Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
79. Kemarahan Heera


__ADS_3

***


Keesokan pagi nya


Arsya telah kembali ke kamar asrama nya pagi-pagi sekali, bahkan sebelum Aksa keluar dari kamar nya dia sudah pergi dari apartemen itu.


Tapi baru saja dia membuka pintu asrama nya, seseorang sedang berdiri memperhatikan nya tidak jauh dari pintu kamar nya, orang itu tidak lain adalah Heera.


Heera berdiri dengan tegak sambil menyilang kan kedua tangan nya dan menatap Arsya dengan curiga.


" Kau darimana saja? Semalaman tidak pulang, dan baru pulang pagi hari nya. Handphone mu sulit di hubungi, aku sudah menghubungi mu ratusan kali tapi satu pun tidak kau angkat!" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Heera, gadis itu terlihat sangat marah sekarang ini.


Arsya menatap Heera dengan perasaan sedikit merasa bersalah, baru saja Arsya ingin membuka mulut nya, pekikan seseorang menghentikan nya.


" Astaga Clara, apa kau menunggu Arsya semalaman di sana, apa kau tidak tidur. Arsya bukan anak kecil lagi tidak perlu kau tunggu sebegitu nya juga!" Suara Naura yang keras sampai menggema di ruangan itu.


Mendengar ucapan Naura membuat Arsya semakin merasa tidak enak hati.


Arsya menghela napas nya sebelum berkata " Apa yang kau inginkan?"


Mendengar pertanyaan Arsya, Heera semakin kesal.


Melihat tatapan Arsya dan Heera yang seakan-akan ingin menelan satu sama lain membuat nya merinding, jika hanya dengan tatapan saja bisa membunuh seseorang, mungkin sekarang Arsya dan Heera telah mati berkali-kali. Naura baru saja ingin melerai pertikaian antara keduanya, tapi sebelum ia melakukan sesuatu, ia di buat melongo oleh tindakan Heera.


" Kau... Ara aku sedang marah pada mu! Mengapa kau pergi sendirian tanpa mengajak ku, apakah kau tidak membutuhkan ku lagi! Menyebalkan, kau bisa keluar dan bersenang-senang sedangkan aku stay diam dia asrama. Kau bahkan tidak pulang semalaman. Dasar menyebalkan, kau membuat aku tidak bisa tidur saja, karena membayangkan kau hanya bersenang-senang sendirian di luar" ekspresi Heera sekarang terlihat menyedihkan dengan bibir yang terus ia manyunkan.


" Ara, saat nanti kau keluar lagi ajak aku juga ya. Pliss..." Ucap Heera memohon dengan mata yang di buat seimut mungkin dan tangan yang sudah memegang tangan Arsya dengan manja.


" Hah..." Naura mengedipkan mata nya beberapa kali melihat kelakuan Heera yang begitu kekanakan.


Jadi Clara marah bukan karena Arsya telah membuat nya khawatir seharian tapi karena Arsya tidak mengajak gadis itu keluar untuk bersenang-senang.


Perubahan situasi ini mengejutkan Naura, mungkin yang ia syukuri sekarang, tadi ia tidak benar-benar melerai keduanya, karena itu percuma saja mereka berdua bertindak sangat aneh dan membuat nya bingung saja.


" Clara kau bersikap sangat menjijikkan saat ini, Naura saja sampai linglung melihat tingkah mu ini. Pantas saja Arsya tidak mau mengajak mu keluar.." cibir Kyra, namun dia tidak sungguh-sungguh dengan perkataan nya itu.


Gadis itu segera keluar saat mendengar teriakkan Naura begitu pun dengan teman-teman nya yang lain, tapi mereka juga tidak menyangka akan melihat kelakuan Heera yang begitu kekanakan.

__ADS_1


" Memang nya kenapa dia tidak mau mengajak ku?" Tanya Heera dengan polos


" Tentu saja, karena kau bisa membuat nya malu" ejek Kyra acuh.


" KYRA..." Seru Heera dengan keras. Membuat Kyra langsung masuk ke kamar nya karena takut di amuk banteng betina itu.


" Jangan kabur kau!"


" Ets... kau mau kemana!" Arsya segera memegang tangan Heera yang akan mengejar Kyra.


" Ara, dia.."


" bukankah urusan kita masih belum selesai!"


" Aku tidak mau bicara dengan mu, kau tahu aku masih marah pada mu!" Ucap Heera melipat kedua tangannya dan memalingkan wajah nya dari Arsya.


" Baiklah putri kecil, lain kali aku akan mengajak mu untuk bersenang-senang. Sekarang biarkan aku tidur dengan tenang, hmm.." bujuk Arsya, sekarang Arsya terlihat seperti sedang membujuk seorang anak kecil.


" Siapa yang putri kecil."


" Nih buat mu." Arsya mengeluarkan sesuatu dari saku ruang nya dan memberikan nya pada Heera


" Benarkah. Padahal aku dengan susah payah mendapatkan kayu dari pohon Willow abadi ini, kayu ini akan sangat cocok di buat senjata sihir, jika kau tidak menginginkan nya lebih baik aku memberikan ini untuk yang lain sa.."


" Tunggu, apa kau bilang tadi. Kayu pohon Willow abadi... " Ucap Heera untuk memastikan yang di balas anggukan polos dari Arsya


" Huh.. baiklah hari ini aku memaafkan mu." Ucap Heera dengan nada ketus tapi bibir nya tersenyum senang, ia pun segera mengambil barang itu sebelum Arsya berubah pikiran.


" Kau memang anak kecil" sahut Arsya acuh


" Sya, kau mau makan apa akan ku buatkan?" Tanya Valencia perhatian, ia pikir Arsya pasti sangat lelah dan belum makan.


" Wah ada yang sudah cocok jadi kakak ipar nih" ejek Heera tanpa filter.


" Kakak ipar? Apa maksud nya!" Tanya Valencia bingung.


" Jangan dengarkan omong kosong bocah ini, dia kurang tidur jadi ngelantur jadi begitu deh bicara nya." Ucap Arsya segera takut Valencia mulai curiga.

__ADS_1


" Oh ya, kau bisa masak apa aja, aku akan dengan senang hati memakan hidangan apapun yang kau buat" ucap Arsya segera untuk mengalihkan perhatian Valencia.


" Oke. Tapi mungkin masakan ku tidak seenak masakan mu" seru Valencia sedikit keras karena Arsya telah berjalan ke kamar nya.


" Tidak masalah" jawab nya tanpa berbalik.


***


Tok tok tok


" Masuk"


Heera masuk ke dalam kamar Arsya sambil membawa sebuah kotak berukuran sedang.


" Apa yang sedang kau lakukan, bukan nya beristirahat tapi malah berkutat dengan laptop mu!" Cibir Heera menatap Arsya sinis.


" Ada apa?" Tanya Arsya tanpa menoleh pada gadis itu.


" Ini tugas dari mu sudah selesai" ucap Heera sambil memberikan kotak yang di bawa nya pada Arsya.


Arsya mengalihkan perhatian nya dan mengambil kotak yang Heera sodorkan itu. Saat kotak itu di buka ternyata isi nya adalah sebuah senjata api berukuran kecil, desain dari senjata itu terlihat sederhana namun jika diperhatikan dengan seksama meski desain nya sederhana tapi begitu unik dan elegan akan mudah jika digunakan hanya dengan sekali lihat saja, namun orang yang tidak tahu kegunaan senjata api itu sendiri tidak akan tahu tidak semudah yang terlihat untuk menggunakan senjata tersebut.


" Cukup bagus" ucap Arsya santai


" Tapi tugas ini ku berikan sudah lama, apa kemampuan mu dalam membuat senjata sekarang telah menurun" ejek Arsya


" Ck, ini semua salah Alvan. Pria itu selalu menganggu ku, satu hari saja tidak membiarkan ku tenang. Meski dia berkontribusi cukup banyak dalam membuat senjata ini" ucap Heera, namun ia berbicara pelan di akhir kalimat nya.


" Alvan? Ternyata kalian berdua begitu dekat ya. Pantas saja kau ingin aku mengijinkan mu memberikan satu senjata ini setelah di rakit untuk nya juga"


" Bukan begitu, dia yang meminta nya sebagai kompensasi atas bantuan nya" ucap Heera dengan cepat.


" Benarkah, jika kau menyukai nya juga tidak menjadi masalah" goda Arsya.


" Ck, sudahlah jangan membahas tentang pria dungu itu lagi. Mmm.. kau sedang apa sedari tadi." Ucap Heera mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Kau lihat saja sendiri" ucap Arsya acuh, dia tidak lagi menggodanya dan memberikan laptop nya itu pada Heera.

__ADS_1


Awal nya Heera melihat nya dengan santai bahkan terkesan acuh dan malas, tapi setelah membaca lebih banyak apa yang ada di laptop itu membuat dia langsung menegakkan tubuh nya dan melihat nya dengan serius.


" Organisasi... Black Angels?"


__ADS_2