
Dokter Alana memeriksa Arsya dengan tenang dan penuh perhatian.
" Apakah bagian tubuh mu ada yang merasa tidak nyaman?" Tanya dokter Alana disela pemeriksaan nya.
" Tidak" jawab Arsya singkat
" apa kepala mu merasa sakit?"
" Sakit kepala biasa, dokter tidak perlu melakukan pemeriksaan kembali, aku sudah baik-baik saja, ku rasa dokter sedang sibuk maaf mengganggu waktu dokter, dokter bisa melanjutkan tugas anda!" Ucap Arsya sopan namun sebenarnya maksud ucapan nya jelas dia tidak ingin di periksa dan meminta dokter Alana untuk meninggalkan ruangan nya segera.
" Baiklah seperti nya kamu sudah baik-baik saja, saya akan pergi memeriksa pasien lain, semoga kamu cepat sembuh" ucap dokter Alana sambil tersenyum ramah.
" Terima kasih dokter, biar saya yang mengantar ke depan!" Ucap Heera sopan.
Heera mengikuti dokter Alana dari belakang, saat sudah berada cukup jauh dari ruangan Arsya, dokter Alana dan Heera menghentikan langkah nya.
" Dokter apa yang terjadi pada sahabat saya?"
" Hah.. jika saja teman mu itu memang baik-baik saja, namun kondisi nya tidak sama dengan apa yang kalian lihat, namun aku sungguh salut pada nya dia bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan dan terlihat seakan dia baik-baik saja di hadapan orang lain itu sungguh luar biasa. Sebaiknya kalian membiarkan nya untuk sendiri agar dia merasa lebih nyaman, jangan biarkan dia merasa semakin tertekan... Aksa seperti nya orang yang cocok untuk menemani gadis itu, dia terlihat merasa nyaman dengan nya!" Ujar dokter Alana sambil melihat Arsya lewat kaca yang berada di pintu ruangan tersebut.
Heera juga dapat melihat tangan Arsya yang sedari tadi terus menggenggam tangan Aksa dengan begitu erat.
" Saya mengerti dokter, terima kasih atas bantuan dokter, saya hanya dapat mengantar sampai disini"
" Tidak masalah, saya permisi"
***
Keesokan hari nya semua nya kembali seperti semula, kondisi Arsya juga telah normal kembali, meski begitu Arsya seakan tidak ingin membahas kembali kejadian tempo hari, teman-teman nya pun tidak ada yang berani lagi untuk membicarakan nya karena di ancam oleh Heera dan Arion. Namun yang tidak kembali seperti semula hanyalah keadaan di academy saja, karena pada saat Aksa menggendong Arsya banyak orang yang melihat nya hingga membuat banyak orang yang menyebabkan banyak rumor tentang itu.
Semua rumor itu kebanyakan mengatakan tentang keburukan Arsya, di tambah oleh seseorang yang sengaja memperburuk rumor itu dan menjelekkan nama Aksa, rumor-rumor itu menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut.
Sayang nya yang menjadi bahan gosip mereka sendiri hanya acuh dan bersikap tidak peduli dengan rumor tersebut, entah itu Aksa maupun Aksa keduanya tidak menanggapi serius rumor yang ada, seperti yang di gosipkan bukan lah salah satu di antara mereka.
" Bukankah itu gadis cupu yang tidak tahu diri itu.."
" Benar, dia berani sekali menggoda prince es kita"
" Dasar wanita gatel"
" ******!"
Banyak hinaan dan cacian yang di terima Arsya di setiap jalan nya, namun Arsya hanya diam sambil menundukkan kepala nya sedikit ke bawah, orang-orang yang melihat nya akan berpikir dia sedang ketakutan dan merasa malu, namun sebenarnya Arsya tetaplah Arsya dia sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang telah menghina nya itu, menurut nya ada yang lebih penting dari pada harus meladeni setumpuk lalat.
Hanya membuang-buang waktu nya saja, pikir nya
__ADS_1
Hari ini Arsya keluar sendiri tanpa di temani Heera atau yang lainnya, Heera sendiri sedang sibuk mengerjakan tugas yang di berikan oleh Arsya satu minggu yang lalu.
Arsya berjalan keluar gerbang Academy, setelah berjalan cukup jauh, tidak jauh dari tempat nya berjalan sudah terparkir taksi yang sedang menunggu nya.
Tanpa bertanya Arsya langsung masuk kedalam mobil taksi.
" Apakah anda nona Arsya?" Tanya sopir taksi tersebut.
" Ya, pergi ke restoran B" ucap Arsya dengan sikap tenang
" Baik nona"
Selama perjalanan Arsya hanya bersandar pada kursi sambil memejamkan mata nya.
" Nona kita sudah sampai!" Ucap sopir taksi tersebut.
Arsya membuka mata nya perlahan setelah mendengar suara sang sopir.
" Terima kasih pak, ini ambil kembalian nya!" Seru Arsya memberikan tip pada sang sopir taksi.
" Terima kasih nona"
Arsya dengan tenang berjalan memasuki restoran yang ia tuju, saat masuk kedalam banyak pengunjung lain yang juga datang kesana tentu saja tujuan mereka untuk makan, berbeda dengan nya yang memiliki tujuan lain datang ke tempat itu.
Terlihat dari belakang pemuda itu akan menghubungi seseorang.
Tut tut tut
Handphone Arsya berbunyi namun ia tidak berniat mengangkat panggilan telepon itu, dia bahkan tidak berniat melihat siapa yang menelepon nya.
Mendengar suara teltpon yang berbunyi di belakangnya dan suara langkah kaki yang mendekati mejanya, pemuda itu pun melihat ke belakang.
" Nona" panggil pemuda itu ingin berdiri namun segera di cegah oleh Arsya.
" Duduklah, apa kau sudah memesan sesuatu" ucap Arsya sambil duduk, sikap nya begitu tenang dan elegan.
" Saya sudah memesan minuman, apa perlu saya pesankan sesuatu, nona?"
" Milkshake strawberry saja" singkat Arsya
" Pelayan!" Pemuda itu segera memanggil pelayan.
" Iya tuan ada yang bisa saya bantu?" Ucap pelayan yang baru datang sambil senyum ramah.
" Saya pesan milkshake strawberry satu"
__ADS_1
" Baik tuan, apakah masih ada lagi?" Tanya pelayan itu setelah mencatat pesanan pemuda itu.
" Tidak"
" Nevan!" Panggil Arsya dengan sikap yang dingin.
" Nona ini semua informasi yang kau inginkan, namun saya cukup kesulitan untuk mengetahui identitas orang yang ingin meretas identitas anda" pemuda bernama Nevan itu terlihat gugup dan takut, dia juga mengatakan kalimat terakhir dengan ragu, dia tahu nona nya paling tidak suka kegagalan.
Nevan sama dengan Arvin yang merupakan orang kepercayaan Arsya, hanya saja mereka berdua bertugas di tempat yang berbeda.
Arsya mengambil amplop berwarna coklat yang di berikan Nevan, ekspresi wajah nya masih terlihat tenang dan tidak berubah atau menunjukkan dia sedang marah, namun semua orang yang mengenal Arsya akan tahu di balik ketenangan nya dia sedang menyembunyikan badai yang kapan saja siap menghancurkan.
" Permisi pesanan anda tuan, nona milkshake strawberry" seorang pelayan datang membawa pesanan Arsya.
" Terima kasih" ucap Arsya, sebelah tangan nya mengambil minuman dan sebelah lagi membalikkan dokumen yang ia keluarkan dari amplop coklat tadi.
" Saya permisi tuan, nona. selamat menikmati" ucap pelayan itu sopan sebelum pergi.
" Heh, mereka seperti nya sudah tidak tahan bersembunyi lagi" cibir Arsya mengomentari setiap informasi yang ada di dalam dokumen tersebut, namun senyum sinis dan merendahkan tidak luput dari nya.
" Pelelangan?" Gumam Arsya
" Benar nona, pasar gelap yang ada di pulau terbang akan mengadakan pelelangan, mungkin hanya orang-orang besar saja yang akan hadir, kata nya akan ada satu benda yang sangat istimewa dan memiliki sihir yang begitu kuat menjadi salah satu benda yang akan di lelangkan." jelas Nevan yang tidak sengaja mendengar gumaman Arsya.
" dimana?" tanya Arsya yang dapat langsung dimengerti oleh Nevan.
" pelelangan tidak akan di adakan di pasar gelap, melainkan sebuah klub malam terbesar yang ada di pulau terbang ini... itu adalah... Rumah bordil surgawi" ucap Nevan ragu dia tahu nona nya sangat tidak suka pergi ke tempat seperti itu, setelah melihat tidak ada yang salah dengan ekspresi nona nya dia pun melanjutkan perkataan nya.
" saya telah menyelidiki nya rumah bordil surgawi ternyata bagian dari pasar gelap, namun sangat sulit menemukan siapa pemilik dari tempat yang paling berpengaruh itu di pulau ini"
" Hmm, aku mengerti. Siapkan satu ruangan untuk ku"
" Baik nona"
" Nona..." Nevan terlihat kesulitan untuk mengatakan sesuatu.
" Cukup kau lakukan tugas yang ku berikan dengan cepat dan tepat, tentang identitas orang itu akan menjadi urusan ku, dia juga tidak akan dengan mudah meretas ID ku" Arsya mengatakan semua itu dengan sikap yang tenang dan terkesan acuh tak acuh
" Saya mengerti nona"
" lakukan apa yang saya minta secepatnya!" Arsya berdiri dan berjalan pergi, namun tidak lupa sebelum pergi dia memanggil pelayan dan membayar pesanan yang telah di pesan
" Terima kasih nona, secepatnya saya akan mendapatkan apa yang nona inginkan"
" Bagus, saya pergi dulu"
__ADS_1