
****
Aksa dan yang lain nya telah keluar dari pintu portal, dengan mobil yang telah disiapkan mereka pun pergi menuju desa yang di tuju.
Karena hanya ada satu mobil mereka pun duduk berdempetan, Aksa tidak suka bersentuhan dengan orang lain karena itu Aksa tidak ikut dengan mobil itu, mereka juga tidak peduli Aksa akan ikut atau tidak, mereka malah merasa sangat senang jika Aksa tidak ikut dengan mereka, apa lagi Harraz. Mungkin hanya satu orang saja yang juga tidak ikut dengan rombongan itu, siapa lagi jika bukan Arsya, ia memilih bersama Aksa dari pada dengan orang-orang munafik itu.
Tangan nya selalu gatal jika berdekatan dengan orang-orang munafik, rasa nya ingin menghancurkan mulut-mulut ember mereka itu.
" Aksa maafkan aku, kau sendiri yang tidak mau satu mobil bersama kami, jadi kami terpaksa harus meninggalkan mu di tempat ini" ujar Harraz yang berpura-pura baik.
" Tuan muda Harraz tidak perlu mengkhawatirkan kami, lebih baik kau khawatirkan diri mu sendiri saja" bukan Aksa yang menjawab melainkan Arsya.
Mendengar tanggapan gadis yang penampilan nya jauh dari kata modis hanya membuat Harraz merasa jijik, namun ia masih mempertahankan senyuman manis nya.
" Awas saja gadis sialan, aku akan membalas perbuatan mu ini..." Batin Harraz dengan kesal tapi tidak berani melunturkan senyuman nya.
Mobil yang membawa rombongan itupun telah pergi meninggalkan dua orang yang masih berdiri tak beranjak dari tempat nya.
" Apa yang telah kau lakukan pada mobil itu gadis nakal?" Tanya Aksa, melihat seringai di bibir merah muda Arsya membuat Aksa yakin gadis itu telah merencanakan sesuatu.
" Apa maksud mu kak Ray, aku tidak mengerti!" Ucap Arsya dengan tampang polos nya.
Jika itu orang lain meraka mungkin akan tertipu dengan tampang polos nya itu, tapi tidak dengan Aksa.
" Kak Ray bagaimana cara kita pergi dari sini, tempat ini begitu sepi tidak ada kendaraan di sini?" Ucap Arsya dengan maksud mengalihkan perhatian pemuda itu, dan benar saja Aksa tidak lagi membahas nya. Lebih tepat nya Aksa memang tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Harraz.
Apapun yang membuat gadis nya senang, ia tidak akan menghentikan nya. pikir nya
" Tenang saja, aku sudah menyiapkan nya sebentar lagi mereka akan datang." Ucap Aksa dengan nada santai.
Meski tidak mengerti Arsya tetap menunggu, tidak lama dua buah motor berhenti tepat di depan kedua nya, satu orang yang mengendarai motor tersebut turun dan menghampiri Aksa.
" Tuan ini kunci motor nya" ucap orang itu sopan sambil memberikan kunci motor tersebut pada Aksa dengan hati-hati.
__ADS_1
" Hmm, kalian bisa pergi sekarang." Ucap Aksa acuh setelah mengambil kunci motor tersebut, kedua orang itu pun langsung pergi setelah itu.
" Siapa mereka? Tidak, lebih tepat nya siapa kau?" Tanya Arsya dengan heran, setahunya selain identitas Aksa yang semua murid di academy hampir sudah mengetahui hubungan nya dengan keluarga Davies akibat ulah Harraz, Aksa bukan lah siapa-siapa.
Namun kedua orang itu bukan seperti orang biasa, keduanya seakan sudah terlatih sangat keras, kedua orang itu juga bersikap pada Aksa dengan sangat sopan dan hormat.
" Bagaimana pendapat mu tentang ku, menurut mu siapa aku ini?" Aksa malah bertanya balik dengan senyum yang mengembang.
" Sudahlah, jika kau tidak ingin menjawab nya" ucap Arsya acuh.
" Kay suatu saat nanti kau akan tahu siapa aku ini, hhmm..."
" Terserah, sekarang ayo kita berangkat. Tapi... Apakah kita naik motor ini, berdua saja?" Tanya nya memicingkan mata.
" Tentu, memang nya kamu akan berjalan, jarak dari sini ke desa itu cukup jauh loh.." ucap nya mencoba menakut-nakuti.
" Bukankah kau memiliki penyakit OCD..." Ucap Arsya ragu, ia sendiri memang sedang meragukan perkataan nya itu, bagaimana tidak Aksa bahkan sudah sering bersentuhan dengan nya, entah itu hanya berpegangan tangan atau lebih dari itu seperti berpelukan.
Aksa berjalan mendekati nya dan memojokkan nya pada motor " Bagaimana kalau kau membuktikan nya sendiri."
Aksa hanya tersenyum tipis saat melihat tingkah lucu gadis nya.
***
Di tengah perjalanan, awal nya mobil yang di tumpangi Harraz dan yang lain nya baik-baik saja, perjalanan mereka pun termasuk sangat lancar, namun...
Boom
" Suara apa itu?" Tanya Harraz pada sang sopir.
" Maaf tuan muda, seperti nya ban mobil ini pecah" ucap sopir mobil tersebut segera menghentikan mobilnya yang memang terasa terguncang.
" Apa..."
__ADS_1
" Bagaimana pak?" Tanya nya
" Ban mobil nya memang bocor tuan." Jawab nya dengan sopan.
" Lalu kita harus bagaimana?" Tanya pacar Harraz dengan kesal.
" Saya akan memperbaiki nya terlebih dahulu nona, hanya saja mungkin akan membutuhkan waktu yang lama.. tuan dan nona bisa menunggu di bawah pohon lebih dulu untuk berteduh" ujar sopir itu dengan sopan.
" Apa? Di hari yang begitu terik ini kau ingin kami berdiri dibawah pohon, apa kau gila!!" Seru pacar Harraz dengan marah
" Maaf nona, ini adalah jalan yang jarang di lewati banyak kendaraan, akan sulit jika mencari kendaraan lain di tempat ini."
" Sudahlah jangan bicara lagi ayo kita turun agar dia segera mengganti ban mobil nya" ucap Harraz dengan jengkel.
Sudah satu jam mereka berdiri di terik nya sinar mentari, hari ini begitu panas sampai membuat mereka di banjiri keringat.
" Tubuh ku sudah bau keringat, apa belum juga selesai"
" Ck, hanya ganti ban saja begitu lama."
" Sial hari ini matahari begitu terik!"
Mereka saling mengeluh dengan keadaan yang sedang di alami.
Brumm
Terdengar deru mesin motor yang mendekat dari kejauhan, tidak lama sebuah motor melewati tempat mereka berada, namun mereka merasa familiar dengan wajah yang sedang mengendarai kendaraan roda dua tersebut.
" Bukankah itu Aksa dan gadis culun itu?" Seru seseorang di antara mereka.
" Benar, itu Aksa!"
" Tidak mungkin, bagaimana anak haram itu bisa mendapatkan kendaraan di tempat ini."
__ADS_1
Mereka saling berdebat akan siapa orang yang baru saja lewat sambil mengendarai kendaraan roda dua itu.
Harraz yang sedari tadi juga sedang memikirkan hal yang sama, tentu nya ia sangat tahu orang yang baru saja lewat adalah Aksa saudara yang sangat di benci nya, hanya saja bagaimana dia bisa mendapatkan kendaraan begitu cepat. Pikir nya.