
****
Saat datang ke meja makan semua orang menatap Arsya dengan sinis, bahkan kepala desa menatap nya dengan penuh penghinaan.
" Gadis ****** seperti mu untuk apa ke sini, apa kau ingin makan. Lebih baik kau cari saja makanan mu sendiri, jangan mengotori kami yang ingin makan di sini, nafsu makan ku langsung menghilang setelah kedatangan mu" ujar kekasih Harraz.
" Oh, bagus jika nafsu makan mu hilang setelah melihat ku, tenang saja melihat tatapan kalian membuat nafsu makan ku juga ikut menghilang. Tatapan kalian begitu menjijikkan perut ku rasa nya mual lama-lama berada di sini" ujar Arsya dengan santai membuat mereka tidak bisa berkata-kata.
" Anak muda! kau berada di tempat ku. Seharusnya sebagai tamu kau menghormati tuan rumah, tapi bukan hanya tidak menghormati tuan rumah tapi kau juga membuat kekacauan di desa ku."
" Apakah kepala desa sudah selesai berbicara, kalo sudah sekarang giliran saya. Pertama jika saya mau saya bahkan tidak ingin menginjakkan kaki di tempat dimana harga diri seorang wanita di anggap rendah, dimana hanya seorang pria yang bisa mengatur wanita yang bahkan membuat wanita tidak bisa memutuskan pilihan nya sendiri, tempat dimana orang-orang mengambil keputusan sendiri tanpa mendengarkan penjelasan dari orang lain. Kedua aku bahkan sungguh sangat muak berada di tempat yang orang-orang nya sangat munafik. Mungkin monster itu tahu tempat ini sudah tidak layak di pertahankan sehingga dia datang ke desa ini di bandingkan desa lain nya" ujar Arsya sambil melirik Harraz dan satu orang pria yang ternyata adalah pria yang kemarin malam datang ke kamar nya.
Pria itu nampak gugup saat di tatap oleh Arsya, membuat ia menundukkan kepala nya dan tidak berani mengangkat kepala nya.
" Kalau begitu mengapa kau tidak pergi saja dari desa ini, kami juga tidak membutuhkan mu di sini" ujar Selly dengan sinis.
" Aku pun menginginkan hal itu, namun jika kau lupa aku akan mengingat mu nona, tugas ini di khususkan untuk Aksa yang sekarang adalah suami ku, jika aku pergi tugas ini tidak lagi berarti. Bukan begitu tuan muda Harraz!" Ujar Arsya dengan nada malas, ia pun pergi meninggalkan orang-orang yang terdiam di sana.
Jika itu orang-orang desa ini mereka akan berpikir untuk mengusir Aksa dan Arsya segera dari desa mereka, mereka hanya berpikir mencari orang lain untuk mengatasi masalah monster tersebut. Tapi tidak bagi kepala desa serta Tim Harraz, bagi kepala desa academy Blue Ocean bukanlah academy biasa yang bisa ia singgung sesuka hati, sedangkan bagi Harraz dan teman-teman nya tugas ini sangat penting untuk mereka mana mungkin begitu saja dilepaskan.
***
Heera hari ini tidak sedang berada di academy Blue Ocean, kebetulan sekali saat ini ia sedang berada di negara D yang merupakan tempat kekuasaan keluarga Evans, ia datang ke negara tersebut bukan tanpa tujuan apa lagi untuk menemui Alvan, tetapi tujuan nya datang untuk hal lain.
Heera sekarang sedang berada di restoran bintang lima dan kebetulan sekali di sana juga ada Elma yang sedang berkumpul bersama teman-teman nya.
" Bukankah itu wanita penggoda, untuk apa dia di sini" batin Elma yang tidak sengaja melihat ke tempat Heera.
__ADS_1
" Elma kau sedang melihat apa?" Tanya salah satu teman nya
" Melihat wanita yang telah menggoda tunangan ku" jawab nya
" Mana?"
" Lihat tuh wanita yang sedang duduk di pojok sana." Ujar nya menunjuk pada Heera.
" Eh lihat deh seperti nya pria itu mendekati tempat wanita yang kau maksud." ujar teman nya menunjuk seorang pria yang berjalan kearah Heera.
Memang terdapat seorang pria yang duduk di hadapan Heera, melihat itu Elma pun tersenyum sinis, ia mengeluarkan handphone nya dan memotret momen keduanya.
Heera sendiri sedang duduk sambil memainkan handphone nya bersamaan dengan kedatangan pria itu, meski begitu ia masih acuh dan tidak memalingkan wajah nya untuk menatap pria di depan nya.
" Ckckck, sebenarnya untuk apa Ara meminta ku kemari, dia bahkan tidak menjelaskan nya dengan rinci" gerutu Heera dengan kesal.
" Bukankah kau sedang bicara sekarang" balas nya dengan acuh.
" Nona saya adalah Kin, Nona Arsya meminta saya untuk memberikan ini pada nona" ujar pria itu sambil mengeluarkan sebuah map dan memberikan nya pada Heera.
Heera yang tadi fokus pada handphone nya langsung mengalihkan perhatian nya setelah mendengar nama Arsya di sebutkan.
" Apa yang kau bilang tadi, apakah kau suruhan Arsya?" Tanya Heera sekali lagi, bahkan wajahnya sampai ia condongkan ke depan wajah pria itu membuat wajah pria itu memerah saat menatap wajah cantik Heera tapi dia langsung menundukkan kepala nya karena ia tahu itu sangat tidak sopan.
Sedangkan Elma yang melihat itu tersenyum lebih senang lagi, ia cepat-cepat mengambil beberapa gambar yang terlihat seakan Heera sedang menggoda pria itu.
" B-benar nona Clara, nona Arsya sendiri yang meminta ku untuk memberikan map ini pada anda!"
__ADS_1
" Oke"
Heera segera membuka map yang di berikan pria itu, namun ia mengerutkan kening nya saat melihat di dalam map itu ada sebuah kartu kamar hotel untuk layanan VIP, ia mengangkat kartu itu di hadapan pria itu.
" Wahh, wanita itu ternyata seorang pelacur. Baru saja bertemu sudah di kasih kartu kamar hotel."
" Lihat deh, kartu kamar yang di pegang nya juga merupakan kartu kamar VIP kelas atas"
Teman-teman Elma saling berkomentar dan memandang jijik pada Heera.
Heera sendiri sekarang dalam suasana hati yang buruk karena itu dia hanya acuh terhadap sekitar nya, juga posisi duduk nya dengan Elma memang sangat jauh, Elma sendiri tidak dapat mendengar apa yang sedang kedua nya bicarakan.
" Untuk apa bocah itu memberikan kartu ini pada ku?"
" Saya tidak tahu nona, namun nona Arsya mengatakan, nona Clara akan mengetahuinya setelah membaca dokumen yang juga berada di dalam map tersebut" jawab nya dengan sopan.
" Hmm... Oke"
Heera nampak santai dan acuh saat membuka beberapa lembar kertas yang memang berada di dalam map itu, namun ekspresi nya langsung berubah serius seiring ia membaca seluruh informasi yang ada di sana.
" Baiklah, kau bisa kembali. Katakan pada Arsya ucapan terima kasih ku."
" Baik nona."
" Eh, tunggu. Biar aku sendiri saja yang mengatakan nya, namun aku memiliki tugas lain untuk mu, apa kau bersedia?" Tanya Heera menaikkan sebelah alis nya.
" Tentu nona Clara, nona Arsya memang memberikan perintah untuk saya agar membantu anda selama anda berada di sini."
__ADS_1
" Oke, jadi tidak ada masalah kalau begitu. Oh gadis macam apa aku ini sampai lupa menawarkan mu minuman, jika ingin pesan makan dan minum pesan saja aku yang akan membayar nya" jawab Heera dengan santai, begitu berbeda dengan sikapnya yang tadi terlihat serius.