Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
152. Keributan


__ADS_3

****


Arsya hari ini memutuskan untuk kembali ke academy karena masih memiliki sesuatu yang harus ia urus di sana, namun saat menuju halaman depan kediaman Knight terdengar sebuah keributan yang terjadi.


" Cepat lepaskan aku, biarkan aku bertemu dengan tuan besar Knight."


" Cepat pergi atau kau akan mati."


" Tuan besar Knight kau tidak bisa menutup mata begini"


" Kakek ada apa?" Tanya nya pada tuan besar Knight yang sedang duduk di halaman depan sambil membawa koran dan minum teh, sama sekali tidak terganggu dengan keributan di luar.


" Oh nak, apakah hari ini kau akan kembali? Dimana Aksa?"


" Kak Ray berada di halaman belakang untuk berlatih, apa yang terjadi di depan mengapa begitu ribut." kata Arsya dengan heran


" nona muda mungkin anda tidak tahu, ada seorang pebisnis dari wilayah kekuasaan keluarga Knight yang ingin memonopoli bisnis di wilayah Lawrence, lalu membuat keluarga Lawrance sangat murka dan membuat bisnis nya sekarang hancur." Jawab orang kepercayaan tuan besar Knight dengan sopan.


" Oh, orang tua itu masih berani menyerang perusahaan keluarga Lawrence ternyata. Orang-orang seperti nya terlalu bodoh karena berpikir terdapat orang besar di belakang mereka." Cibir Arsya tanpa sungkan.


" Cucu ku apa kau mengerti dunia bisnis keluarga Lawrence?" Bagaimana pun juga dia masih berpikir gadis manis seperti nya yang sangat di jaga dan di sayang oleh keluarga nya mana mungkin diperbolehkan untuk melakukan sesuatu yang berbahaya.


" Tidak juga, aku tidak tertarik dengan bisnis dan bertemu banyak orang bermuka dua. Hanya saja aku sebagai anggota keluarga Lawrence tentu harus sedikit membantu keluarga ku untuk meringankan beban ayah." Ucap Arsya tanpa menjelaskan apa yang telah dilakukan.


" Kamu akan pergi sekarang?" Tanya Aksa yang baru datang dan langsung menghampiri Arsya bahkan tidak sungkan mencium kening gadis itu di depan para tetua.


Arsya yang tersipu malu atas perlakuan Aksa segera mengubah ekspresi nya menjadi tenang kembali. " Ya, aku masih perlu menyelesaikan senjata sihir ku dan masih ada beberapa hal yang harus segera ku urus juga."


" Oke, aku akan meminta supir untuk mengantarkan mu ke gerbang teleportasi."


" Hm"


" Ekhem.. kakek sudah membuat janji malam ini untuk bertemu dengan ayah mu Arsya, kita akan segera membahas masalah pernikahan kalian berdua."


Mereka berdua hanya mengangguk tanpa berniat membantah, Arsya juga akan kembali ke kediaman nya nanti untuk menjelaskan sendiri apa yang sebenarnya telah terjadi.


Saat keluar dari gerbang kediaman keluarga Knight Arsya dapat melihat ada beberapa orang yang mencoba masuk, tapi seseorang yang sudah membuat keributan seperti nya sudah dibereskan oleh orang-orang tuan besar Knight, entah akan berakhir seperti apa orang itu apakah masih bisa hidup atau hanya tinggal tubuh nya saja atau yang lebih mengerikan tubuh nya pun tidak akan utuh.


Arsya juga melihat gadis yang dulu pernah menggoda Aksa tapi ia sama sekali tidak merasa cemas, dia percaya Aksa akan menyelesaikan gadis itu tanpa harus ia turun tangan sendiri.

__ADS_1


****


Arsya tidak langsung menuju academy tapi dia pergi ke suatu tempat lebih dulu untuk membeli sesuatu, saat sampai di academy hari sudah sore, suasana di academy terlihat seperti biasa tidak ada yang aneh, mungkin yang berbeda hanya satu yaitu suasana di salah satu gedung terlihat lebih ramai dari biasa nya.


Seperti nya itu adalah gedung yang akan di gunakan untuk pesta yang akan berlangsung dua hari lagi.


Tapi dia merasa ada yang aneh saat masuk ke asrama nya, dia sama sekali tidak melihat satupun teman nya di sana, dia juga tidak merasa ada orang di asrama nya.


" Kemana mereka pergi?"


Kreiit


" Arsya, kau sudah kembali?"


" Keysa, kau baru kembali. Dimana yang lain nya?" Tanya Arsya heran, apa lagi melihat wajah Keysa yang terlihat sedih.


" Kau tidak tahu Sya? Valencia dan Elvira siang tadi kembali setelah menjalankan misi dari academy, hanya saja setelah mereka kembali kondisi Valencia sangat.. Sangat memprihatinkan" ucap Keysa pelan di akhir kalimat nya dengan nada sedih.


" Dimana Valencia sekarang?"


" Valencia dan orang-orang yang terluka berada di ruang medis. Aku kemari juga untuk berganti baju lalu kembali lagi ke sana."


" Oke, aku akan segera menyusul."


****


Di negara D


Tepat nya di kediaman Evans saat ini sedang terjadi kekacauan besar dimana sang nyonya tua keluarga Evans sangat marah besar saat melihat cucu nya membawa wanita yang sangat tidak dia sukai.


" Berani sekali kau kemari membawa wanita ****** ini kemari!"


" Apa kau tidak lihat tunangan mu dari pagi menunggu mu, tapi kau malah bersenang-senang di luar bersama ****** ini."


suara nyonya tua Evans menggelegar di ruangan tersebut, tapi tidak ada yang berani menghentikan nya karena semua pelayan takut pada nya.


" Dasar wanita penggoda, kau berani sekali ingin mendapatkan posisi nyonya muda Evans.."


Nyonya tua terus menghina dan menjatuhkan Heera dengan berbagai perkataan yang begitu menohok.

__ADS_1


" Nenek cukup! Aku sedari tadi diam karena menghormati mu sebagai orang tua, tapi dia adalah tamu ku, berani sekali nenek menghinanya di hadapan ku."


" Lihatlah sekarang, kau bahkan mulai berani melawan nenek mu ini untuk wanita seperti dia." Wanita tua itu menunjuk-nunjuk wajah Heera dengan marah.


" Dia punya nama nek, nama nya Clara bukan wanita ini atau apapun yang nenek sebutkan itu." kata Alvan mencoba untuk tetap sabar saat menjawab setiap pertanyaan sang nenek.


" Semua itu tidaklah penting, yang lebih penting cepat usir dia."


" Pengawal, siapapun cepat seret wanita ini dari kediaman ku."


Alvan menarik tangan Heera untuk berlindung di belakang nya, dia tidak akan mengijinkan siapapun menyentuh wanita ini.


Heera sebenarnya tidak perlu di lindungi oleh Alvan, ia sendiri tidak peduli dengan apa yang wanita tua itu katakan, menurutnya perkataan dia sama saja orang tua itu tunjukkan pada wanita yang memang seorang ****** bukan dia yang merupakan wanita baik-baik. Tapi melihat bagaimana Alvan melindungi nya membuat dia tanpa sadar tersenyum tipis, ia merasa sedikit nyaman dengan perasaan yang belum dia sendiri rasakan sebelumnya.


" Apa yang akan nenek lakukan, ayah sebagai kepala keluarga Evans saja sudah memberikan ijin pada ku untuk membawa Clara ke rumah ini. Sekarang aku ingin tahu siapa yang akan mengikuti perintah kepala keluarga atau tidak."


" Tidak mungkin, putra ku tidak akan mungkin mengijinkan wanita ****** seperti nya masuk ke rumah ini!" seru nyonya tua dengan keras kepala.


" Ibu kekacauan apa lagi yang telah kau buat!" Suara tegas seseorang menghentikan pertengkaran Alvan dan nenek nya.


Kemarin kondisi tubuh nya sangat tidak baik karena terlalu lama begadang dan pola makan nya tidak teratur dan hari ini dia memutuskan untuk ke rumah sakit memeriksakan kondisi tubuh nya ke dokter atas saran istri nya, bisa saja dia memanggil dokter ke rumah tapi ia ingin mengambil kesempatan ini agar bisa berduaan dengan istri nya.


Namun saat dia kembali ia malah melihat pertengkaran putra nya dan juga ibu nya, hal inilah yang kadang membuat kediaman Evans tidak tenang karena ibu nya selalu membuat masalah dan memaksakan keinginan nya.


" Putra ku akhir nya kau pulang, cepat kau usir wanita ****** ini dari sini!"


" Wanita ****** mana yang ibu maksud, apa wanita yang berada di belakang ibu."


" Apa maksud mu, Elma adalah gadis baik-baik, tapi kau dengan tega memfitnahnya."


ayah Alvan hanya menghela nafas nya dengan jengah, sebelumnya saat sang ibu ingin menjodohkan putra nya dengan wanita itu dia pun segera menyelidiki bagaimana sikap dan sifat wanita yang akan di jodohkan dengan Alvan, tapi siapa yang menyangka wanita itu sangat bermuka dua dan sangat mudah bermain dengan pria mana pun. karena itu dia sebagai seorang ayah tidak merestui perjodohan itu, dia tidak ingin putra nya mempunyai seorang istri yang begitu buruk.


" Elma tolong maafkan papa nya Alvan, dia hanya sedang tidak enak badan jadi emosi nya tidak stabil" hibur nenek tua itu pada Elma yang terlihat ketakutan di belakang nya.


" Tidak masalah nenek, ini juga memang salah ku. Harus nya aku mengabari Alvan lebih dulu saat mau ke sini." jawab Elma dengan lembut dan sedih.


Heera yang melihat bagaimana sikap Elma diam-diam mencibir.


" Tidak kau tidak salah nak, wanita penggoda itu yang salah."

__ADS_1


__ADS_2