
Sedari awal interaksi antara Heera dan Arsya terdapat seseorang yang terus mengawasi keduanya, saat melihat Heera di hukum dan gadis itu menyalahkan Arsya, serta tatapan permusuhan di antara keduanya, dia pun tersenyum penuh arti, ia telah memiliki cara untuk menghadapi keduanya.
" Kita lanjutkan pelajaran nya.."
" Senjata sihir terbagi menjadi dua yaitu senjata sihir sementara dan senjata sihir sejati...". Senjata sihir sementara merupakan senjata sihir yang banyak di tempa oleh para pembuat senjata sihir, senjata sihir yang di buat oleh para penempa hanya lah senjata sihir jangka pendek yang bisa saja rusak dan memiliki banyak kekurangan, salah satu kekurangan nya adalah senjata sihir tertentu hanya dapat di gunakan satu atau dua kali saja. Berbeda dengan senjata sihir sementara, senjata sihir sejati harus di ciptakan oleh pemilik sihir itu sendiri, senjata itu akan mengikuti kekuatan yang di miliki pengguna nya, meski senjata sihir ini juga memiliki kelemahan tapi kelebihan nya lebih besar dari kekurangan nya, kekurangan senjata sihir sejati cuma satu yaitu jika alat dan bahan yang di gunakan untuk membuat senjata sihir tidak cocok dan tidak seimbang dengan keistimewaan yang di miliki nya senjata sihir ini tidak akan terbentuk.
" Sebagai murid-murid academy Blue Ocean dan orang-orang yang terpilih kita harus bisa membuat senjata sihir kita sendiri, senjata sihir yang akan kalian buat harus kalian rancang sendiri bagaimana bentuk dan fungsi nya, kalian juga harus tahu kelemahan dari senjata sihir kalian, dalam membuat senjata sihir kalian tidak bisa sembarangan memilih alat dan bahan, alat dan bahan yang akan kalian gunakan harus tidak bertentangan dengan keistimewaan yang kalian miliki, atau senjata sihir itu akan menjadi tidak berguna!" Ujar nya
" Saya akan menunjukkan nya pada kalian.."
Guru itu menutup mata nya sebuah sinar muncul dari tubuh nya, tidak lama sebuah tongkat kayu berukuran 70 cm keluar dari tubuh nya, ia pun mengambil tongkat itu dan mengayunkan layak nya sebuah permainan.
...{gambar cuma pemanis}...
Di ujung tongkat itu terdapat sebuah batu kristal kecil, guru itu mulai merapal beberapa mantra dan mengayunkan tongkat nya ke depan dalam sekejap angin muncul menerpa wajah mereka sampai membuat jendela ruangan tersebut terbuka karena angin yang keluar dari tongkat itu.
" Wah tongkat itu hebat juga!" Seru Heera bertepuk tangan memuji kehebatan senjata sihir itu, ia bahkan melupakan tentang hukuman nya.
Guru itu merasa bangga saat ada yang memuji nya, namun ia segera menormalkan kembali ekspresi nya itu.
" Ekhem, percuma saja kau memuji, saya tidak akan menarik kembali hukuman mu itu!" Ucap nya mendelik pada Heera, yang seketika membuat ekspresi wajah Heera yang terlihat kagum berubah seketika.
" Percuma saja aku pura-pura memuji nya" gumam Heera dengan kesal, ia kira setelah ia berpura-pura sangat antusias dan mengagumi kehebatan guru itu, dia akan membebaskan hukuman, tapi siapa sangka usaha nya ini tidak membuahkan hasil, bahkan membuat nya menyesal telah melakukan itu.
__ADS_1
" Apa kamu bilang!" Guru itu memelototi Heera.
" Hehehe, memang nya saya bilang apa pak."
" Terserah, kembali ke posisi mu tadi!"
" Yayaya.."
" Yang kalian lihat saat ini adalah senjata sihir tingkat menengah... Senjata sihir juga memiliki beberapa tingkatan, senjata sihir sejati tingkatan nya tidak dapat di tebak itu semua sesuai keberuntungan yang kalian memiliki.."
Senjata sihir terdapat empat tingkat, yaitu tingkat rendah, tingkat menengah, tingkat tinggi, dan satu lagi berada di tingkat langka. Senjata sihir tingkat langka sangat sulit di dapatkan, perbandingan nya bahkan 1:1000.
" Karena itu kalian harus menentukan bahan-bahan untuk senjata sihir kalian dengan baik, bahan juga bisa menjadi faktor utama dalam menentukan tingkat senjata sihir. Apakah ada yang ingin di tanyakan!"
Seseorang mengangkat tangan nya sebelum berkata " pak, bagaimana kita mengumpulkan bahan-bahan nya? Dan menentukan bahan itu cocok atau tidak dengan senjata sihir yang ingin kita buat!"
" Dan untuk menentukan apakah bahan yang kalian dapatkan itu cocok di gabung dengan bahan lain dan bisa membentuk senjata sihir yang kalian inginkan atau tidak, kalian bisa menanyakan hal ini pada para penempa senjata sihir, atau kalian juga bisa membaca nya di buku, banyak buku di perpustakaan academy yang membahas tentang ini..." Lanjut nya, semua orang menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti.
***
Aksa dan Arion sedang berjalan bersama sambil berbincang, namun tidak lama ada seorang pemuda yang menghampiri keduanya.
" Aksa, kau di panggil pak Efendi ke ruangan nya" ucap pemuda itu
" Oke" balas Aksa singkat ekspresi nya bahkan tidak berubah.
__ADS_1
" Thanks info nya bro!" Seru Arion, jika mengharapkan Aksa untuk berterimakasih itu tidak akan terjadi.
" Tidak masalah."
" Urusan mu seperti nya lebih banyak dari seorang kaisar sekalipun!" Cibir Arion dengan nada mengejek.
" Ini bukan zaman kuno dimana kaisar yang memerintah, orang biasa bahkan lebih hebat dari seorang kaisar" cibir Aksa
" Ya, baiklah tuan Aksa yang serba benar. Kau bisa pergi, pak Efendi pasti sudah menunggu mu, aku akan mencari Alvan dan yang lain nya, kau sibuk saja sendiri!" Seru Arion acuh tak acuh
" Hmm.." Aksa tidak menanggapi candaan Arion dan segera pergi untuk memenuhi panggilan wakil kepala academy, sedangkan Arion juga berjalan ke arah berlawanan dari nya.
Aksa berjalan dengan tenang saat baru saja tangan nya ingin meraih pintu masuk ruangan wakil kepala academy, ia mendengar suara beberapa orang yang sedang berbincang, ia tahu salah satu dari orang itu adalah suara dari saudara tiri nya, Harraz.
Tapi untuk apa pria itu juga berada di dalam!
Aksa mendorong pintu itu tanpa mengetuk nya terlebih dahulu, membuat orang-orang yang berada di dalam menjadi terkejut.
" Pak Efendi! Ada apa anda memanggil ku?" Tanya Aksa pada orang bersangkutan tanpa memandang yang lain nya.
Pak Efendi sama sekali tidak terkejut dengan sikap Aksa yang terkesan tidak sopan pada nya, semua orang yang ada di academy sudah terbiasa dengan sikap acuh dan dingin Aksa. Dulu sudah banyak guru yang mencoba menasihati sikap kurang sopan Aksa tapi pemuda itu tidak menanggapi satupun nasehat para guru, bahkan semua nasehat itu seakan masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan.
" Aksa!" Panggil pak Efendi yang hanya di tanggapi anggukan oleh nya.
" Untuk apa sampah ini datang juga" batin Harraz yang menatap Aksa dengan penuh permusuhan.
__ADS_1
" Mengapa kau di sini?" Tanpa sadar pertanyaan itupun keluar dari mulut Harraz, nada nya terdengar tidak enak.
Namun bukan nya menjawab Aksa malah mengacuhkan nya seakan di sana tidak ada orang lain selain ia dan pak Efendi, hal itu tentu membuat Harraz malu karena di ruangan itu bukan hanya ada mereka bertiga saja.