Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
106. Tragedi III


__ADS_3

" Satu pertanyaan lagi, katakan kau yang telah menjebak ku di malam itu, siapa orang yang meminta mu melakukan itu?"


" Benar, ada seseorang yang meminta ku untuk membuat mu keluar, setelah kau keluar dari kamar mu mereka baru bisa melancarkan aksi nya, dan mereka juga meminta ku untuk memanggil para warga. Orang itu adalah..."


" Ada apa ini! Mengapa kalian berkumpul di tempat ini?"


" Ah... Kaka kau juga di sini, aku sudah mencari mu kemana-mana, ternyata kau di sini, kepala desa apa Aksa telah membuat masalah lagi untuk mu. Sebagai saudara nya aku minta maaf."


" Saudara? Sejak kapan tuan muda Harraz menganggap suami ku sebagai saudara mu."


" Ka Ray! Apa kau memiliki saudara seperti tuan muda Harraz yang terhormat ini?"


Setiap perkataan Arsya terlihat begitu alami dan elegan, sebelum dia membalikkan badan nya dan menatap Harraz, dia telah memakai kacamata nya terlebih dahulu, warna mata nya pun telah kembali menjadi warna biru.


" Sialan gadis jelek ini!" Batin nya masih mencoba mempertahankan senyum lembut nya.


Arsya yang mendengar apa yang di pikirkan nya hanya tersenyum tipis.


" Awas saja kalian berdua."


" Kalian berdua ini! Aku tahu kalian marah karena kalian pikir aku tidak mengakui Aksa, tapi Aksa... Bagaimana pun kau adalah saudara ku, meski ibu mu sempat membuat ibu dan ayah ku tidak harmonis tapi aku tetap menganggap mu sebagai saudara ku." Ucap Harraz ekspresi nya terlihat begitu sedih, membuat orang-orang yang melihat nya merasa kasihan dan menyalahkan Aksa.


Sekarang semua orang menatap Aksa dengan pandangan yang berbeda, seakan mata mereka sedang mencemooh nya. Tentu nya Harraz merasakan perubahan di sekitar nya, ia pun sangat senang saat rencana nya berhasil.


Tapi apakah Arsya akan membiarkan nya begitu saja, tentu saja tidak.


" Harraz, seperti nya kau yang lebih tahu siapa yang telah merusak keharmonisan keluarga siapa." Balas Aksa acuh tanpa ekspresi.


Perkataan Aksa berhasil mengubah sedikit ekspresi Harraz, untung nya dia berhasil menenangkan diri dan mengubah ekspresi nya menjadi lemah lembut kembali


" Kepala desa, jika boleh aku tahu sebenarnya ada apa ini? Mengapa kalian berkumpul di sini. Tadi aku telah mencari anda keberbagai tempat tapi tidak juga menemukan mu." Ujar Harraz dengan wajah polos nya.


Sebenarnya saat tadi dia sedang bersantai berduaan dengan Selly kekasih nya ada seseorang yang melaporkan bahwa pemuda suruhan nya telah di tangkap oleh kepala desa karena ketahuan memiliki hubungan terlarang dengan seorang gadis, dengan segera dia datang karena sebenarnya dia juga memiliki sedikit andil dalam masalah ini, ia takut pemuda itu sampai membuka mulut nya. Dan benar saja sebelumnya sampai di sana dia telah mendengar pemuda itu membeberkan rencana nya, saat Arsya sedang memberikan pertanyaan tentang kejadian di malam itu ia pun tidak lagi bersembunyi.


" Tuan muda Harraz sungguh pandai mencari topik pembicaraan" seru Arsya dengan santai, dia pun berjalan menuju Kirana dan membenarkan jaket yang ada di tubuh nya dan membantu nya berdiri.


" Kepala desa anda telah mendengar sendiri apa yang pemuda itu bicarakan, sekarang sebagai seorang kepala desa yang adil tentu harus memberikan keadilan untuk Kirana!" Seru Arsya menatap langsung pada mata kepala desa dengan santai tanpa merasa terintimidasi sedikitpun.


" Kalian semua cepat bawa orang-orang itu, berani sekali mereka membuat kekacauan di desa ku." Seru kepala desa pada bawahan nya dengan murka.


" Baik kepala desa."

__ADS_1


" Tidak kepala desa, ini semua bukan salah kami. Kami hanya membantu nya saja!"


" Lepaskan aku!"


" Tidak, ini semua salah gadis itu, dia yang menggoda kami lebih dulu..."


" Kepala desa..."


" Bawa dia sekarang!" Seru kepala desa lebih marah lagi.


" A-ada apa ini, kepala desa mengapa kau menangkap ku. Gadis itu yang telah menggoda ku lebih dulu, kepala desa kau tidak bisa melakukan ini hanya karena dia cucu mu!" Seru pemuda itu mencoba lepas dari orang yang sedang memegang nya dengan erat.


" Tuan muda Harraz tolong bantu saya! Bukankah anda telah..."


" Aku tidak bisa melakukan apapun, kau telah mengecewakan ku, aku pikir kau adalah pemuda yang baik ternyata kau begitu kurang ajar." Harraz segera memotong perkataan nya dengan cepat agar pemuda itu tidak membocorkan rahasia nya.


Tempat itu menjadi sepi dan sunyi setelah kepergian hampir semua orang, orang-orang yang tersisa juga tidak ada yang berani bersuara akibat melihat kemarahan kepala desa, mungkin hanya suara tangisan Kirana yang memecah keheningan di tempat itu.


" Pria itu seperti nya ingin mengatakan sesuatu pada mu tuan muda Harraz, tapi sayang sekali kau terlihat begitu ketakutan, padahal dia belum mengatakan apa-apa." Ucap Arsya sambil tersenyum menatap Harraz dengan wajah yang terlihat menjengkelkan di mata Harraz.


" Nona Arsya terlalu banyak berpikir, kami memang sempat dekat dan ku pikir dia pemuda yang baik, tapi siapa sangka dia begitu bajingan. Tentu nya aku sangat marah mengetahui ini."


" Bajingan? Tuan muda Harraz ternyata bisa berkata begitu kasar."


" Kau tidak perlu cemas, istri ku bebas melakukan apapun yang dia inginkan." Balas nya acuh tanpa menatap wajah Harraz.


" Kirana, ayo kembali bersama kakek!" Seru kepala desa mendekati Kirana, tapi gadis itu malah bersembunyi di belakang Arsya dengan takut.


" Kepala desa sebaiknya biarkan saya yang membawa Kirana kembali, untuk saat ini sebaiknya anda tidak mendekati nya karena dia masih sangat syok."


" Oke, oke" jawab nya karena tidak memiliki kalimat lain di benak nya sekarang.


" Ayo aku akan membawa mu kembali."


Kirana dengan patuh mengikuti Arsya, gadis itu bahkan tidak berani untuk membuka mulut nya, mungkin dia juga sedang ketakutan karena pukulan yang di lakukan oleh kepala desa, pukulan itu seperti nya sudah membuat nya terluka bukan hanya fisik tapi juga batin nya.


Aksa yang melihat Arsya pergi segera mengikuti nya tanpa peduli saat itu Harraz ingin mengatakan sesuatu pada nya.


Semua orang pun pergi kembali ke desa, tidak ada yang berani berbicara karena bagaimanapun Kirana tetap cucu kepala desa.


" Sialan mereka ini, berani sekali mereka mengacuhkan ku!" Ekspresi tenang, ramah dan lembut yang sedari tadi diperlihatkan oleh Harraz hancur seketika setelah semua orang pergi. Sekarang ekspresi nya terlihat menakutkan dan sangat marah.

__ADS_1


***


Arsya baru saja keluar dari kamar Kirana, setelah berhasil membuat Kirana tenang dan tertidur dia baru bisa keluar. Saat di luar dia melihat Aksa yang sedang berdiri dan seperti nya sedang menunggu nya.


" Kau masih disini?" Tanya Arsya pada nya dengan heran, ia kira pria itu sudah kembali lebih dulu


" Ya, menunggu mu!" Jawab nya


" Bukankah lebih baik Kaka kembali lebih dulu."


" Tidak, ayo kita kembali bersama." Ucap Aksa sambil memakaikan jaket nya pada tubuh Arsya agar gadis itu tidak kedinginan.


" Terima kasih."


" Hmm.."


" Kak!"


" Ya."


" Menurut mu apakah kepala desa akan menghukum para pemuda itu?" Tanya nya dengan asal


" Apa pendapat mu!" Bukan nya menjawab Aksa malah balik bertanya.


" Kak, apa tidak ada yang mengatakan pada mu, kau itu sangat menyebalkan!"


" Ada."


" Siapa?" Tanya nya dengan semangat.


" Bukankah kamu baru saja mengatakan nya." Jawab Aksa santai sambil tersenyum tipis yang di mata Arsya terlihat sangat menjengkelkan.


" Ck, dasar menyebalkan." Arsya berjalan mendahului Aksa.


Melihat Arsya yang berjalan lebih dulu tanpa menunggu nya dia hanya tersenyum kecil dan segera menyusul nya.


" Desa ini sudah lama mempertahankan sistem dimana laki-laki sebagai pemimpin, jadi meskipun para pria itu di hukum atas perbuatan nya mereka hanya akan mendapatkan hukuman kecil saja. Sedangkan gadis itu akan tetap dikucilkan oleh warga yang ada di desa ini." Ujar Aksa yang mengutarakan pendapat nya setelah berhasil menyusul Arsya dan berjalan di samping nya.


" Kau benar, harus para wanita itu sendiri yang menunjukkan keberanian mereka jika mereka tidak lagi ingin diperlakukan tidak adil oleh para pria yang ada di desa ini." Arsya juga setuju dengan pendapat Aksa, lagi pula apa yang dipikirkan kedua nya memang sama.


Pantas saja desa ini begitu kuno dan ketinggalan zaman

__ADS_1


Pemikiran orang-orang ini bahkan sangat kuno!


__ADS_2