Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
121. Harraz Berulah


__ADS_3

" Tidak ada, aku hanya sedang menunggu telepon dari kekasih ku saja"


Namun ucapan candaan nya itu malah di tanggapi serius oleh Alvan, ekspresi wajah Alvan berubah muram.


" Ada apa dengan ku, mana mungkin aku benar-benar menyukai Clara" hati Alvan saat ini seakan sedang berdebat, dia selalu meyakinkan hati nya sendiri bahwa dia tidak tertarik dengan Clara tapi setiap kali ada pria yang mendekati Clara membuat dia kesal, dan entah kenapa saat mendengar Clara telah memiliki kekasih membuat dia tanpa sadar merasa kehilangan.


" Alvan, ada apa dengan ekspresi wajah mu ini. Ekspresi mu begitu suram seakan kekasih mu telah di ambil orang!" Seru Arion tersenyum tipis untuk menggoda teman nya itu.


Dia tahu teman nya ini sebenarnya telah tertarik pada sahabat adik nya, hanya saja ego nya lebih tinggi jadi tidak mau mengakui itu.


Arion jadi penasaran bagaimana reaksi Alvan jika Clara sebenarnya bukan wanita dari kalangan bawah, dia bahkan bukan dari keluarga bangsawan biasa.


Melihat wajah terkejut nya pasti akan sangat lucu dan menggembirakan bagi nya.


" Cih, memang nya aku kenapa. Noh kau urus saja Valencia, dia dari tadi melihat mu terus, mungkin dia suka pada mu" ucap Alvan asal, tapi malah mendapatkan pelototan dari Valencia.


Arion memang menyadari Valencia beberapa kali melirik nya, namun dia pikir gadis itu masih kesal pada nya karena dia tidak jadi membantu nya mencari material yang dia butuhkan untuk senjata sihir nya.


Aksa berdiri dari duduk nya dan berjalan pergi, membuat perhatian semua orang teralihkan.


" Kau mau kemana?" Tanya Arion sambil menaikkan sebelah alis nya.


pria ini jika ingin pergi langsung main pergi saja tanpa memberikan aba-aba.


" Pergi." Jawab nya singkat.


Namun saat dia akan berjalan pergi ada seseorang yang menghalangi jalan nya.


" Aksa! Bagaimana kau.. bagaimana bisa kau masih hidup!" Seru Harraz dengan wajah pucat saat melihat Aksa saat ini berada di depan mata nya, dia seakan telah melihat hantu yang bangkit dari kematian nya.

__ADS_1


Awal nya saat mendengar seseorang melihat Aksa dia tidak yakin, dan merasa orang itu hanya salah orang saja. Tapi saat dia ke tempat pengambilan tugas untuk mengambil hadiah dari tugas nya terakhir kali, dia mendengar kabar Aksa telah datang dan mengambil bagian nya dan gadis culun itu lebih dulu. Dan untuk memastikan nya secara langsung dia pun bertanya pada orang-orang yang pernah melihat Aksa, salah satu orang itu mengatakan Aksa berada di kantin bersama dengan teman-teman nya, jadi dia pun segera kemari dan siapa sangka di hadapan nya sekarang memang benar Aksa yang dia pikir telah mati terjun ke dalam jurang.


Masih hidup dengan kondisi yang sangat sehat.


" Masih hidup? Harraz sebegitu menginginkan nya kau ingin aku mati... Atau semua yang terjadi sebelum nya adalah ulah mu" ucap Aksa dengan seringai dingin.


Mendengar perkataan Aksa membuat murid-murid yang berada di kantin mulai berbisik-bisik.


" Apa maksud perkataan pangeran ku itu?"


" Mungkin Harraz mencoba untuk membunuh nya, bukankah mereka berdua saudara tiri."


" Benar, hal ini lumrah di dalam keluarga bangsawan untuk memperebutkan posisi pewaris."


" Tapi Harraz sangat kejam, walaupun Aksa saudara tiri nya tapi kedua nya tetap saudara. Menginginkan kematian saudara nya sendiri bukankah itu hal yang mengerikan."


" Heh... Mungkin saja Aksa yang mencoba membunuh tuan muda Harraz lebih dulu, bukankah dia hanya anak haram. Tapi dia mencoba memutar balikkan fakta dengan menyalahkan tuan muda Harraz"


Mendengar bisikan semua orang membuat Harraz menenangkan diri nya dan mengubah ekspresi tidak senang nya dengan raut wajah lembut nya.


" Aksa apa maksud mu, bukan itu yang ku inginkan. Aku telah membujuk ayah dan dia ingin kau kembali bersama ku, tapi kau malah menolak undangan nya itu, ayah sangat sedih saat mendengar kau menolak undangan darinya. Kau juga pergi meninggalkan kami di desa lebih dulu, ku kira kau sudah kembali ke academy tapi saat mendengar kau belum pulang hal itu membuat ku cemas, ku pikir kau mendapatkan masalah di perjalanan. Namun untung nya kau baik-baik saja, aku senang mengetahui nya."


" CK, melihat wajah munafik mu ini membuat ku ingin tertawa, sayang nya aku sedang tidak mood meladeni mu."


Aksa bukankah Harraz yang suka bermain drama, dia tidak peduli dengan pandangan orang-orang dan jika reputasi nya rusak sekalipun dia tidak peduli.


Hidup nya adalah milik nya bukan milik mereka...


" Enyahlah dari hadapan ku"

__ADS_1


Aksa menatap tajam Harraz membuat Harraz tanpa sadar mundur selangkah, entah kenapa setiap berhadapan dengan Aksa selalu saja membuat nya merinding ketakutan, saat di tatap oleh Aksa membuat nya seakan tidak berdaya.


Aksa akan pergi tapi melihat nya akan pergi begitu saja membuat Harraz segera mencari cara untuk menghentikan nya, dia pun langsung meraih tangan Aksa.


Saat merasakan ada seseorang yang menyentuhnya Aksa berhenti berjalan dan menatap orang itu dengan wajah datar dan mata yang tajam setajam elang, aura disekitar nya berubah sangat dingin seakan seekor singa yang sedang tidur telah terbangun.


Harraz langsung menurunkan tangan nya saat di tatap Aksa dengan begitu tajam " Ekhem.."


" Aksa apa yang harus aku lakukan agar kau ikut dengan ku menemui ayah, ayah begitu sangat merindukan mu, temuilah dia sekali saja."


" Atau aku terpaksa akan menggunakan cara kasar agar kau bisa bertemu dengan ayah.." perkataan nya itu terdengar tulus dan ia berniat ingin mempertemukan seorang ayah dengan putra yang di rindukan nya.


Namun hanya orang lain yang menganggap itu semua tulus, bagi Aksa semua nya hanya sandiwara Harraz, karena dengan diri nya ikut bersama nya, dengan itu Harraz akan bisa melakukan apapun yang dia mau jika berada di wilayah kekuasaan keluarga Davies, itulah yang Harraz pikiran dan tentu saja Aksa tahu akan itu.


" Tuan muda Davies, meski kau ingin menggunakan cara kekerasan, tapi di academy ini tidak diperbolehkan bertarung begitu saja apa lagi sampai merusak properti milik academy. Jika kau ingin berduel, kau harus menantang nya di arena" bukan Aksa yang mengatakan nya melainkan Arion.


Arion berjalan kearah Harraz " apa kau berani bertarung di arena tuan muda Davies."


Setelah mendengar perkataan Arion dia dengan ragu mengatakan " J-jika Aksa berjanji akan ikut dengan ku menemui ayah kami, aku akan melakukan nya."


Meski terdengar ragu tapi sebenarnya hati nya sangat senang, ia selalu merasa bahwa diri nya lebih kuat dari Aksa, dia mungkin melupakan bagaimana Aksa mengalahkan monster saat itu, dia hanya berpikir semua itu hanya sebuah kebetulan, karena dia tahu racun itu masih berada di tubuh Aksa, sedangkan Aksa dapat mengalahkan monster di desa saat itu semua nya hanya karena kebetulan, bahkan dia bisa masuk kedalam academy bergengsi ini juga hanya karena dia sedang beruntung. Mana mungkin sampah yang di buang oleh ayah nya menjadi seorang jenius, dia tidak percaya akan itu.


" Oke, itupun jika kau bisa mengalahkan ku." Sahut Aksa dengan tenang.


Bagus juga Harraz menawarkan diri nya sendiri untuk ia pukul, saat ini dia memang membutuhkan seseorang untuk melampiaskan emosi nya.


" Kalian sudah sepakat, ayo kita pindah ke arena." Ujar Arion


" Kak ayo." Seru Heera pada Arion yang bukan nya segera pergi dengan lainnya malah diam saja.

__ADS_1


" Kau pergi saja duluan, aku akan menelpon Arsya lebih dulu."


" Mm..."


__ADS_2