
***
Di kantin
Kelompok Arsya dan Aksa sudah berkumpul di satu meja, setelah keluar dari ruang wakil kepala academy para cewe itu langsung kembali ke kantin karena mereka memang sudah membuat janji dengan para cowo sebelum nya.
" Hei, apakah tadi Aksa kerasukan setan!" Bisik Kenan, dia tadi di buat tercengang karena Aksa pergi begitu saja tanpa membunuh pemuda yang mencari masalah pada nya.
" Mungkin saja, tumben sekali dia tidak menyelesaikan orang yang menghina ibu nya sampai tuntas" jawab Alvan yang ikut berbisik karena takut gunung es itu sampai mendengar percakapan kedua nya.
" Apa yang kalian bicarakan kenapa bisik-bisik begitu, atau kalian sedang bisik bisik tetangga?" Tanya Heera acuh, entah dia benar-benar ingin tahu atau hanya ingin mencari keributan saja.
" Yakk bisik bisik tetangga memang nya kami apaan" seru Alvan kesal
" Ck, kalian berisik..." Ucap Arion jengkel, dengan susah payah di membujuk Aksa untuk segera ke kantin tapi setelah di kantin bukan nya membiarkan nya makan dengan tenang tapi mereka malah menganggu waktu makan nya.
" Arsya ada apa! apakah ada masalah?" Tanya Arion melihat adik nya yang sedang tidak mood makan, sedari tadi ia perhatikan gadis itu hanya mengaduk-aduk makanan nya tanpa berniat makan.
" Tidak, sudah selesai.." jawab Arsya singkat, dia tidak ingin menjelaskan lebih jauh pada Arion.
" Baguslah, jika ada masalah panggil aku saja, tidak perlu sungkan" seru Arion, yang mendapatkan tatapan tidak suka dari Aksa. Namun Arion dan Arsya sendiri tidak mengetahui nya.
" Ck, si kecebong lagi yang datang" ucap Alvan malas
" Kecebong siapa?" Tanya Heera langsung penasaran, dia menatap Alvan penuh tanya.
" Noh" Alvan hanya menunjuk dengan dagu nya pada seseorang yang sedang berjalan ke arah meja mereka.
" Wahh... Ternyata ada kalian juga disini, si anak haram dan teman teman bodoh nya" seru seseorang yang tidak lain adalah Harraz.
__ADS_1
" Siapa yang kau sebut anak haram hah..." Sewot Naura kesal.
" Lumayan juga kalian cukup cantik, bagaimana jika kalian ikut dengan ku saja, aku akan membuat kalian sangat bahagia di bandingkan bersama mereka ini" seru Harraz sombong dan angkuh.
" Sayang apa yang kau lakukan, apa kau ingin bersama si cupu itu juga!" Seru seorang gadis yang berada di samping nya dengan nada manja sambil menunjuk Arsya. dengan tatapan menghina.
" Ahk, aku tidak melihat nya, aku sih ogah dia terlalu jelek, namun mungkin dia akan sangat cocok bersanding dengan kakak ku Aksa, bukan begitu!" ucap nya dengan senyum yang terlihat menawan namun setiap perkataan nya penuh dengan cibiran.
" Oho aku tidak melihat keberadaan nya, ternyata mantan tunangan tercinta ku, untuk apa dia berada di tempat ini, apa karena iri dengan saudara mu ini kau juga berusaha keras masuk ke academy ini,, sungguh menyedihkan... Harraz begitu baik pada mu meski dia tahu ibu mu yang ****** itu telah menjebak ayah nya dan membuat keluarga nya berantakan tapi dia tetap menganggap mu saudara nya.." ucap nya dengan keras agar semua orang dapat mendengar nya, namun ia mengatakan dengan nada yang pura pura menyedihkan agar mendapatkan simpati semua orang.
" Benarkah, aku tidak menyangka prince es Aksa dapat melakukan nya..."
" Ku kira Aksa itu baik, ternyata seorang yang tidak tahu malu.."
" Cih, aku sudah tahu dia memang tidak sebaik penampilan nya.."
Banyak hinaan dari orang-orang yang memang tidak menyukai Aksa.
" Cantik" batin Harraz saat melihat paras cantik Heera.
" Sayang..." Seru wanita di samping nya dengan sangat manja karena dia tahu Harraz sedang terpesona oleh kecantikan gadis di depan nya dan ia sangat tidak menyukai itu.
Sedangkan sedari tadi Aksa sedang menahan emosi nya yang siap kapan saja meledak, aura yang di pancarkan oleh nya pun sekarang berwarna hitam, yang akan membuat orang orang enggan mendekati nya, karena emosi tanpa sengaja ia mengeluarkan elemen kegelapan nya.
Hanya mereka yang berada di tingkat tinggi yang mampu melihat asap hitam yang menyelimuti Aksa.
" Ternyata kualifikasi academy ini begitu rendah, sampai ada seorang maling yang berteriak maling pada orang lain di sini" ucap Arsya acuh, namun jelas itu sebuah ejekan untuk Harraz.
" Apa maksud mu?" Tanya Harraz tidak suka, ia merasa gadis cupu ini sedang menyindir nya.
__ADS_1
" Tidak ada, aku hanya mengingat sebuah cerita yang lucu dimana pemeran antagonis yang mengambil barang pemeran protagonis, namun dia malah menuduh pemeran protagonis lag yang mencuri nya... Bukankah cerita ini cocok dengan ungkapan ku tadi maling teriak maling" ujar Arsya santai dan malas.
Hanya dalam sehari sudah banyak orang yang menampilkan sebuah drama di depan nya.
Sungguh menyedihkan!
" Apa kau sedang menyindir ku, dan mengatakan aku bohong hah..."
" Tidak, dia tidak mengatakan kau bohong, kau sendiri yang mengatakan nya adik tersayang ku" ucap Aksa dingin dan penuh penekanan. perkataan Aksa langsung membuat Harraz bungkam, secara tidak langsung dia sendiri yang mengakui nya.
Betapa malu nya dia sekarang!
" Aku Harraz Edzard Davies pemimpin selanjutnya keluarga Davies mencuri sesuatu dari orang lain, apakah kalian sudah gila, tidak mungkin aku melakukan nya" ujar nya gelisah dan segera mencari cara memutar balikkan keadaan kembali.
" Apa Harraz Edzard Davies, kau pemimpin selanjutnya keluarga Davies?" Tanya Heera pura pura terkejut, ekspresi nya sekarang terlihat begitu alami tidak akan ada yang menyangka jika semua itu hanyalah sandiwara belaka.
" Ya, tentu saja" balas nya sombong karena menganggap gadis itu takut dan terpesona padanya.
" Tampan, identitas mu sungguh tidak biasa, namun..." Jeda Heera
" Namun?" Harraz dan wanita di samping nya mengerutkan kening nya dan tidak mengerti maksud nya perkataan gadis itu.
" Sayang nya, pemuda-pemuda bodoh yang kau katakan ini memiliki identitas yang jauh melebihi mu!" Seru Arsya melanjutkan perkataan Heera, perkataan nya terdengar santai dan tenang bahkan terdengar sedikit kemalasan di dalam nya, namun perkataan sederhana itu langsung dapat membuat Harraz dan kekasih nya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
" Apa? Tidak mungkin!" Bantah Harraz, tentu saja dia tidak mempercayai omong kosong itu.
" Oh, apakah kau belum tahu siapa mereka ini... Baiklah aku akan memperkenalkan nya, ah tidak lebih baik mereka sendiri yang memperkenalkan diri mereka... Bukan begitu!" Seru Arsya penuh penekanan.
" Oho dengan senang hati kami akan memperkenalkan diri kami pada tuan muda Davies... Perkenalkan pria tampan ini bernama Kenan Luthfi Rivera, dan si kutu buku ini adalah kakak ku Ivan Lutfan Rivera, kau pasti tahu keluarga Rivera bukan!" Ujar Kenan sombong dan narsis.
__ADS_1
Harraz awal nya merasa cemas namun setelah tahu dari keluarga mana kedua orang itu berasal dia menjadi sedikit lega, keluarga Rivera masih di bawah keluarga Davies, membuat ia menatap mereka semakin remeh.
" Heh hanya keluarga Rivera begitu sombong di hadapan ku" cibir Harraz yang sudah dapat merasa tenang, namun...