Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
97. Keributan


__ADS_3

" Aku sedang datang bulan"


" Tunggu sebentar!" Aksa membantu gadis itu untuk kembali berbaring sebelum dia keluar, entah akan pergi kemana dia.


Meski Arsya ingin bertanya, tapi ia urungkan sebab perut nya sangat sakit, tubuh nya pun terasa sangat lemas untuk digerakkan.


Tidak lama Aksa kembali sambil membawa sesuatu di tangan nya.


" Apa itu?" Tanya Arsya dengan lemah


" Air rebusan jahe, aku meminta nya dari dapur " jawab nya dengan tenang.


" Minumlah" Aksa memberikan gelas itu pada Arsya.


" Pelan-pelan masih panas!"


Arsya meminum air tersebut dengan pelan, setelah minum minuman pemberian Aksa perut nya sedikit membaik.


" Terima kasih."


" Tidak perlu berterimakasih, ini sudah tanggung jawab ku sebagai suami mu." ucap Aksa dengan sedikit menggoda nya.


Ah, ya. Arsya melupakan status baru nya tersebut. Sekarang ia istri seseorang jika ayah dan kakak nya mengetahui ini bisa gawat, bisa-bisa mereka berdua meneror nya untuk interogasi, memikirkan nya saja sudah membuat nya bergidik ngeri.


" Ada apa? Apa masih sakit" Aksa menyusupkan tangan nya ke balik pakaian Arsya dan mengelus perut gadis itu dengan lembut.


Apa yang Aksa lakukan seketika membuat Arsya terlonjak kaget, apa yang Aksa lakukan rasa nya sangat geli tapi juga menenangkan terbukti rasa kram di perut nya sedikit mereda.


" Tidurlah, aku akan berjaga di sini. Jika kamu membutuhkan sesuatu aku ada di sana" ucap Aksa sambil menunjuk sebuah kursi kecil yang tidak akan nyaman jika di gunakan untuk tidur.

__ADS_1


" Apa kau akan tidur di kursi itu."


" Iya, aku tahu kamu tidak nyaman berdekatan dengan ku, karena itu aku akan tidur di sana, kamu bisa tidur dengan nyaman hmm...." Ucap Aksa tanpa beban.


" Tidur di kursi kecil itu pasti tidak akan nyaman, tempat tidur ini juga masih cukup untuk berdua meski harus berdempetan. Kakak tidur di sini saja" ucap Arsya dengan canggung dan sedikit ragu, selain karena kursi itu sangat kecil dan tidak akan nyaman jika Aksa tidur di sana, sekarang status mereka sudah menjadi suami istri tidak akan baik jika keduanya tidur terpisah.


Meski ia acuh dan dingin tapi bunda nya selalu mendidik nya dengan tegas, bunda nya pula pernah berkata bahwa seorang wanita wajib memenuhi tanggung jawab nya sebagai istri setelah dia menikah, ini bukan soal cinta atau tidak tapi soal sebuah tanggung jawab. Dan di keluarga nya juga sangat menuntut prinsip dimana pernikahan adalah hal yang sakral bukan sebuah candaan ataupun mainan, jika sudah memutuskan maka dia harus berani bertanggung jawab atas segala keputusan nya apapun hasil akhir dari keputusan nya tersebut.


" Kamu yakin?" Tanya Aksa memicingkan matanya, siapa tahu gadis itu sedang salah bicara.


Meski ia sangat menantikan hal ini, tapi ia tidak ingin membuat Arsya tidak nyaman apa lagi membenci nya.


Sungguh Aksa telah menjadi pria berbeda saat bersama dengan Arsya.


" Hmm... Bagaimana pun sekarang aku istri mu, sudah tanggung jawab ku untuk menjalankan tugas ku sebagai istri bukan malah menyusahkan mu."


" Tidurlah my wife. Good night baby" Aksa mengecup kening Arsya sebelum ikut tertidur bersama Arsya.


***


Di mansion keluarga Evans


Sebuah mobil Lamborghini berwarna kuning terparkir rapi di garasi mansion keluarga Evans yang bak istana Eropa.


Seorang pemuda yang tidak lain adalah Alvan keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam kediaman, di sepanjang jalan banyak pengawal dan pelayan yang menyapa nya dengan ramah.


Ia segera masuk ke ruang keluarga di mana terlihat ayah, ibu, nenek serta keluarga besar lain nya sedang berkumpul.


" Kak Alvan!" Seru salah satu sepupu Alvan saat melihat nya masuk yang membuat semua anggota keluarga lain nya yang sedang fokus pada hal lain juga mengalihkan pandangan nya pada pintu masuk.

__ADS_1


" Alvan!" Seru seorang wanita paruh baya yang kelihatan nya bahkan masih sangat muda, dia adalah ibunda tercinta Alvan, namun sebelum sepasang ibu dan anak itu melepaskan rindu, seseorang terlebih dahulu menyelanya.


" Alvan! Cucu kesayangan nenek sudah pulang. Akhir nya kau pulang juga sayang, nenek sangat merindukan mu" ucap nyonya besar Evans segera berjalan dan memeluk cucu kesayangan nya itu.


" Nenek aku ingin bertanya pada mu, ku harap kau menjawab pertanyaan ku dengan jujur" ucap Alvan setelah nenek nya melepaskan pelukan nya tersebut.


" Ya, katakan saja. Nenek akan menjawabnya."


" Apa nenek pergi ke academy ku dengan Elma dan membuat masalah pada Clara?" Tanya nya menatap tajam nenek nya itu.


" Ya, nenek memang ke sana untuk memperingati agar gadis penggoda itu menjauh dari mu. Tapi wanita itu sangat tidak tahu diri, dia masih saja ingin menjerat mu dengan kecantikan nya" jawab nya dengan santai tanpa menyadari ekspresi wajah Alvan sudah berubah menjadi sangat gelap dan suram.


" Jaga ucapan nenek itu, Clara adalah gadis baik-baik, dia cantik alami, tidak seperti gadis pilihan nenek yang hanya bisa nya memakai tepung untuk membuat wajah nya menjadi putih. Nenek aku katakan sekarang jangan mengganggu Clara karena dia adalah gadis pilihan ku."


" Apa maksud mu, apa kau akan menentang nenek mu demi perempuan ****** itu. Apa kau tahu Elma lebih baik seratus kali lipat dari gadis murahan itu, dia juga dari keluarga yang terhormat tidak sama dengan gadis miskin yang hanya akan menggerogoti harta keluarga Evans saja. Nenek tidak akan pernah setuju jika dia menjadi menantu keluarga ini" ucap nya melotot pada Alvan.


" Tidak masalah, aku pun tidak butuh restu dari nenek, asalkan ayah dan ibu ku setuju itu sudah cukup bagi ku" sahut Alvan dengan santai setelah ia berhasil menenangkan pikiran nya.


" Heh, sudah ku duga. Ibu mu hanya akan menjadi pengaruh buruk bagi mu, sekarang bahkan kau berani menentang perintah nenek karena ibu mu yang tidak tahu diri itu. Jika bukan karena putra ku menikahi nya dia tidak akan bisa menikmati kekayaan keluarga Evans tapi balasan nya apa? Dia selalu saja menentang perintah ku dan membuat masalah untuk ku, bahkan sekarang cucu ku saja menentang ku, aku tidak habis pikir kalian wanita-wanita miskin begitu suka menggoda pria kaya dan menjerat nya..."


" Stop ibu."


" Hentikan nenek"


Alvan dan ayah nya sangat marah mendengar perkataan wanita itu yang sangat kejam, sedari tadi keduanya mencoba bersabar dan menahan amarahnya tapi wanita tua itu sudah sangat keterlaluan. Wajah Alvan dan ayahnya sampai merah padam saking marahnya.


" Ibu stop menghina istri ku, dia adalah perempuan terbaik untuk menjadi pendamping ku. Istri ku selalu memperlakukan mu dengan hormat dan sopan tapi kau sedikit saja tidak menghargai usaha nya!"


" Mas, sudah jangan bicara lagi, bagaimana pun dia ibu mu, tidak baik jika kau bersikap kasar pada nya" ucap ibu Alvan mencoba menenangkan emosi suaminya yang begitu meluap-luap.

__ADS_1


__ADS_2