
Naina duduk menunduk di samping kakak Alfin, memainkan ujung kerudung demi menekan rasa canggung yang mengungkung hatinya. Sesekali akan menggigit bibir, melirik wanita muslimah di sisi yang tengah membolak-balik sebuah buku.
"Mmm ... maaf, Mbak. Kita mau ke mana?" tanya Naina sedikit saja melirik, selebihnya terlalu malu untuk mengangkat wajah.
Kakak Alfin itu terkekeh mendengar suara Naina yang bergetar. Ia menutup buku, disusul helaan nafasnya yang panjang. Menoleh pada Naina, yang dengan cepat mengalihkan wajah darinya.
"Kamu panggil aku apa? Jangan canggung kayak gitu. Panggil aja kakak. Kalo kamu nikah sama Alfin sama juga nanti, 'kan, panggil kakak juga," ujarnya.
Naina tersenyum ragu, mengangguk pelan tanpa berani bersitatap dengan wanita di sisinya.
"Coba panggil sekali lagi? Kakak mau dengar," pintanya sembari menatap Naina dengan intens.
"Mmm ... Ka-Kakak!" Lirih dan bergetar, Naina mengucapkan sebutan itu.
Lagi-lagi wanita itu terkekeh, dia supel dan baik, bahkan terhadap Naina sekalipun yang sebagian orang tidak dapat menerima hadirnya.
"Mmm ... Kakak mau ajak kamu ke suatu tempat. Kakak boleh tanya sesuatu?" Ia memiringkan kepala demi dapat melihat wajah Naina dengan jelas.
"Boleh, Kak. Tanya aja," jawabnya dengan jantung yang berdegup kuat.
"Mmm ... kamu tahu, 'kan, Alfin itu cuma marbot di masjid. Dia nggak ada kerja kayak laki-laki lainnya. Apa kamu bisa terima keadaannya yang setiap hari kerjanya cuma kumpul sama anak-anak. Duduk di masjid sama mereka, bersih-bersih masjid kayak gitu? Secara hidup sekarang semuanya serba uang."
Ia menatap dalam sosok Naina yang masih terdiam belum menyahut. Mungkin ia sedang menyiapkan hati menyusun kata yang tepat untuk diucapkan.
"Aku tahu itu, Kak. Cuma satu yang jadi keinginan aku di dunia ini. Yaitu, dapat diterima dengan baik dan nggak direndahkan. Selebihnya, nggak ada dalam pikiran aku. Apalagi masalah dunia, kebanyakan dari mereka cuma bisanya ngerendahin orang lain. Aku udah ngalamin itu semua, Kak." Naina semakin dalam menunduk.
Khadijah meneguk ludah, seketika menjadi gugup mendengar isi hati Naina soal sebuah kekayaan. Bagaimana jika dia tahu, apa yang dimiliki Alfin.
"Tapi nggak semua orang berada memandang rendah orang lain. Ada juga dari mereka yang lebih memilih hidup sederhana dan menyembunyikan kekayaannya. Jangan hanya karena satu dua orang, lantas semua terkena imbasnya," tutur Khadijah meluruskan pemikiran Naina.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum kecut, dalam hati membenarkan ucapan kakak Alfin itu.
"Kakak benar. Aku udah jumpa salah satunya. Wanita tangguh dan kuat, yang hidupnya dulu dihancurkan oleh wanita lain. Dia bahkan nggak menyimpan dendam terhadap orang tersebut. Hidupnya bergelimang kemewahan, tapi dia lebih memilih hidup sederhana bersama keluarga kecilnya," ungkap Naina teringat pada Seira.
Bayangan wajah Seira yang tersenyum, membuat hatinya menghangat.
"Kakak tahu, kerudung ini hadiah darinya. Udah lama, tapi baru aku pakai." Naina menunjukkan kerudung yang dikenakannya.
Khadijah manggut-manggut sambil tersenyum. Dalam hati ingin mencari tahu seperti apa kehidupan Naina saat dulu hingga dia memiliki trauma terhadap beberapa hal.
"Nah, itu kamu udah liat sendiri. Jadi, nggak semuanya buruk, 'kan?" tanya Khadijah menegaskan.
Naina mengangguk setuju, tersenyum lebih tenang. Rasa canggung perlahan menguap karena sikap ramah kakak Alfin itu.
"Kakak juga dulu gitu. Beberapa laki-laki yang Kakak suka waktu remaja dulu, selalu menghina Kakak karena penampilan Kakak yang kata mereka kuno, kolot, sok agamis, nggak modis, jadul, atau apalah itu. Kakak pesimis mungkin sama kayak kamu, trauma. Terus Kakak ketemu ayahnya anak-anak." Khadijah menghela napas, membayangkan pertemuannya dengan sang suami.
"Dia laki-laki sederhana yang kerjanya di ladang, menggembala kambing dan kerbau, juga bebek. Kakak jatuh cinta karena kesederhanaannya, kemudian meminta kedua orang tua Kakak untuk berbicara dengan orang tuanya. Maka, sekarang Kakak lagi hamil anak ketiga." Ia mengusap perutnya yang belum membesar.
"Makasih, ya, Kak. Kakak bisa terima aku apa adanya." Naina memberanikan diri menyentuh tangan lembut itu meskipun harus menekan rasa gugup.
"Mmm ... kamu salah faham. Ya, sebenernya Kakak udah nerima kamu, tapi ada satu hal yang harus diperbaiki kalo emang kamu mau istiqamah memakai kerudung," ucapnya membuat dahi Naina berkerut.
"Apa itu?" tanya Naina ingin tahu.
"Kamu beneran mau istiqamah pake kerudung?" Khadijah memastikan.
"Insya Allah, Kak. Aku ingin menyempurnakan penampilanku, aku takut memberatkan ibu di akhirat," ucap Naina sembari terus meyakinkan hati untuk memantapkan keputusannya.
Khadijah manggut-manggut mengerti, ia menelisik kerudung yang dikenakan Naina. Hal tersebut mengundang reaksi Naina yang spontan menatap dirinya sendiri.
__ADS_1
"Siapa yang pakein kerudungnya? Kamu sendiri?" tanya Khadijah setelah menilai cara Naina memakai kerudung.
Gadis itu menggelengkan kepala, seraya menjawab, "Bibi. Aku nggak bisa pake kerudung, ini bibi yang pakein."
Kepala Khadijah kembali mengangguk, ia menatap sanggul yang menyembul di tengah kepala Naina nyaris di puncak. Terlihat seperti punuk unta.
"Maaf, ya!" katanya sambil menyentuh sanggul itu.
"Ini rambut atau cuma ikat rambut aja?" tanyanya sembari meraba-raba benda tersebut.
"Ini rambut, Kak." Naina menunduk membiarkan wanita itu menyentuh sanggul yang dibuatkan Bibi.
"Nanti kalo udah sampe Kakak kasih tahu pake kerudung yang bener, ya," katanya diangguki Naina dengan segera.
Mereka kembali terdiam untuk beberapa saat, larut dalam pikiran masing-masing terutama Naina. Ia diam-diam menilik tampilan wanita di sampingnya, memperhatikan caranya memakai kerudung. Tidak ada yang beda, hanya saja kerudung yang dia kenakan lebih besar dan menutupi bagian depan tubuhnya dengan sempurna.
Naina kembali ke atas, mencari hal lain yang berbeda. Ia mengerti, di kepala kakak Alfin itu tidak ada sanggul seperti yang ada di kepalanya. Mungkin itu masalahnya.
"Kak. Maaf, Kakak berapa bersaudara?" tanya Naina mulai menguak sosok Alfin.
"Mmm ... tiga. Kakak yang pertama, kedua adik Kakak yang laki-laki, Busyro namanya. Dia udah nikah dan udah punya anak. Yang ketiga Alfin, adik Kakak yang paling nakal."
Naina tersenyum ketika dia terkekeh sambil menutup mulutnya.
"Makasih, ya. Kamu udah terima Alfin apa adanya. Yah, Kakak lihat kamu tulus mencintai pemuda nakal itu walaupun tahu dia nggak kerja. Cuma marbot masjid, yang kalo ada yang kasih, baru punya uang. Kakak sangat berterimakasih sama kamu," ungkap Khadijah tidak menguak siapa sebenarnya Alfin.
Naina menunduk, tersipu malu sendiri. Dia yang bersyukur karena Alfin mau menerimanya.
"Justru aku yang harusnya ngucapin terima kasih sama Kakak juga Alfin karena udah nerima aku dan asal-usulku yang mungkin di mata orang lain itu sangat buruk, tapi Kakak ... aku bahkan merasa tenang dan damai saat berbicara dengan Kakak," ungkap Naina dengan mata yang berkaca penuh haru.
__ADS_1
Khadijah mengusap wajahnya, menggelengkan kepala. Kemudian memeluk Naina.