
" Sudah seperti ini saja kau masih ingin membela nya Clara, sihir apa yang dia berikan sampai membuat mu seperti ini."
" Alvan, diam. Jangan bicara atau tinju ku yang akan membuat mu diam!"
" Cih, kalian begitu membela nya seakan dia adalah sebuah permata"
" Apa yang membuat mu hilang kendali sampai membunuh nya?" Tanya Arion.
" Hust, maaf kak. Aku tidak bisa mengatakan nya, namun Kaka bisa membantu ku." ucap Heera sambil membuat gerakan menaruh jari nya di bibir nya
" Apa?"
" Bantu aku membujuk Ara agar dia tidak marah, setelah aku membuat banyak kekacauan ini!" Ucap Heera dengan wajah memelas.
" Oh, jika bantuan itu yang kau inginkan, aku angkat tangan. Aku tidak ingin mati muda, hidup ku masih panjang, kau tangani saja sendiri!" Ucap Arion acuh, ia bahkan mengangkat kedua tangan nya pertanda dia tidak sanggup melakukan apa yang Heera minta.
" Cih..."
Drrt drrtt
" Ka Ara menelpon ku, apa yang harus ku lakukan?" Ucap Heera dengan panik.
" Ya, angkat saja. memang nya harus menggoreng handphone mu itu"
" Tapi... Hey Alvan apa yang kau lakukan, kembalikan handphone ku!" Seru Heera pada Alvan yang mengambil handphone nya begitu saja.
" Hallo Arsya!" Seru Alvan setelah mengangkat panggilan tersebut, tanpa peduli pada tatapan tajam dari Heera.
" Berikan handphone nya pada Clara."
" Tenang saja aku sudah menghidupkan speaker, kau bisa bicara sekarang."
Arsya : " Aku tidak punya waktu untuk bermain main, Heera kau selesaikan kekacauan yang telah kau buat secepatnya. Namun sekarang aku ingin kau menyelidiki sesuatu, aku akan mengirim nya ke email mu..."
Dor dor dor
" Ara, suara apa itu?" Tanya Heera yang langsung mengambil handphone nya dari tangan Alvan.
.... " Seperti nya ada yang menyerang kita, kamu pegangan yang kuat!"
Suara seseorang dapat mereka dengar.
Arsya : " Ka Rion, jika kau ada di sana bantu Heera untuk menyelesaikan kekacauan yang di buat nya. Kalian tidak perlu khawatir aku baik-baik saja di sini, Aksa juga ada bersama ku."
" Dan Heera, permainan mu kali ini tidak lagi menyenangkan."
__ADS_1
Tut Tut
Telepon di matikan oleh Arsya begitu saja
" Ara, halo Ara jawab aku!"
" Tenang saja dia pasti akan baik-baik saja." Ucap Arion entah dia sedang mencoba menenangkan Heera atau malah dirinya sendiri.
" Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Tanya Valencia, dia masih tidak ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi, dia masih tahu batasan nya sendiri.
" Kak Rion aku butuh bantuan mu!"
" Katakan saja, apa yang kau inginkan."
" Melihat reaksi kalian, seperti nya masalah ini menimbulkan efek yang sangat besar, jika tidak kalian tidak mungkin begitu pucat seperti mayat. Namun aku bisa meyakinkan pada kalian jika kepala academy tidak akan pernah bisa mengeluarkan ku dari academy hanya dengan rumor murahan ini.."
" Heh, kau memiliki kepercayaan yang besar juga nona, tapi memang nya kau tuan putri Raja yang akan membuat kepala academy takut pada mu." Ucap Ivan dengan sinis.
" Putri raja? itu memang terdengar berlebihan. Namun nama besar keluarga Lawrence seperti nya masih wajar bukan" ucap Heera tersenyum menatap Arion.
Mendengar nama keluarga nya di sebutkan oleh gadis itu membuat Arion paham akan pikiran kedua gadis itu.
" Kalian berdua ini jika soal memanfaatkan orang lain begitu sangat handal" cibir Arion tapi juga tidak menolak apa yang Heera inginkan.
" Ini nama nya bukan memanfaatkan orang, tapi menggunakan sesuatu sesuai tempat nya" ucap Heera tersenyum bangga.
" Katakan."
" Jika aku tidak salah dengar pria yang mati tadi adalah orang yang bersama Clara di hotel, dan Clara juga yang telah membunuh nya, apa motif mu membunuh orang itu. Jika semua bukti di temukan dan mengarah pada mu, kau akan di jatuhi hukuman mati atau di penjara beberapa tahun" ucap nya dengan santai dan acuh.
" Tuan muda Ivan ada sebuah pepatah jika seseorang banyak tahu umur nya tidak akan panjang" ujar Heera sambil tersenyum sangat manis.
" Dasar wanita psikopat, apa kau sedang mengancam kami." Ucap Kenan dengan nada yang begitu bersemangat berbeda sekali dengan ekspresi nya yang sedikit ngeri.
" Aku tidak sedang mengancam siapapun. Namun di antara kalian para pewaris keluarga bangsawan siapa si yang belum pernah membunuh seseorang. Ayolah kita tidak sedang membicarakan hal-hal untuk anak kecil, dan aku pun bukan orang suci" jawab nya acuh
" Tapi gadis seperti mu..."
" Memang nya aku gadis seperti apa di mata tuan muda Alvan, gadis yang polos atau lugu. Jika kau berpikir begitu kau salah besar." Potong Heera.
" Apa pria itu ada hubungan nya dengan organisasi itu?" Tanya Arion tiba-tiba.
" Tidak" jawab nya yakin
" Jika tidak dia pasti ada hubungan nya dengan salah satu keluarga bangsawan utama. Seperti nya ada yang ingin mengacaukan pesta dansa bangsawan, jika tebakan ku benar akan ada pertunjukan yang hebat saat pesta berlangsung" serunya menyeringai
__ADS_1
" Arion kau begitu mudah mengatakan sesuatu tentang pesta dansa bangsawan di hadapan mereka, seperti nya kau telah jatuh hati pada salah satu gadis ini" ejek Ivan tersenyum mengejek.
Siapa pun tahu selain para keluarga bangsawan utama, orang lain hanya akan tahu pesta ini saat sepuluh hari sebelum pesta di mulai.
" Apa yang perlu di permasalahkan mereka juga akan menghadiri pesta dansa itu."
" Kau begitu berekspektasi tinggi terhadap mereka."
***
Saat Arsya sedang menelepon Heera terdengar sebuah suara tembakan dari belakang.
Dor dor dor
" Dan Heera, permainan mu kali ini tidak lagi menyenangkan."
Setelah mengatakan itu ia menutup panggilan nya.
" Kak, apa yang terjadi?" Tanya Arsya melihat ke belakang.
" Seperti nya Harraz sudah mulai bertindak, maafkan aku membawa mu dalam situasi berbahaya ini. Untung saja kita menggunakan mobil saat ini." Ucap Aksa mendesah dengan kesal.
" Tidak masalah, jika kau memilih ku untuk menjadi pendamping mu, kita memang harus menghadapi setiap tantangan bersama-sama." Balas Arsya dengan tulus.
" Kak kau harus tahu, aku bukan wanita yang lemah, akan ku tunjukkan kemampuan ku pada mu." Ucap Arsya menyeringai.
Arsya melihat ke arah celana nya, tepatnya ke sebuah pistol berukuran kecil yang terlihat terselip di samping kaki kanan nya. Ia mengambil senjata tersebut dan memasukkan beberapa peluru di dalam nya.
" Kak, tolong buka pintu atas mobil ini" pintanya.
" Oke." Aksa mengikuti apa yang Arsya inginkan, meski dia tidak yakin gadis itu bisa menggunakan pistol, tapi melihat tingkat kepercayaan dirinya, membuat ia tidak ragu.
Arsya telah bersiap dengan pistol lalu ia naik ke lubang di atas mobil dan segera menembaki mobil-mobil yang mengejar nya dengan brutal.
Dor dor dor
Brum
Dhuuaarr...
Dua mobil di belakang nya saling bertabrakan dan hancur membuat ledakan besar, hingga mobil lainnya yang mengejar terhalang dan tidak bisa mengikuti nya.
" Kak Ray, cari jalan yang dekat dengan jurang." Seru Arsya yang di angguki oleh Aksa.
Arsya tidak tahu seluk beluk negara itu, tapi dia yakin Aksa mengenalinya.
__ADS_1
Aksa dengan terampil mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi, cara dia mengemudi begitu memukau meski jalan berliku-liku tapi setiap belokan Aksa sama sekali tidak menurunkan kecepatan mobil nya, ia seakan seorang pembalap profesional.