Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
55. Identitas Yang Mengerikan


__ADS_3

" Heh hanya keluarga Rivera begitu sombong di hadapan ku" cibir Harraz yang sudah dapat merasa tenang, namun...


" Jika keluarga Rivera tidak bisa di bandingkan dengan keluarga Davies, apakah jika keluarga Rivera bergabung dengan keluarga Evans masih tidak bisa di sandingkan dengan keluarga Davies mu itu!" Ujar Alvan acuh.


seperti tersambar petir di siang bolong, ketenangan yang di pertahankan oleh Harraz perlahan mulai hancur saat mengetahui identitas Alvan.


" Keluarga Evans, Haha... kau mungkin sudah menjadi gila, jika pun keluarga Evans akan mendukung sebuah keluarga ia akan memilih mendukung keluarga Davies di bandingkan keluarga Rivera yang masih kalah jauh" ucap nya penuh percaya diri


" Sayang nya aku Alvan Kanav Evans pemimpin selanjutnya keluarga Evans lebih memilih mendukung keluarga Rivera" ujar Alvan percaya diri dan menatap Harraz dengan sinis.


" A-apa?"


Harraz dan wanita di samping nya sangat terkejut mendengar perkataan Alvan, bagaimana pun dan setinggi apapun keluarga Davies masih belum bisa di sandingkan dengan tiga keluarga utama dan keluarga Evans adalah salah satu dari tiga keluarga bangsawan utama.


" Hey, Alvan jangan lupakan aku dan keluarga ku..." Seru Arion tidak ingin kalah


" Seperti nya kau tidak perlu memperkenalkan diri mu Rion, hanya mendengar nama keluarga Evans saja wajah mereka sudah pucat, apa lagi jika dia mendengar nama keluarga Lawrence, Upss.. aku keceplosan" ucap Alvan santai namun ekspresi nya seakan dia telah mengucapkan perkataan yang salah, meski itu hanya pura-pura saja.


" Cih, biarkan saja mereka berdua mengetahui bahwa Arion Melviano Lawrence tidak semudah itu di tindas" ujar Arion dengan tenang dan dingin, nada nya jelas sangat tegas dan terdengar sangat sinis.


" Keluarga Lawrence" gumam kedua nya.


Harraz dan wanita disamping nya semakin pucat, mereka tidak menyangka teman-teman Aksa yang mereka hina ternyata memiliki latar belakang yang sangat mengerikan.


Harraz dengan cepat pergi meninggalkan kantin dengan malu, melihat kepergian Harraz membuat wanita itu ikut pergi menyusul nya.


Andai Harraz tahu Aksa pemuda yang ia rendahan adalah pemimpin dari keluarga Knight keluarga bangsawan utama yang ada pada urutan pertama, mungkin dia akan langsung muntah darah saking tidak percaya nya.


" Cih, Alvan seperti nya kau salah!" Ucap Heera kesal


" Apa yang salah dari ku?" Tanya Alvan bingung yang juga membuat yang lainnya bingung.


" Dia itu bukan kecebong tapi kecoa yang sering ada di tong sampah dan mengambil makanan sisa, menjijikkan" ucap Heera kesal


Aksa yang sedari tadi duduk tiba-tiba berdiri dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Arsya ingin menyusul nya namun sedikit ragu.


" Arsya, pergi dan susul dia!" Seru Arion dengan tenang, dia sangat mengenal adik nya itu, jadi dia sangat mengerti apa yang diinginkan adik nya sekarang.


" Tapi.."


" Tanya pada hati mu sendiri apa kau peduli pada nya atau tidak, bukankah selama ini kau tidak pernah mendengarkan ucapan orang lain hmm.." ucap Arion menasihati nya dengan lembut.


" Apa maksud mu? Aku tidak.." jawab Arsya acuh namun pipi nya sedikit memerah.


Arsya tidak ingin melanjutkan perkataan nya dan segera pergi menyusul Aksa.


" Waahh ada yang sudah memberikan restu nih!" Seru Heera heboh.


" Tidak! Siapa juga yang memberi nya restu. Aku masih tidak iklas jika kesayangan ku di rebut oleh nya dengan begitu mudah, jangan lupa Clar sebelum Aksa merebut kesayangan ku dari ku dia harus menghadapi dua panglima perang terlebih dahulu" ujar Arion sombong, tentu saja orang yang di maksud adalah diri nya sendiri dan satu orang lagi adalah ayah nya yang sangat posesif jika itu menyangkut putri kesayangan nya.


" Cih sombong.."


Perdebatan keduanya membuat yang lainnya bingung dan tidak mengerti dengan apa yang mereka perdebatkan, namun di antara mereka Valencia lah yang merasa sedih karena menganggap Arion memang menyukai Arsya dan tidak ingin melepaskan nya dengan mudah, dia sangat sedih saat mendengar dari mulut Arion sendiri bahwa Arsya adalah kesayangan nya, sebenarnya pemikiran ini juga ada di setiap benak yang lain nya, mereka bahkan tidak terpikirkan sedikitpun jika Arsya adalah adik Arion sendiri.


" Tidak ada, kau memang pahlawan berkuda putih" seru Kenan tidak jelas.


" Heh bodoh yang ada itu pangeran berkuda putih lah ko pahlawan sih!" Seru Alvan


" Oh sudah ganti ya!"


" Pala mu ganti, ya memang sudah dari dulu nama nya itu Kenan, kau saja yang seenak jidat mu mengganti nya" seru Alvan kesal


" Maaf lidah ku keseleo" Jawa Kenan santai serta cengar-cengir tidak jelas.


" Sudahlah sesama orang gila tidak perlu berdebat" ucap Heera santai namun mendapatkan tatapan tajam dari Alvan dan Kenan.


" Apa! Jangan melihat ku seperti itu atau kau mau mata mu itu ku congkel dengan ini" seru Heera sambil menodongkan garpu pada kedua nya.


" Hahaha..." Mereka tertawa melihat Alvan dan Kenan menciut dan ketakutan oleh Heera.

__ADS_1


***


Arsya tidak menemukan Aksa dimana pun.


" Kemana dia? Dan untuk apa juga aku peduli dengan nya, cihh menyebalkan" gumam Arsya kesal, dia ingin pergi dan tidak mempedulikan pemuda itu, tapi entah mengapa ia merasa tidak tenang jika membiarkan Aksa seorang diri.


" mungkin saja dia ada di tempat itu" ucap nya pelan saat mengingat satu tempat yang kemungkinan besar Aksa akan berada di sana.


Arsya sekarang berada di tempat rahasia milik Aksa, ia pergi ke sana melewati Air terjun yang pertama kali saat tanpa sengaja pergi ke tempat itu dulu.


Ternyata tebakan nya benar, Aksa sedang berada di taman belakang yang merupakan sebuah tempat berlatih, terlihat Aksa sedang melampiaskan amarah nya dengan memukul samsak di depan nya.


" Dengan melukai diri mu sendiri tidak akan menyelesaikan masalah!" Seru Arsya malas ia sendiri tidak mengerti kenapa harus peduli dengan pemuda ini.


Mendengar suara yang familiar di telinga nya Aksa langsung menghentikan kegiatan nya itu dan menatap ke arah dimana Arsya berada, tatapan mata nya yang sedari tadi tajam dan dingin dalam sekejap berubah melembut.


" Kenapa kamu disini?" tanya Aksa sambil mencoba meredakan emosi nya.


" Hanya ingin, memang nya tidak boleh?" Ucap nya acuh


" Tentu saja boleh" jawab Aksa sambil membuka sarung tinju nya dan menghampiri gadis itu.


Melihat Arsya di depan nya membuat suasana hati nya yang buruk menjadi jauh lebih baik, Arsya seperti sebuah penawar bagi nya.


Saat di kantin sebenarnya dia ingin sekali menghajar Harraz, namun dia tidak ingin terlihat buruk di mata Arsya gadis yang telah mencuri hati nya, lagi pula dia telah memiliki rencana lain untuk membalas perbuatan Harraz sepuluh kali lipat.


" Tangan mu terluka, sini biar ku obati!" Seru Arsya yang tidak sengaja melihat luka luka yang ada pada tangan Aksa, terdapat darah yang masih menetes di sana.


" Tidak perlu, hanya luka kecil"


" Luka kecil juga bisa infeksi, kenapa tidak kamu potong saja tangan mu dan tidak perlu diobati!" Seru nya acuh


Mendengar ucapan pedas Arsya membuat Aksa sedikit meringis.


Tidak bisakah kamu membujuk dengan cara baik-baik, pikir nya.

__ADS_1


Arsya mengeluarkan kotak p3k dan mulai mengobati tangan Aksa.


__ADS_2