naina dan Alfin yang saling melempar senyum. Teringat akan kisah cintanya bersama Lita yang terasa bahagia meski hanya sebuah rahasia.
Kamu mirip sekali sama ibu kamu, Nai. Baik dan polos, tapi Papah menjadikannya perempuan liar. Papah menyesal. Maafin aku, Lita.
__ADS_1
Batin Adrian bergumam, ingatan kebersamaannya dengan Lita kembali menguap ke permukaan.
****
Tanpa sengaja keduanya bertemu di persimpangan jalan. Lita dengan pakaian yang sederhana tampak cantik apa adanya. Sosoknya yang polos menarik perhatian Adrian yang ketika itu berjauhan dengan sang istri.
Di kota tempatnya bekerja, terjadilah hubungan terlarang itu. Berkali-kali Lita meminta Adrian untuk menikahinya, tapi laki-laki itu tetap berkilah. Lita bahkan merelakan kehormatannya pada laki-lak tersebut. Sebagai bukti kesungguhan terhadap cinta yang ia berikan.
"Aku hamil, Mas. Kamu kapan mau nikahin aku? Kamu bilang mau nikahin aku secepatnya," rengek Lita usai menuntaskan hubungan terlarangnya bersama Adrian. Mereka sering melakukannya di hotel yang disewa laki-laki itu.
"Kamu sabar, ya. Aku akan bicarakan dulu sama keluargaku," rayu Adrian.
Dia beranjak dan masuk ke kamar mandi, berselang ponselnya berdering. Istriku, adalah nama si Penelpon.
Lita geram, Adrian mengaku belum menikah. Nyatanya, sudah beristri dan dia sedang mengandung anak mereka. Maka, terjadilah pertengkaran hebat yang membuat Lita pergi meninggalkan desa menuju kota Jakarta. Lalu, bertemu dengan Seira dan berakhir menjadi selingkuhan suaminya, Zafran.
****
Adrian mengusap wajah, mengurut dada, menyesali semua yang terjadi. Beristighfar dalam hati tiada henti. Memohon ampunan dari sang Pemilik Kehidupan.
"Pah!" Teguran Naina menyentak tubuhnya dari lamunan.
"Ya." Adrian mengangkat wajah, menatap anak Lita dengan sendu.
"Papah kenapa? Mamah di mana?" tanya Naina karena ia tak melihat wanita itu ada bersamanya.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Mamah masih di rumah sakit. Sebaiknya kita cepat, kasihan mamah sendirian." Adrian dengan cepat beranjak diikuti Naina yang juga berdiri.
"Alfin, kami pergi dulu, ya. Mudah-mudahan semuanya dimudahkan Allah, serta mendapat ridho dari-NYA. Aamiin."
"Aamiin. Makasih, Nai, makasih, Pak. Kalian sudah membantu aku," ucap Alfin sambil berdiri dan tersenyum pada keduanya.
Mereka harus rela berpisah lagi, dan Alfin harus lebih bersabar menunggu keputusan. Semoga dia dapat bebas, atau diringankan hukuman tidaklah masalah.
"Alhamdulillah, ya Allah."
__ADS_1