
Hati Naina bergetar melihat pemuda yang rela berkorban nyawa demi menyelamatkan kehormatannya itu, tertunduk dengan kedua bahu yang melorot.
"Alfin!" Lirih dan bergetar lisannya memanggil nama pemuda itu.
Alfin terhenyak, matanya terbuka lebar. Indera pendengaran dipertajam mendengar alunan nada yang begitu ia rindukan. Kepalanya dengan cepat menoleh, luruh air mata menghujani pipi.
Bibirnya berkedut-kedut menyebut nama gadis di hadapan. Hatinya ikut bergetar, berbunga tak terkira.
"Naina!"
Gadis itu melangkah, kedua maniknya yang basah mematri pada manik Alfin yang berembun. Sungguh hal yang tak terduga, Naina memeluknya erat sambil terisak-isak.
Bas menatap kedua orang itu, hatinya merasa sedikit lega. Alfin terkejut, tertegun tanpa tahu harus melakukan apa. Ia mengangkat pandangan, menatap Bas yang tersenyum sebelum menutup pintu.
Alfin diam membiarkan Naina menumpahkan tangisan dalam pelukan. Ia mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak membalas pelukan tersebut.
"Maaf. Maafin aku. Aku nggak tahu kamu ada di penjara. Semua ini karena aku," lirih Naina bergetar menusuk telinga Alfin.
Pemuda itu memejamkan mata, kepalan tangannya menguat masih menahan diri dari rasa yang menggebu.
"Seandainya malam itu aku menolak tugas dari umi, semuanya nggak akan terjadi. Kamu nggak akan pernah ada di sini. Sungguh tega orang yang sudah melaporkan kamu. Aku minta maaf, aku minta maaf." Tangisan Naina semakin menjadi, membuat hati Alfin tak kuasa menahan gejolak.
Ia mengangkat tangan, membalas pelukan gadis itu. Hanyut dalam rasa rindu yang sudah menggebu sejak mereka berpisah.
"Maaf." Naina masih menyalahkan dirinya sendiri, menganggap semua yang terjadi adalah karenanya.
"Jangan meminta maaf. Bukan salah kamu, semua ini bukan salah kamu. Aku yang harusnya minta maaf sama kamu karena pergi tanpa pamit. Maafkan aku, Naina. Maaf." Alfin mengeratkan pelukan, memejamkan mata merasai gejolak yang semakin membuncah.
Air matanya ikut mengalir membasahi hijab Naina. Mereka hanyut dalam pertemuan setelah beberapa hari berpisah. Menyadari ada yang salah, Alfin membuka mata dan melepas pelukan. Perlahan mundur sambil mengusap wajahnya.
"Maaf," lirih Naina sambil menunduk dan mengusap kedua matanya.
__ADS_1
Alfin tersenyum, mengusap tengkuk salah tingkah.
"Nggak apa-apa. Makasih karena kamu mau datang ke sini, aku jadi bisa minta maaf sama kamu," ungkap Alfin dengan wajah yang bersemu merah.
Naina tersipu, menggigit bibir menahan gugup. Ia sempat berburuk sangka dan hampir meninggalkan Bas karena kesalahpahaman. Beruntung, telinganya mau mendengar perkataan polisi muda itu.
"Aku kira kamu mau ninggalin aku sama kayak laki-laki lainnya. Perlu kamu tahu, Alfin. Aku bahkan sudah menyiapkan hati kalo itu sampai terjadi." Naina tersenyum, menertawakan dirinya sendiri yang kekanakan.
Alfin menggigit bibir, jemarinya *******-***** udara gatal ingin menggenggam tangan itu. Namun, kalimat istighfar dalam hati yang terus berdenging, menyadarkan Alfin untuk tetap menjaga batasannya.
"Duduk, Nai." Ia duduk, menatap gadis di hadapannya sambil tersenyum.
Naina mengangguk, duduk sambil tertunduk menyembunyikan semu merah di pipi.
"Perlu kamu tahu, Nai. Aku nggak ada niat sama sekali buat ninggalin kamu. Kemarin itu aku cuma butuh ketenangan, butuh menenangkan diri dari dosa yang aku perbuat. Pada akhirnya, aku sampai di sini. Semua ini bukan salah kamu, jangan menyalahkan diri kamu sendiri," ungkap Alfin menatap lekat-lekat wajah Naina.
Naina tersenyum malu-malu, ia merutuki diri sendiri karena sudah berprasangka buruk terhadap Alfin. Lagipula, ucapan Alfin tidak mempercayai Naina cukup menggores hati gadis itu. Meninggalkan sedikit luka, tapi rasa cinta yang besar memupusnya secara perlahan.
Gadis itu menganggukkan kepala, menatap Alfin dengan senyum seperti biasa.
"Alhamdulillah, udah lebih baik," jawab Naina apa adanya. Hanya trauma hatinya yang masih ada.
"Kamu ke mana? Aku cari ke rumah sakit nggak ada, atau mungkin aku yang terlambat. Aku juga ke rumah mang Asep, rumahnya kosong. Aku pikir kamu nggak mau ketemu aku lagi," tanya Alfin mengungkapkan kegelisahannya selama kehilangan Naina.
Gadis Lita itu menghela napas, mereka sama-sama dirundung prasangka sehingga menciptakan kesalahpahaman di dalam hubungan keduanya.
"Aku cuma mau mengobati trauma aku, Alfin. Kalo di rumah sakit terus, aku nggak bisa ngelupain kejadian itu. Jadi ... karena aku pikir kamu udah nggak mau nemuin aku, aku putuskan untuk keluar dari rumah sakit," sahut Naina mengungkapkan isi hatinya.
Alfin tertawa, begitu pula dengan Naina. Kesalahpahaman yang terjadi akhirnya dapat terpecahkan. Prasangka buruk yang selama ini bersarang di hati, perlahan memilih pergi.
"Ternyata kita sama-sama salah faham, tapi Alhamdulillah sekarang semuanya sudah jelas. Aku lega bisa ketemu lagi sama kamu, Nai. Bisa lihat senyum kamu, juga denger suara kamu lagi. Makasih, ya."
__ADS_1
Senyum Alfin menghujam jantung Naina yang sejak tadi berdegup kencang. Detaknya memukul-mukul rongga dada, membuat sesak karena himpitan bunga-bunga.
"Yah, aku juga." Naina menunduk teringat pada nasib hubungan mereka. Ia kembali menatap Alfin, tersirat pertanyaan di kedua maniknya yang berwarna coklat.
"Mmm ... Fin, gimana dengan ...." Naina menggigit bibir, lidahnya kelu tak dapat melanjutkan ucapan.
Alfin tersenyum, mengerti ke mana arah pembicaraan gadis itu.
"Setelah aku keluar dari sini, aku akan langsung menikahi kamu, Nai. Aku nggak mau menunda-nunda lagi. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi, Nai. Sakit rasanya jauh dari kamu, nggak tenang hidupku kalo sehari aja nggak denger kabar kamu. Nai, maafin aku. Harusnya dulu kita langsung menikah sehingga kejadian itu nggak akan pernah terjadi," ucap Alfin memandang sendu pada mata Naina.
"Tapi semua itu sudah terjadi, waktu nggak akan berputar ke masa yang sudah lampau lagi. Cukup menjadi pelajaran buat kita meniti masa depan nanti."
Naina tertegun, memandang Alfin dengan mata yang berembun. Bibir berkedut hendak berkata, tapi tak tahu apa yang hendak dikata. Lidahnya kelu tak mampu mengukir kata. Diam mematung, mematri pandangan pada wajah tampan berkarisma di depan mata.
Bulir-bulir bening jatuh dengan sendirinya, bunga-bunga bermekaran di hatinya. Tanpa harus menjelaskan, Alfin sudah menjawabnya. Dia masih tetap berada di posisinya, sebagai calon istri sang pemuda.
Senyum terukir lembut di bibir manis sang kumbang, dalam hati memuji kecantikan sang pujaan. Bidadari yang tak akan lagi pernah ia temukan. Cukuplah dia seorang, yang bertahta di sanubari terdalam.
Naina menutup wajah, terisak bahagia. Sungguh ia merasa berdosa karena sempat berprasangka. Kini, ia tahu betapa besar cinta sang pemuda. Mengalir hangat ke dalam jiwa.
"Jangan nangis, kecuali itu air mata kebahagiaan," lirih Alfin tak kuasa melihat deraian air mata Naina.
Gadis itu menggelengkan kepala, tak tahu harus berkata apa. Ia bahagia, teramat bahagia.
"Makasih, makasih karena udah nerima aku apa adanya." Naina mengangkat wajahnya, tersenyum penuh syukur memandang wajah Alfin.
"Aku akan berusaha membebaskan kamu dari sini secepatnya. Aku yakin, semuanya akan dapat diselesaikan dengan cepat. Kamu nggak bersalah, itu semua terjadi bukan karena disengaja." Naina meyakinkan hatinya bahwa dia dapat membantu Alfin keluar dari tempat tak nyaman itu.
"Makasih." Alfin merapatkan gigi menahan gejolak dalam batin.
"Naina! Sayang! Kamu di dalam?"
__ADS_1
Alfin tertegun mendengar suara seorang laki-laki memanggil Naina dengan panggilan sayang.