
***
Di tempat lain
Alvan yang baru menerima telepon dari Naura nampak kebingungan, ia pun segera mengecek handphone nya dan melihat ke forum academy.
" Foto apa ini?" Alvan mengklik tombol sebuah gambar yang sedang menjadi gosip hangat.
" Ini..."
Alvan segera memajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi membelah kendaraan yang lain.
" Valencia dimana Clara?" Tanya Arion yang baru saja datang dan langsung bertanya tentang keberadaan Heera.
" Kak Rion!"
" B-bagaimana kau tahu kami berada di sini?" Bukannya menjawab Valencia malah balik bertanya.
" Aku bisa merasakan keberadaan mu, tapi bukan itu yang penting sekarang. Katakan dimana Clara berada?"
" Itu... Clara..."
" Yon!" Seru Alvan yang baru saja tiba dengan napas yang terengah-engah seperti nya dia habis lari.
" Dimana Clara?"
" Aku juga sedang menanyakan nya pada mereka." Jawab nya sambil menunjuk pada para gadis.
Alvan segera menatap para gadis yang membuat mereka menjadi gugup.
" Kami juga tidak tahu dimana Clara berada sekarang!" Seru Naura dengan cepat.
" Bocah itu selalu saja pergi tanpa memberi kabar." Gumam Arion dengan geram.
" Yon, kata nya kau tahu cara menemukan keberadaan Clara. Cepat katakan dimana dia berada, sedari tadi aku sudah mencoba menghubungi nya tapi tidak dia angkat."
" aku juga tidak tahu dimana Clara sekarang."
" Lalu bagaimana kita mencari nya jika begini?"
" Tenang saja, Clara bisa bersembunyi dengan baik dari siapapun tapi tidak dari satu orang."
" Maksud mu.."
" Aku akan menghubungi Arsya dulu." Ucap Arion pergi sedikit menjauh dari mereka untuk melakukan panggilan telepon dengan adik nya.
" Hallo!"
Arsya : " Ya, ada apa ka Rion menghubungi ku?"
__ADS_1
" Apa kau tahu dimana Clara berada?" Tanya Arion langsung pada inti nya.
Arsya : " Seharusnya dia sekarang ada di academy, jika Heera tidak membuat kekacauan lagi."
" Tidak ada, anak itu tidak ada di academy. Dia telah membuat masalah besar tapi batang hidung nya bahkan tidak terlihat."
Arsya : " kekacauan apa yang dia buat sampai kak Rion menghubungi ku, seperti nya begitu serius!"
" Hah... Apa kau belum melihat forum academy?"
Arsya : " di sini tidak ada sinyal, aku belum mengakses internet sedari datang ke desa ini."
Arsya : " katakan saja apa yang terjadi di sana?"
" Ada sebuah gosip tentang Clara yang kata nya memiliki seorang sugar Daddy, dan kemarin malam dia sedang menghabiskan malam hangat bersama kekasih gelap nya itu" jawab Arion nada bicara nya terdengar mencibir, bagaimana pun dia jelas tahu Clara tidak mungkin melakukan hal bodoh itu.
Arsya : " Aih, gosip nya terdengar begitu murahan. Yang membuat gosip ini pasti lebih murahan."
" Meski memang gosip ini begitu klasik, tapi jika tidak segera di selesai akan semakin besar."
Arsya : " Heera akan segera kembali ke academy, biar dia yang menyelesaikan kekacauan yang di buat nya."
" Ya, kau juga segeralah kembali!"
Arsya : " Oke, aku mengerti. Dua atau tiga hari lagi aku akan kembali."
" Bagaimana apa kau sudah tahu dimana Clara berada?" Tanya Alvan saat melihat Arion yang sudah berjalan mendekati mereka.
" Ya, Clara akan segera kembali."
" Hanya itu saja, lalu dimana keberadaan Clara sekarang. Jika kita hanya menunggu saja gosip bodoh ini akan semakin membesar."
" Percuma saja kau mencari nya, Clara akan segera kembali dia pasti akan kembali dengan cepat. Sebelum itu, sebaiknya kita menekan gosip murahan ini agar tidak menyebar keluar academy."
" Benar apa yang Arion katakan, untuk sekarang hanya ini yang bisa kita lakukan" ucap Valencia.
" Baiklah."
***
" Kepala desa apakah hanya ini saja hukuman untuk mereka. Sungguh membosankan." Ucap Arsya menguap melihat hukuman cambuk yang di terima oleh pria-pria bajingan itu.
" Apa maksud mu nak Arsya, ini sudah hukuman yang berat bagi mereka." Ucap salah satu sesepuh desa Reine.
" Kalian memberikan hukuman yang begitu banyak bagi para wanita, tapi hanya memberikan hukuman cambuk 50 kali saja, itu mana cukup. Sebagai seorang pemimpin tentu harus bersikap adil bukan!"
" Apa maksud mu, nona Arsya!" Seru Harraz yang seperti nya ingin memancing kerusuhan.
" Wanita yang menggoda para pria memang keterlaluan, tapi pria yang melecehkan wanita tidak pantas menjadi pria."
__ADS_1
" Ck, kau terlalu berbelit-belit katakan saja langsung apa susah nya" decak Selly dengan kesal
" Maksud ku jika wanita saja mendapatkan hukuman yang berat atas kesalahannya. Maka kepala desa harus memberikan contoh agar para pria tidak berani sembarangan melecehkan wanita."
" Baik, kalau begitu mereka akan mendapatkan hukuman seratus kali cambukan dan seratus kali pukulan papan."
" Itu masih belum cukup untuk membuat mereka jera."
" Hey, ****** hentikan omong kosong mu itu. Kalau tidak aku akan membunuh mu."
" Mereka bahkan berani mengancam tamu yang telah menyelamatkan desa ini dari bahaya, ka Aksa aku tidak tahu desa ini begitu tidak berterima kasih" ucap Arsya yang langsung memeluk tubuh Aksa, menyembunyikan senyuman licik nya.
" Saya tidak tahu kepala desa memiliki cara unik untuk berterima kasih pada penolong desa nya." Ucap Aksa dingin dan tajam.
" Nona Arsya, jika kau memiliki pendapat silahkan katakan saja, kami pasti akan mempertimbangkan saran mu dengan baik." Ucap kepala desa yang takut berada di bawah tekanan Aksa.
" Hanya mempertimbangkan saja..." Ucap Arsya terdengar sedih
Para sesepuh yang mendapatkan tatapan tajam dan tekanan dari Aksa segera memberikan pendapat.
" Nona Arsya benar, bajingan seperti mereka harus di beri pelajaran, jika tidak.. akan ada bajingan lain yang berani berbuat semena-mena di desa ini. Apapun yang nona katakan kami pasti akan melakukan nya"
" Tetua begitu bijaksana. Aku akan memikirkan nya dulu, hukuman apa yang pantas bagi mereka." Ekspresi dan gaya nya sekarang terlihat seakan dia sedang berpikir keras mencari hukuman yang pantas untuk para pria bajingan itu.
" Tapi mereka memang terlihat kasihan, bagaimana jika hukuman nya 100 cambukan, 100 pukulan papan, di arak seluruh desa tanpa pakaian dan... Di usir dari desa! Kurasa itu hukuman yang sangat ringan untuk nya bukankah begitu kepala desa, para tetua." Seru Arsya tersenyum lembut, senyuman nya sangat berbeda dengan hukuman yang dia berikan, seakan bukan dia yang baru saja mengatakan hal kejam tersebut.
" Baik, segera lakukan apa yang nona Arsya katakan!" Seru kepala desa yang memang dia juga ingin memberikan hukuman berat bagi para pria yang berani melecehkan cucu perempuan nya. Dan sekarang dia memiliki alasan untuk melakukan itu, tentu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
" Arrrgh..."
" Tidaak..."
" Jangaaa... Tolong"
" Sa-sakit!"
Suara teriakan saling bersahutan dapat semua orang dengar dengan jelas. Beberapa penduduk desa merasa merinding mendengar kan teriakan para pemuda yang begitu memilukan.
" Baiklah, karena urusan kami di sini sudah selesai, sebaiknya kami segera pergi meninggalkan desa ini." Ujar Aksa dengan tenang.
" Apakah kalian akan kembali sekarang, ini sangat mendadak aku bahkan belum menyiapkan hadiah untuk kalian." Ujar kepala desa
" tidak perlu, anda berikan saja hadiah itu pada tuan muda Harraz, dia adalah ketua tim ini." Balas Arsya dengan senyuman lembut nya.
" Siapa yang akan menyangka gadis polos dan terlihat lugu ini ternyata memiliki pemikiran yang amat sangat mengerikan" batin kepala desa sampai menelan ludah nya sendiri.
" Aksa apa maksud mu! Kami belum mempersiapkan barang-barang kami, tapi kau malah sudah pamit lebih dulu tanpa mendiskusikan nya dengan kami." Seru Harraz menahan segala kekesalan nya pada Aksa.
" Jika kalian masih ingin di sini, silahkan saja. Kami berdua tidak sesenggang tuan muda Harraz dan kawan-kawan nya." Jawab Arsya dengan acuh dan segera menarik Aksa dari sana.
__ADS_1