Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
127. Keluarga Evans


__ADS_3

Sebuah tamparan yang lebih keras terdengar menggema hingga membuat Zalfa terduduk, Heera menampar wajah Zalfa dengan keras membuat wajah nya yang lumayan cantik menjadi sangat jelek, pipi nya sekarang membengkak seperti babi dan bibir nya mengeluarkan darah. Heera mendapatkan tatapan tak percaya dari Zalfa.


Mengapa gadis bodoh ini malah menampar nya? Bukankah seharusnya Arsya yang mendapatkan tamparan ini!


" Zalfa, kau pikir aku akan mudah terhasut oleh mu. Hubungan ku dan Arsya lebih erat di banding yang orang lain ketahui, hanya sebuah tamparan tidak akan membuat kami saling berselisih. Sedangkan kau mencoba untuk membuat kami saling bertentangan... Kau telah mencari masalah besar dengan berpikir begitu."


" Tapi bukankah kalian..."


Plak


Sebelum Zalfa menyelesaikan ucapan nya sekali lagi Heera menampar sebelah pipi Zalfa yang lain. Membuat kedua pipi nya bengkak. Ia sekarang sama saja seperti babi yang gemuk dan jelek.


" Arsya!"


Sebelum Heera melanjutkan memukuli Zalfa sebuah suara menghentikan nya.


" Aku telah mencari mu kemana-mana ternyata kau malah berada di sini. Cepat ayo ikut dengan ku" seru Kenan dengan nafas yang terengah-engah akibat kelelahan berlari-lari ke sana ke mari mencari gadis ini.


" Kemana?"


Arsya tidak mengikuti nya, ia menaikkan sebelah alis nya dengan heran, untuk apa teman dari kakak nya ini meminta nya untuk ikut.


Tidak mungkin dia ingin menjualnya bukan?


Jika apa yang Arsya pikirkan di dengar oleh Kenan, pria itu pasti akan marah besar. Mana mungkin ia yang baik hati menjual seorang gadis tak bersalah.


" Jangan banyak bicara, ayo cepat ikut dengan ku" Kenan ingin meraih tangan gadis itu tapi Arsya malah mundur dan menghindari tangan nya.

__ADS_1


" Kenan, kau datang main tarik aja anak orang, bilang dulu ke kau mau membawa Arsya kemana. Jangan main tarik aja!" Seru Heera acuh


" Apa kalian tidak melihat forum academy?" Tanya Kenan heran.


Seharusnya saat ini berita itu telah menyebar, dia sendiri tidak tahu siapa yang menyebarkan nya tapi yang pasti itu bukan Harraz. Namun bukan itu yang penting sekarang, dia harus membawa Arsya ke dalam hutan untuk menghentikan pertarungan antara Arion dan Aksa.


" Berita apa lagi? Apa berita hoax yang tak bermutu" oceh Heera tangan nya mengeluarkan handphone dan mengotak-atik nya.


" Ini..."


Heera tertegun melihat berita di handphone nya, ia melihat ke layar handphone nya lalu berbalik ke arah Arsya, ia terus melakukan itu beberapa kali yang membuat Arsya jengah dengan kelakuan nya itu.


" Hahaha... Sekarang reputasi kalian berdua telah rusak, yang satu naik ke ranjang om-om. Satu nya lagi sang penggoda ulung. Kalian berdua memang pantas berteman!" Seru Zalfa tertawa terbahak-bahak sambil beberapa kali meringis menahan sakit di seluruh wajah nya.


Mendengar ucapan Zalfa saja sudah membuktikan siapa yang telah menyebabkan berita itu. Arsya mengambil handphone Heera untuk melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi.


Raut wajah Arsya tidak berubah sama sekali, ekspresi nya masih tenang dan malas, meski dia telah melihat potret dimana dia dan Aksa terlihat sedang berada di posisi yang ambigu.


Kenan menggaruk belakang kepala nya dengan bingung, " bagaimana aku menjelaskan nya ya, seharusnya apapun hubungan yang kau miliki dengan Aksa aku tidak akan berkomentar. Namun karena potret itu.. mmm, membuat dua orang yang menyukai mu bertengkar."


" Bertengkar? Menyukai ku? Siapa?" Ia yakin selama ini dia tidak tampil mencolok jadi seharusnya tidak ada yang menaruh perhatian pada nya.


" Hah.... Menurut nu siapa lagi jika bukan Arion dan Aksa, mereka berdua sedang bertengkar, dan Arion sangat marah besar mengetahui hubungan kalian berdua. Padahal jika kalian memiliki hubungan lebih baik kau mengatakan nya juga pada Arion, jangan menggantungkan perasaan Arion.."


Kenan tidak habis pikir dengan gadis ini bukankah dia seharusnya menjelaskan jika dia sudah memiliki kekasih, tapi sikap nya selama ini seakan tidak menolak dengan apapun yang Arion lakukan, bahkan dia bersikap baik pada Arion yang malah membuat kedua pria itu salah paham.


" Dimana mereka sekarang?"

__ADS_1


Ah, Arsya melupakan kakak posesif nya itu, tentu nya jika berita ini muncul kakak nya akan langsung menggunakan otot tanpa memikirkan nya lebih dulu, dia bahkan tidak akan repot untuk bertanya apa yang terjadi sebenarnya pada diri nya lebih dulu.


Ini juga memang salah nya.


" Ara! Kau dan Aksa memiliki hubungan? Bagaimana bisa dan sejak kapan?" Heera menatap Arsya penuh tuntutan, ia meminta penjelasan dari sahabat nya itu.


" Kau terlalu sibuk dengan urusan luar mu itu" jawab Arsya acuh dan membuat nyali Heera kembali menciut.


" Katakan dimana mereka berada?" Tanya Arsya dengan tidak sabar.


" Hutan belakang academy."


Arsya berlari ke arah hutan belakang academy tanpa menunggu Kenan ataupun Heera. Ia yakin Arion kakak nya pasti akan menghajar Aksa habis-habisan, ia harus sampai dengan cepat sebelum mereka babak-belur.


Heera juga ikut menyusul tanpa mempedulikan Zalfa yang sudah memar-memar akibat pukulan nya, dia juga tahu bagaimana kemarahan Arion yang akan sangat sulit untuk di redakan, namun dia juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi, dia yakin Arsya tidak mungkin melakukan hal bodoh itu " Ara tunggu!"


****


Keluarga Evans sedang sangat kacau, kepala keluarga Evans akhir-akhir ini jarang pulang karena menangani kasus yang ada di negara nya, dia pun harus ikut campur masalah ini karena masalah nya telah semakin besar. Semakin lama kasus penculikan semakin merajalela, bahkan sekarang bukan hanya keluarga kalangan bawah saja tapi juga keluarga dari para bangsawan, membuat kepala keluarga tambah pusing. Para penculik itu sangat cerdik sampai masih belum juga ada jejak yang di temukan.


Namun saat dunia luar sedang sibuk dengan kasus penculikan tersebut, di dalam keluarga Evans malah sedang terjadi keributan besar.


Keributan ini tentu nya terjadi gara-gara Elma yang juga melaporkan masalah Clara pada nenek nya, membuat nenek nya marah besar dan malah menyalahkan ibu nya sekarang untuk menjadi pelampiasan kemarahan nya.


" Ini semua karena mu, cucu ku sekarang selalu membantah ku! Lihatlah karena didikan wanita kampung seperti mu cucu ku malah memilih seorang wanita penggoda dari pada wanita baik-baik seperti Elma!" Suara nya begitu menggelegar membuat orang takut, para pembantu tidak ada yang berani membantu nyonya nya saat nyonya tua sedang marah.


" Nenek jangan begitu, bagaimana pun juga dia adalah ibu dari Alvan." Ujar Elma dengan raut wajah sedih nya, seakan dia yang paling teraniaya di sana.

__ADS_1


" Oh, cucu menantu ku yang baik. Kau masih saja membela wanita ini padahal dia ingin memisahkan mu dengan cucu ku Alvan." Ucap nyonya tua Evans sambil memeluk Elma dengan lembut.


Dia tidak tahu saja di balik wajah lugu dan polos nya itu sekarang dia sedang tersenyum sinis, ia sangat senang karena rencana nya telah berhasil.


__ADS_2