Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
80. Senjata Sihir


__ADS_3

" Apakah ini organisasi yang sedang kau cari, tidak. Jangan bilang organisasi ini yang para orang tua itu khawatirkan."


" Benar"


" Organisasi ini sangat misterius, bahkan sangat sulit untuk membobol keamanan nya. Tapi ada yang aneh dengan nama nya, aku merasa pernah mendengar nama organisasi ini!"


" Kau menyadari nya juga ternyata. Organisasi ini adalah organisasi yang sama lima puluh tahun lalu yang menghancurkan dunia dengan sihir hitam nya"


Untuk sejenak Heera terdiam tanpa bisa berkata-kata apa-apa lagi, namun dia juga menyadari ada sesuatu yang salah.


" Apa kau..."


Tok tok


Crek


Sebelum Heera menyelesaikan ucapan nya pintu kamar Arsya di buka oleh seseorang.


" Apa yang kalian berdua lakukan, makanan telah siap ayo kita makan" seru Valencia.


Arsya dan Heera saling menatap dan kedua nya pun dengan kompak menatap Valencia dan mengangguk kecil.


Di meja makan hanya ada empat orang saja, yaitu Arsya, Heera, Valencia dan Kyra.


" Di mana yang lain nya?" Tanya Arsya, ia tidak melihat teman-teman nya yang lain di meja makan.


" Naura, Keysa, dan Elvira sedang bersiap-siap" jawab Kyra dengan tenang.


" Bersiap? Memang nya mereka bertiga mau kemana!"


" Tidak kemana-mana. Kau lupa Ara hari ini kita akan belajar membuat senjata, kau tidak lupa bukan sebagai ahli sihir kita memerlukan senjata sihir untuk mempermudah kita. Keysa sangat tidak menyukai kekerasan apa lagi senjata karena itu dia sedang menyiapkan mental, sedangkan Naura dan Elvira sibuk memikirkan senjata apa yang akan mereka gunakan" ujar Heera


" Mereka berdua ini!"

__ADS_1


" Senjata sihir tidak sama dengan senjata biasa, membuat nya tentu saja mudah tapi juga sulit. Sebenarnya bisa saja meminta ahli senjata sihir untuk membuatkan senjata sihir, itu akan lebih mudah tapi kekuatan yang di keluarkan nya akan lebih kecil karena ikatan antara pengguna dan senjata itu tidak akan seerat saat kita membuat nya sendiri. Jika kita bisa membuat nya sendiri, senjata sihir itu bisa mewakili kemampuan yang di miliki" ujar Valencia menjelaskan apa yang ia tahu tentang senjata sihir.


" Wow.. kau sangat mengenal senjata sihir ternyata. Yang kau katakan itu benar meski bukan seorang penempa senjata sihir tapi ahli sihir juga dapat membuat senjata sihir nya sendiri" ucap Heera begitu antusias saat membicarakan tentang senjata.


" Aku hanya tahu sedikit karena pernah membaca nya" balas Valencia.


" Ku kira kau adalah salah satu putri bangsawan sampai bisa mengetahui nya. Karena hanya ahli senjata sihir dan para bangsawan yang mengetahui kelemahan dari membuat senjata sihir oleh orang lain" ucap Heera acuh tak acuh, namun Valencia jelas tersenyum canggung saat mendengar nya.


" Sudahlah ayo makan!" Seru Valencia


Baru saja mereka akan makan terdengar suara pintu yang terbuka dengan terburu-buru.


" Hey tunggu kami belum datang, mana bisa kalian makan lebih dulu." Ucap Naura berjalan cepat dan segera duduk di dekat Kyra.


" Siapa suruh kalian begitu lama, jika terus menunggu kalian bisa-bisa aku mati kelaparan" ucap Heera sinis


" Cih, hanya menunggu sebentar saja tidak bisa. Dasar perut mu itu saja perut karet" ucap Naura yang di angguki oleh Elvira dengan semangat.


" Cepat makan, atau kita akan telat karena perdebatan kalian ini" ucap Arsya memutar bola mata nya dengan malas.


***


" Apa yang sedang kau lakukan di sini!" Ucap Arion pada seseorang yang sedang berdiri di atas atap dan memandang ke bawah dimana orang-orang berlalu-lalang, namun entah apa yang sedang di lihat nya.


" Kau sendiri untuk apa ke sini" balas orang itu dengan nada dingin.


" Saudara mu sedang menunjukkan kehebatan nya kemana-mana, tapi kau malah berdiam diri seperti patung di sini" cibir Arion pada orang itu


" Saudara? Mungkin tuan Arion salah paham, aku tidak pernah mengakui siapa pun menjadi saudara ku" balas orang itu yang ternyata adalah Aksa.


Aksa sudah sedari pagi diam di tempat itu, saat bangun dari tidur nya dia tidak menemukan keberadaan Arsya membuat dia sedikit kesal.


Gadis itu dengan cepat melarikan diri dari pandangan.

__ADS_1


Suasana hati Aksa hari ini semakin menyebalkan setelah datang ke academy, baru saja ia tiba, diri nya telah mendengar orang-orang yang begitu memuji Harraz saudara tiri nya itu, dan banyak juga yang mengejeknya meski tidak ada yang berani melakukan itu langsung di depan nya. Sebenarnya dia tidak peduli dengan apapun yang akan Harraz lakukan hanya saja dia marah saat Harraz juga berani memfitnah ibu nya, jika bukan karena dia telah memiliki rencana untuk orang itu ia mungkin sudah melenyapkan nya sedari dulu.


Suasana hati Aksa yang tidak baik membuat dia tidak langsung pergi ke asrama tetapi malah pergi menuju menara pemantau. Di academy terdapat beberapa menara yang berdiri sangat tinggi terdiri lebih dari lima lantai, sekarang Aksa sedang berada di menara utama, lebih tepat nya ia berada di lantai teratas, jarang orang yang datang ke sana, hanya ada diri nya seorang tapi siapa sangka Arion dapat menemukan nya.


" Hah... Kita sudah saling mengenal lebih dari lima tahun tapi aku bahkan tidak tahu ternyata Aksa adalah anak dari tuan Davies... " Ucap Arion dengan nada menyindir


" Apakah kau percaya dengan omongan kosong Harraz?" Tanya Aksa acuh, nada bicara nya bahkan seperti tidak sedang bertanya saking acuh nya.


" Aku tidak peduli dengan perkataan orang itu, entah kau memang seperti yang dia katakan atau tidak, aku... tidak lebih tepat nya kami berempat hanya tahu kau adalah sahabat kami" ucap Arion mengangkat kedua bahu nya acuh.


" Di academy ini terdapat banyak orang, namun pemuda seperti Harraz akan sangat sulit mencapai puncak. Orang tua nya terlalu memanjakan nya membuat dia tidak tahu luas nya dunia" Arion mengatakan nya sambil menyandarkan tubuh nya di pagar pembatas ia juga melihat di bawah terdapat banyak orang yang pergi ke sana kemari.


" Stts.. Arion perkataan mu ini begitu membuat ku terharu, namun akan lebih baik lagi jika kau tidak mengatakan nya, jika kau yang mengatakan nya akan membuat ku mual!" Ucap Aksa tersenyum mengejek.


" Sialan kau Aksa" Arion menatap Aksa dengan kesal tapi Aksa hanya tersenyum remeh.


" Kapan kau akan mengambil misi dengan Arsya?" Tanya Arion


" Misi? Tidak untuk saat ini, memang kenapa!"


" Entah apa yang di lihat oleh para gadis itu dari mu, padahal kau hanya seorang pemuda yang biasa saja, selain wajah mu yang tampan yang lain nya tidak ada apa-apa nya" sindir Arion menatap Aksa dengan tajam.


" Katakan saja, jangan berbelit-belit."


" Aksa Raymond apa kau lupa atau pura-pura tidak tahu seharusnya murid-murid tingkat Blossom Class dan Astro Class sudah diharuskan memiliki senjata sihir mereka sendiri..." Arion sengaja tidak melanjutkan ucapan nya membiarkan Aksa berpikir sendiri.


" Senjata sihir? Aku mengerti."


" Lalu apa yang akan kau lakukan pada Harraz. Setelah lama mengenal mu aku yakin kau tidak akan tinggal diam."


" Harraz! aku memiliki rencana sendiri untuk itu"


" Baguslah jika kau sudah mempunyai rencana. Jika kau membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk meminta nya, kita telah mengenal lama"

__ADS_1


" Dimana tuan muda Arion yang dingin, mengapa sekarang kau menjadi begitu melankolis, jika aku tidak melihat nya langsung mungkin aku tidak akan percaya"


" Sialan!"


__ADS_2