
" Awal nya aku menemukan satu potongan puzzle, tapi aku merasakan ada yang mengawasi ku jadi aku pun bertindak pura-pura tidak tahu keberadaan nya dan membiarkan orang itu muncul. Orang itu memang muncul dan mengambil potongan puzzle itu, hanya saja..."
" Lalu?"
" Namun saat aku akan menggunakan kekuatan ku untuk melawan orang itu, aku baru menyadari masih ada yang mengawasi ku dan aku juga tidak tahu apa yang mereka inginkan dari ku, jadi.."
" Jadi kau hanya diam dan menunggu apa yang akan mereka lakukan."
" Ya, aku tidak tahu siapa orang yang mengawasi ku dalam kegelapan dan jika mereka dari fraksi White Angels itu akan buruk jika aku menunjukkan kekuatan ku sekarang." Seru Valencia dengan lesu.
Sebenarnya kekuatan pria yang mengambil potongan puzzle itu tidak terlalu kuat, Valencia masih bisa menggunakan elemen suara untuk mengalahkan pria itu, tapi perasaan saat di mata-matai itu sangat tidak menyenangkan bagi nya.
" Itu memang mereka" jawab Arsya dengan acuh.
" Jadi.. hah siapa? Jadi benar itu mereka." Gumam Valencia termenung memikirkan untuk apa orang-orang mengawasi. Seperti nya ia bukan orang penting sampai harus di awasi.
" Mana ku tau. Mungkin saja kecantikan mu membuat fraksi itu tertarik" ucap Arsya konyol tapi nada nya masih tenang dan acuh.
" Cih, kau sama saja dengan kakak mu itu, sama-sama menyebalkan."
" Tentu saja, kami memang saudara. Meski aku tidak ingin mengakuinya" jawab Arsya acuh tak acuh tapi dia juga tertawa kecil saat mendengar ucapan nya sendiri.
" Jangan bercanda Arsya."
" Oke, oke aku minta maaf. Jadi aku serius bertanya pada mu, kau ingin masuk ke dalam fraksi White Angels kan sebenarnya?" Tanya nya langsung pada inti nya.
Awal nya Arsya tidak yakin dengan dugaan nya ini, namun dia yakin Valencia memang berniat masuk dalam fraksi itu. Hanya saja dia bingung mengapa dia malah ingin menyembunyikan kekuatan nya. Bukankah akan lebih mudah masuk ke sana jika mereka melihat kekuatan milik nya sebenarnya.
" Aku tau apa yang kau pikirkan Arsya, Namun kekuatan ku juga tidak sebesar itu, di sini tidak ada sumber air jadi aku tidak bisa mengendalikan air." Ujar Valencia dengan lesu
Seperti orang lain yang memiliki keistimewaan, dia juga memerlukan sumber daya untuk menggunakan elemen yang di miliki nya. Hanya seseorang dengan tingkat pemahaman sangat tinggi tentang elemen yang di miliki nya yang tidak memerlukan wadah untuk mengendalikan kekuatan dan dapat mengeluarkan kekuatan nya dari dalam tubuh mereka sendiri. Dan orang-orang itu hanya ada beberapa saja.
__ADS_1
" Seperti nya kau harus meminta pada kakak ku untuk belajar meningkatkan pemahaman mu tentang kekuatan yang kau miliki. Ya, meski pun dia kadang konyol tapi dengan begitu kau juga akan semakin dekat dengan nya"
" Sya, rasa nya aku ingin memukul kepala mu."
" Ck, kau sendiri terlalu lambat. Kapan aku bisa memiliki kakak ipar kalo begitu." Ucap Arsya acuh sambil mengangkat bahu nya dengan malas.
" Berhenti bercanda, kemari lihat ini." Seru Valencia
Valencia sedang berjongkok di sekitar lubang dan mengamati sekeliling nya.
" Jebakan ini seperti sudah di buat khusus oleh seseorang untuk menangkap buruan nya. Hanya saja, ini adalah hutan monster Lapisan menengah, meski tidak seberbahaya di lapisan tengah, tetap saja jarang ada orang yang masuk ke bagian ini. Tapi siapa yang telah memasang jebakan ini."
" Seperti nya jebakan ini baru di buat pagi ini, dan bukan untuk menjebak binatang. Jika itu hewan biasa mungkin saja akan berhasil, tapi di hutan ini kebanyakan bukanlah binatang biasa. " Ujar Arsya
" Maksud mu ada orang yang sengaja membuat ini untuk menjebak ku, tapi bagaimana dia tahu aku akan muncul di tempat ini.. jangan bilang itu.."
Arsya hanya mengangguk untuk membenarkan apa yang Valencia pikirkan.
Semua itu memang ulah fraksi White Angels, Arsya yakin akan hal itu, atau lebih tepat nya kedua orang yang tadi Arsya lihat. Tapi untuk apa mereka menargetkan Valencia, dan melihat jebakan yang mereka pasang, sepenuhnya mereka tidak berniat membunuh Valencia yang artinya mereka melakukan itu untuk menguji kemampuan yang Valencia miliki.
" ayo kita pergi dari sini dulu."
****
Heera baru saja terbangun dari tidur nya, dia kebingungan dengan tempat nya berada, bukankah terakhir kali dia menggunakan kekuatan telekinesis dan karena terlalu banyak mengeluarkan energi spiritual nya dia hampir kehabisan energi dan jatuh tak sadarkan diri, setelah itu dia tidak tahu apa yang terjadi lagi.
" Kau sudah bangun Clara." Seru Alvan dengan senang, awal nya dia hanya ingin melihat kondisi Clara saat ini, dan tidak yakin kapan gadis itu akan sadar, tapi syukur nya dia sudah sadar.
" Ya, dimana aku?"
" Di rumah sakit keluarga Evans. Kau sudah tidak sadarkan diri selama satu hari, dokter nya mengatakan kau terlalu banyak kehabisan energi spiritual, juga energi mental mu sedikit terganggu."
__ADS_1
" Mempengaruhi puluhan anak dengan kemampuan telekinesis mu seperti nya sangat berat dan mempengaruhi kekuatan mental mu." Lanjut Alvan
Alvan menunggu jawaban gadis itu sambil tangan nya sibuk menyiapkan makanan yang tadi sengaja ia bawa untuk berjaga-jaga jika Clara sudah sadar, dan siapa tahu gadis ini memang sudah bangun.
" Kekuatan mental ku masih terlalu lemah, untuk mempengaruhi satu dua orang aku masih bisa melakukan nya. Tapi mempengaruhi puluhan orang yang otak nya sudah di cuci menjadi mesin membunuh akan sangat sulit bahkan bisa saja.. merusak mental ku sendiri" Namun kalimat terakhir hanya dia ucapan dengan pelan.
" Lalu bagaimana kondisi anak-anak itu?" Tanya nya dengan cemas.
" Tenang saja mereka aman, namun mereka harus di kurung karena pikiran mereka sekarang hanya memikirkan pembunuhan. Ayah ku telah mengerahkan seluruh orang yang memiliki kemampuan telekinesis untuk mengendalikan mereka juga beberapa orang yang kemampuan istimewa untuk mengembalikan ingatan mereka kembali, namun mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Pengkhianat itu juga sudah di tangkap oleh keamanan negara D. Juga setelah ini ayah ku membuat pembersihan besar-besaran dalam pemerintahan negara D."
" Ya baguslah, negara ini memang harus merubah suasana agar lebih menarik." Jawab Heera dengan senyum kecil.
" Apa kau memiliki solusi atau mengenal seseorang yang dapat mengembalikan kondisi semua anak-anak itu? Jangan salah paham, aku hanya tidak tega melihat anak-anak sekecil itu harus di rantai dan di kurung."
" Ini makanlah." Alvan memberikan semangkuk bubur pada Heera.
" Seseorang ya? Memang ada satu orang yang dapat mangatasi semua anak-anak itu, tapi mungkin dia tidak akan mau melakukan nya." Ucap Heera sambil mengaduk bubur di tangan nya seperti tidak berniat untuk memakan nya.
" Siapa? Jangan bilang dia..."
" Ya, dia Arsya. Dia bisa mengembalikan ingatan anak-anak itu, kemampuan nya lebih tinggi dari ku, tapi mungkin akan berbahaya untuk Arsya sendiri jika dia melakukan itu sekarang."
Ingatan Arsya masih belum pulih sepenuhnya, meski dia bisa mempengaruhi ingatan orang lain, nyata nya dia tidak akan bisa mengembalikan ingatan nya sendiri. Juga dia tidak yakin Arsya dapat mengendalikan kemampuan istimewa mata nya tanpa mendapatkan efek samping saat menggunakan nya, jadi lebih baik lupakan saja dia tidak akan meminta itu pada Arsya.
" Ya gadis itu pasti tidak akan mau membantu ku" gumam Alvan mengingat betapa buruk sikap nya dulu pada gadis itu.
" Kenapa? Apa kau sekarang menjadi putus asa tuan muda Evans" ejek Heera sambil menatap Alvan dan menaikkan alis nya.
Ekspresi wajah Heera saat ini begitu menyebalkan di mata Alvan. " Tunggu! Bukankah Arsya tidak memiliki kemampuan telekinesis atau kemampuan apapun yang dapat mempengaruhi pikiran seseorang, bagaimana bisa dia dapat membantu ku, jangan bilang kau hanya mempermainkan ku saja."
Dia baru ingat gadis bernama Arsya itu sama sekali tidak memiliki kemampuan istimewa lain selain elemen air, apalagi kemampuan yang berguna untuk mencuci otak seseorang jadi bagaimana bisa gadis itu dapat membantu nya.
__ADS_1
" Hehe.. kau aneh sekali, bukankah kau sendiri yang bertanya, dan aku hanya menjawabnya saja. Kalo kau tidak menganggap nya dengan serius ya apa boleh buat" Heera mengangkat kedua bahu nya dengan acuh, bukan salah nya juga jika pria ini tidak mempercayai nya.
Alvan yang berpikir gadis di depan nya hanya bercanda dia tidak tahu suatu saat nanti dia akan menyesali ucapan nya itu.