
***
Aksa membawa Arsya ke belakang rumah, bagian belakang rumah juga sangat indah, di sana ada sebuah kolam pemandian air panas, ada juga sebuah bangunan yang ukuran nya lebih kecil dari rumah di depan namun masih terlihat cantik dan elegan.
" Tempat apa itu?" Tanya Arsya menunjuk ke suatu tempat
" Coba kau tebak" ucap jahil Aksa
" Ini bukan permainan teka-teki silang ataupun kuis tanya jawab" ucap Arsya kesal
" Bagus juga ide mu, kita bisa memainkan permainan itu berdua saja bagaimana?" goda Aksa tersenyum manis
" Dia terlihat sangat tampan jika tersenyum seperti itu" batin Arsya terpesona
" Heh... terpesona" seru Aksa mengedipkan sebelah mata nya
" Si-siapa yang terpesona dengan wajah jelek mu itu" ucap Arsya segera memalingkan wajah nya.
Dug dug dug
" Duuuh setelah ini aku harus pergi ke dokter spesialis jantung seperti nya ada yang salah dengan jantung ku" batin Arsya tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan sekarang.
" Jika kau tidak ingin mengatakan nya pun tidak apa!" ucap Arsya acuh
" Itu hanya bangunan laboratorium... Apa kau ingin melihat nya?" Ucap Aksa, jika untuk gadis ini akan ia lakukan segala nya.
" Apakah boleh?" tanya Arsya ragu
" Tentu boleh tapi dengan satu syarat"
" Apa, jangan memberikan syarat yang aneh aneh" ucap Arsya mendelik pada Aksa
" tidak aneh, hanya saja jangan memanggil ku Aksa lagi?"
" Lalu aku harus memanggil mu apa? kan itu emang nama mu!" Arsya benar-benar tidak mengerti dengan pemuda di depan nya ini.
" Sayang, baby, cinta ku juga boleh" goda Aksa, tidak habis nya pemuda ini menggoda nya, Arsya bahkan tidak tahu harus menanggapi nya bagaimana.
" Jangan mimpi! oke, aku akan memanggil mu kak Ray saja mulai sekarang, bagaimana?"
" Kak Ray! tidak buruk aku suka, tapi aku lebih suka jika kau memanggil ku sayang" goda Aksa, Arsya hanya memutar bola mata nya malas, namun sebenarnya hati nya sekarang sedang lari maraton.
" Ayo aku perlihatkan tempat itu pada mu" ucap Aksa berjalan ke tempat yang akan di tuju mereka, Arsya di belakang nya hanya mengikuti langkah Aksa
Aksa menempelkan sidik jari nya di pintu masuk.
" Ruangan ini tidak akan terbuka tanpa sidik jari ku, aku akan mengatur kembali keamanan ruangan ini dan memasukkan sidik jari mu, agar nanti kau mudah keluar amsuk ruangan ini" ujar Aksa terlihat serius membuat dia semakin terlihat tampan.
" Terserah" jawab Arsya acuh, namun segala sikap pemuda ini membuat nya tidak mengerti, dia hanya bisa bersikap acuh dan menutup hati nya agar tidak tergerak.
" Piip... Sidik jari anda benar, silahkan masuk" suara mekanis di pintu pun dapat terdengar.
__ADS_1
" Ayo"
" Hmm"
Setelah memasuki ruangan itu dapat terlihat banyak komputer, alat alat lab, peralatan alkimia, ada banyak ramuan, dan terlihat ada banyak juga uji coba yang sedang di lakukan entah eksperimen apa yang sedang di lakukan pemuda ini di sini.
" Ini semua..."
" Semua yang ada disini adalah eksperimen ku untuk mencari penawar racun dingin" jawab Aksa jujur, namun ekspresi nya terlihat datar.
" Kau yakin membiarkan ku keluar masuk ruangan ini, seperti nya banyak eksperimen rahasia yang kau lakukan di tempat ini, bagaimana kalau aku membocorkan nya pada orang lain!" Cibir Arsya, mengapa pemuda ini begitu saja membiarkan dia masuk ke tempat yang begitu rahasia ini!
" Jika kau yang membocorkan nya itu tidak masalah, namun aku yakin Kay, kau tidak akan mungkin melakukan itu" ucap Aksa percaya diri
" Kau terlalu percaya diri tuan" sinis Arsya, tapi perkataan nya benar dia tidak akan mungkin membocorkan nya.
" Tentu saja"
Arsya mendekati peralatan kimia yang ada di tempat itu.
" Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Aksa saat melihat Arsya sedang melakukan sesuatu dengan bahan bahan kimia yang ada di sana.
" Memancing" jawab Arsya acuh
" Maksud ku apa yang sedang kau buat?" Tanya kembali Aksa
" Ramuan"
" Bukan, aku ahli makan" ucap ketus Arsya
Entah kenapa berbicara dengan pria ini membuat ia merasa nyaman, sebelum nya ia belum pernah bisa bercanda seperti ini dengan orang lain, bahkan dengan keluarga nya pun jarang.
" Ck, jadi kau mengerjai ku ya gadis kecil" seru Aksa menganggukkan kepala nya pelan
Meski sedang berbicara dan bercanda dengan Aksa tapi nyata nya Arsya masih bisa fokus dengan apa yang sedang di lakukan nya, tangan nya dengan telaten mencampur satu bahan dengan bahan lain nya.
" Kau saja yang terlalu bodoh" ucap Arsya acuh
" Selesai" Arsya telah menyelesaikan ramuan yang sedari tadi dia buat.
" Oh aku bodoh, benar kah" Aksa semakin mendekati Arsya
Aksa mulai menggelitik Arsya membuat gadis itu tertawa lepas.
" Hahaha, cukup kak Ray, geli... Stop haha..."
" Katakan sekali lagi kalau aku bodoh" tantang Aksa tersenyum tipis.
" Oke oke kak Ray tidak bodoh, hentikan dulu..." Aksa berhenti menggelitik Arsya, Arsya menggunakan kesempatan itu untuk pergi menjauh dari Aksa.
" Kau memang tidak bodoh kak Ray, tapi sayang kau kurang pintar" ledek Arsya dengan keras, dia segera pergi dari sana sebelum Aksa mengejar nya.
__ADS_1
" Kaayyy!!! Kemari kau, aku akan mengejar mu"
" Heh, kejar aku kalau kau bisa!" jail Arsya tersenyum meremehkan
Arsya berlari keluar ruangan dan berlari di taman belakang di ikuti Aksa yang mengejar nya dari belakang.
" Kay berhenti!! Jangan lari" seru Aksa
" Kejar, kejar saja kalau kau bisa"
" Kalau aku bisa menangkap mu, aku akan mendapatkan apa?" Tanya Aksa keras
Sikap Aksa saat bersama dengan Arsya terlihat seperti anak kecil yang banyak tingkah dan sangat jahil.
Jika ada orang yang mengenal mereka dan melihat sikap mereka berdua yang sekarang, orang orang itu mungkin akan sangat terkejut tingkah Aksa dan Arsya sekarang berubah sangat drastis, bahkan perubahan nya sampai 180°.
Tidak akan ada yang percaya jika Arsya dan Aksa yang sikap dan sifat nya selalu dingin, datar, dan selalu cuek akan dapat bertingkah seperti anak kecil.
Hap
Aksa berhasil mengejar langkah Arsya dan menangkap tangan Arsya dengan mudah.
" Kucing nakal sekarang sudah tertangkap, mana hadiah ku!" ujar Aksa, dengan tidak tahu malu nya dia meminta hadiah.
" kau mau hadiah, lepaskan aku dulu" sahut Arsya santai
" Tidak, jika aku melepaskan mu kau akan kembali kabur hmm" sahut Aksa sangat yakin akan apa yang dia katakan.
" Ck, tahu aja nih cowok" batin Arsya kesal
" Minggir! aku meninggalkan ramuan ku di dalam" ujar Arsya melepaskan tangan nya dari Aksa dan segera berjalan kembali ke dalam ruang lab, di ikuti Aksa di belakang
" Ini untuk mu!" Arsya memberikan ramuan yang di baru di buat nya pada Aksa
" Ramuan tingkat tinggi!" gumam Aksa tidak percaya pasal saat Arsya membuat ramuan itu ia hanya melihat gadis itu hanya sedang bermain dengan bahan bahan obat, tidak di sangka gadis itu bukan hanya membuat ramuan dengan santai tapi tingkat ramuan itupun ada di tingkat tinggi.
" Berapa kemurnian ramuan ini?" Tanya Aksa
" Hanya 80%" jawab Arsya santai
Gadis ini benar benar! dia bilang apa ramuan tingkat tinggi dengan kemurnian 80% ia bilang 'hanya'. Jika ada ahli alkimia yang mendengar ini mereka mungkin akan langsung muntah darah, seorang ahli alkimia peringkat atas saja hanya dapat membuat ramuan tingkat tinggi dengan kemurnian 50% tapi ramuan itu sudah di sebut sebagai ramuan yang sulit di dapatkan.
" Apa ini hadiah ku?"
" Hmm... Ramuan itu dapat memulihkan kondisi tubuh kembali, jadi anggap saja itu hadiah nya" sahut Arsya acuh tak acuh
" Apakah hanya ini hadiah ku, aku ingin hadiah yang lain" ucap Aksa semakin mendekati Arsya.
" Jadi orang jangan serakah, nanti kuburan nya sempit" ujar Arsya mendorong tubuh Aksa agar menjauh dari nya.
" Ayo kembali!" ucap Arsya sebelum Aksa kembali melakukan hal yang aneh.
__ADS_1