Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
72. Tuan Besar Knight


__ADS_3

Ckit!


Pintu di buka oleh Aksa, saat pintu terbuka Aksa dapat mendengar suara percakapan dua orang dan salah satu nya adalah kakek nya sendiri.


" Tuan besar tolong bantu saya, saya mohon!"


" Mengapa kau begitu bodoh, negara M adalah negara kekuasaan keluarga Lawrence tapi kau malah bermain di wilayah kekuasaan mereka, tanggung saja akibat nya sendiri, jangan libatkan keluarga Knight hanya karena masalah mu ini" suara dingin dapat terdengar oleh Aksa.


Saat pintu terbuka dan Aksa berjalan mendekati kedua orang itu, kedua orang yang tadi begitu serius berbincang langsung mengalihkan pembicaraan mereka dan menatap nya.


" Siapa kau? Mengapa kau dengan lancang nya masuk ke ruangan tuan besar" seorang pria paruh baya berbicara dengan nada tinggi pada Aksa, dia pikir pemuda ini telah sembarang masuk jadi menggunakan kesempatan ini untuk menjilat tuan besar Knight. Namun siapa sangka saat kedua mata nya bertatapan dengan mata pemuda itu rasa dingin langsung menusuk tulang nya.


" Jika kalian sibuk lebih baik saya tidak menganggu" suara Aksa yang terdengar sangat dingin dan ekspresi wajah nya yang begitu datar membuat pria paruh baya itu gemetar tanpa alasan.


" anak bodoh kau mau pergi kemana lagi, kembali aku akan menghukum mu!" Seru seorang pria paruh baya, rambut nya sebagian sudah memutih, namun paras nya masih terlihat tampan dan gagah, wajah nya sedikit mirip dengan Aksa.


Mendengar ocehan kakek nya itu Aksa segera menatap pria yang tidak di kenal nya itu.


" Urusan ku dengan nya sudah selesai, dia akan segera pulang ke rumah nya" sahut kakek tua itu acuh, namun secara tidak langsung dia mengusir pria itu secara halus.


" Kalau begitu saya pamit undur diri tuan besar!" Meski kesal karena ada yang menganggu perbincangan nya dia hanya dapat segera pergi dari sana sebelum tuan Knight semakin marah.


Sebelum keluar dari ruangan itu, dia sempat melirik pada pemuda yang tidak ia kenal itu, saat ia bertatap kembali dengan mata dingin itu rasa nya seluruh tubuh nya sedang di lucuti.


Entah perasaan berbahaya apa yang sedang ia rasakan saat itu!


Dia segera memalingkan wajah nya dan pergi dari sana, namun tak ayal ia begitu penasaran tentang identitas pemuda yang begitu berani nya masuk ke ruangan tuan besar Knight.


" Apakah pemuda itu tuan muda Knight?" Sebuah pemikiran terlintas di benak nya, memikirkan itu tanpa sadar dia bergidik ketakutan. Jika benar itu adalah dia habislah sudah diri nya.


" Jadi ada apa kakek memanggil ku, jika itu tidak penting lebih baik lupakan saja!" Seru Aksa acuh tak acuh, dia langsung duduk di hadapan kakek nya dengan santai.


" Kau... Dasar bocah nakal. Apa kau ingin membuat pria tua ini jantungan, tidak bisakah kau bersikap lembut sedikit" ucap nya sambil menunjuk Aksa dengan kesal.


" Kakek sudah begitu tua sampai tidak dapat membedakan ketulusan ku, jika aku tidak lembut pada mu mana mungkin aku akan pulang sekarang ini"


" Sekarang katakan saja pada inti nya apa yang ingin kakek bicarakan!"


" Bocah tidak bisakah kakek tua ini memanggil mu karena merindukan cucu nya sendiri... Sudahlah lebih baik kita mengobrol dengan santai. Sudah lama kakek dan cucu nya tidak main catur bersama, bagaimana jika kita mengobrol sambil bermain!" Ucap nya menghela nafas dengan pasrah melihat kelakuan cucu kesayangan nya ini.

__ADS_1


" Baik, namun apa hadiah nya. Permainan tidak akan seru tanpa ada nya hadiah" Aksa tersenyum tipis saat mengatakan itu.


" Bocah kau semakin licik" ucap nya sinis.


" Aku begini belajar dari kakek"


Kedua nya berjalan ke sebuah meja yang berada di dekat jendela di atas meja sudah ada papan catur.


Tok tok tok


" Masuk!"


" Tuan besar, tuan muda" seru seorang pelayan masuk membawa teh dan cemilan.


" Terima kasih"


" Ini sudah tugas saya tuan besar, saya permisi."


" Baiklah, kau pilih bidak yang mana?" Tanya kakek Aksa


" Hitam" jawab Aksa singkat.


Kakek Aksa yang bernama Kavin Adhlino Knight hanya menggelengkan kepala nya, cucu nya ini sangat suka memilih bidak hitam.


" Ini nama nya strategi kakek. Sekarang kakek katakan saja, mengapa memanggil ku kesini!" Seru Aksa tidak ingin bertele-tele.


" Ck, bocah tidak bisakah kau menunggu permainan ini selesai terlebih dahulu.."


" Tidak, aku sibuk"


" heh, kau begitu sibuk sampai tidak memiliki waktu untuk kakek mu sendiri, lalu kapan aku bisa menggendong cicit jika kau begitu sibuk" ucap nya sinis


" Mengapa tidak kakek saja yang menikah" ucap Aksa acuh yang mendapatkan pelototan dari kakek nya itu. Aksa memindah satu bidak nya dengan tenang.


" Heh, bocah sembarangan saja bicara, kakek mu ini sudah tua, lagi pula kakek hanya mencintai nenek mu saja. Lebih baik kau segera mencari pasangan atau perlu kakek yang mencarikan nya untuk mu!" Seru nya sambil mendelik pada Aksa, dia memainkan bidak putih dan memakan bidak hitam milik Aksa, dia pun tersenyum sombong pada Aksa karena berhasil memakan satu bidak milik Aksa.


" Seperti nya pak tua itu belum menyerah menjodohkan cucu nya untuk ku, aku tidak tertarik dengan wanita-wanita itu. Dan kakek tidak perlu memikirkan pasangan untuk ku lagi, aku sudah memiliki pilihan ku sendiri!" Jawab Aksa santai


" Bukan hanya dia, orang-orang itu mulai keluar dan mengirimi surat lamaran untuk mu. Tapi tunggu! kau sudah memiliki seorang wanita, benarkah?"

__ADS_1


" Bukankah aku sudah mengatakan nya pada kakek dari dulu, hanya dia yang pantas menjadi pasangan ku" ujar Aksa, dia memainkan bidak nya dan berhasil memakan dua bidak kakek nya sekaligus.


" Kau ini selalu melakukan serangan yang tidak terduga, apakah kau bisa mengalahkan pada pria yang sudah tua ini. Sudahlah, cepat katakan siapa calon cucu menantu ku itu, dan bawa dia pada ku, jangan terus menyembunyikan nya. Kakek bahkan berpikir kau menyukai seorang pria" ucap nya sinis


" Kakek pikir aku gay?"


" Ya mungkin saja, apa lagi dengan fakta kau yang sangat sulit untuk di dekati."


" Aku akan membawa cucu menantu mu itu nanti, tapi dia gadis yang sulit di taklukkan"


" Ya, cepat bawa dia pada ku, atau seluruh penghuni kediaman ini akan mengatai mu homoseksual."


" Jika tidak ada yang ingin kakek bicarakan lagi, lebih baik aku pergi" ucap nya setelah menaruh bidak nya dan memenangkan permainan itu dengan skakmat.


" Baik, baik kau menang.... Katakan kapan kau siap di perkenalkan di depan publik sebagai pewaris ku?" Ucap kakek Aksa menjadi serius saat membicarakan tentang itu.


" Kapan kau berhenti bermain-main, dan membalaskan dendam mu serta menghancurkan orang itu."


" Kakek sudah tua, tidak perlu memikirkan hal ini, kakek cukup beristirahat saja. Soal orang itu aku masih ingin bermain-main dengan nya, dia harus merasakan rasa sakit seribu kali lebih sakit dari yang dia berikan pada ibu ku, tentang identitas ku juga Kakek bisa mengumumkan nya saat awal kehancuran ayah tercinta ku itu" ucap Aksa menyeringai.


" Baiklah, kau atur saja sesuka mu!" Seru nya tidak ingin ikut campur urusan cucu nya yang keras kepala ini.


" Sekarang berikan hadiah ku."


" Hadiah apa?"


" Kakek tidak mungkin melupakan taruhan kita, kan!"


" Bocah kau masih saja perhitungan pada kakek tua ini. Baiklah apa yang kau inginkan?"


" Hanya sebuah pulau.."


" Pulau? Itu mudah katakan saja pulau apa yang kau inginkan!"


" Bukankah ku dengar kakek baru saja membeli sebuah pulau. Aku menginginkan pulau itu!"


" Tentu saja."


" Bocah mata mu ternyata sangat jeli, pulau itu adalah salah satu pulau terbaik yang pernah muncul, dan aku mendapatkan pulau itu dengan susah payah."

__ADS_1


" Kau tidak berniat menarik perkataan mu kembali bukan!"


" Baiklah, pulau itu sekarang milik mu. Kau puas sekarang setelah memeras kakek mu sendiri bocah."


__ADS_2