
" Terserah kau menganggap nya apa"
" Baiklah aku akan menerima tantangan mu...." Aksa mendekatkan wajah nya ke telinga Arsya.
" Kau pasti akan jadi milik ku" bisik Aksa tepat di dekat telinga Arsya, tanpa sadar telinga Arsya langsung memerah.
" Aku tidak peduli" Arsya mendorong tubuh Aksa untuk menjauh dari nya.
Sungguh dia sangat malu!
" Apakah ada orang lain di tempat ini?" Tanya Arsya mengalihkan perhatian.
" Tidak ada bahkan tidak ada yang tahu ada tempat ini di dalam hutan itu" jawab Aksa seadanya.
" Teman teman mu?"
" Mereka juga tidak tahu, lagi pula tidak akan ada yang bisa masuk ke tempat ini tanpa ijin dari ku, hanya ada satu orang yang bisa bebas memasuki tempat ini selain diri ku" ujar Aksa
" Siapa?"
" Kayla, kamu satu satu nya yang bisa dengan bebas memasuki tempat ini selain aku!" jawab Aksa jujur tanpa keraguan sedikitpun.
Deg
" Kenapa?" Tanya Arsya tanpa sadar, dia tidak mengerti dengan pikiran pemuda di depan nya ini.
" Sudah ku katakan aku menyukai mu" goda Aksa tersenyum manis
" Berbicara dengan mu hanya akan membuat ku gila!" seru Arsya ketus dan sinis
" Apa? kau tergila-gila dengan ku" goda Aksa semakin menjadi-jadi.
" Seperti nya kau butuh cangkul!" Seru Arsya acuh
" Untuk apa?" Tanya Aksa dengan polos nya
__ADS_1
" Tentu saja untuk mencangkul semua kotoran yang ada di telinga mu" sewot Arsya dengan ekspresi yang merah padam.
" Emang nya aku apaan butuh cangkul.... Tapi seperti nya aku memang butuh cangkul" seru Aksa berpikir
" Baguslah kalau kau sadar" Arsya menatap Aksa dengan sinis
" Ya, aku butuh cangkul untuk menanam benih cinta di hati mu" goda Aksa yang semakin membuat Arsya tak habis pikir, bagaimana bisa pemuda ini di sebut pemuda yang dingin dan irit bicara. sedari tadi dia bahkan terus saja mengoceh dan menggodanya.
Bukankah dia akan lebih pantas di sebut pemuda mesum, pikir nya
" Kau benar-benar sudah gila!"
Arsya duduk kembali di dekat danau, kaki nya sengaja ia turunkan ke dalam air danau, ikan-ikan di danau itu berenang mengelilingi kaki nya.
Rasa nya seperti terapi ikan..
Aksa pun ikut duduk di samping Arsya, namun berbeda dengan Arsya yang sedang menikmati keindahan di tempat itu, sedangkan Aksa hanya melihat wajah Arsya tanpa peduli akan sekitarnya.
Arsya sendiri berpikir percuma bertanya pada Aksa jalan keluar dari tempat ini, dia tidak akan mengatakan nya dengan mudah, jadi diam dan nikmati saja apa yang ada.
" Sejak kecil racun ini telah ada di tubuh ku" jawab Aksa acuh.
" Apa kau tahu bagaimana kau bisa mendapatkan racun ini?" Ucap Arsya, racun dingin bukan racun biasa, siapa yang menggunakan racun ini untuk menyiksa nya.
" Tidak jelas hanya tahu sejak kecil racun ini sudah ada ditubuh ku" jawab Aksa santai seakan bukan dia yang sedang di bahas.
" Aku tidak yakin kau tidak mengetahui sedikit pun tentang racun ini!" Seru Arsya acuh
" Gadis ku memang gadis yang pintar" seru Aksa dengan senyum polos nya
" cih, siapa juga yang mau menjadi gadis mu" cibir Arsya sinis
" Sedari kecil tubuh ku sangat lemah, Aura dingin terus menusuk tubuh ku, ayah ku dan anggota keluarga lain nya menganggap ku sebagai kutukan, mereka mengusir ku dan ibu ku dari rumah itu" Tanpa mempedulikan jawaban Arsya, Aksa pun menceritakan nya dengan singkat. saat menceritakan nya terlihat jelas emosi marah, dendam di mata Aksa, tangannya sampai terkepal kuat saat mengingat semua yang terjadi masa lalu nya.
Mendengar cerita Aksa, Arsya pun mengalihkan perhatian nya pada Aksa, dapat ia lihat setiap perubahan emosi yang ada pada pemuda itu.
__ADS_1
" Setelah itu ibuku membawa ku ke keluarga nya, kakek ku sudah mencari berbagai informasi tentang penyakit ini, banyak dokter dan ahli alkimia yang telah ia bawa, ada satu ahli alkimia yang mengatakan aku terkena racun dingin, lima bulan setelah penyakit yang ku miliki di ketahui, ibu ku meninggal karena shock melihat pria brengsek yang adalah suami nya sendiri memperkenalkan istri simpanan nya sebagai istri sah nya"
Kesepian, kekosongan, kesedihan, amarah, kebencian dapat terlihat dengan jelas oleh Arsya.
" Apakah kau merasa kasihan pada ku setelah mendengar cerita ku ini" ekspresi Aksa berubah normal kembali, perubahan nya ini terjadi sangat cepat seperti semua kisah yang ia ceritakan bukan lah kisah nya.
" Tidak, kau cukup hebat untuk menjalani kisah mu itu, untuk apa aku merasa kasihan pada orang yang tidak ingin di kasihani... Dan seperti nya kau bukan tipe orang yang butuh rasa simpati orang lain" seru Arsya acuh, meski begitu ada sedikit rasa kepedulian di hatinya tanpa ia sendiri sadari.
Dia tidak tahu pemuda ini memang sedang menceritakan kisah nya dengan jujur atau hanya untuk menarik simpati nya saja, tapi melihat segala emosi yang di lihat nya dari Aksa, dia sangat yakin pemuda itu sedang berkata jujur pada nya.
" Kay sangat peduli dan memahami ku ternyata!" seru Aksa ekspresi nya di buat sepolos mungkin.
Sungguh penipu ulung!
" Pria ini tidak bisakah tidak menggombal sebentar saja" batin Arsya
" Kenapa kau menceritakan semua itu pada ku?" Tanya Arsya bingung, mendengar karakter Aksa yang selalu ia dengar dari orang orang pria ini selalu bersikap dingin dan datar dimana mana, bicara nya pun selalu irit, tapi begitu mudah nya dia menceritakan masa lalu nya yang kelam pada nya, apakah dia tidak takut akan membocorkan nya pada orang orang.
Saat bersama nya juga pria ini selalu berbicara panjang lebar, bahkan selalu menggoda nya, ia memiliki sifat dan sikap yang sama dengan nya jadi tahu bahwa orang seperti nya tidak akan mudah menceritakan sesuatu tentang nya pada orang lain.
" Karena kau adalah orang yang paling penting dalam hidup ku setelah ibu ku" jawab Aksa lembut ekspresi wajah nya pun terlihat serius.
Dug Dug dug
Jantung nya berdetak kencang setelah mendengar ucapan Aksa, rasa nya jantung nya akan lari keluar jika Aksa terus menerus berbicara hal manis seperti ini.
" Mulut pria ini sangat berbisa sampai membuat jantung ku lari maraton, seperti nya setelah dari sini aku harus pergi ke rumah sakit untuk mengecek keadaan jantung ku" batin Arsya cemas kondisi kesehatan nya menjadi buruk.
" Jangan asal bicara" ucap Arsya memalingkan wajah nya.
" Apa kau ingin keluar dari tempat ini?" Tanya Aksa
" Ya, tentu saja" ucap Arsya sedikit ragu
" Baiklah kita keluar bersama, ikut aku" ucap Aksa berdiri dari duduk nya, dan berjalan kesuatu tempat.
__ADS_1