Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
24. Tercengang


__ADS_3

Awal nya Ezio ingin kembali mengomel mendengar ucapan Arsya namun melihat Heera yang dapat membunuh rusa dengan mudah membuat nya terkejut.


" Masukan ke saku ruang agar mudah kita membawa rusa itu" ujar Darel yang sebenarnya memang cukup terkejut melihat Heera yang dapat membunuh rusa hanya dengan sekali bidikkan.


" Lihat kita mendapatkan hewan buruan nya bukan, jadi tutup mulut mu, dan lebih banyak gunakan otak juga tangan mu"ujar Heera dingin


" Rel lihat bukankah itu burung elang jika kita mendapatkan nya para guru akan kagum pada kita" ujar Ezio menunjuk seekor burung yang terbang sangat jauh di atas langit ada sekitar 100 kilometer jarak burung itu dari mereka


" Kau bodoh zi, burung itu jarak nya sejauh 100 kilometer bagaimana bisa kita membidiknya dengan jarak sejauh itu, senapan yang kita bawa hanya bisa mencapai jarak dua puluh kilometer" ujar Darel


" Benar juga"


" Clara kau bisa tidak membidik elang itu?" Tanya Ezio asal


" tidak bisalah.... Tapi..."


" Tapi apaan?" Tanya Ezio, Darel dan Keysa pun menunggu jawaban Heera.


" Aku memang tidak bisa, tapi Ara pasti bisa" seru Heera


" Siapa Ara?" Tanya Darel


" Arsya itu Ara" ucap Heera malas


" Hah maksud mu si cupu satu nya lagi, bukan nya membunuh tuh elang yang ada dia yang di buru... Sudahlah, diam nya saja sudah sangat membantu kita" ujar Ezio


" Berisik, harusnya kau itu tidak ke hutan tapi ke tukang jahit" kesal Heera


" Untuk apa ke tukang jahit" tanya Ezio polos


" Ya untuk menjahit mulut mu itulah, biar tidak asal ceplos aja"


" Yakk kau pikir mulut ku ini kain perlu di jahit" kesal Ezio


" Kau yang mengatakan nya bukan aku" ucap Heera acuh


" Sudahlah zi, benar apa kata Clara sedari tadi kau yang terus saja mengoceh" ucap Darel malas mendengar ocehan teman nya ini.


" Baiklah kita lihat apa si cupu itu bisa membidik elang yang jarak nya 100 kilometer atau tidak" ucap Ezio


" Ra nih" Heera memberikan busur dan panah nya pada Arsya.


Arsya menaikkan sebelah alis nya, seperti sedang mengatakan 'untuk apa?'


" kau harus bisa buktikan, kau bisa membidik elang itu" ucap Heera gemas dengan teman nya ini.


" aku hanya gadis cupu yang tidak berguna, mana mungkin bisa membidik elang yang jarak nya sangat jauh, bukan begitu!" ucap Arsya menekankan setiap kata-kata nya, bertujuan untuk menyindir Ezio

__ADS_1


" cih, aku sudah menduga nya. mana mungkin kau bisa melakukan itu" cibir Ezio


" ya, aku tidak tertarik untuk memburu elang itu hanya untuk menjadi bahan adu tenar saja. namun jika itu untuk membungkam mulut seseorang seperti nya itu sangat menarik" sindir Arsya tersenyum sinis


Arsya mengambil busur, panah sambil menatap Heera malas selalu saja akhir nya ia juga yang harus melakukan nya.


" berlatihlah kembali" ucap Arsya acuh


" bagaimana lagi, semua guru yang ayah ku bawa tidak ada yang sehebat diri mu jika soal menembak jarak jauh" ucap Heera acuh


Sreeett


Panah itu memang mengenai seekor hewan tapi bukan burung elang melainkan seekor burung yang berada di atas pohon, burung itu cukup besar namun hanya burung biasa.


" lihatlah bukan nya mengenai burung elang ia hanya membidik burung biasa" ejek Ezio


Tanpa membedulikan ejekan Ezio, Arsya berjalan dan mengambil buruan nya, ia pun kembali ke tempat semula, Arsya melemparkan burung yang baru saja ia bunuh ke atas langit sampai sejauh 50 kilometer.


Ezio yang melihat apa yang sedang Arsya lakukan hanya tersenyum mencibir, namun dia langsung terdiam saat melihat elang itu dengan kecepatan tinggi meluncur ke arah buruan Arsya.


Sreeett


Bruk


Elang itu terjatuh beserta burung yang menjadi mangsa elang itu, ternyata Arsya sengaja membidik burung biasa terlebih dahulu untuk menjadi umpan burung elang.


" Lebih banyak gunakan otak, kurangi omong kosong" ucap Arsya dingin sambil melewati Ezio yang masih berdiri mematung di tempat nya dengan mulut yang menganga. bukan hanya dia bahkan Darel dan Keysa juga tidak mempercayai apa yang di lihat oleh mata nya.


" Tolong!! tolong!!!" Ujar suara yang semakin mendekat, terlihat zalfa dan kelompok nya menuju arah dimana kelompok Arsya berada


Di belakang zalfa dan yang lainnya terlihat mereka sedang di kejar dua ekor harimau.


" Darel tolong aku, harimau mengejar kami" ucap zalfa bersembunyi di belakang Darel.


" Menjauh lah" ucap Darel dingin


Dor


Dor


" Sial, peluru di dalam senapan ini telah habis" kesal Darel


Darel dan Ezio mencoba melawan harimau itu secara langsung. Sedangkan kelompok Zalfa langsung pergi menjauh dari sana saat melihat Darel dan Ezio telah mendapatkan banyak luka karena pertarungan nya dengan kedua harimau itu.


" Sial kita sekarang sudah tamat... Kalian pergilah dari sini" teriak Ezio pada ketiga wanita itu.


" Heh... Memang nya siapa yang ingin lari dari sini" seru Heera dengan seringai nya.

__ADS_1


" apa maksud m-u..."


Wush


Heera dan Arsya menghilang dari tempat nya, saat bersamaan Ezio dan Darel akan kembali di serang oleh kedua harimau tersebut.


Tiba-tiba Heera ada di depan Darel dan menahan serangan cakaran dari harimau itu. Di sisi lain Arsya dengan mudah melemparkan harimau yang ingin menyerang Ezio.


Bruk bruk


Kedua harimau itu terlempar cukup jauh, Heera menatap Darel dan Ezio bergantian.


" Ckckck... Seperti inikah seorang pria, kalian seharusnya tidak menyebut diri kalian sendiri sebagai seorang pria, melawan dua ekor harimau saja sudah mendapatkan banyak luka" sinis Heera


" Hei, ini semua hanya karena peluru di dalam senapan kami habis, jika tidak kami telah membunuh dua ekor harimau itu dengan mudah" bantah Ezio


" Pria yang tidak bisa bertarung tanpa senjata, tidak pantas di sebut seorang pria" ucap Arsya tajam.


" hanya dua ekor kucing besar saja, membuat kalian menggigil ketakutan" cibir Arsya tersenyum sinis


Gadis ini selalu saja diam namun sekali mulut nya terbuka, dia akan selalu mengeluarkan racun yang mematikan.


" Kau benar Ra, kata nya pria tapi kok kayak banci" cibir Heera


" apa kalian puas menghina kami" kesal Ezio


" Awaaass" teriak Keysa saat melihat kedua harimau itu akan kembali menyerang, menghentikan perdebatan mereka.


" Dasar penganggu" gerutu Heera


" Menyebalkan" ucap pelan Arsya


Srakk


Darah menyiprat ke wajah Heera, namun itu bukan darah milik Heera melainkan darah harimau yang menyerang nya.


Sedangkan Arsya menusuk jantung harimau yang satu nya lagi dengan belati yang selalu ia bawa, tanpa meneteskan darah sedikitpun harimau itu mati di tangan Arsya, cara Arsya membunuh sangat singkat dan senyap tapi sangat mematikan.


apa yang di lakukan Arsya dan Heera sungguh membuat Keysa, Darel, dan Ezio tercengang. mereka tidak pernah menduga kedua gadis yang terlihat lemah bisa membunuh dengan begitu sadis.


" iiuhhh darah harimau ini mengotori ku" seru Heera jijik


" Ambil" Arsya melemparkan sebotol air pada Heera


" Hap... Kau yang terbaik Ara, Terima kasih" seru Heera tersenyum senang


" Ck,ck,ck. Ara kapan kau akan mengajari ku cara membunuh seperti yang kau lakukan. itu sungguh keren, aku tidak perlu khawatir lagi jika darah mengotori pakaian ku dengan menggunakan cara yang kau lakukan itu! ayolah Ra ajari aku, please" seru Heera menatap Arsya melas.

__ADS_1


" belajar membidik yang benar saja dulu, baru kau berbicara lagi dengan ku!" ucap Arsya acuh tak acuh


" Ck, baiklah" ucap Heera lesu


__ADS_2