Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
120. Mengobati II


__ADS_3

Dengan ragu pemuda itu memeriksa pergelangan tangan kakek nya, ia pun menjadi tertegun. Meski kemampuan nya bisa di bilang masih pemula tapi untuk memeriksa kondisi nya sekarang di juga dapat memahami nya. Kondisi kakek nya benar-benar telah membaik, ini kabar yang luar biasa


" Tuan muda biarkan aku memeriksa kondisi profesor?" Ujar seorang dokter yang penasaran.


Setelah memeriksa kondisi pria paruh baya itu ekspresi nya sama seperti pemuda itu yang sangat tercengang, dia tanpa sadar menatap Arsya dengan pandangan horor.


Keajaiban apa yang telah gadis ini lakukan!


Bahkan dia sebagai dokter terbaik saja tidak akan bisa melakukan nya, dia yakin sebelum nya kondisi pria tua ini sudah sekarat, tapi sekarang semua nya dalam keadaan baik bahkan sangat baik seakan apa yang terjadi sebelum nya hanya ilusi.


Tidak lama guru Galen kembali membawa beberapa bahan ramuan, dia menaruh ramuan itu di sebuah meja dengan hati-hati, setelah itu menatap Arsya dengan bingung.


" Apakah kau akan membuat ramuan ini?" Tanya nya dengan ragu.


" Ya, siapa lagi. Apa itu guru yang akan membuat nya" ucap Arsya dengan acuh.


Tapi mendengar perkataan gadis itu jelas membuat guru itu menggeleng tanpa sadar, dia bisa membuat ramuan dengan kemurnian di atas 80% tapi untuk 90% ke atas dia pun ragu bisa melakukan nya.


" Apa kau yakin bisa membuat ramuan penyembuh dengan kemurnian 90% ke atas?" Tanya nya sekali lagi.


" Hanya sebuah ramuan mengapa aku tidak bisa melakukan nya." Jawab Arsya dengan percaya diri.


Dia ingin tidak mempercayai perkataan nya, tapi dia juga tidak lagi bertanya.


" Lalu kau akan membuat ramuan dimana?" Tanya nya yang juga sedang menenangkan hati nya sekarang.


" Selain bahan-bahan, anda juga sudah menyiapkan semua yang ku mintakan?" Ujar Arsya menaikkan sebelah alis nya.


" Ya, semua nya ada di atas meja itu" tunjuk nya pada sebuah meja yang berisi banyak bahan dan tabung.


" Hmm.. kalian boleh pergi, jika kalian ingin menemani pria tua ini, hanya boleh dua orang saja di ruangan ini. Selain dua orang itu kalian boleh pergi. banyak orang hanya akan membuat udara di sekitar nya terasa sesak." Ucap Arsya menatap orang-orang di sana dengan tenang.


" Aku akan tetap di sini untuk menemani kakek ku." Ucap pemuda itu dengan tegas.


" Aku pun akan tetap di sini, siapa tahu kau membutuhkan bantuan ku, atau masih perlu bahan-bahan ramuan yang perlu ku ambil" ujar nya karena merasa yakin saat dia gagal membuat ramuan itu mungkin dia akan memerlukan lebih banyak bahan untuk membuat nya.

__ADS_1


" Tidak masalah, yang lain nya silahkan keluar." Ucap nya dengan dingin.


Seorang dokter merasa kesal dengan nya tapi tetap menurut saat guru Galen memerintahkan mereka untuk pergi.


" Jadi apa yang akan kita lakukan?" Tanya pemuda itu.


" Kalian hanya perlu duduk dan melihat" balas nya dengan acuh.


Arsya berjalan menuju meja yang telah ada bahan-bahan yang di butuhkan nya untuk membuat ramuan.


" Murid apa kau tidak memerlukan tungku untuk membuat ramuan?" Tanya nya penasaran.


" Tidak"


Arsya mulai merapikan bahan-bahan dan tabung di atas meja yang berserakan. Setelah itu dia memasukkan bahan-bahan ke dalam tabung yang ukuran nya sedang sekaligus, dia tidak memerlukan api untuk mencampurkan dan mencairkan bahan-bahan itu, ia menggunakan energi spiritual nya dan menciptakan sebuah api berwarna biru. Tangan kanan nya berada di bawah tabung dan tabung itu di selimuti oleh api biru.


Mereka berdua yang melihat nya tanpa sadar menahan nafas untuk beberapa detik saat melihat setiap proses yang ada. Mereka ingin bertanya tapi segera diurungkan karena takut menganggu konsentrasi nya.


Namun sebuah suara dering handphone terdengar.


Arsya merogoh saku celana nya dan mengangkat panggilan tersebut dengan santai.


" Ada apa?" Tanya nya lebih dulu


" Kamu dimana?" Bukan nya menjawab, orang itu malah balik bertanya.


" Aku masih memiliki urusan, apa yang terjadi?" Arsya masih dengan santai membuat ramuan itu tapi tangan nya yang lain memegang handphone.


" Ada sedikit masalah di sini, setelah selesai segeralah kemari."


" Oke."


Setelah menutup telepon nya, ramuan yang di buat nya pun sudah menyatu, dia berhenti menyalurkan energi spiritual nya dan memasukkan ramuan itu ke dalam beberapa botol kecil.


" Mengapa kamu mengangkat panggilan saat sedang membuat ramuan, bukankah itu akan merusak konsentrasi mu, ramuan yang kau buat pun akan mengalami kecacatan." Seru pemuda itu yang sudah tidak tahan sedari tadi ingin bicara pada nya.

__ADS_1


" Bukankah ramuan nya sudah jadi sekarang, kau bisa meminumkan nya pada pria tua itu sekarang."


" Tunggu, biar aku melihat kemurnian dari ramuan itu lebih dulu" seru guru...


" Oke, Tapi aku tidak banyak memiliki waktu. Setelah kalian memeriksa nya silahkan diminumkan pada pak tua itu." Ujar nya dan berjalan pergi dari hadapan mereka.


" Hei, tunggu!" Pemuda itu ingin memanggil nya tapi dia urungkan saat melihat ekspresi tercengang di wajah guru Galen yang sedang mengetes kemurnian ramuan buatan gadi itu.


" Ada apa guru, apakah ramuan itu bermasalah. Jika iya, aku akan memanggil seseorang dari asosiasi ramuan untuk membuat ramuan lain." Ujar nya dengan tidak tenang.


" T-tidak, ramuan ini bahkan lebih baik dari apa yang ku bayangkan" seru nya dengan tangan gemetar.


" Memang berapa kemurnian nya?" Tanya nya penasaran.


" I-ini 98%, bahkan ramuan ini sudah mendekati 100%. Gadis itu sungguh..." Guru Galen tidak tahu harus bicara apa lagi, dia bahkan merasa malu sendiri saat memikirkan bahwa gadis itu akan mengaku kalah dan menyerah bahkan dia membayangkan gadis itu akan gagal berkali-kali.


Monster, gadis itu adalah monster


" Benarkah, luar biasa. Bahkan kakek ku sendiri saja hanya bisa membuat ramuan dengan kemurnian 93% paling tinggi" seru pemuda itu terkejut.


****


Di kantin teman-teman Arsya dan Aksa sedang saling bercanda, di sana juga ada Heera, namun dia hanya acuh dan tidak menanggapi teman-teman nya itu. Di sana hanya Aksa dan Arion saja yang tetap diam dan hanya sesekali menimpali jika ada yang bertanya.


" Clara!"


" Ya" Heera menatap Alvan yang baru saja memanggil nya dengan ekspresi bingung.


" Ada apa? Aku lihat sedari tadi kau terus melihat handphone mu. Tubuh mu ada di sini tapi pikiran mu seperti berada di tempat lain" seru Alvan.


Mendengar perkataan Alvan membuat yang lain nya berhenti bercanda dan menatap kedua orang itu dengan serius. Apa lagi Valencia dia masih bertanya-tanya akan sikap Clara pada Arsya kemarin malam.


Clara diam sejenak, sebelum ekspresi nya berubah tersenyum dan mengedipkan sebelah mata nya dengan manja " Tidak ada, aku hanya sedang menunggu telepon dari kekasih ku saja"


Namun ucapan candaan nya itu malah di tanggapi serius oleh Alvan, ekspresi wajah Alvan berubah muram.

__ADS_1


__ADS_2