
" Ssttss..." Monster itu mendesis kesakitan , mata mereka telah menjadi buta akibat serangan Aksa dan sekarang kepala utama telah terkena tembakan tepat di kepala nya meski tidak mati tetap saja kekuatan nya melemah.
Pemuda yang di tangkap oleh ular raksasa itu terjatuh dan pingsan, Randi segera membawa pemuda itu ketempat yang aman.
Dari tangan Aksa tiba-tiba saja muncul sebuah busur dan panah yang transparan seperti bukan sebuah benda yang dapat di lihat oleh mata telanjang malah seperti angin yang bisa di genggam, senjata itu memang di ciptakan dari salah satu elemen nya yaitu angin.
Aksa dapat mengendalikan empat elemen yaitu elemen api, angin, petir dan bayangan. Selain itu dia juga memiliki elemen pendukung yaitu Teleportasi, Telekinetic, Psikokinesis, dan Clone.
Bukan hanya elemen utama dan elemen pendukung tapi Aksa juga memiliki hal lain nya dia memiliki kemampuan istimewa yang bahkan lebih sulit di dapatkan dari pada elemen pendukung dan elemen utama. Kadang kala kemampuan istimewa seribu kali lipat lebih sulit di kenali dibanding kemampuan biasa. Kemampuan istimewa yang di miliki oleh Aksa yaitu Aura Raja, dimana saat orang-orang berhadapan dengan nya akan merasa takut dan segan bahkan tak berdaya hanya dengan tatapan nya saja.
Wsosh
Panah telah di lepaskan tapi busur di tangan nya telah menghilang.
Bruk
Panah transparan itu tepat mengenai jantung monster ular dan membuat ular itu ambruk dan mati seketika, namun panah yang di tembakan langsung menghilang setelah melukai jantung monster ular.
Meski memiliki lima kepala tapi monster ular itu hanya memiliki satu tubuh dan satu jantung, saat jantung terluka maka memiliki lima kepala pun akan percuma.
Aksa tidak menanggapi keterkejutan orang-orang di sana, dia mendekati tubuh besar ular itu dan memasukkan nya kedalam saku ruang. Setelah tubuh besar ular itu menghilang semua orang baru tersadar dari lamunan nya.
" Ikan-ikan di danau ini tidak ada yang tersisa satupun, ular itu telah memakan nya dan tidak menyisakan satu pun" gumam Aksa.
" Aksa." Panggil pemuda itu.
" Oh kau! Terima kasih atas bantuan nya."
" Tidak masalah itu hanya bantuan kecil, tanpa bantuan ku juga, aku yakin kau bisa mengalahkan monster ular itu" jawab nya dengan tulus
" Ini untuk mu karena telah membantu Aksa." Bukan Aksa yang mengatakan nya melainkan Arsya yang mendekati keduanya dan memberikan sebuah botol yang berisi ramuan.
" Ramuan penambah energi, ini... Ramuan tingkat tinggi aku tidak berani mengambil nya" seru nya terkejut saat menyadari ternyata ramuan itu bukan ramuan biasa, sebenarnya ramuan itu yang sedang dia butuhkan saat ini untuk mengatasi kemacetan yang di alami nya tapi dia tahu harga satu ramuan tingkat rendah saja sangat mahal apa lagi ini berada di tingkat tinggi.
" Tenang saja aku masih memiliki nya, dan ramuan ini untuk sekarang tidak berguna untuk ku, jadi untuk mu saja. Bukankah kau sudah membantu Aksa."
__ADS_1
" Terima saja, dia tidak akan berhenti jika kau menolak nya" ucap Aksa dengan acuh
" Oke, aku terima ramuan ini. Terima kasih banyak, kalian berdua sungguh pasangan yang serasi" ucap nya dengan tulus.
" Nak, kau berhasil mengalahkan monster itu. Akhir nya desa ku ini terbebas dari kekejaman monster tersebut. Terima kasih atas bantuan mu ini" kepala desa yang baru saja mendekat langsung mengucapkan terima kasih, sikap nya juga lebih ramah dari sebelumnya.
Berbeda dengan kepala desa, berbeda lagi dengan pemuda-pemuda desa yang sangat malu dengan Aksa.
Aksa sama sekali tidak peduli dengan perkataan kepala desa, dia menutup mata Arsya dengan telapak tangan nya dan membawa nya pergi dari tempat itu.
Sedari tadi tidak ada yang menyadari akan keanehan pada Arsya, bahkan Randi sendiri terlalu fokus pada ramuan yang Arsya berikan hingga tidak memperhatikan perubahan pada mata Arsya.
" Aksa awas saja akan ku pastikan kau hancur, lihat saja nanti. Aku tidak akan membiarkan mu menang!" Batin Harraz sambil menahan amarah nya.
****
Malam ini warga desa Reine sedang membuat pesta yang cukup megah untuk merayakan keberhasilan mereka dalam membasmi monster yang sudah menjadi teror bagi warga desa Reine.
Pesta yang mereka buat tidak seperti pesta para bangsawan yang menyiapkan minuman keras atau perjamuan yang mewah.
Benar-benar mendeskriminasi seorang wanita.
" Ayo semua nya kita makan sepuasnya!"
" Benar-benar, monster menjijikkan itu sekarang tidak ada lagi."
" Hahaha sekarang kita bebas dari monster jelek itu."
Saat para warga dan Harraz serta kelompok nya sedang bercengkrama dengan para warga desa, Aksa yang menjadi pemeran utama dalam pesta itu malah menghilang entah kemana.
Di tengah hutan tempat monster ular yang di kalahkan dua hari lalu oleh Aksa terdapat dua orang yang sedang duduk di tepi danau sambil membakar ikan.
" Kak Ray..."
" Ya."
__ADS_1
" Kau yakin bisa memanggang ikan itu!" Seru Arsya tidak yakin ikan yang sedang Aksa bakar akan enak rasa nya.
" kamu jangan ragukan aku Kay. Hanya membakar ikan saja mudah untuk ku, aku sudah terbiasa melakukan ini sejak kecil, tenang saja."
" Ya, terserah. Asal ikan bakar nya enak saja, aku tidak suka makanan yang tidak enak" ucap Arsya acuh tapi juga tersenyum tipis.
" Tidak terasa kita sudah seminggu di desa ini."
" Ya, kamu benar.. juga pernikahan kita" ucap Aksa pelan di akhir kalimat nya tapi Arsya masih dapat mendengar nya.
" Kau benar, pernikahan yang begitu cepat seperti kilat, sampai aku melupakan status ku sekarang telah berubah" Arsya berdiri dan berjalan pergi begitu saja setelah mengatakan itu.
" Kay! kamu mau kemana?."
" Apa dia marah tentang pernikahan. Ini memang salah ku karena terlalu terburu-buru! seharusnya aku tadi tidak membahas nya." Batin Aksa yang segera mengejar Arsya dengan masih memegang dua ekor ikan bakar di kedua tangan nya.
" Maaf." Ucap Aksa tiba-tiba setelah berhasil menyusul langkah Arsya.
Jika Arion dan teman-teman nya yang lain mendengar permintaan maaf yang keluar dari mulut seorang Aksa mungkin mereka akan sangat terkejut. Selama ini mendapatkan permintaan maaf dan terima kasih dari seorang Aksa sangat luar biasa susah tapi Arsya dapat melakukan nya dengan mudah, bahkan ini sudah sekian kali nya Aksa mengucapkan kata maaf.
" Aku tahu seharusnya aku tidak memutuskan hubungan antara kita berdua oleh diri ku sendiri, dan..." Sebelum Aksa melanjutkan perkataan nya Arsya sudah lebih dulu membungkam mulut nya dengan jari telunjuk nya.
" Aku tidak mempermasalahkan pernikahan kita berdua yang lebih cepat dari peluncuran roket, aku hanya belum terbiasa dan tidak tahu apa yang akan ku katakan nanti pada keluarga ku. Putri mereka pergi untuk menjalankan tugas tapi pulang membawa seorang suami, bukankah ini terdengar seperti sebuah lelucon.... Namun percayalah aku sangat menghargai sebuah hubungan, apa lagi sebuah pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidup ku, jika kau tidak mengkhianati ku aku tidak akan pergi dari sisi mu" ucap Arsya tersenyum tulus pada Aksa yang diam mematung mendengar perkataan gadis nya yang terdengar sangat manis dan indah di telinga nya.
" Tidak perlu khawatir, aku akan meyakinkan mereka bahwa suami yang di bawa putri nya tidak akan mengecewakan, dia akan menjadi pria satu-satu nya yang pantas untuk putri nya." Ucap Aksa dengan tegas dan tulus.
" Maka buktikan lah, jangan hanya membual" ucap Arsya tersenyum manis tapi juga sedikit nakal. Begitu sangat berbeda dengan sikap nya yang selalu acuh dan malas.
" Kay, makanlah kamu belum makan apapun sedari pagi." Ucap Aksa memberikan kedua ikan bakar di tangan nya pada Arsya.
" Terima kasih. Kau pun makanlah kak.."
" Oke"
Keduanya makan sambil duduk dan menikmati pemandangan langit malam bertabur bintang.
__ADS_1