Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
08. Pertolongan Pertama


__ADS_3

***


Gadis itu rasa nya ingin meninggalkan pemuda itu sendiri di tempat ini, namun untuk pertama kali nya hati nya menolak, ia pun merasa khawatir melihat kondisi nya sekarang.


" Uhuk-khuk...." Pemuda itu kembali memuntahkan beberapa teguk darah


Melihat itu gadis itu yang tidak lain adalah Arsya membawa nya pergi menuju tempat dimana taksi nya berada.


Sopir taksi yang melihat gadis yang menyewa taksi nya datang bersama seorang pemuda cukup terkejut, yang membuat nya terkejut saat melihat pemuda itu memiliki banyak luka di tubuh nya, pakaian Pemuda itu berwarna gelap sehingga tidak terlalu terlihat ada noda darah di pakaian nya, sehingga tidak membuat sopir taksi itu lebih ketakutan lagi.


" Ke rumah sakit terdekat!" ucap gadis itu setelah duduk di kursi penumpang.


" Ke rumah sakit terdekat?" dia kembali mengulangi lagi ucapan nya saat merasa mobil itu tak kunjung bergerak.


" Ahk... Baik nona"


Bruummm


Arsya mengeluarkan sebuah belati dari pinggang nya, ia selalu membawa senjata kemana pun berada karena ia tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan.


Melihat gadis itu mengeluarkan belati membuat sopir taksi itu menelan saliva nya dengan ketakutan. Berbeda dengan pemuda itu yang terlihat tenang, namun menatap gadis di depan nya dengan tatapan memelas.


Tidak peduli dengan apa yang di pikirkan kedua orang itu, Arsya tetap melanjutkan aktivitas nya, Arsya mencari sesuatu dari tas nya ia mengeluarkan beberapa barang dari dalam tas nya seperti botol air, tisu, dan sebuah kotak kecil yang kosong.


" Pak anda memiliki korek api" tanya Arsya


" Pu-punya nona"


" Saya pinjam"


" I-ini nona" sebelah tangan nya ia gunakan untuk memberikan benda yang gadis itu minta dengan gugup.


Setelah menerima korek api dari sopir taksi, Arsya membakar belati yang ia pegang agar memanas.


Karena penasaran dengan apa yang sedang gadis didepan nya lakukan, ia pun bertanya " Apa yang sedang kau lakukan"


" Mengeluarkan peluru" jawab Arsya acuh


" Memang nya kamu bisa" ucap nya meremehkan


" Buka jaket mu" bukan nya menjawab Arsya malah memberi perintah pada pemuda itu.


" Kamu yakin bisa?" ucap nya ragu

__ADS_1


" Jika tidak, mungkin tangan mu hanya akan menjadi lumpuh" jawab Arsya acuh tak acuh


Mendengar pembicaraan kedua orang itu, membuat sopir taksi itu merinding, mereka membicarakan kematian seperti hanya sebuah mainan.


" baiklah aku percaya" ucapnya sambil membuka jaket yang sedari tadi masih melekat di tubuh nya


" Aku tidak butuh kamu mempercayai ku" ucap Arsya acuh


"..." nona ini menyangkut nyawa ku, apa kamu pikir aku begitu saja harus menurut pada mu, pikir nya.


namun dia masih mengikuti apa permintaan gadis itu.


Setelah pemuda itu membuka jaket nya hanya tertinggal kaos nya yang berwarna putih namun telah bercampur merah karena noda darah memenuhi baju nya.


Sopir taksi tangan nya langsung gemetaran saat mengintip lewat kaca spion mobil itu, ia melihat banyak noda darah dari kaos putih pemuda itu.


Tanpa menghiraukan tatapan sopir taksi, Arsya melakukan pekerjaan nya dengan telaten dan hati hati, ia membersihkan noda darah lalu mengeluarkan peluru yang berada di tangan atas nya dengan telaten, namun ekspresi nya masih tetap tenang.


Tapi yang akan membuat siapa saja yang melihat pemandangan ini bergidik ngeri adalah saat gadis itu mengambil peluru itu tanpa bantuan alkohol atau alat medis lain nya, namun meski begitu pemuda itu bahkan tidak menunjukan ekspresi kesakitan sedikit pun saat proses pengeluaran peluru itu.


Merinding? tentu saja siapa pun yang melihat nya akan merinding ketakutan.


Kebanyakan orang akan memilih di bius terlebih dahulu sebelum mengijinkan dokter untuk mengeluarkan peluru itu, tapi pemuda itu berbeda dia masih terlihat santai dan tenang saat gadis itu sedang mengeluarkan peluru yang bersarang di tangan nya.


" Balut luka di perut mu dengan kain ini" ucap Arsya sambil memberikan kain kasa pada pemuda itu.


" Bagaimana aku bisa melakukan nya, tangan ku sedang terluka" ucap nya lirih sambil menunjukan tangan nya yang telah terbalut perban.


Melihat itu Arsya menghela nafas nya, dengan pasrah ia pun membalut luka di perut pemuda itu tanpa melepaskan kaos yang dikenakan nya, hanya bertujuan untuk menghentikan pendarahan yang terus mengalir dari luka akibat tusukan benda tajam.


" Fokus dan lakukan saja tugas mu dengan baik" ujar nya melirik pada sopir yang sedari tadi terus mengintip dari kaca spion nya


" baik nona"


Arsya memalingkan wajah nya dari pemuda itu dan hanya fokus melihat keluar jendela.


Namun semakin lama kesadaran pemuda itu semakin hilang, itu terbukti dari mata nya yang mulai menutup, penglihatan nya semakin buram, wajah nya pun sangat pucat seperti mayat hidup.


" Gadis kecil, jika aku selamat, aku akan mencari mu dan menjadikan mu istri ku" ucapnya sebelum benar benar menutup mata nya.


" Jangan bicara omong kosong" ucap Arsya memalingkan wajah nya pada pemuda itu.


Namun yang ia lihat pemuda itu menutup mata nya, ia kira dia sedang tidur, tapi tidak juga bangun saat ia membangunkan nya.

__ADS_1


" Hei bangun, kamu tidak matikan!" tanya Arsya panik


" Kemudikan mobil ini lebih cepat!!! kamu dengar bergerak lah lebih cepat" seru Arsya berteriak


Ia merasakan perasaan takut akan kehilangan seseorang untuk pertama kali nya selain keluarga nya


" Baik nona"


Bruummm


Mobil Taksi pun segera sampai di rumah sakit terdekat, ia dengan di bantu oleh sopir taksi membawa pemuda itu ke dalam rumah sakit.


" Bagaimana kondisi nya dok?" Tanya Arsya dingin pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan pemuda itu berada


" Pasien kehilangan banyak darah, dia harus segera melakukan transfusi darah, namun darah yang di miliki nya sangat langka...." Ucap dokter ragu


" Lanjutkan!" Seru Arsya


" Nona bisa kita membicarakan ini di ruangan saya" ucap dokter ragu


" Tunjukkan jalan" ucap Arsya singkat


" Mari"


Mereka berdua keruangan dokter tersebut.


" Jadi begini nona, kalau boleh saya tahu apakah anda keluarga pasien?"


" Bukan"


" Hah, sayang sekali, pasien memiliki golongan darah yang sangat langka, bahkan saya tidak pernah melihat golongan darah milik pasien di miliki oleh orang lain. Pasien adalah satu dari sejuta orang yang lahir dengan golongan darah itu, dia terlahir dengan takdir menjadi penguasa, dan hanya ada satu dari jutaan ribu orang yang memiliki nya. Di rumah sakit ini tidak ada golongan darah seperti nya, sehingga kami tidak bisa melakukan transfusi darah. Karena itu saya membutuhkan keluarga nya untuk bisa mendonorkan darah nya, setidaknya keluarga nya dapat memulihkan sedikit kondisi nya yang sangat kritis, meski tidak mampu secara penuh mendonorkan darah nya" jelas nya secara rinci, karena dia pikir gadis di depan nya tidak mengerti sebagian apa yang dia katakan, namun dia terlihat sangat antusias saat mengatakan nya.


" Bisakah nona menghubungi keluarga pasien" lanjut nya


" Tidak tahu" ucap Arsya singkat, namun ia memikirkan setiap ucapan dokter itu, Arsya juga heran mengapa seperti nya dokter ini sangat memahami tentang golongan darah para bangsawan, yang hanya dapat di pahami oleh dokter dari sebuah keluarga bangsawan saja.


Arsya bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti maksud dari ucapan dokter itu, meski perkataan nya seperti sebuah teka-teki, tapi ia sangat memahami nya golongan darah yang di bicarakan oleh dokter tersebut hanya di miliki oleh anggota keluarga bangsawan saja.


Tapi mungkin dokter itu menganggap diri nya hanya orang biasa yang tidak akan mengerti arti di balik kata-kata nya itu, dan ia juga tidak mempedulikan hal itu.


Bukan urusan nya juga, pikir nya


" Apa?"

__ADS_1


__ADS_2