Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
62. Kepingan Ingatan


__ADS_3

***


" Arghh..."


" Ahk.."


" Hiks... Hiks"


Terdengar jeritan dan tangisan dari anak-anak yang berada di sebuah ruangan kumuh dan jelek.


Anak-anak itu meringkuk di pojok ruangan, mereka terlihat sangat ketakutan apa lagi saat melihat pertumpahan berdarah di depan nya.


" Berhenti! Jangan lukai dia, ku mohon!" seru seorang anak kecil di hadapan satu anak kecil lain nya yang sekarang telah berlumuran darah.


" Diam, mati saja kau!" Pria itu ingin menembak kepala anak kecil yang sedari tadi menangis, namun melihat itu anak kecil yang sudah terluka parah tetap memaksakan diri nya sendiri untuk berdiri dan menghadang peluru itu.


" Tidak!" Anak laki-laki yang melihat gadis yang sedari awal telah menarik perhatian nya terluka semakin parah menjadi sangat kesal dan segera melemparkan belati yang sedari tadi ia pegang, dan belati itu tepat mengenai dada pria itu sampai menembus jantung nya, sampai akhir hidup nya pria itu tidak tahu siapa yang telah membunuh nya.


Rekan rekan pria tersebut yang melihat itu sangat terkejut, dia begitu terguncang saat tahu rekan nya di bunuh oleh seorang anak kecil, dia sekarang bahkan mulai meragukan kemampuan rekan nya itu, padahal kemampuan nya bahkan lebih tinggi dari nya, entah ia harus berekspresi bagaimana melihat kejadian yang begitu mengejutkan nya.


Sedangkan anak laki-laki itu dengan tertatih-tatih berjalan ke arah gadis kecil yang hampir tidak sadarkan diri di pangkuan teman nya yang terus saja menangis.


" Kau tidak apa?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut anak laki-laki itu, meski dia tahu bagaimana kondisi gadis kecil tersebut, begitu sangat menakutkan dengan di penuhi darah di sekujur tubuh nya.


" Kakak terima kasih" ucap gadis kecil dengan susah payah sambil tersenyum tipis.


" Tidak, aku tidak menerima rasa terima kasih mu, jika kau ingin berterimakasih setelah dewasa menikahlah dengan ku!" Seru anak laki-laki itu dingin namun mata nya penuh dengan ketakutan.


Anak laki-laki itu melepaskan cincin yang ada di tangan nya dan memakaikan ke salah satu jari gadis kecil itu.


" Heh, mungkin permintaan mu tidak akan terwujud uhuk-uhuk..."


" Tidak kau harus mewujudkan permintaan ku, apapun yang terjadi!"

__ADS_1


" Bocah sialan berani sekali kau membunuh teman ku hah, akan ku bunuh kau..."


Pria itu baru saja tersadar dari lamunan nya, ia dengan marah segera mendekati anak laki-laki itu dan ingin membunuh nya menggunakan belati yang tergeletak di tanah.


" Tidak jangaaaann..."


***


" Tidaak jangaaaann..."


" Arsya!"


" Kayla!"


" Hei bangun..."


" Hosh... Hosh.."


Arsya yang sedari tadi tidak sadarkan diri, bangun dengan tubuh penuh keringat, nampak sejenak ada ketakutan di mata nya.


" Apakah sudah tenang? Sekarang ceritakan apa yang terjadi, apa kamu bermimpi buruk?" Tanya Arion beruntun


" Aku bermimpi, aku datang ke sebuah bangunan tua dan di sana terdapat banyak anak kecil yang di sandera, lalu ada dua anak kecil yang terluka parah, namun sekuat apapun aku mencoba untuk melihat wajah mereka dengan jelas tapi tidak pernah berhasil, wajah mereka semua seperti ada yang menghalangi untuk ku melihat nya. Tapi saat aku melihat kedua anak itu terluka parah rasa nya aku pernah berada di posisi seperti nya aahhkk..." Saat sedang bercerita Arsya tiba-tiba menjerit sambil memegangi kepala nya.


" Arsya kamu kenapa?"


" Kayla dengar aku!"


" Sakit, kepala ku sak-it" seru Arsya lirih


Entah itu Aksa maupun Arion sama sama panik melihat raut wajah Arsya yang kesakitan, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.


Braaak

__ADS_1


" Ada apa dengan Ara!" Seru Heera yang baru saja datang, dia sangat terkejut saat mendengar teriakkan Arsya membuat nya tanpa pikir panjang mendobrak pintu.


Alvan yang masih berdiri di luar pintu hanya dapat diam melihat keajaiban gadis itu yang sikap nya begitu bar-bar, ia tidak tahu lagi harus menggambarkan Heera bagaimana.


" Stss, siapa mereka sebenarnya! Apa hubungan ku dengan mimpi itu" gumam Arsya sambil menahan sakit.


" Hei Ra, ada apa dengan mu? kau tidak menjadi bodohkan setelah bangun!" Tanya Heera cemas melihat kondisi Arsya sekarang, dan dia masih saja sempat-sempatnya bercanda di saat seperti ini.


" Cepat panggil dokter, ambulance atau apapun itu" seru Arion panik


" Ara, kau jangan menakuti kami, apa kau ingin academy ini heboh karena kelakuan kak Rion, atau kau ingin kedua orang tua mu segera datang kemari!"


" Kay, are you okay? Tunggu sebentar aku akan memanggil dokter!"


Di saat semua nya sedang panik, Arsya menahan tangan Aksa yang ingin pergi.


" Tidak perlu! Kalian berhenti lah membuat keributan, kepala ku tambah pusing mendengar ocehan kalian!" Arsya kembali bersikap seperti biasa nya yaitu dingin dan acuh.


" Ada apa ini?" Tanya dokter Alana yang baru saja tiba, dia tidak sengaja lewat dan mendengar keributan dari ruangan tersebut, jadi sekalian saja dia mengecek keadaan di sini.


" Dokter tolong periksa dia!" Ujar Aksa dingin namun tatapan nya menunjukkan kecemasan yang luar biasa.


" Baik, tolong permisi saya akan memeriksa nya terlebih dahulu!" Ucap dokter Alana pada Arion yang berada di samping Arsya


" Silahkan dokter!"


" Tidak perlu dokter, saya tahu kondisi diri saya sendiri" ucap Arsya sopan.


" Apa nya yang tahu, kau diam saja biarkan dokter memeriksa mu! mungkin saja otak mu itu benar-benar sudah menjadi bodoh!" Ucap Heera kesal.


" sstt... seperti nya kau yang bodoh, jika kau tidak ingin menjadi bodoh diamlah!" seru Arsya kesal.


" Kay! biarkan dokter memeriksa mu agar kami juga tenang!" ucap Aksa dingin tapi sorot mata nya terasa begitu hangat dan lembut.

__ADS_1


Arsya hanya diam dan menurut saja, kepala nya juga masih terasa sangat sakit namun ia coba untuk menahan nya agar orang di sekitarnya tidak merasa khawatir. Tapi dia melupakan sesuatu tangan nya masih menggenggam tangan Aksa dengan erat, ia sendiri tidak sadar telah melakukan nya, yang ia tahu sekarang mencoba untuk menetralkan rasa sakit yang terus menghantam kepala nya.


Aksa sendiri tahu Arsya sekarang sedang mencoba menahan rasa sakit nya sendiri agar tidak membuat orang lain cemas, dapat ia rasakan dari genggaman tangan Arsya yang semakin kencang, namun melihat wajah gadis itu yang terlihat tenang dan seakan tidak terjadi apapun pada nya membuat hati nya sakit, sehingga ia hanya membiarkan saja tangan Arsya melukai tangan nya karena genggaman nya yang sangat kuat sampai rasa nya kuku Arsya menancap di kulit tangan nya. Aksa juga menunjukkan sikap tenang dan dingin nya agar tidak ada yang curiga ada yang aneh dengan Arsya.


__ADS_2