Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
94. Jebakan


__ADS_3

***


" Kay, kamu baik-baik saja? Ada apa dengan mu? mengapa wajah mu terlihat sangat pucat?" Rentetan pertanyaan dari Aksa hanya membuat nya tambah pusing.


Sedari tadi Arsya sudah merasa tidak enak badan, kepala nya terasa berputar.


" Aku tak apa" meski begitu ia tidak ingin menunjukkan kelemahan nya pada orang lain.


Arsya baru saja akan pergi tapi penglihatan nya terasa berkunang-kunang dan ia pun akan jatuh jika saja tangan kekar Aksa tidak menangkap nya.


" Ekhem.... Kirana"


Kirana yang di panggil nama nya pun langsung berjalan mendekati Arsya dan Aksa dan memisahkan keduanya.


" Maaf nak Aksa dan nak Arsya, tapi kalian sekarang tidak lagi tinggal di kota kalian itu, tempat kalian tinggal sekarang berada di tempat ku. Tolong patuhi aturan di desa ini, untuk apa yang tadi kalian lakukan aku akan memaklumi nya karena kalian bukan warga ku, tapi jika kalian ketahuan berduaan dengan terpaksa saya harus menikahkan kalian berdua, karena itu mau tidak mau kalian semua yang datang harus mematuhi peraturan yang berlaku di desa ini!" Ucap kepala desa dengan dingin dan nada tidak senang saat menatap dua orang yang menurut nya tidak sopan itu.


Saat sedang makan Arsya sudah merasa tidak enak badan karena itu dia ijin pamit lebih dulu, Aksa yang melihat gerak-gerik Arsya yang aneh dia pun mengikuti nya.


Tapi siapa yang tahu saat kepala desa dan yang lainnya menyelesaikan acara makan mereka, kepala desa malah melihat Aksa yang sedang menolong Arsya, apapun alasan nya menurut dia hal itu tidak sopan dan tidak senonoh di lihat oleh yang lain nya karena itu ia merasa sangat tidak senang.


Aksa sendiri sama sekali tidak mendengarkan ocehan kepala desa yang ia khawatirkan saat ini adalah kondisi Arsya.


Berbeda dengan ekspresi kepala desa yang sangat tidak senang, ekspresi Harraz malah terlihat sangat senang.


" Aksa dan Arsya, kalian berdua begitu serasi. Yang satu bodoh dan satu jelek. Jika begitu aku akan berbaik hati membantu kalian" batin Harraz dengan senyuman aneh nya.


Arsya yang kepala nya sedang sakit tidak menanggapi ucapan kepala desa, ia bahkan terlihat acuh, hal itu yang menambah kekesalan pria tua itu.


" Nona sebagai seorang wanita seharusnya kau menjaga moral dan harga diri mu sendiri." Ucap kepala desa menatap Arsya dengan tajam yang sama sekali tidak di tanggapi oleh nya.


Arsya bahkan malas hanya untuk membalas perkataan nya tersebut.


" Aku lelah, jika anda ingin terus berceramah silahkan saja. Tapi saya permisi!" Ucap Arsya acuh. Bukan dia tidak menghormati orang yang lebih tua, hanya saja tubuh nya sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri, rasa sakit yang menyerang nya membuat ia tak berdaya.


" Kirana, bawa nona ini kembali ke kamar nya Jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi!"

__ADS_1


" Baik kakek."


****


Malam hari


Suasana nampak sunyi dan tenang. Di kamar Arsya ia baru saja bangun dari tidur nya, warna wajah nya tidak sepucat sebelum nya, ia tampak lebih segar meski masih terlihat pucat.


" Ck, datang bulan ku malah datang sekarang. Ini benar-benar menyebalkan" gumam Arsya sambil memegangi perut nya yang terasa kram.


Tubuh nya akan melemah saat sedang datang bulan, karena itu saat masa pms nya sedang berlangsung ia akan terlihat seperti gadis yang lemah dan rapuh, bahkan berdiri saja kadang sangat sulit.


Tok tok


Saat sedang menuangkan air hangat suara ketukan di pintu menghentikan aktivitas nya.


Arsya membuka pintu kamar nya dengan tenang, saat keluar dari kamar ekspresi kesakitan yang ia rasakan tidak ada hanya ada ekspresi malas dan santai saja yang ia perlihatkan di wajah nya itu.


Luar biasa! Arsya dapat begitu cepat merubah ekspresi nya itu...


" Ada apa?"


Di depan nya sekarang terdapat seorang pemuda, penampilan pemuda itu sedikit tampan tapi selain itu tampang nya biasa saja, Arsya mengerutkan kening nya saat menatap pemuda itu, nyata nya sedari awal ia datang ke desa ini ia belum pernah melihat wajah pemuda ini, karena itu ia heran untuk apa pemuda ini datang ke tempat nya.


" Maaf nona, tuan Aksa memanggil mu ke taman belakang desa. Kata nya, dia ingin membicarakan sesuatu tentang monster yang berada dalam hutan!" Ujar pemuda itu, ia tampak jujur dan polos saat mengatakan semua itu pada Arsya.


" Aksa? Memanggil ku?" Ia heran untuk apa Aksa memanggil nya, yang lebih membuat nya heran mengapa Aksa menggunakan orang lain untuk memanggil nya.


Ini seperti... bukan karakter nya!


Aksa bukan seseorang yang mudah mempercayai orang lain, apa lagi mengirim sebuah pesan seperti ini.


" Kau yakin Aksa yang memanggil ku?" Tanya Arsya sambil menaikkan sebelah alis nya.


" Benar nona."

__ADS_1


" Lalu mengapa dia tidak datang sendiri, ini seperti bukan sifat nya."


" Saya yakin nona, mungkin tuan Aksa takut ada kesalahpahaman pada warga desa jika dia yang datang sendiri. Nona tentu nya tahu aturan di desa ini, karena itu dia meminta orang lain yang menyampaikan pesan ini pada anda."


" Baiklah, aku akan ke sana sebentar lagi."


" Baik nona, saya permisi pamit lebih dulu"


" Hmm..."


Arsya menyeringai tipis setelah kepergian pemuda itu.


" Jika itu orang lain aku mungkin akan mempercayai nya, tapi kak Ray... Orang-orang ini terlalu meremehkan ku ternyata" gumamnya


Arsya masuk ke dalam untuk mengambil kunci kamar nya, setelah mengunci kamar nya ia pun pergi.


Ia sudah berjalan setengah jam, namun dengan kondisi nya yang tidak sehat, rasa nya satu jam sudah seperti setengah hari. Perut nya kembali terasa kram yang sangat hebat, kepala terasa berkunang-kunang, wajah nya semakin pucat.


Jika saja bukan untuk mencari tahu rencana apa yang sedang orang lain lakukan di belakang nya, ia mungkin tidak akan memaksakan diri untuk keluar dan tetap tinggal di kasur nya yang empuk.


Namun Arsya tidak tahu setelah ini hidup nya akan berubah, dan apa yang terjadi tidak akan pernah ia sangka.


Dari awal Arsya keluar kamar, di belakang nya sudah ada orang yang mengikuti nya tanpa sepengetahuan nya.


Namun apakah Arsya sungguh tidak menyadari keberadaan mereka?


Awal nya Arsya memang tidak menyadari keberadaan orang-orang yang mengikuti nya tersebut, ia baru menyadari keberadaan mereka saat orang-orang itu berjarak cukup dekat dengan nya.


Kondisi nya yang tidak prima membuat kewaspadaan nya menurun ternyata.


Saat orang-orang itu berada dalam jarak beberapa langkah saja dari nya, ia pun berhenti berjalan.


" Sialan!"


Bug

__ADS_1


Baru saja Arsya ingin berbalik karena merasa ada bahaya yang mendatangi nya, namun sebuah pukulan di tengkuk nya membuat dia yang dalam kondisi lemah langsung tak sadarkan diri.


__ADS_2