
****
Clara dan Alvan saat ini sudah sampai di kota C yang merupakan tempat yang mereka curigai sebagai markas nya para penjahat.
" Apa benar markas para penjahit ada di sana?"
Clara hanya memutar bola matanya malas " jika kau mencari tukang jahit, pergi aja sana ke toko matrial."
" Hehe... Hanya berjanda, maksud ku bercanda" Alvan segera melarat ucapan nya saat mendapatkan tatapan tajam dari gadis di samping nya. atau dia bisa kena amukan dari sang macan betina yang sedang serius.
" Sebenarnya apa keunikan kota ini sampai kalian yakin mereka tidak berada di tempat ini?" Tanya Heera penasaran dengan apa yang kota ini sembunyikan.
" Dulu saat penyihir hitam menguasai dunia, leluhur keluarga Evans membuat perlindungan khusus di kota ini, dan formasi perlindungan itu masih ada sampai sekarang di kota ini. Jadi selain warga yang tinggal dari jaman leluhur dan keturunan nya hanya para petinggi pemerintah yang bisa masuk dan memberikan akses untuk membawa orang luar ke dalam, atau jika mereka menerobos secara diam-diam mereka akan di buat kebingungan oleh formasi tersebut dan tidak akan bisa masuk ke dalam kota." Alvan menjelaskan apa yang dia ketahui, lagi pula itu bukan informasi yang tidak bisa dia katakan, semua orang yang tinggal di negara D pasti tahu tentang kota ini.
" Pantas saja saat masuk ke dalam kota ini, terdapat energi spiritual yang melimpah."
" Kota ini ternyata besar juga!" Seru Heera berdecak kagum
" Tentu saja. Oh ya, kemarin aku sudah mencari apa yang kau minta." Seru Alvan kembali membahas ke topik utama.
" Jadi apa yang kau temukan?"
" Hah.. memang benar salah satu dari petinggi pemerintah meminta ijin pembangunan panti asuhan dan sosial dua tahun lalu. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan pembangunan ini, hanya saja seperti apa yang ku jelaskan sebelumnya kebanyakan warga yang tinggal di kota ini adalah keturunan dari jaman leluhur keluarga Evans, jadi tidak mungkin ada banyak anak kecil yang tidak memiliki rumah atau terlantar karena pembagian kekayaan di kota ini selalu di bagi ratakan. Karena itu tempat itu sangat mencurigakan." Ujar Alvan dengan raut yang kecewa, jika memang benar dugaan nya itu, maka orang itu adalah pengkhianat, dan seperti nya setelah masalah ini dia harus meminta ayah nya merevisi jajaran para petinggi pemerintah.
__ADS_1
"Aku tahu kau masih tidak menyangka, namun sebaiknya kita datangi panti asuhan dan sosial itu lebih dulu untuk memastikan." Ujar Heera dengan nada acuh tanpa berniat menghibur pria itu sedikitpun.
" Kau benar."
Mereka tiba di sebuah bangunan yang merupakan panti asuhan dan sosial, di atas bangunan terdapat papan yang bertuliskan panti asuhan dan sosial kasih. Dari luar semua nya terlihat tidak ada yang aneh, dan sama saja dengan panti asuhan pada umum nya. Namun Heera maupun Alvan dapat merasakan ada yang tidak beres dengan panti tersebut.
Bagaimana sebuah panti biasa dapat di selimuti sebuah formasi pelindung, yang hanya bisa di lakukan oleh orang-orang tertentu saja. itulah pikiran mereka.
Alvan dan Heera saling melirik dan mengangguk untuk melakukan tindakan selanjutnya. Heera segera pergi ke halaman belakang bangunan panti tersebut sedangkan Alvan akan menjadi orang yang mengalihkan perhatian di dalam.
" Permisi, apakah ada orang!" Seru Alvan dengan keras agar semua orang yang berada di dalam mendengar suara nya.
" maaf tuan, siapa yang anda cari?" Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam dan menyambut Alvan dengan ramah.
" Ah begini aku mendengar dari pak Dani Di sini ada panti asuhan, aku kemari ingin menyumbangkan Dana untuk anak-anak, pak Dani Sendiri yang merekomendasikan ku untuk kemari" ujar Alvan berbohong.
Wanita tua itu kembali masuk ke dalam, seperti nya untuk melaporkan apa yang dia ketahui pada pemimpin yang sesungguhnya.
" Tuan silahkan masuk."
Alvan masuk ke dalam tanpa ragu, dia memang merasakan seperti menebus sebuah dinding tak kasat mata, tapi sikap nya hanya acuh dan seakan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Saat masuk ke dalam Alvan sudah menemukan kejanggalan, bukankah ini panti asuhan, tapi di mana anak-anak, dia tidak melihat nya satupun.
" Tuan yang anda cari adalah beliau, beliau lah pemilik panti ini sebenarnya" ujar wanita tua itu memperkenalkan seorang pria setengah baya yang duduk di salah satu kursi.
__ADS_1
Penampilan pria itu tampak biasa saja, tapi Alvan dapat merasakan energi spiritual yang mengalir di tubuh nya, yang artinya dia bukanlah pria biasa.
" Ah maafkan saya, perkenalkan nama saya Akas. Saya adalah pendiri panti ini, tentu saja tanpa bantuan pak Dani. Semua ini tidak akan terjadi."
Panti saat ini kekurangan dana, dan tiga hari yang lalu dia sudah membahas nya dengan petinggi pemerintah itu, namun karena pengawasan ketat dari pemimpin keluarga Evans membuat gerak-gerik mereka terbatas, jadi mereka pun mencari jalan lain dengan mencari investor lain yang akan menyumbang dana, dengan dalih untuk anak-anak panti, siapa sangka dalam waktu dekat investor itu datang hari ini, padahal sebelum nya orang itu mengatakan akan susah mencari investor yang mau menyumbang dana pada saat kritis ini.
" Tuan Akas, Senang bertemu dengan mu, anda bisa memanggil ku Alvin" Alvan sengaja mengubah nama nya, meski hanya mengganti huruf a menjadi i, namun dia melakukan itu agar orang ini tidak curiga dengan nama nya. sedangkan alasan lain dia memilih nama Alvin karena dia tidak terpikirkan nama lain.
Sebenarnya semua ini rencana Heera karena menganalisa perkembangan pencarian jejak para penculik semakin ketat, pasti membuat orang dari pemerintah yang sudah berkhianat itu mulai waspada dan berhati-hati dengan tindakan nya. Dengan kata lain panti ini memang sedang kekurangan dana, karena apapun yang akan mereka lakukan pasti akan membutuhkan dana yang tidak sedikit.
" Tuan Alvin silahkan duduk."
" Terima kasih, namun mengapa tempat ini terasa begitu sepi, dimana anak-anak yang tinggal di sini?" Tanya Alvan dengan raut muka yang begitu penasaran, dia ingin tahu apa yang akan orang ini katakan lagi.
" Ah.. mereka, sebagian anak-anak itu masih di sekolah dan sebagian lain di bawa pengurus panti untuk bermain di taman." Jawab nya dengan tenang.
" Oh begitu. Tapi ku dengar banyak penculikan anak-anak yang terjadi di negara D ini, jadi apakah tuan tidak takut anak-anak itu di culik."
" Mereka hanya anak-anak biasa tidak mungkin para penculik itu menargetkan anak-anak tidak penting, yang ada mereka tidak akan bisa mendapatkan uang tebusan atau sesuatu yang berharga. Lagi pula mereka hanya bermain di taman yang masih di bawah perlindungan kota ini, dengan begitu mereka aman."
" Pantas saja" gumam Alvan.
" Apa anda mengatakan sesuatu?" Tanya taun Akas yang telah mendengar gumaman Alvan, meski terdengar samar.
__ADS_1
Alvan dengan santai menanggapi nya " Ya, pantas saja saya tidak melihat anak-anak, padahal saya kemari ingin menemui anak-anak."
" Anda seperti nya sangat menyukai anak-anak, saya tidak tahu anda akan datang hari ini, jika tau mungkin tidak akan membiarkan anak-anak bermain keluar."