
***
Selama enam hari ini mereka terus melatih fisik mereka.
Bukan hanya lari, sit-up atau pelatihan fisik ringan saja yang mereka lakukan, namun juga pelatihan yang berat seperti panjat tebing, berenang di lumpur dan menyelesaikan tantangan yang telah di siapkan.
Tak ayal juga banyak orang yang lebih memilih menyerah dan tidak ingin melanjutkan pelatihan ini lagi, meski begitu yang masih bertahan juga cukup banyak.
" Hari ini adalah pelatih terakhir kalian bersama dengan saya, jadi tetap semangat, lakukan seperti biasa nya!"
" Baik.."
Mereka mulai melakukan aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan mereka dalam enam hari terakhir ini.
" Lihat bukankah itu five prince..."
" Hah mereka tampan sekali!!"
" Kak Rion aku mencintai mu.."
" Meski Aksa hanya anak haram, tapi tetap saja pesona ketampanan nya bahkan melebihi tuan muda Arion"
" Arrgh... Mereka benar-benar sangat tampan.."
Para murid langsung ricuh setelah kedatangan Aksa dan kawan-kawan.
" Ekhem.."
" Syutt, diam!" ucap salah satu dari mereka tanpa mencari tahu siapa yang berdehem itu.
" Ekhem..." Sekali lagi ada seseorang yang berdehem di dekat mereka.
" Ku bilang diam, apa kau tul-i.. Ehehe pak kau di sini, anda sedang apa pak.." ucap gadis itu sambil menepuk pundak teman-teman nya yang masih saja bicara ngelantur.
Sebagian murid langsung melanjutkan pelatihan mereka setelah tahu siapa yang datang, namun terdapat tiga orang dan satu orang yang sedang menegur ketiga nya yang masih diam dan menatap Aksa dan kawan-kawan dengan penuh kekaguman.
" Apaan sih, diam lah! aku sedang menikmati wajah calon pacar ku!" Ujar yang lain tidak menghiraukan.
" Bodoh" batin gadis tadi sambil tersenyum bodoh pada guru di hadapan nya.
__ADS_1
" Bukan nya berlatih seperti yang lain tapi kalian malah melihat mereka hmm..." Mendengar suara seseorang yang tidak asing di telinga mereka, mereka pun langsung berbalik.
" Eh, ada bapak sedang apa di sini pak?" Tanya salah satu dari tiga gadis itu.
" ih idi bipik" cibir guru itu sambil menirukan gaya bicara gadis tersebut.
" Hehehe, anda tidak ngopi pak, lihat tuh guru lain nya terlihat begitu santuy, tidak seperti bapak begitu galak kayak macan!" Ucap nya, namun ia bicara pelan di akhir kalimat nya.
" Apa kamu bilang?"
" Tidak, tidak ada pak.."
" Kalian mau tahu saya sedang apa disini!" Ucap nya kesal
" Memang nya bapak sedang apa?" Tanya gadis lain nya dengan polos, sedangkan ketiga teman nya hanya dapat menepuk kening mereka sendiri melihat kepolosan nya.
" Saya sedang memancing dan kalian yang akan saya jadikan umpan nya jika masih tidak melanjutkan latihan, kalian mau!!"
" Emang nya bapak mau mancing apa, sampai kami di jadikan umpan, kami..."
" Ahk, iya pak kami akan segera berlatih, sampai jumpa pak .." salah satu tempat nya segera menarik gadis itu agar tidak membuat pak guru semakin marah.
Para murid Phoenix Class memang sengaja datang untuk melihat latihan para murid di tingkat Blossom Class dan Astro Class agar dapat menentukan siapa yang pantas mereka jadikan rekan.
Bagi murid yang sudah di tingkat Phoenix Class sangat penting memilih rekan mereka, ini juga menjadi salah satu syarat agar dapat lanjut ke tingkat lebih tinggi.
Kenapa mereka tidak memilih rekan satu tingkat saja dengan mereka? Bukankah dengan begitu mereka akan menjadi jauh lebih kuat?
Peraturan ini diadakan untuk mengajarkan pada semua murid kekuatan besar saja tidak cukup, namun perlu juga rasa saling menghargai dan kepercayaan dalam memilih rekan.
Dengan ada nya peraturan ini para murid yang berada di tingkat rendah dan menengah tidak akan yang merasa terasingkan, meski kekuatan mereka masih di level 5-6, tapi mereka tidak perlu merasa berkecil hati. menaikkan satu level saja membutuhkan waktu bertahun-tahun, karena itu kepala academy sangat menghargai setiap bakat.
Karena peraturan ini juga yang membuat lima sekawan yaitu Aksa dan yang lain nya belum juga masuk ke kelas tingkat paling tinggi padahal kekuatan mereka bahkan sudah dapat mengungguli para guru. Selama ini mereka tidak tertarik memiliki rekan, meski harus tetap berada di tingkat Phoenix Class tidak masalah bagi mereka, tingkatan tidak penting bagi mereka, yang jelas mereka sendiri tahu kekuatan mereka. Namun sekarang berbeda dengan tahun tahun sebelumnya ada yang begitu ingin mereka jadikan rekan.
***
Di tempat Aksa dan kawan-kawan nya
" Hey, siapa yang akan kalian pilih?" tanya Alvan
__ADS_1
" Entah, abang Kenan yang tampan ini masih bingung mau pilih siapa?" Ucap Kenan dengan gaya narsis nya.
" Jijik Ken" ucap Alvan kesal dengan teman nya yang selalu saja mencari masalah
" Tapi Al, Clara seperti nya menarik, fisik nya lebih kuat dari para murid kebanyakan..." Seru Ivan tiba-tiba sambil melirik Alvan dengan ekor mata nya.
" No, no Clara itu milik ku, kau cari yang lain saja, bukankah Arsya juga tidak kalah hebat dari Clara" ucap Alvan tanpa ia sadari Arion dan Aksa langsung menatap nya dengan tajam.
" Kalau aku sih ogah bersaing dengan dua singa jantan.." sindir nya pada Arion dan Aksa, namun ia juga bermaksud memperingati Alvan bahaya yang sedang mengintai nya sekarang.
" Dua singa jantan maksud mu sia... Akh iya ya, itu.... Aku beli minuman dulu deh, kalian mau tidak?" Tanya Alvan ingin cepat pergi dari sana.
" Satu ya Al" sedang Kenan bahkan tidak melihat situasi terlebih dahulu dia masih saja santai.
" Hey, kalian berdua kenapa saling menatap seperti itu, jangan-jangan kalian gay lagi, iiihh.... Sadar Aksa, Arion jangan sampai itu terjadi, masa teman ku ada yang belok sih mmm...." Kenan terus saja mengoceh tanpa tahu situasi, sampai membuat Ivan langsung menutup mulut adik nya yang tidak bisa diam itu.
" Aw, kenapa kau menggigit tangan ku Kenan!" Seru Ivan kesal tangan nya yang ia gunakan untuk menutup mut ember adik nya itu, malah di gigit oleh nya.
" Kau duluan yang seenak jidat mu itu menutup bibir ku, tangan mu bau terasi lagi..." Sewot Kenan mengejek.
" Enak saja bau terasi, tangan ku harum begini sudahlah jika kau mengajak ku masuk ke jurang kematian lebih baik kau sendiri saja, jangan mengajak-ngajak, aku pergi saja dari sini!" Seru Ivan melenggang pergi tanpa menunggu tanggapan dari Kenan.
" Hey, mengapa kalian pada pergi sih? Heran dah, kayak disini ada T-rex saja benar tidak Aksa, Rion!" Dia menatap Aksa dan Arion, namun yang di tatap juga sedang menatap nya dan seperti akan memakan nya hidup-hidup.
" Eh ternyata bukan T-rex yang datang, melainkan ayah nya T-rex, hehehe...."
" Kau mengatakan apa sebelumnya Ken..." Ucap Arion penuh penekanan
" Tidak ada cuma itu, itu... Ah ya, ada kodok beranak kuda, kalau begitu aku mau lihat kodok nya dulu ya, dia mati atau tidak setelah melahirkan kuda, kalian berdua silahkan lanjutkan saja saling tatap nya, bye..." Kenan buru-buru pergi dari sana sebelum kena amukan dari dua predator itu.
" Apes, apes lagi asyik-asyik nya lihatin yang bening-bening, eh kedua predator itu seperti siap kapan saja memakan ku hidup-hidup. Cih, berani sekali Alvan, dan Abang lacnat ku itu main pergi begitu saja meninggalkan ku sendiri berhadapan dengan mereka berdua, lagi pula ada apa dengan mereka sih..." Kenan terus menggerutu sepanjang jalan.
" Arsya milik ku, kau pilih saja yang lain" ucap Aksa tiba-tiba, nada nya terdengar sangat tegas dan mendominasi seakan tidak memberikan kesempatan Arion membantah.
Melihat tatapan tajam Aksa sedikit membuat nya merinding, tapi Arsya adalah adik nya, sehingga dia menepis perasaan itu.
" Kau tidak bisa memutuskan nya begitu saja kawan, biarkan dia sendiri yang memilih ingin bersama dengan siapa!" Jawab Arion acuh
" Baik...."
__ADS_1