
***
Di tempat lain
Heera sedang berada di tempat pembuatan senjata, tidak ada orang lain di sana hanya ada dia seorang yang sedang duduk di depan komputer entah apa yang sedang ia lihat hingga begitu serius.
" Waaww luar binasa, senjata api ini sungguh hebat, bahkan lebih hebat dari bom kecil yang baru saja selesai ku buat kemarin. Sebenarnya terbuat dari apa otak nya itu sampai membuat senjata api yang begitu luar biasa seperti ini, mungkin hanya dia seorang yang tahu kelemahan dari senjata-senjata buatan nya ini!" Heera tidak berhenti berdecak kagum akan semua desain dari senjata-senjata yang di berikan Arsya untuk dia buat, meski dia yang membuat nya, dia sendiri tahu dengan jelas hanya Arsya yang mampu mengetahui sehebat mana senjata ini.
Saking kagum nya Heera pada desain tiga dimensi yang ada di komputer nya membuat dia tidak menyadari ada seseorang yang memerhatikan nya dari jauh, orang itu mendekati Heera dengan santai, tapi langkah kaki nya sama sekali tidak dapat di dengar oleh Heera seakan ruangan itu memang begitu sunyi atau gadis itu yang begitu fokus akan dunia nya sampai tidak menyadari keadaan di sekitar nya.
Saat orang itu sudah berada di jarak yang begitu dekat dengan Heera, Heera masih tidak menyadari kehadiran nya, membuat orang itu begitu penasaran apa yang di lihat gadis tersebut sampai terlihat begitu serius dan tidak menyadari sekeliling.
" Hebat sekali, siapa yang membuat desain senjata ini, begitu detail dan unik"
Heera begitu terkejut saat ada yang berbicara di samping nya.
" eh, setan!"
" Alvan!" seru Heera langsung berdiri dari duduk nya, wajah nya menunjukkan betapa terkejut diri nya.
" Mengapa kau disini, kau datang seperti hantu saja"
" Kau terlalu fokus pada layar komputer sampai tidak mendengar langkah kaki ku, dan juga mana ada hantu setampan diri ku ini. Oh ya, siapa yang membuat senjata ini, senjata yang begitu hebat!" Puji Alvan, saat Heera sedang berbicara Alvan menggeser mouse untuk melihat lebih detail desain senjata api tersebut, melihat itu membuat Heera kesal dan marah.
" Apa yang kau lakukan, menyingkir. Ini bukan urusan mu! dan berhenti lah bersikap tidak tahu malu di hadapan ku, polisi tidur mungkin lebih tampan dari mu" Seru Heera acuh dengan tatapan sinis dia menggeser posisi Alvan agar tidak melihat komputer nya.
" mana bisa polisi tidur yang tidak memiliki wajah dan tubuh bisa di bandingkan dengan ketampanan seorang Alvan!" ucap nya sombong yang membuat Heera memutar bola mata nya jengah.
__ADS_1
" Aku hanya ingin melihat nya sebentar saja" Alvan berusaha untuk melihat gambar senjata api itu kembali, namun Heera terus menghalangi nya.
" Tidak, kau tidak boleh melihat nya" ketus Heera
" Ku lihat desain senjata itu sangat unik dan sederhana, namun bahan yang di gunakan cukup langka dan mahal, aku bisa membantu mu menyiapkan bahan-bahan nya bagaimana?" Ujar Alvan menaikan kedua alis nya.
Dia sungguh penasaran dengan gambar tiga dimensi yang ada di komputer gadis ini, hanya melihat sekilas saja dia dapat tahu betapa hebat nya senjata itu, sebagai penggila berbagai senjata dia paham mana senjata yang hebat dan mana yang biasa saja.
" Memang benar material untuk senjata ini sangat mahal, di academy juga hanya ada beberapa material saja itupun jenis bahan tingkat menengah tidak akan cocok jika digunakan untuk membuat senjata yang ingin ku buat, yang ada senjata api ini tidak akan jadi, meskipun aku dapat membeli nya sendiri tapi orang lain akan mempertanyakan dari mana bahan bahan itu di dapat dan akan sangat sulit untuk menjawabnya, apa aku terima saja tawaran dari pria aneh ini, ku rasa tidak ada rugi nya juga" Heera terus menerus berpikir dan mempertimbangkan tawaran dari Alvan dengan pose yang terlihat begitu imut di mata Alvan.
" Bagaimana tawaran ku ini, tawaran ini sesuatu yang sangat langka loh, banyak orang yang ingin bekerja sama dengan ku tapi aku tidak pernah melirik mereka, kau harus memikirkan nya dengan baik" ucap Alvan menaikan kedua alis nya.
" Apa syarat nya?" Tanya Heera karena ia yakin Alvan tidak akan begitu saja memberikan semua material itu.
" Syarat nya sangat mudah aku ingin ikut membantu dalam pembuatan senjata tersebut, dan aku ingin memiliki satu senjata seperti itu bagaimana?" Ujar Alvan dalam mode serius nya
" Tentu saja hanya itu"
" Baik tapi aku akan menghubungi orang yang telah membuat desain senjata itu terlebih dahulu, jika dia mengijinkan nya aku akan menyetujui syarat mu, semua nya tergantung dia"
Heera mengeluarkan handphone nya dan menghubungi Arsya, dia menceritakan semua nya pada Arsya dan juga meminta persetujuan Arsya atas apa yang telah Alvan tawarkan.
" Sebenarnya siapa dia yang dimaksud Clara, bergitu rahasia sampai dia harus menjauh hanya untuk menelpon. Orang yang telah membuat desain senjata itu adalah orang jenius dalam senjata api" batin Alvan menatap Heera dengan rasa penasaran nya, dia terus memperhatikan Heera yang sedang menelpon.
" Bagaimana?" Tanya Alvan pada Heera yang sedang berjalan mendekati nya.
" Baik, aku setuju dengan syarat mu. Semoga kerja sama kita berjalan dengan baik" ucap Heera mengangkat tangan nya menunggu Alvan menjabat tangan nya.
__ADS_1
" Senang bertransaksi dengan mu juga nona" Alvan tanpa ragu berjabat tangan dengan Heera untuk bentuk kerja sama yang terjalin di antara mereka.
***
Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh sebagian orang bukan karena hari ini hari valentine atau hari kemerdekaan, tapi karena hari ini, pelatihan militer kembali berlanjut, seharusnya orang-orang merasa kesal dan lesu bagaimana mereka sudah lelah menjalani serangkaian pelatihan yang seperti neraka, namun hari ini berbeda.
Meski hari ini memang untuk pelatihan militer namun hari ini juga murid-murid Phoenix Class akan memilih rekan nya dari tingkat yang lebih bawah dari nya. Tentu saja sebagian orang menantikan dan berharap bisa membuat tuan muda-tuan muda dari keluarga bangsawan utama tertarik dan memilih mereka.
Seluruh murid yang masih bertahan pada pelatihan minggu kemarin telah berkumpul dan berbaris sejajar.
Tidak lama para murid Phoenix Class datang, begitu pun dengan kelompok Aksa, kedatangan Aksa dan teman-teman membuat lapangan yang memang sudah ramai menjadi semakin ramai.
" aaahhh mereka tampan sekali!"
" Suami ku tampan sekali...."
" Bawa aku bersama mu sayang"
" Tuan muda Arion sangat tampan!"
" Aksa sangat tampan dan berkarisma aku ingin membawa nya pulang..."
" Uuuhh pacar ku juga datang..."
" Aaaah apakah mereka juga akan ikut pemilihan!"
Tentu saja teriakan-teriakan itu di tunjukkan untuk Aksa dan teman-teman nya. Aksa dan kelompok nya hanya acuh menanggapi teriakan dari para wanita, seakan semua itu bukan di tujukan pada mereka.
__ADS_1