
" Namun ada satu solusi yang ku pikirkan bisa membantu mu dan ayah mu."
" Apa itu?"
Alvan menaikkan sebelah alis nya dengan bingung, apa lagi yang akan gadis ini lakukan.
" Melihat situasi negara D saat ini, mungkin saja sekarang pemerintahan sedang terbagi dua. Yang satu masih ingin berusaha menolong anak-anak itu, tapi yang satu hanya memiliki satu jalan untuk anak-anak itu.. yaitu di bunuh" Heera mengucapkan kalimat terakhir nya dengan ekspresi datar.
Memang benar di mana pun politik di pemerintahan hanya akan memiliki dua sisi, sisi baik hanya di tunjukkan untuk orang-orang agar menutupi sisi gelap mereka. Jadi saat ada suatu kelompok yang bisa di jadikan mesin membunuh untuk menghancurkan suatu pemerintahan, orang-orang diperintahkan sebagian akan berpikir untuk segera memusnahkan mereka sebelum menjadi semakin berbahaya, meski mereka hanyalah sekumpulan anak-anak kecil.
Ini sangat kasihan untuk anak-anak kecil itu yang tidak mengerti apa-apa tapi malah di manfaatkan dan di jadikan mesin membunuh.
Sungguh sangat kejam orang yang melakukan itu.
Tapi kadang hanya ada cara membunuh lah yang sebagian orang pikirkan agar menyingkirkan masalah di masa depan tanpa memikirkan belas kasih atau hati nurani mereka sebagai manusia. karena mereka berpikir membunuh satu untuk menyelamatkan banyak nyawa akan lebih baik daripada mengorbankan banyak nyawa untuk satu nyawa saja.
" Kau benar" jawab Alvan dengan suara lirih
Meski dia ingin menyelamatkan anak-anak itu, tapi mereka bisa menjadi ancaman yang besar jika di biarkan begitu saja. Dan ada kemungkinan jika orang-orang tidak bertanggung jawab mengetahui keadaan mereka, akan menggunakan mereka sebagai senjata, dan dia tidak ingin sampai itu terjadi.
" Sebenarnya kau juga tahu di lihat dari berbagai aspek bagaimana pun solusi nya hanya ada satu solusi yaitu.. membunuh mereka."
Mendengar jawaban gadis itu Alvan sama sekali tidak terkejut, ya dia juga sudah memikirkan dari berbagai aspek dan kemungkinan yang terjadi nanti dan solusi hanya menyingkirkan anak-anak itu agar mereka tidak menjadi bencana di masa depan. Namun dia masih ingin mencari solusi untuk anak-anak itu agar bisa menjalani hidup normal seperti anak normal pada umum nya.
__ADS_1
" Ternyata tuan muda Alvan masih memiliki hati nurani ya." Ucap Heera dengan senyum mengejek.
Alvan hanya memutar bola mata nya malas mendengar ucapan gadis itu.
" Oke, aku tidak bercanda lagi. Ada satu cara yang mungkin akan dapat membuat mereka tidak menjadi mesin membunuh. Meski kemungkinan hanya ada 70% saja, bagaimana pun aku pernah menghadapi anak-anak itu dan hasrat membunuh yang mereka memiliki bukan hanya tertanam dalam benak anak-anak itu saja, tapi juga hasrat mereka sudah di kuasai oleh perasaan senang saat melihat suatu pembunuhan. Namun seperti nya mereka belum sepenuhnya menjadi mesin membunuh seperti apa yang orang-orang di balik semua ini rencanakan. Jadi jika kau siap menanggung resiko 30% kemungkinan mereka masih akan menjadi manusia tanpa rasa belas kasih dan membunuh siapapun tanpa ampun, aku akan memberikan solusi untuk anak-anak itu."
" Apa itu? Meski kemungkinan nya hanya 50 50 aku juga akan tetap mengambilnya." Jawab Alvan dengan tegas dan yakin.
Mereka semua tinggal di negara nya, yang artinya mereka adalah warga nya juga, mana mungkin sebagai penerus dari kepemimpinan keluarga Evans dia akan tinggal diam saja. Jika dia membiarkan anak-anak itu di bunuh sama saja dia adalah pemimpin yang buruk.
" Baiklah. Arsya pernah mengatakan pada ku, setiap nyawa itu berharga, dan bagaimana mereka hidup hanya bisa di tentukan oleh diri sendiri, apa yang terjadi di masa depan tidak perlu di pikirkan, cukup di nikmati saja masa kini."
" Kau seperti nya sangat dekat dengan gadis bernama Arsya itu" ucap Alvan dengan sinis, dia masih saja tidak suka dengan gadis itu, karena berpikir gadis itu merayu Arion tapi malah dekat juga dengan Aksa. Bukankah perempuan seperti itu hanya menjadi gadis yang tidak tahu malu.
Sayang sekali yang tidak mengetahui identitas Arsya hanya dia sendiri.
" Jangan berpikiran buruk pada Arsya, dia tidak seperti apa yang kau pikirkan." Melihat ekspresi Alvan tentu saja dia akan mengetahui apa yang pria itu sedang pikirkan.
" Aku tidak tahu apa maksud mu, lagi pula aku hanya tidak suka Arsya karena dia tidak bisa menentukan pilihan siapa pria yang di sukai nya, bukan malah menggoda setiap pria." Kilah Alvan tanpa berani menatap wajah gadis di depan nya yang sudah dia tahu sedang menatap nya dengan tajam.
" Apa itu maksud nya aku pun sama seperti wanita yang suka berganti-ganti pria.." sungut Heera dengan kesal tanpa berniat menjelaskan kesalahpahaman tentang Arsya, karena di jelaskan juga akan percuma jadi lebih baik biarkan pria ini mengetahui sendiri dan tunggu reaksi nya nanti, mungkin akan sangat menghibur nya!
" Bukan itu maksud ku."
__ADS_1
" Sudahlah, lupakan itu." Dia tidak ingin menjelaskan siapa Arsya dan juga tidak ingin memperpanjang masalah.
" Solusi yang ku maksud adalah dengan menghapus seluruh ingatan yang mereka miliki, dan membiarkan mereka memulai semua nya dari awal. Memperbaiki ingatan seseorang akan sangat sulit tapi memanipulasi dan menghapus ingatan itu akan lebih mudah. Meski begitu untuk mengantisipasi hasrat membunuh mereka, kau bisa membangun sebuah sekolah atau mengawasi perkembangan tumbuh mereka, kau juga bisa mengambil dan menjadikan mereka seorang kesatria bagi mereka yang tertarik dengan bertarung di bawah kepemimpinan mu dengan itu kau bisa membatasi hasrat membunuh mereka." Hanya solusi itu yang Heera pikirkan saat ini, jika saja kemampuan nya sudah di tingkat tinggi mungkin dia masih dapat membantu anak-anak malang itu.
Mendengar perkataan gadis di depan nya sorot mata Alvan berbinar dengan cerah seakan baru saja mendapatkan pencerahan.
" Aku mengerti, terima kasih."
" Jangan senang dulu, mencari ahli memanipulasi pikiran lebih sulit dari pengguna kemampuan telekinesis. apalagi dengan kondisi pemerintah yang saat ini terbagi dua."
" kau benar, menurut mu apa yang harus ku lakukan?" tanya Alvan tanpa sadar dia menjadi ketergantungan pada Heera, dan saat dia sudah menyadari nya mungkin akan terlambat.
" kau seorang putra mahkota Evans untuk apa malah menanyakan masalah ini pada ku yang hanya orang biasa ini!" seru Heera dengan senyum mengejek.
Benar juga, Alvan baru menyadari apa yang telah dia lakukan. seharusnya dia tidak bisa berbicara sembarangan seperti ini. namun semua nya sudah terlambat dan saat ini dia memang sedang membutuhkan saran dari orang lain.
Melihat wajah lesu Alvan seketika Heera pun menjadi tidak tega, dan berkata " Hah... kau tau nenek mu membenci ku, selain alasan ini aku juga bukan berasal dari negara ini, jika aku terlalu ikut campur urusan pemerintahan negara ini, suatu saat nanti akan sangat berbahaya entah itu untuk ku atau untuk mu sendiri. namun aku akan mengatakan satu kalimat untuk mu..."
setelah terdiam sejenak Heera baru berbicara " kau adalah seorang pemimpin, maka bersikaplah selayaknya pemimpin yang pantas."
Heera tidak menyebutkan untuk menjadi pemimpin yang baik atau bijaksana, tapi dia malah mengatakan untuk menjadi pemimpin yang pantas.
perkataan nya memang sedikit aneh di telinga orang yang mendengar nya, tapi dia sedikit memahami maksud perkataan gadis itu sebenarnya.
__ADS_1
" kau benar, aku tidak bisa membiarkan ayah ku terus bekerja sendiri."