
Brak
Seseorang masuk keruangan tanpa mengetuk pintu dahulu, membuat wakil kepala academy memarahi orang itu.
" Apa kau tidak bisa mengetuk pint-u...." Wakil kepala academy langsung terdiam saat tahu siapa orang yang datang.
" Ada apa pak! Apakah sekarang saya juga harus mengetuk pintu untuk masuk?" Ucap orang itu.
" Kepala academy..." Wakil kepala academy langsung berdiri dari duduk nya dan menyapa orang itu yang ternyata adalah kepala academy.
"Ada apa ini?"
" pak Rezvan jadi begini..." Wakil kepala academy menjelaskan semua kejadian dengan jelas juga menunjukkan foto yang tadi di berikan oleh teman havika pada nya tadi.
" Kalian semua keluar, kecuali pak Efendi dan kedua murid ini" seru kepala sekolah sambil melirik Arsya dan Heera.
" Pak biarkan kami di sini! " Seru Valencia, dia takut kedua teman nya itu sampai di keluarkan.
" Keluar" ucap pak Rezvan dingin
Valencia ingin kembali membantah namun Arsya meyakinkan nya bahwa semua nya akan baik-baik saja.
Semua orang pun keluar kecuali pak Rezvan, Arsya, Heera, dan pak Efendi.
Pak Rezvan duduk di salah satu kursi yang ada di sana, dan menatap ketiga nya dengan tajam.
" Apakah semua berita itu benar?" Meski dia bertanya namun nada bicara nya terdengar tidak peduli, dan begitu santai seakan itu bukan masalah besar bagi nya.
" Seperti nya anda yang tahu lebih jelas apakah kami akan melakukan hal rendahan yang mereka katakan atau tidak!" Ucap Arsya terdengar sangat malas.
" Lalu apa yang akan kalian lakukan dengan berita itu!!" Seru pak Rezvan menunggu jawaban apa yang akan kedua nya berikan.
" Kami berdua tidak suka saat kehidupan privasi kami di ekspos, namun berita itu sama sekali tidak mendasar dan itu bukanlah kami, kenapa kami harus peduli! Jadi biarkan saja. percuma juga menghapus satu berita dan akan muncul berita yang lain nya... Kecuali jika anda menginginkan sistem academy ini bermasalah kami tidak akan ragu lagi!!" Ucap Heera acuh dan tersenyum tipis sambil menaikkan sebelah alis nya.
__ADS_1
" Apa kalian sedang mengancam kepala academy!!" Seru Pak Efendi kesal, meski ia masih bingung dengan perbincangan ketiga nya yang terkesan masih santai.
Sedangkan pak Rezvan yang mendengar nya, dia tidak menganggap itu sebuah ancaman, karena mereka mungkin saja bisa melakukan nya.
" Pak apa kami mengancam anda?" Tanya Arsya dengan wajah datar nya, tapi nada suara nya terdengar santai
" Tentu saja, saya tidak sampai berpikir seperti itu..." Ucap kepala academy tersenyum ramah, membuat pak Efendi semakin bingung.
Bukankah seharusnya kepala academy marah!
" Jadi apa yang bisa saya bantu, setelah kalian membuat keonaran di tempat ku ini!" Ucap kepala academy santai.
" Sangat mudah, keluarkan kedua gadis yang melaporkan kami" ucap Arsya santai yang di angguki oleh Heera.
" Kenapa hanya kedua gadis itu saja, keluarkan juga ayah nya!" Protes Heera kesal
" Jika kau sangat ingin mencari guru baru, maka lakukanlah!" Ucap Arsya acuh
" Apa maksud ucapan kalian, apa menurut kalian kami akan melakukan apa yang kalian inginkan, mimpi saja kalian!!" Ucap pak Efendi semakin marah.
" Pak Efendi tenanglah!" Tegur pak Rezvan dengan sikap tenang.
" Tentu saja apa yang kalian inginkan sangat mudah saya lakukan, namun jika saya mengeluarkan mereka tanpa alasan reputasi academy ini akan di pertanyakan..." Ucap nya tersenyum santai, ia ingin tahu apa yang akan kedua gadis itu lakukan agar dia melakukan apa permintaan nya.
Arsya sama sekali tidak menjawab ucapan kepala academy ia malah terlihat asik memainkan handphone nya, setelah ia selesai melakukan apa yang ia inginkan dengan handphone nya itu, ia kembali menatap kepala academy.
" Apakah semua file itu cukup untuk mengeluarkan mereka berdua" ucap Arsya membuat semua bingung dengan perkataan nya.
" Lihatlah handphone anda, semua nya telah ku kirim pada anda" ucap Arsya acuh
Kepala academy segera melihat handphone nya, ternyata benar ada sebuah pesan dari nomor tidak di kenal di sana. Ia pun membuka pesan tersebut, ia sangat terkejut saat melihat isi dari pesan tersebut.
Di sana ada beberapa foto havika dan teman nya yang sedang tidur bersama pria yang seumuran dengan nya. Ada juga beberapa video, dan bukti bahwa mereka berdua menggunakan obat terlarang.
__ADS_1
Namun bukan semua bukti itu yang membuat nya terkejut tapi kemampuan yang di miliki oleh gadis di depan nya, handphone yang di gunakan oleh nya memiliki fitur keamanan tingkat tinggi sehingga akan sangat sulit menerobos keamanan nya, namun gadis itu begitu mudah melakukan nya, dan ia juga yakin semua bukti yang gadis itu berikan hanya di cari kurang dari satu hari.
Ia sudah tahu masalah yang terjadi di antara mereka baru saja terjadi tidak lama, sehingga ia dapat menyimpulkan semua nya dengan akurat.
" Hahaha... Nona anda memang hebat, kalian berdua mengingat kan ku pada ayah-ayah kalian. Baiklah sisa nya akan menjadi urusan saya, kalian bisa pergi dan tidak perlu mengurusi masalah ini lagi..."
" Baik terima kasih" ucap Heera tersenyum senang.
Jika ada Arsya disini, semua nya memang akan selesai dengan cepat.
Arsya selalu bertindak dengan cepat, keakuratan, serta pemikiran nya yang selalu berada di depan di bandingkan lawan nya, selalu membuat nya kagum.
" Oh ya, Clara tuan Nixon baru saja menelpon saya dan ingin mengetahui apakah kabar tentang tuan muda Evans dan kamu bersama itu benar atau tidak!" Ujar pak Rezvan memberi tahu dengan tenang dan santai.
" Ayah ku menghubungi anda!" Seru Heera terkejut.
" Ayah?" Batin pak Efendi lebih terkejut lagi mengetahui fakta tersebut.
Pantas saja sedari tadi mereka berdua tampak tenang ternyata salah satu gadis itu dari keluarga bangsawan, pikir pak Efendi.
" Apa yang anda katakan pada nya?"
" Saya mengatakan pada nya untuk bertanya langsung pada mu, mungkin dia akan mencari mu nanti!"
" Huh pria tua itu pasti akan bersikap kekanak-kanakan dan bertanya banyak hal pada ku" ucap Heera dengan lesu.
" tapi bagaimana bisa ayah mengetahui nya, apakah bapa melaporkan masalah ini pada nya?" tanya Heera memicingkan mata nya menatap pak Rezvan dengan curiga.
" jangan melihat saya seperti itu, orang tua kalian memang selalu mengetahui kabar terbaru yang ada di academy ini, bagaimana pun juga mereka pernah belajar disini." jawab nya santai dan tenang.
" Masih ada satu hal yang perlu bantuan anda pak!" Ucap Arsya tanpa mempedulikan ocehan Heera.
" Katakan saja..."
__ADS_1