
****
" Ara, kau yakin baik-baik saja. Bagaimana kalo kita kembali aja." Ujar Heera yang akan bangun dari duduk nya.
" Duduk" ucap Arsya dengan tegas.
" Hubungan mu dengan Alvan seperti nya sangat baik ya."
" Hah, hubungan ku dengan Alvan? Jangan bercanda aku tidak memiliki hubungan apapun dengan bocah mesum itu." Ucap nya sambil memutar bola mata nya dengan malas.
Arsya seakan tidak mendengar nya, ia terus membahas tentang Alvan membuat Heera di buat bingung oleh tingkah nya itu.
" Seorang Clara ... Yang selalu bersikap sombong terhadap orang yang menganggu nya tapi malah membantu keluarga Evans."
" Kau begitu tertarik dengan kasus penculikan itu sampai kau tidak ingin aku mengetahui nya ya!"
" Hah..."
Ia sudah menduga Arsya akan mengetahui nya tapi mengapa bisa secepat ini, seharusnya masih akan membutuhkan waktu beberapa Minggu sebelum Arsya mengetahui apa yang di lakukan nya selama ini.
" Itu... Aku tidak berniat membantu keluarga Evans." Ucap nya dengan jujur.
" Apakah penculikan itu ada hubungan nya dengan amnesia ku?" Tanya Arsya tanpa menatap Heera.
Deg
Apa yang dia takutkan terjadi juga, sebenarnya saat mendengar penculikan itu ia tidak terlalu mempedulikan nya, sampai suatu hari anak bawahan nya menemukan fakta para penculik itu ada hubungan dengan orang-orang yang dulu pernah menculik ia dan Arsya.
Saat mengetahui fakta ini ia pun menghabiskan siang dan malam selama seminggu untuk menyelidiki nya secara pribadi, awal nya ia berpikir semua itu masih hanya sebuah kebetulan saja.
Bukankah para penculik itu telah di tangani oleh keluarga Lawrence dan keluarga Nixon Waktu itu.
Nyata nya dugaan ia salah besar, para penculik itu hanyalah salah satu bawahan dari dalang utama nya.
Arsya tersenyum tipis, " dugaan ku ternyata benar, Heera kau tidak pandai menyembunyikan sesuatu dari ku!"
__ADS_1
" Aku sudah merasa aneh dengan kejadian yang terjadi saat masih kecil, Heera kau lebih mengenal ku dibanding orang lain. Apakah menurut mu aku akan diam saja dan membiarkan diri ku tidak tahu apapun setelah penculikan kita saat masih kecil. Aku memang melupakan tentang apa yang terjadi sampai membuat ku trauma dan melupakan semua yang terjadi saat itu. Namun aku masih menyelidiki nya sampai sekarang, hanya saja ayah terlalu rapih menyimpan kasus itu sampai membuat ku kesulitan untuk menyelidiki nya."
" La-lalu apa saja yang kau ketahui tentang kasus penculikan itu?" Tanya Heera menatap Arsya dengan hati-hati.
" Ya dan juga tidak."
Arsya mengeluarkan handphone nya, ia mengetik sesuatu di sana lalu memberikan nya pada Heera " lihatlah ini, ini adalah semua hal yang ku kumpulkan tentang penculikan itu."
" I-ini!" Heera sangat syok melihat apa yang di lihat nya di layar handphone Arsya.
" Selama ini aku selalu mencoba untuk mengingat semua yang terjadi saat itu, bahkan saat dulu kau bercerita tentang penculikan mu di hadapan teman-teman lain. Tapi bukan nya mengingat semua itu malah membuat kepala ku rasa nya mau pecah, bahkan kemampuan istimewa ku tidak dapat membantu ku mengurangi rasa sakit nya. Aku juga penasaran tentang berasal dari mana cincin ini.." Arsya menyentuh leher nya dimana di sana ada sebuah kalung yang liontin nya sebuah cincin.
Heera menatap cincin yang telah Arsya buat menjadi kalung " itu.. aku pun tidak tahu, saat itu aku sangat ketakutan jadi tidak terlalu mengingat semua nya, namun yang ku tahu om dan Tante pernah mengatakan cincin itu selalu kau genggam saat kau masih koma dan sulit untuk melepaskan nya dari tangan mu, dan sekarang kau menjadikan nya sebuah kalung, ku pikir cincin itu sudah kau buang."
Apa yang Heera katakan memang benar, saat itu dia adalah anak yang penakut saat melihat darah saja dia sudah menangis histeris sehingga selain hal penting tentang kejadian penculikan itu ia telah melupakan tentang seorang anak laki-laki yang dulu bersama mereka, Karena anak laki-laki itu tidak dekat dengan nya, tentu saja membuat ia melupakan nya begitu saja.
" Aku hanya merasa nyaman setelah menggenggam cincin ini di saat bayangan masa lalu ku membuat kepala ku sangat sakit." Gumam nya dengan lirih.
" Tapi Ara, kau mendapatkan informasi ini dari mana?" Tanya Heera dengan tidak percaya. Bahkan selama satu Minggu menyelidiki ia tidak mendapatkan informasi selengkap yang Arsya memiliki.
" Sudah dari aku SMP" jawab nya acuh
" Hah... Kalo tahu begini aku gak perlu repot menyembunyikan nya dari mu. Lalu apa kau tahu markas utama penculik ini?"
" Tidak."
" Informasi yang kudapatkan hanya mereka menculik anak-anak untuk di cuci otak nya dan menjadikan mereka mesin membunuh yang tidak akan memiliki belas kasih sedikit pun. Dan ini telah terjadi selama bertahun-tahun"
Ya, memang benar informasi yang Heera lihat dari handphone Arsya adalah sebuah bukti percobaan manusia, dimana mereka ingin membuat pasukan besar yang akan mereka jadikan mesin membunuh tanpa mengenal belas kasih, karena itu mereka memilih menculik anak-anak kecil, itu akan memudahkan mereka untuk mencuci otak anak-anak yang masih polos.
Bukan hanya itu target mereka, awal nya hanyalah anak-anak dari keluarga kalangan bawah yang tidak akan di anggap penting jika pun dilaporkan. Tapi lama-kelamaan target mereka berubah pada anak-anak yang memiliki kemampuan khusus, lalu seharusnya mereka juga menargetkan para anak bangsawan hanya saja mereka belum membuat pergerakan pada sepuluh keluarga bangsawan utama.
Jika Arsya tidak salah menebak target utama mereka sebenarnya adalah putra-putri keluarga bangsawan utama, namun mereka masih bersikap hati-hati dan takut untuk ketahuan.
" Ku rasa karena keluarga Lawrence mengacaukan rencana besar mereka terakhir kali membuat mereka merasa waspada dan takut rencana mereka akan tercium oleh pemerintah seluruh dunia, karena itu mereka tidak hanya menjalankan tugas mereka dengan hati-hati. Tapi apa yang membuat mereka kembali bertindak secara terbuka?" Itulah pertanyaan yang ada di benak Heera sekarang.
__ADS_1
" Itulah yang harus kita cari tahu, jika melihat tindakan mereka selama bertahun-tahun, hanya ada satu alasan yang masuk akal."
Setelah lama mencari informasi ia hanya dapat menemukan sampai sebatas itu, dan dia yakin ada seseorang di balik layar yang menjadi dalam utama nya.
Sebenarnya dia memiliki tebakan, namun ia harus mencari informasi lebih lanjut agar tidak ada kesalahan.
Namun entah organisasi Black Angels yang merupakan dalang semua ini atau bukan, ia pasti akan tetap mengawasi organisasi dengan ketat.
" Ara, jangan bilang maksudmu itu..." Heera telah menebak sesuatu tapi dia masih sulit mempercayai pikiran nya itu, meski apa yang dia pikirkan kemungkinan nya sangat besar.
" Ya, orang dalam telah membantu mereka, dan yang bisa melakukan ini hanya komite dari pemerintah."
" Karena itu aku ingin kau masuk ke kediaman Evans dan mencari bukti siapa dalang di balik layar."
" Kau gila Ra, aku si ogah pergi ke sana, apa lagi jika harus bertemu dengan nyonya tua Evans, yang ada darah ku ini selalu mendidih karena marah saat melihat wajah keriput nya itu" celetuk Heera dengan ekspresi yang seakan merasa geli dan takut saat membayangkan harus pergi ke kediaman Evans, ia yakin orang tua itu akan terus menghina nya.
" Jika kau gak bisa ngelakuin ini demi Alvan, apa kau bisa ngelakuin ini semua demi ku" ucap Arsya sambil menatap Heera dengan pandangan polos, yang membuat Heera sangat sulit untuk menolaknya.
" Ck, oke. Aku juga memiliki hutang pada nya, tapi mungkin kau harus menyelesaikan kekacauan yang nanti akan ku buat di sana."
" Ya, baiklah."
" Masalah ini sudah jelas, sekarang katakan apa yang terjadi di hotel saat itu" ujar Arsya mengambil handphone nya kembali dan ekspresi nya kembali serius.
" I-itu.."
" Clara Qiana Heera Nixon..."
Jika Arsya sudah memanggil nya dengan nama lengkap itu artinya gadis itu sedang sangat marah, dan jika ia tidak mengatakan nya dengan jujur bisa menjadi masalah.
" Sebenarnya..."
.
.
__ADS_1
Catatan :
Heera dan Clara itu satu orang yah, orang-orang lebih mengenal nya Clara, tapi karena hubungan Arsya dan Clara sangat dekat jadi mereka mempunyai panggilan khusus sendiri, seperti Clara yang memanggil Arsya dengan 'Ara' begitu juga dengan Arsya yang memanggil dia dengan 'Heera'. jadi ini hanya penggilan khusus antara Clara dan Arsya.