
***
Arsya yang berjalan dengan sedikit terburu-buru, namun saat melewati belokan ada seseorang yang menabrak tubuh nya, untung nya dia bisa menjaga keseimbangan hingga membuat nya tidak jatuh. Tapi orang yang telah menabrak nyalah yang terjatuh.
Bruk
" Auch.."
" Maaf, biar ku bantu." Arsya mengulurkan tangan nya untuk membantu orang itu berdiri. Tapi segera di tepis oleh orang itu dengan kasar.
" Arsya, kau!!"
" Ini semua salah mu, karena mu aku terjatuh. Apa kau tidak bisa melihat saat berjalan." Oceh nya ga jelas.
Arsya yang tadi ingin membantu menarik kembali tangan nya, setelah mengetahui sikap orang itu dia mengurungkan niatnya untuk meminta maaf, lagi pula ini semua juga bukan salah nya, tapi salah gadis ini. Dia memilih pergi dibanding harus berurusan dengan orang licik ini.
" Aaahrrg..."
Tapi saat diri nya akan melangkah pergi gadis itu yang tidak lain Zalfa malah berteriak dengan keras membuat orang-orang yang memang berada dekat dengan tempat itu segera datang dan menonton.
" Arsya apa ini sikap mu pada orang yang kau tabrak, bukankah seharusnya kau meminta maaf dan membantu ku berdiri bukan nya malah pergi begitu saja." Ucap Zalfa mulai menangis mengeluarkan air mata palsu untuk terlihat menyedihkan di mata orang lain.
Arsya memutar bola mata nya malas, teratai putih ini ingin menjebak nya dengan cara yang murahan, mana mungkin rencana nya itu berhasil.
" Arsya, ku pikir kau itu gadis yang baik.. meski aku mendengar kau telah menjebak teman baik mu hiks sendiri, tapi ku pikir semua itu hanya sebuah kesalahpahaman kalian saja. Tapi saat bertemu dengan mu sekarang hiks kau bahkan tidak meminta maaf setelah menabrak ku...." Zalfa terlihat sangat menyedihkan dia bahkan menitikkan air mata.
" Maaf, namun aku harus pergi sekarang. Jadi sebaiknya berhenti bersandiwara" seru Arsya dengan acuh
" Arsya bukankah aku sudah bilang pada mu, bukan aku yang sudah mengatakan kalo kamu adalah dalang dari menyebarnya rumor Clara." Ucap nya keras, dia memang sengaja melakukan itu agar semua orang mendengar nya.
Arsya mengerutkan kening nya saat mendengar perkataan Zalfa, apalagi yang sedang di rencanakan gadis ini. Pikir nya.
" Siapa gadis itu, dia bahkan tidak meminta maaf padahal dia yang salah."
__ADS_1
" Apa yang mereka bicarakan?"
" Clara? Aku seakan tak asing dengan namanya."
" Hei.. bukankah dia adalah gadis yang katanya memiliki malam yang indah dengan seorang pengusaha kaya."
" Ternyata gadis ini dalang dari semua nya. Jahat sekali dia melakukan itu pada teman nya sendiri, bukankah dia pantas di kutuk."
Mendengar orang-orang di sekitar nya mengejek Arsya membuat Zalfa bahagia, tapi dia masih mempertahankan sikap rapuh dan menyedihkan nya.
" Kalian hanya bisa menonton tapi mata kalian begitu buta. Sekarang salah satu di antara kalian adakah yang melihat aku mendorong nya, jika tidak jangan berbicara omong kosong."
" Dan untuk mu, memang nya siapa kau, aku bahkan tidak mengenal mu jangan bersikap sok kenal dengan ku. Pertama kau yang menabrak ku, aku juga sudah meminta maaf dan mencoba membantu mu berdiri, tapi kau malah ingin memainkan peran teratai putih yang di tertindas..."
Arsya berjalan mendekati Zalfa, dia menatap datar gadis teratai putih itu. " Jika kau ingin bermain dengan ku jangan sekarang, aku sedang sibuk. Dan jangan sok kenal dengan ku."
Arsya berbalik dan pergi meninggalkan Zalfa yang merasa tertekan dengan aura yang dia keluarkan.
Tentu saja dia mendengar itu semua dari gosip orang-orang.
Arsya hanya mengeluarkan handset dari saku baju nya dan memakai nya, ia tidak peduli dengan ocehan gadis itu. Lagipula dia pun Heera yang akan meladeni omong kosong gadis itu dengan sabar.
Mengingat tentang Heera, dia telah mendapatkan kabar tentang kemana saja gadis itu pergi selama seminggu menghilang dari bawahan nya. Hanya saja dia bingung dengan tempat-tempat yang Heera datangi tersebut.
***
Di arena pertandingan milik academy Blue Ocean, telah banyak orang yang berkumpul memenuhi stadion untuk melihat duel antara Aksa dan Harraz.
Arena ini memang sering di gunakan untuk para murid yang ingin menantang seseorang, academy telah membebaskan pertarungan dengan taruhan asalkan di dalam arena yang telah di sediakan. Jika tidak maka pertarungan itu di larang, apa lagi jika merusak fasilitas academy. Saat kedua orang yang berduel di dalam arena mereka telah siap mempertaruhkan segala nya entah itu harta atau nyawa sekalipun, semua nya di anggap sah jika di sini.
Harraz dan Aksa telah berdiri di atas arena, Harraz dengan tombaknya dan Aksa tidak memilih satupun senjata yang telah di sediakan dia lebuh memilih bertarung dengan tangan kosong.
" Aksa aku akan membawa mu, tapi bukan menemui ayah melainkan menemui kematian mu" batin Harraz menyeringai.
__ADS_1
" Apa kau yakin tidak akan menggunakan senjata untuk melawan nya?" Tanya pengawas sekali lagi untuk memastikan.
" Hmm" jawab nya acuh
" Oke, terserah mu saja."
" Kalian berdua bersiap. Satu, dua, t-tiga... Mulai" Pengawas itu pergi ke luar arena setelah pertarungan terjadi.
Harraz mengayunkan tombak nya terus kearah Aksa dengan agresif dan brutal, sedangkan Aksa hanya menghindar saja tidak membalas menyerang Harraz.
Meski pertarungan di arena di perbolehkan tapi ada aturan tertentu juga, siapapun yang akan bertarung di larang menggunakan kemampuan istimewa atau sihir yang di miliki nya, mereka hanya bisa menggunakan kekuatan fisik untuk bertarung. Ini semua di lakukan agar adil, dan di saat ada yang menggunakan sihir orang itu akan di nyatakan kalah dan tidak diperbolehkan menantang seorang murid lagi selama satu tahun.
" Ada apa ini?" Saat memasuki stadion Arsya telah melihat banyak orang, ia tidak tahu apa yang telah terjadi, ia hanya tahu kakak nya meminta nya untuk segera kemari.
" Arsya, sini!" Seru Arion yang tidak sengaja melihat kedatangan adik nya itu, dia melambaikan tangan dan meminta nya untuk segera menghampiri mereka.
Namun saat dia akan berjalan menghampiri mereka ada seseorang yang menabrak nya, orang itu adalah Heera. Heera hanya melirik Arsya sebentar sebelum kembali fokus pada handphone nya, ia pergi begitu saja tanpa menyapa Arsya.
" Heera tunggu!" Panggil Arsya yang membuat Heera pun berhenti berjalan tapi dia tidak berbalik untuk menatap Arsya.
" Aku tidak tahu apa yang sedang kau lakukan. Namun sebaiknya jangan melakukan sesuatu yang membahayakan diri mu sendiri."
" Kau tidak perlu mengatakan itu pada ku, sebaiknya kau khawatirkan diri mu sendiri. Aku bisa menjaga diri ku sendiri" balas Heera dengan ketus dan dia pun pergi begitu saja, meninggalkan Arsya yang tertegun di tempat nya.
.
.
\*Teratai putih (orang yang licik dan penuh tipu muslihat)
__ADS_1