
****
Arsya sekarang sedang berdiam di kamar nya sambil melihat pemandangan keluar jendela, sudah satu Minggu dan Aksa sama sekali tidak mengabari nya, entah dia harus senang atau kecewa. Sebenarnya bahkan pernikahan nya dengan Aksa saja belum ia beritahukan pada Arion atau keluarga nya yang lain. Semua nya masih sama seperti dia belum memiliki ikatan dengan Aksa.
Arsya mengambil telepon nya dan memanggil sebuah nomor di handphone nya.
" Cari tahu kemana saja Clara pergi selama satu Minggu ini, aku ingin laporan nya besok pagi harus ada" ucap Arsya dan ia mematikan telepon nya setelah mengatakan itu tanpa menunggu jawaban dari orang yang di telepon nya.
Hari ini Arsya bersiap untuk mengikuti kelas ramuan, setelah kembali dari misi nya dia belum masuk ke kelas itu.
Saat masuk ke kelas ramuan telah banyak orang yang juga sudah hadir, mereka telah menempati meja masing-masing. Arsya dengan santai berjalan ke arah salah satu meja yang kosong.
" Oh, siapa ini... Tidak ku sangka si cupu ini ikut kelas ini" seru Zalfa yang membuat perhatian semua orang tertuju pada nya dan Zalfa.
" Zalfa, siapa dia? Apa kau mengenalnya?." Tanya seorang teman nya
" Tentu saja aku mengenalnya. Kalian sebaiknya jangan terlalu dekat dengan nya... Demi populer dia bisa melakukan apapun, bahkan memfitnah teman nya sendiri" seru Zalfa yang langsung membuat orang-orang yang mendengar nya menatap Arsya dengan jijik dan merendahkan.
" Benarkah, aku tidak tahu di wajah polos nya itu dia begitu munafik" cibir salah satu teman nya.
" Heh... Kalian jangan hanya melihat wajah sok polos nya itu, aku bahkan pernah melihat sendiri dia meminta teman nya untuk menemani seorang pria paruh baya"
" Apa!! Meskipun tidak memiliki uang seharusnya dia tidak melakukan itu"
" betapa menjijikkan nya itu."
Arsya yang mendapatkan banyak hinaan dan cibiran sama sekali tidak berekspresi, dia tetap acuh dan malas untuk meladeni omong kosong mereka.
Tidak mendapatkan respon yang Zalfa inginkan membuat nya kesal, ia ingin kembali memprovokasi Arsya tapi seorang guru lebih dulu datang.
" Ada apa ini, saya bahkan bisa mendengar suara ribut kalian dari luar kelas." Seru guru itu dengan nada tidak senang.
" Apapun alasan nya nya saya tidak peduli, sekarang siapkan bahan-bahan yang di butuhkan. Hari ini kita akan mencoba membuat ramuan pemulihan."
" Baik"
Zalfa terpaksa kembali ke meja nya setelah guru itu berbicara.
__ADS_1
Guru ramuan menjelaskan segala bahan dan cara membuat ramuan pemulihan dengan detail.
" Sekarang kalian bisa mencoba membuat nya"
Kelas menjadi hening mereka sibuk melakukan kegiatan masing-masing, begitu dengan Arsya hanya saja mungkin hanya dia yang begitu santai dan acuh.
Guru sedari tadi berkeliling untuk melihat para murid nya, dia memberikan nasehat jika murid nya ada yang salah, entah itu takaran dari bahan-bahan yang harus di gabungkan atau lain nya.
Setelah satu jam kelas pun berakhir.
" Taruh ramuan itu di meja kalian masing-masing, setelah itu kalian bisa pergi. Saya yang akan menilai seberapa layaknya kalian untuk menjadi Ahli Alkimia" ujar guru tersebut dengan tegas, meski mereka kecewa karena tidak mengetahui nilai mereka saat itu juga tapi mereka masih mengikuti apa yang guru katakan.
Berbeda dengan Arsya selama satu jam berlangsung dia bukan hanya membuat satu ramuan saja, tapi beberapa ramuan juga. Namun dia hanya menaruh satu ramuan pemulihan yang ia anggap gagal di meja nya, sedangkan yang sempurna ia ambil dan masukkan dalam saku ruang tanpa sepengetahuan yang lain nya.
Setelah para murid pergi guru pun mulai mengetes seberapa tinggi kemurnian dari ramuan yang di buat oleh murid-murid nya.
Di atas meja tempat nya duduk telah ada sebuah alat untuk mengukur tingkat kemurnian dari ramuan yang di buat.
Dengan di bantu oleh asisten nya dia mengecek satu persatu ramuan itu.
" 30%"
" Kemurnian 50%" seru asisten nya
" Siapa dia?" Tanya guru itu
" Nama nya Zalfa pak."
" Zalfa? Siswa ini cukup bagus sebagai siswa baru. Lumayan"
" Seperti nya tidak ada yang memberikan kejutan, siswa tahun ini sangat merosot" ucap nya menggelengkan kepala nya saat merasa tidak ada murid jenius dalam bidang ini.
Saat giliran ramuan Arsya yang akan di uji ekspresi wajah guru itu sudah sangat kusut, dia bahkan sudah berpikir tingkat kemurnian ramuan itu sama dengan yang lain nya.
Ting
" 80%, pak lihatlah kemurnian ramuan ini 80%!" Seru asisten nya dengan semangat.
__ADS_1
" Benarkah?" Tanya nya dengan mata berbinar seakan dia baru saja mendapatkan permata paling berharga.
" Ini... Sungguh ramuan pemulihan dengan pemurnian 80%. Siapa, siapa yang telah membuat nya?" Tanya nya cepat dan penuh semangat.
" Arsyakayla pak."
" Arsyakayla, akhir nya ada juga murid yang terampil" serunya dengan senang.
" Panggil dia untuk menemui ku segera."
****
" Kay!" Panggil seseorang dari belakang
" Ka Ray.."
" Mm... Kita cari tempat duduk." Ucap Aksa yang di angguki oleh Arsya
" Kau menghilang selama satu Minggu, ku kira kau sudah mati oleh Harraz" ucap Arsya acuh tak acuh
" Perkataan mu ini sungguh kejam pada suami mu sendiri, jika aku mati sekarang kamu akan menjadi janda di usia muda ini. Apakah kamu menginginkan nya Kay" ucap Aksa dengan nada seperti anak kecil.
" Tidak masalah, pernikahan kita terjadi di sebuah desa terpencil dan mereka hanya membuat berkas surat pernikahan saja bukan kartu pernikahan. Jika kau menghilang tidak ada yang tahu tentang pernikahan ini" ujar nya dengan nada tidak peduli.
Saat ini suasana hati Arsya sedang sangat buruk, di tambah lagi selama Aksa pergi dia sama sekali tidak mengabari nya satu kali pun seakan ia tidak berarti di mata Aksa. Sebenarnya ia juga tidak mengharapkan Aksa akan mengabari nya, lagi pula pernikahan itu terjadi begitu cepat dia sendiri masih menyesuaikan diri dengan status nya yang sudah berubah, tapi seharusnya Aksa tidak menganggap remeh sebuah pernikahan, meski dia sekalipun masih belum mencintai Aksa tapi tanggung jawab berbeda dengan cinta menurutnya.
" Maafkan aku, selama satu Minggu ini aku memiliki urusan yang harus ku urus sehingga tidak bisa mengabari mu bahkan memegang handphone saja aku sulit" ucap Aksa dengan lesu.
Selama satu Minggu ini ia harus mengurus kakek nya, setelah kembali ke academy kakek nya menyuruh dia untuk segera kembali. Namun saat dia ke sana ternyata dokter pribadi nya yang juga merupakan sahabat nya melaporkan masalah pernikahan nya pada pak tua itu. Saat kakek nya tidak melihat dia membawa Arsya ikut dengan nya pak tua itu kembali membuat drama, bahkan mengancam akan menemui Arsya di academy. Untuk membuat nya diam dan tidak melakukan itu dia harus berusaha keras, Ia juga harus menangani orang-orang Harraz secepatnya, jadi karena itu ia tidak memegang handphone.
" Untuk apa minta maaf, memang kau memiliki salah."
" Maafkan aku karena telah membuat istri ku ini marah" ucap Aksa sambil mengacak rambut Arsya dengan lembut.
" Cih, siapa yang marah. Aku tidak peduli meski kau mati sekalipun" ucap nya acuh dan memalingkan wajah nya dengan kesal.
" Tenang saja akan sulit bagi mereka untuk membunuh ku, namun jika Kay ku menginginkan nyawa ku, aku akan dengan senang hati memberikan nya."
__ADS_1
" Cih, siapa juga yang menginginkan nyawa mu." Ucap Arsya yang langsung berdiri dan berjalan pergi.
Aksa yang melihat nya tersenyum tipis dan ikut menyusul gadis yang sedang marah itu.