Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
73. Klub


__ADS_3

***


" Arsya kau mau kemana, pagi-pagi sekali sudah begitu rapih?" Tanya Valencia, dia baru saja bangun dan ingin memasak sesuatu di dapur tapi ia sudah melihat Arsya di dapur dan sedang berkutat dengan alat-alat masak.


" Ada yang bisa ku bantu?"


" Bantu aku bawa semua makanan nya ke ruang tengah, kita makan bersama-sama!"


" Apa yang lain nya sudah bangun?" Tanya Arsya


" Mungkin belum, mereka terlalu lelah setelah kelas semalam."


" Aku akan pergi keluar, jika lapar kau makan saja duluan tidak perlu menunggu yang lain nya keluar, entah kapan mereka bangun." Ucap Arsya sambil merapikan baju nya dan membereskan peralatan masak yang telah di gunakan.


" Kau tidak makan dulu?"


" Tidak, aku akan makan nanti!" Arsya mengambil tas nya di dalam kamar dan segera pergi, sedangkan Valencia hanya dengan diam melihat semua pergerakan nya itu.


" Anak itu selalu saja terburu-buru."


Tidak lama setelah kepergian Arsya, Heera keluar dari kamar nya dengan wajah yang terlihat masih mengantuk.


" Wahh makanan sudah siap saja, dari bau nya seperti nya ini masakan Arsya" seru Heera tersenyum lebar.


" Jika makanan saja kau cepat sekali Clar.." sahut Valencia menggelengkan kepala nya tidak berdaya dengan kelakuan teman nya ini.


" Tentu saja, makanan itu hal utama hehehe.." seru Heera tanpa malu-malu.


" Oh, dimana Arsya sekarang. Apakah dia masih di dapur?" Tanya Heera celingukan.


" Arsya baru saja keluar" jawab Valencia acuh


" Oh keluar, a-apa keluar? Sepagi ini?"

__ADS_1


" Hmm..."


" Baru saja aku mau membahas tugas dari nya, eh dia nya sudah menghilang saja. Sudahlah nanti saja aku membahas nya" batin Heera.


Arsya berjalan jauh dari pintu gerbang academy dan segera masuk ke dalam taksi yang sudah di pesan nya terlebih dahulu.


" Kita akan kemana nona?" Tanya sopir taksi tersebut.


" Rumah bordil surgawi" jawab nya acuh dan dingin.


Meski terkejut dengan tujuan penumpang nya itu, tapi sopir taksi itu tidak bertanya dan melakukan tugas nya dengan baik.


Satu jam kemudian Arsya pun sampai di sebuah gedung yang mewah dan megah, gedung itu terdiri dari dua lantai saja.


" Terima kasih pak, Kembalian nya untuk anda saja!" Seru Arsya


Sopir itu mengambil uang pemberian gadis itu dengan tatapan yang sedikit aneh. Dia sudah lama menjadi sopir taksi, banyak orang yang menjadi penumpang nya, hanya gadis ini yang begitu aneh karena tujuan nya jelas adalah tempat yang jarang di datangi oleh gadis polos seperti dia.


" Nak paman hanya ingin mengingatkan mu, ini adalah tempat yang berbahaya bagi seorang gadis seperti mu, berhati-hatilah!" Seru sopir taksi itu mengingatkan demi kebaikan gadis di depan nya.


" Aku mengerti paman" sahut Arsya, meski dia lebih tahu apa tujuan nya datang ke tempat ini, tapi ia tahu sopir taksi itu berniat baik pada nya, dia hanya menerima niat baik itu saja.


Setelah mendengar jawaban gadis itu dan tahu gadis itu menerima nasihat nya itu sopir taksi itu pun pergi.


Sebelum memasuki tempat yang begitu megah dan penuh dengan kelap-kelip lampu itu Arsya pergi ke sebuah kamar mandi yang cukup jauh dari tempat itu.


Di kamar mandi Arsya melepaskan kacamata besar nya, melepaskan ikatan rambut nya, dan menghapus makeup serta pewarna hitam yang menutupi warna kulit nya. Setelah menghapus pewarna hitam dari kulit nya itu, kulit nya yang tadi berwarna coklat kehitaman berubah menjadi putih seputih salju, dia juga mengganti gaun nya agar tidak ada yang mengenalinya. Setelah selesai dengan kegiatan nya dia memasukkan semua yang tadi di kenakan nya kedalam saku ruang nya, ia pun keluar dengan penampilan yang sudah berubah dari yang tadi.


Perubahan nya bagaikan batu kerikil yang berubah menjadi mutiara yang sangat indah. Penampilan nya sekarang akan dapat langsung menarik perhatian banyak orang, dengan gaun berwarna biru tua yang terlihat elegan saat di kenakan oleh nya, kulit seputih salju, dengan wajah manis yang sangat cantik, aura gadis bangsawan yang dingin dapat di rasakan oleh setiap orang yang melihat nya.


Saat dia memasuki klub itu kedua penjaga yang memang bertugas menyambut para tamu tak bisa mengalihkan tatapan mereka dari Arsya.


Di dalam klub terlihat banyak orang yang sedang menari-nari di bawah cahaya lampu yang berkelap-kelip, tidak ada batasan antara pria dan wanita mereka berjoget bersama dengan riang, bahkan ada yang secara terang-terangan menunjukkan kemesraan nya, ada juga yang secara terang-terangan sedang bercumbu dan melakukan kegiatan intim lain nya di pojok.

__ADS_1


Di lantai dua merupakan sebuah penginapan, mereka yang ingin menuntaskan hasrat seksual mereka akan memilih menginap di sana, bagaimana pun keamanan privasi bagi pelanggan sangat terjamin di tempat itu.


Arsya duduk dengan elegan dan anggun di meja bar.


Melihat gadis yang cantik dan menarik, membuat dia menjadi pusat perhatian banyak pria dan ada banyak pria yang ingin menghampiri nya, dan banyak juga para wanita yang menatap Arsya iri dan penuh permusuhan karena merebut perhatian para pria dari mereka.


" Nona apa yang anda butuhkan?" Tanya salah satu pelayan.


" Satu mentari di malam hari!" Ucap Arsya pelan dan pelayan itu seketika menghentikan kegiatan nya dan menatap Arsya untuk mengkonfirmasi, setelah yakin dengan apa yang di dengar nya, wajah pelayan itu tersenyum semakin ramah.


" Bisakah anda menunjukkan kartu anda nona?" Tanya nya sopan.


Arsya mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam keperakan, di sisi kanan kartu itu ada sebuah logo setengah mentari dengan sebuah kristal. Melihat kartu itu membuat pelayan itu menatap Arsya semakin sopan, dia mengembalikan kartu pada Arsya dengan sopan.


" Mari ikut saja nona!" Seru nya menunjukkan jalan kesatu arah.


Sebenarnya kalimat yang di ucapkan Arsya bukanlah sebuah kalimat biasa, tetapi kalimat itu seperti sebuah kode rahasia untuk menuju satu tempat. Dimana tempat itulah tujuan Arsya yang sebenarnya.


Saat Arsya mengikuti pelayan itu, seorang pria mendekati nya dan merayu nya.


" Nona cantik kau mau kemana, jangan pergi lebih baik bermain dengan ku saja bagaimana!" Seru pria itu dengan tatapan menggoda, seperti nya dia telah mabuk hingga begitu berani.


Arsya menatap pria itu dengan jijik dapat tercium bau alkohol yang menyengat dari tubuh pria itu.


" Pelayan!" Panggil Arsya dengan suara yang rendah, namun pelayan itu sangat tahu apa yang diinginkan oleh gadis itu, dia pun meminta petugas keamanan untuk menangkap nya, bagaimana pun nona ini adalah tamu khusus tidak akan bisa dibandingkan dengan tamu biasa seperti pemuda itu.


" Maafkan kelalaian pelayanan kami nona, mari kita lanjutkan ke tempat itu" ucap nya tulus dan sopan.


" Hmm.."


Arsya tidak ingin mempermasalahkan pemuda tadi, menurut nya urusan nya sekarang jauh lebih penting dari pemuda mabuk itu.


Melihat pria yang menganggu gadis yang mencuri perhatian banyak pria di tangkap oleh penjaga keamanan club tersebut, membuat mereka memahami gadis itu tidak bisa di dekati, dan secara naluriah tidak ada lagi yang mencoba mendekati Arsya.

__ADS_1


Mereka berdua masuk kedalam lift, di sana hanya ada dua tombol yang satu untuk menuju lantai dua, dan satu lagi entah kemana, tapi yang pasti hanya pegawai saja yang bisa mengetahui tombol itu, karena tombol itu tersembunyi cukup baik.


__ADS_2