
" Mas, sudah jangan bicara lagi, bagaimana pun dia ibu mu, tidak baik jika kau bersikap kasar pada nya"
" Eh, perempuan ****** apa kau senang sekarang, kau telah merebut putra ku dan sekarang kau juga meracuni cucu laki-laki ku!"
" Hentikan nenek, selama ini ibu sudah sangat bersabar menghadapi sikap kekanakan mu, dia selalu meminta ku untuk menuruti segala perintah dari mu, tapi aku tidak akan menuruti perintah dari mu soal perjodohan, apapun yang terjadi. Dan nenek, ku peringatkan perempuan yang kau hina itu adalah ibu ku, dia yang melahirkan ku ke dunia ini, kau pun seorang perempuan sebagai perempuan tidakkah nenek malu menghina perempuan lain." Alvan meluapkan segala keluh kesah nya yang selama ini ia pendam.
Ibu Alvan memang dulu nya dia hanya dari kalangan bawah, namun ayah nya telah mencintai ibu nya dalam pandangan pertama meski banyak yang menghalangi entah itu karena status keduanya yang sangat berbeda ataupun karena ibu dari ayah nya yang tidak memberi restu tapi ayah nya tetap memperjuangkan ibu nya, hingga kakek nya mengijinkan keduanya menikah yang membuat nenek nya tidak bisa menolak atau membatalkan pernikahan tersebut.
Meski keduanya sudah menjadi pasangan suami-istri, nyatanya hidup ibu Alvan tidak seindah yang orang-orang bayangkan, nenek nya selalu membuat rencana untuk membuat ayah dan ibu nya berpisah tapi untung nya satupun rencana nya itu tidak ada yang berhasil, apa lagi dengan sikap dan sifat ibu nya yang sangat keras kepala, Jika dia sudah memutuskan ia akan menggenggam nya dengan erat.
Ibu dan nenek nya selalu terlibat perdebatan yang akan selalu juga di menangkan oleh ibu nya yang memang perkataan yang keluar dari mulut ibu nya selalu terdengar pedas dan tajam seperti belati jika sudah dalam suasana hati yang tidak baik, dan untung nya juga ayah nya selalu mendukung ibu nya sehingga ibu nya tidak takut melawan nenek nya yang begitu sombong dan angkuh ini.
Namun di sisi lain ibu nya juga selalu mengajarinya untuk bersikap sopan dan hormat pada orang yang lebih tua, apa lagi pada nenek nya itu. Tidak sekalipun ibu nya meminta nya untuk melawan wanita tua itu, ini juga lah yang membuat Alvan sangat malas berada di rumah, nenek nya akan selalu membuat masalah untuk menyulitkan ibu nya.
" Ibu! selama ini aku selalu diam jika kalian membahas pernikahan Alvan, tapi tidak lagi. Sudah cukup ibu mengatur kehidupan putra ku. sekarang, Alvan sendiri yang akan memutuskan dengan siapa dia akan menikah. Jika ibu masih membahas perjodohan konyol itu. aku, putra mu dan cucu mu itu akan pergi dari rumah ini. Kami akan tinggal di kediaman kami sendiri!" Ujar ibu Alvan dengan tegas yang membuat nenek Alvan tidak tahu harus bagaimana untuk melawan mereka lagi.
Bagaimana pun setelah kematian suami nya semua harta kekayaan keluarga Evans telah menjadi milik putra nya, dan suami nya bahkan memberikan warisan yang cukup besar pada menantu nya itu, sedangkan dia sendiri sebagai istri nya hanya di beri warisan satu rumah saja, ini yang membuat nya semakin membenci menantu nya itu.
" Terserah apapun yang kalian katakan" ucap nenek Alvan sambil menggertakan gigi nya dengan kesal. Diam-diam ia juga sedang mencari ide untuk menyingkirkan perempuan penggoda putra dan cucu nya itu.
****
Pagi hari dimana langit masih cukup gelap dan sinar matahari baru menyinari bumi sepasang Adam dan hawa masih tertidur dengan pulas, seketika ada pergerakan dari salah satu nya.
__ADS_1
Aksa tersenyum sangat manis saat melihat wajah gadis yang di cintai nya, ini adalah hari paling indah dalam hidup nya saat bangun tidur orang pertama yang ia lihat adalah wajah cantik Arsya.
Perlahan bulu mata Arsya bergetar ia pun mulai membuka matanya, hingga sepasang mata itu bertatap dengan sepasang mata lain nya.
Melihat sepasang mata Aksa yang sedang menatap nya dengan intens membuat Arsya langsung bangkit dari tidur nya.
" Aau.." Arsya meringis kesakitan saat pundaknya terasa nyeri.
" Ada apa, mana yang sakit?" Tanya Aksa yang langsung bangkit dari tidurnya dan memeriksa kondisi Arsya.
" Pundak ku rasa nya sakit"
Aksa segera melihat pada pundak Arsya, namun betapa terkejut nya dia saat mendapatkan bekas memar yang sudah berwarna biru keunguan yang seperti nya bekas pukulan dari sebuah benda tumpul.
Aksa mengambil sebuah salep pereda sakit, dengan perlahan dan lembut ia pun mengoleskan nya pada luka Arsya.
" Kemarin ada yang mengatakan kau ingin bertemu dengan ku di taman, tapi karena aku kurang waspada dan tubuh ku sedang lemah sampai tidak menyadari ada orang yang mengikuti ku dari belakang dan memukul pundak ku sampai pingsan, sampai akhir nya aku malah berakhir di kamar kak Ray" jelas Arsya menjelaskan dengan rinci apa yang terjadi semalam pada nya.
" Ini pasti rencana Harraz, siapa yang memanggil mu atas nama ku?" Tanya Aksa dengan dingin
" Entah" jawab Arsya tidak pasti, untuk sekarang ia tidak ingin memikirkan nya, kondisi nya belum sepenuhnya pulih dan pernikahan dadakan nya ini, entah bagaimana ia harus menjelaskan nya pada keluarga nya.
" Maaf ini semua salah ku, sehingga kau juga menjadi target dari Harraz."
__ADS_1
" Sudahlah jangan meminta maaf, apapun yang terjadi sekarang kita sudah menikah, aku janji selama kak Ray setia dan tidak memiliki wanita lain aku akan selalu bersama mu meski apapun yang terjadi" ucap Arsya dengan serius dan terdengar sangat tulus.
" Aku pun berjanji pada mu Kay, hanya kamu yang akan menjadi istri dan pasangan ku selama nya. Kamu adalah satu-satu nya wanita yang ku cintai" ucap Aksa tersenyum lembut sambil mengelus rambut Arsya dengan hangat.
" Maaf kak, namun untuk saat ini aku belum bisa mencintai mu, aku hanya bisa menjanjikan mu satu hal aku akan melakukan tugas ku sebagai istri dengan baik" ucap Arsya dengan rasa bersalah, ia takut Aksa akan kecewa mendengar ucapan nya itu.
" Tidak apa, kita jalani dengan perlahan. Suatu saat nanti kamu akan mencintai ku, aku percaya itu.... Namun sekarang kita harus memberikan pelajaran pada Harraz dan kekasih tercinta nya itu" saat berbicara pada Arsya nadanya terdengar sangat lembut, tapi saat membahas Harraz nada bicara nya langsung berubah datar dan dingin.
" Tentu, aku selalu adil dalam memperlakukan orang-orang" balas Arsya tersenyum smirk.
" Baik, aku tidak sabar melihat keadilan yang di berikan oleh istri ku ini" ucap Aksa mengacak rambut Arsya dengan gemas.
" Siapa istri mu" ucap Arsya dengan wajah yang sedikit memerah ia segera bangun dari tidur nya.
" A-aku akan kembali ke kamar ku."
Baru saja ia akan melangkah tapi Aksa menghentikan nya.
" Tunggu!"
" Apa perut mu sudah lebih baik?"
" Ya, aku sudah lebih baik. K-kau cepatlah bersiap hari ini kita akan melihat kondisi dalam hutan"
__ADS_1