
***
Arsya yang sedang berjalan tanpa sengaja melihat Aksa yang seperti nya habis keluar dari dalam hutan, ia pun langsung menghampiri nya.
" Ka Ray, kau dari mana?" Tanya Arsya sambil menengok ke belakang Aksa di mana di sana hanya ada hutan yang membentang luas.
" Dalam hutan, mencari makanan" jawab Aksa dengan tenang
" Apa kau di usir juga oleh kepala desa dan antek-antek nya Harraz" ujar Arsya dengan malas.
" Juga? Tidak aku tidak pergi ke sana, apa mereka mengusir mu, berani sekali mereka, aku akan memberi mereka pelajaran"
" Tidak perlu" Arsya mencegah Aksa yang sudah siap untuk melakukan sesuatu pada mereka, ekspresi wajah nya nampak sangat marah.
" Namun buah yang kak Ray bawa seperti nya sangat segar dan manis, boleh aku meminta beberapa buah nya" ucap Arsya tanpa malu dengan tatapan mata yang terlihat berbinar saat menatap buah tersebut.
Aksa tersenyum geli saat melihat reaksi Arsya yang belum pernah di lihat nya, gadis itu sekarang tampak sangat imut dan menggemaskan di mata nya.
" Tentu saja boleh, ayo kita mencari tempat untuk duduk lebih dulu sebelum memakan buah ini"
" Oke"
Keduanya memakan buah yang telah Aksa petik di dalam hutan dalam diam.
" Kak Ray, apa kau tidak menemukan hal aneh di dalam hutan?" Tanya Arsya dengan penasaran. Bukankah ada monster di dalam hutan tapi mengapa Aksa masuk kedalam dan kembali dengan santai seakan tidak ada sesuatu yang berbahaya di dalam hutan.
" Aku menyembunyikan keberadaan ku" jawab Aksa santai seakan itu bukan masalah besar.
" Oh"
Arsya tidak lagi bertanya, mungkin Aksa adalah seorang jenius hingga dapat menyembunyikan aura nya sendiri di usia yang masih cukup muda.
__ADS_1
Dalam mengolah aura bahkan meski sudah berada di level 5 sekalipun akan sangat sulit mempelajari ilmu dalam penyembunyian aura, banyak orang yang selalu gagal jika mempelajari ilmu ini, meski terdengar mudah tapi nyatanya ilmu ini sangat rumit.
" Kak..." Arsya ingin bertanya tapi ragu untuk mengatakan nya.
" Aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan, aku tidak bisa makan masakan orang lain, apa lagi makanan siap saji. Dulu sewaktu kecil makanan ku diam-diam pernah di campur racun sampai membuat hidup ku berada di antara hidup dan mati, aku koma dalam satu minggu karena keracunan, setelah sadar aku tidak bisa makan makanan sembarangan lagi." Jawab Aksa dengan tenang seakan kisah yang di ceritakan olehnya bukanlah milik diri nya.
" Karena itu kakak memetik buah ini?"
" Tidak juga, aku sudah terbiasa tidak makan selama seminggu sekalipun. Namun kau membutuhkan makanan yang bergizi, buah ini sengaja aku memetiknya untuk mu" jawaban Aksa membuat pipi Arsya langsung merah merona.
Arsya tidak pernah merasakan perasaan malu dan salah tingkah seperti saat ia bersama dengan Aksa. Mungkin bisa di katakan jika ia berada di dekat pemuda ini tingkah nya akan selalu seperti anak kecil yang ingin di manja. Padahal dia adalah gadis yang keras kepala dan sulit di atur.
" W-waktu yang di tentukan untuk melihat monster itu akan tiba, sebaiknya kita kembali" ucap Arsya segera mengalihkan perhatian.
Melihat tingkah Arsya yang di mata nya terlihat sangat manis dan imut hanya membuat nya tersenyum.
Untuk perjalanan kedalam hutan kepala desa sendiri yang akan menjadi pemandu dengan beberapa pemuda, setelah memilih alat-alat yang akan mereka bawa kedalam hutan, mereka pun mulai bergerak.
" Ternyata ada yang tidak tahu malu, bukan nya pergi malah masih tinggal dengan tenang."
" Cih, mereka pikir ini adalah desa milik nya, dasar pasangan menjijikkan."
" Jangan dekati mereka, jangan sampai aku terkena sial karena dekat dengan salah satu dari keduanya."
Arsya dan Aksa seakan menulikan telinga mereka, keduanya juga berjalan di belakang tanpa mempedulikan orang-orang yang berbisik cukup kerasa dalam menghina keduanya.
Hanya suara anjing yang sedang mengonggong, pikir keduanya.
Jika para pemuda itu tahu apa yang sedang Arsya pikirkan, mungkin mereka akan langsung muntah darah saking terkejut nya.
" Dari sini sampai danau yang merupakan sumber mata air desa kami merupakan tempat yang sering monster itu lewati. Monster itu memiliki penciuman yang tajam jadi sebaiknya kita membalurkan tubuh kita dengan ramuan ini agar dia tidak menemukan keberadaan kita" kepala desa membagikan sebotol ramuan berwarna hijau kental pada mereka, meski enggan para pemuda yang membagikan ramuan itu juga memberikan nya pada Aksa dan Arsya, mereka tidak ingin mati konyol semisalnya salah satu dari kelompok nya ada yang tidak menggunakan ramuan tersebut.
__ADS_1
Plang
" Ramuan apaan ini, bau nya sangat menjijikkan!" Seru Selly melempar botol itu ke ranah dan menutup hidung nya dengan perasaan jijik.
" Itu daun Bidara yang di campur dengan air seni dari monster yang berada dalam hutan" jawab salah satu pemuda desa dengan santai, tapi tanggapan dari Harraz dan teman-teman yang lain jauh berbeda.
Harraz seketika langsung membuang botol ramuan yang ada di tangan nya itu, dia rasanya sangat mual saat tahu bahan apa saja yang ada di dalam nya. Apa lagi teman-teman Harraz yang ternyata ada yang sudah menggunakan nya dan membalurkan pada beberapa anggota tubuh, membuat dia langsung pergi dan memuntahkan seluruh isi perut nya.
" Kalian gila, memberikan benda menjijikkan itu pada kami. Membayangkan nya saja sudah membuat ku ingin muntah" ucap Selly dengan nada menghina.
" Apa maksud mu nona, hanya dengan cara inilah keberadaan kita tidak di ketahui oleh monster itu. Jika kau memang memiliki cara lain silahkan saja" ucap pemuda itu dengan tidak terima pada Selly.
" Jika nona Selly dan tuan muda Harraz memiliki cara lain tolong segera katakan. Waktu kita sudah terbuang banyak" ujar Arsya yang sudah mulai bosan melihat drama di depan nya.
Arsya sendiri memang tidak menggunakan ramuan itu, bisa dikatakan pemuda tadi sengaja tidak memberikan nya pada Aksa dan Arsya. Namun Arsya sendiri memang tidak membutuhkan ramuan itu, lagi pula ia bisa menyembunyikan aura nya sama seperti Aksa.
" Gadis ****** ini" batin Harraz dengan kesal.
" Sebagai ketua tim ini saya sangat menghargai apa yang kepala desa berikan, tapi kami telah di ajarkan untuk menyembunyikan aura kami saat berada di academy jadi tidak memerlukan ramuan itu" ucap Harraz mencoba menolak sehalus mungkin.
Sebenarnya seluruh murid academy Blue Ocean memang sudah di ajarkan cara untuk menyembunyikan aura mereka untuk saat-saat tertentu. Namun perbedaan nya dari segi penguasaan dalam ilmu tersebut, dalam penguasaan sihir terbagi dalam tiga tahapan yang pertama rendah, menengah dan sempurna. Jika di tahap rendah dan menengah Harraz dan teman-teman memang menguasai ilmu tersebut, hanya saja apakah monster itu memang tidak akan menyadari keberadaan mereka.
Kita lihat saja nanti!
" Benar, jadi kami tidak memerlukan benda menjijikkan itu!" Seru Selly sambil menatap jijik pada botol yang telah di buang nya seakan benda itu adalah benda paling hina di dunia ini.
" Selly jangan berkata begitu!" Tegur Harraz yang tidak mau sampai citra baik nya di hancurkan oleh kekasih nya sendiri.
" Sudahlah, lebih baik kita lanjutkan perjalanan. Jika memang kalian memiliki cara sendiri, lakukanlah sesuka kalian, asalkan monster itu cepat pergi dari hutan desa kami!" Seru kepala desa dengan acuh.
Setelah sedikit perseteruan tadi mereka sekarang telah berada di dalam hutan, tepatnya di dekat danau tidak jauh dari tempat monster ular itu berada.
__ADS_1