Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
09. Keluarga Bangsawan


__ADS_3

" Apa golongan darah nya?" Tanya Arsya singkat


" Percuma saja nona, tidak akan ada yang mampu mendonorkan darah nya pada pasien, selain keluarga nya sendiri, dan nona juga tidak tahu keluarga pasien jadi tidak ada yang mampu menolong nya...."


" Apa golongan darah nya?" Tanpa peduli dengan ocehan dokter itu, Arsya kembali bertanya


" Baiklah nona akan ku beritahu, jika nona memaksa.... Golongan darah yang di miliki pasien adalah darah emas, dan golongan ini hanya di miliki satu dari sejuta ribu oran....."


" Aku akan mendonorkan nya" potong Arsya


" A-apa, nona darah emas bukan golongan darah biasa, namun hanya di miliki oleh keturunan keluarga bangsawan dan terlahir untuk menjadi penguasa, ini...."


" Seperti nya kau sangat memahami keluarga bangsawan, siapa kau?" Tanya Arsya memicingkan mata nya


" Ekhem, nama saya Esfand Khaisan dokter pribadi keluarga Nelson" ucap dokter itu


" Keluarga Nelson? Bagaimana bisa dokter pribadi keluarga Nelson bisa berada di kota B yang merupakan wilayah milik keluarga Lawrence" ucap Arsya


" Kebetulan saya memiliki tugas di rumah sakit kota B ini, namun seperti nya nona pun memahami sistem para bangsawan" ujar dokter Esfand dengan sopan


" Hmmm.... Kapan transfusi darah bisa di lakukan" ucap Arsya acuh


" Saya tidak menyangka saat bertugas di rumah sakit akan menemukan dua orang dengan golongan darah yang begitu langka, jika memang nona memiliki golongan darah emas, tentu saja nona bisa mendonorkan darah anda" ucap nya tak yakin


Pasal nya sulit menemukan seseorang yang memiliki darah emas, meskipun ada dia akan terlahir untuk menjadi seorang penguasa, namun jika benar gadis di depan nya juga memiliki darah emas bukankah jika mereka bersama akan sangat mendominasi.


Arsya tidak peduli dengan dokter Esfand yang masih ragu dengan pernyataan nya, yang ada di pikiran nya sekarang bagaimana cara untuk menyelamatkan pemuda itu, awal nya ia tidak ingin mendonorkan darah nya, selama ini hanya keluarga nya yang tahu tentang golongan darah yang di miliki nya, keluarga nya sangat melindungi nya agar tidak ada orang lain yang tahu golongan darah yang di miliki nya, karena jika sampai ada yang tahu bisa saja orang orang jahat berusaha mendapatkan nya untuk di jadikan percobaan.


" namun jika saya boleh tahu siapa anda ini nona?" Tanya nya ragu, awal nya ia pikir gadis di depan nya hanya gadis biasa, tapi nyata nya tidak. seseorang yang memiliki golongan darah emas hanya dapat terlahir dari garis keturunan bangsawan saja.


" Dokter! kamu seorang dokter dari salah satu keluarga bangsawan, tentu nya kamu tahu bukan, lebih sedikit yang kau tahu, umur mu akan lebih panjang!" Jawab Arsya santai bahkan terkesan acuh tak acuh.


" Saya mengerti nona!" ucap nya tidak ingin melanjutkan arah perbincangan nya itu.


sebagai dokter yang sudah melayani salah satu keluarga bangsawan cukup lama, dia tahu batasan nya sendiri, dan tidak bisa terlalu ikut campur.


" Ku harap dokter bisa merahasiakan hal ini dari orang orang, termasuk dari keluarga Nelson" ucap Arsya tenang namun sorot mata nya begitu tajam.

__ADS_1


" Tentu saja nona, saya berjanji akan merahasiakan tentang kalian berdua"


" Baguslah"


Wajah Arsya sekarang terlihat sangat pucat, namun hal itu tidak mengurangi kecantikan nya, ia baru saja selesai mendonorkan darah nya pada pemuda yang di tolong nya.


" Semua nya berjalan lancar nona, pasien juga menerima dengan baik transfusi darah dari nona, jika nona ingin melihat nya silahkan masuk, saya permisi" ujar dokter Esfand


" Baik"


Arsya masuk ke dalam ruangan pemuda itu, ia melihat seorang pemuda yang berbaring di tempat tidur dengan wajah yang masih pucat pasi, banyak luka yang berada di tubuh pemuda itu. Arsya pun duduk di kursi di samping tempat tidur.


Arsya menaruh telapak tangan nya di atas kepala pemuda itu, tiba tiba seberkas cahaya berwarna hijau muncul dari telapak tangan nya bersinar sangat terang, wajah pemuda itu yang tadi nya pucat perlahan berangsur-angsur membaik, bahkan luka luka luar yang di miliki pemuda itu penghilang tanpa jejak seperti tidak pernah terluka sedikitpun.


Drrtt drrt drrtt


Arsya pun mengangkat tangan nya kembali dan meraih handphone dari tas nya, ia melihat di handphone nya tertera nama Heera ia pun mengangkatnya.


" Heeeii... kamu lama sekali mengangkat telepon ku, di mana kamu? apa kamu tidak tahu aku sudah menunggu mu lebih dari tiga puluh menit, cepat kemari! heeeii... apa kamu bisu , mengapa tidak menjawab pertanyaan ku!" setelah Arsya mengangkat telepon nya di seberang sana langsung terdengar ocehan tanpa henti.


"Apa! berisik? Kamu bilang aku berisik aku sudah menunggu mu selama hampir tiga puluh menit, dan kamu bilang aku berisik"


ucap gadis di sebrang sana dengan marah.


" Hanya tiga puluh menit" ucap acuh tak acuh Arsya.


" Kamu bilang hanya?...."


" Aku akan ke sana dalam lima belas menit" potong Arsya, ia pun langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu balasan dari seberang sana.


" Dia selalu saja seperti ini, menutup telepon tanpa menunggu balasan dari orang lain... aku heran pada diri ku sendiri mengapa bisa aku mau berteman dengan gadis dingin dan kejam itu" seorang gadis terlihat sedang mengoceh sendiri dengan marah.


***


Kembali ke tempat Arsya


Arsya tidak menaruh kembali handphone nya ke dalam tas ia menekan nomor seseorang dan melakukan panggilan, tidak lama terdengar suara seorang pria yang mengangkat panggilan telepon itu.

__ADS_1


" Halo nona, apa ada yang bisa saya bantu" ucap pria itu dengan sopan.


" Ke rumah sakit xx dalam sepuluh menit"


Tut tut tut


Setelah mengatakan itu Arsya langsung mematikan telepon nya, tanpa tahu pria di seberang sana sedang kalang kabut hanya karena panggilan Arsya.


***


Di suatu tempat terlihat seorang pria yang sedang tergesa gesa mengambil kunci motor nya dan segera pergi keluar rumah dia bahkan tidak memperdulikan panggilan dari teman teman nya, yang ada di pikiran nya sekarang sesegera mungkin tiba di alamat yang nona nya katakan tepat waktu, karena kalau tidak ia bisa saja mendapatkan hukuman.


***


Arsya mengambil jaket yang pernah pemuda itu pakai, ia meronggoh saku jaket nya dan mengambil handphone milik pemuda itu yang kebetulan juga ada di sana, padahal ia hanya asal menebak.


Ia membuka handphone nya namun handphone itu menggunakan kode sehingga ia tidak dapat menggunakan nya tetapi ia tidak menyerah begitu saja, dengan sedikit usaha Arsya dapat membuka kode handphone itu, jangan salah! ia bisa melakukan nya karena kemampuan IT nya sangat hebat. Namun memang kode yang di pasang di handphone pemuda itu cukup menyulitkan nya.


Ia melihat kontak yang ada di handphone pemuda itu hanya ada satu nomor yang terakhir kali telah dia hubungi, tanpa ragu dia pun menekan nomor itu.


Tut..Tut


Tidak lama panggilan pun terjawab, terdengar suara seorang pria yang menjawab telepon itu.


" Halo tuan, tuan dimana? Maaf saya baru menjawab telepon anda, saya tadi sedang berada di pesawat, sehingga tidak bisa menjawab telepon dari anda. Apa anda baik baik saja tuan, tuan mereka tidak melakukan apapun pada mu kan?" Rentetan pertanyaan terdengar dari pria itu


" Dia ada di rumah sakit xx, ruang inap VIP 01" tanpa peduli pertanyaan dari pria itu, Arsya langsung berbicara pada inti nya.


Tut


Setelah Arsya mematikan handphone nya, ia pun menaruh benda pipih itu di meja dekat tempat tidur pemuda itu.


***


Di tempat lain seorang pria sedang diam mematung, ia takut ada yang salah dengan pendengaran nya, bagaimana tidak! ia yakin nomor itu adalah nomor tuan nya, namun mengapa yang menjawab adalah seorang perempuan, bukan nya handphone milik tuan nya selalu memiliki kode yang sangat rumit, dan dia pun tidak pernah membiarkan satu orang pun menyentuh benda milik nya, apa lagi ini seorang perempuan, hal yang paling mustahil.


Segera setelah ia sadar dari lamunan nya, ia segera bergegas ke tempat dimana gadis itu sebutkan.

__ADS_1


__ADS_2