
***
Di kantin
Arsya telah duduk dengan tenang bersama teman teman nya, mereka sedang asik berbincang.
" Ara bagaimana menurut mu tentang kelas pelatihan itu?" Tanya Heera
" Cukup menarik" jawab Arsya acuh
" Hei apa kalian tidak merasa risih dengan tatapan orang orang yang berada di kantin ini!" Seru Valencia
" Biarkan saja" ucap Arsya malas, jika meladeni orang-orang itu urusan nya hanya akan bertambah panjang pikir nya.
" Benar biarkan saja, seperti nya kita semakin terkenal ya!" Seru Heera sambil tersenyum main main
" Pala mu terkenal yang ada mereka terus menggunjing kita" seru Kyra memutar bola mata nya malas, teman nya yang satu ini selalu saja main-main.
" Apa masalah nya, tetap saja kita terkenal bukan?" ucap Heera acuh
" Yaya terserah kau saja Clar" seru Valencia malas meladeni kegilaan teman nya ini.
Saat mereka sedang asik berbincang tiba-tiba ada segerombolan gadis yang mendekati meja mereka.
Braakk
" Eh monyet beranak kuda" seru Elvira kaget sampai membuat nya berdiri.
" Emang nya ada monyet beranak kuda El" ucap Heera santai tanpa peduli dengan seseorang yang telah mengebrak meja tadi.
" Hei cupu kau di panggil wakil kepala academy sekarang, kau pasti akan dikeluarkan dari academy ini!" seru nya sinis setelah menggebrak meja, tatapan nya penuh hinaan pada Arsya.
" Ra aku seperti mendengar suara tapi kenapa tidak ada bentuk nya ya, apa kau mendengar nya?" Ujar Heera
" Tidak, mungkin yang kau dengar itu suara anjing menggonggong" ucap Arsya singkat namun menusuk, sampai membuat orang orang di tempat itu tertawa karena ucapan Arsya yang begitu singkat, jelas dan padat.
" Heh gadis cupu, kau sekarang boleh saja tertawa tapi setelah ini kau akan menangis" seru orang itu, ia pergi dengan kesal.
Gadis itu adalah salah satu antek antek gadis yang telah Arsya tampar wajah nya.
__ADS_1
" Kau mau kemana?" Tanya Valencia heran melihat Arsya yang ingin beranjak pergi
" Melihat pertunjukan" seru Arsya acuh, dia sudah menebak siapa yang telah melaporkan nya.
Dasar kekanak-kanakan, pikir nya
" Aku ikut".
" Kami pun"
" Hei kalian mau kemana, baru saja kami datang, kalian sudah mau pergi saja" seru Naura yang baru tiba dengan bingung
" Tidak usah banyak tanya kalau kalian ingin ikut, ikut saja" seru Kyra sambil menarik tangan keduanya agar mengikuti mereka.
***
Di ruangan wakil kepala akademi
Di sana terdapat banyak orang termasuk Arsya dan teman teman nya.
" Putri ku katakan pada ayah siapa di antara mereka yang telah melukai mu?" Terlihat seorang pria paruh baya yang seperti nya salah satu guru di academy ini sedang berbicara dengan seorang gadis yang sedang menangis.
" Ayah hiks hiks.... Itu si cupu itu yang telah melukai ku sampai seperti ini huhuhu" seru seorang gadis sambil menangis dan memegangi sebelah wajah nya yang memerah.
" Wakil kepala academy tolong berikan keadilan untuk putri ku, dan keluar kan saja dia dari academy ini" ujar pria paruh baya itu yang seperti nya ayah dari gadis yang terus saja menangis sedari tadi atau lebih tepat nya membuat drama yang begitu menyedihkan.
" Tenang dulu pak Bahr kita harus mencari tahu dulu kejadian sebenarnya" ucap wakil kepala academy tetap tenang
" Apa lagi yang perlu di cari tahu bukankah Anda sudah melihat bagaimana wanita ****** itu melukai putri ku" seru pak Bahr dengan marah.
" Hati-hati dengan mulut anda tuan!" Seru Heera dengan marah
" Lihatlah paman, Pak Efendi. bukan hanya wanita itu bahkan teman nya juga seorang ******, sudah banyak berita tentang mereka berdua yang menggoda para tuan muda dari keluarga bangsawan" seru teman dari gadis yang bernama Havika, gadis inilah yang sebelumnya nya di tampar oleh Arsya.
Havika adalah gadis yang sedari tadi memainkan drama wanita yang tertindas, dia juga adalah putri pak Bahr.
Pak Bahr merupakan salah satu guru yang mengajar di kelas Phoenix Class, dia adalah salah satu guru terbaik di academy, namun sayang sekali seperti nya dia terlalu memanjakan putri nya.
" Berita? Berita apa maksud mu?" Tanya wakil kepala academy dengan bingung, dia memang jarang melihat forum academy karena kesibukan nya itu, lagi pula itu hanya forum para anak muda jadi dia tidak perlu selalu memantau nya, namun mendengar ini menyangkut dengan para keluarga bangsawan utama dia pun menjadi sedikit takut, akan merepotkan jika berurusan dengan mereka.
__ADS_1
Havika dan teman nya saling melirik dan tersenyum tipis mendengar ucapan wakil kepala academy, menurut mereka ini waktu yang tepat untuk menjelekkan nama kedua gadis yang akhir akhir ini menjadi populer karena dapat dekat dengan para pria tampan yang sangat sulit untuk di dekati.
" Silahkan anda melihat nya sendiri pak?" Teman havika memberikan handphone nya, di sana terdapat berita yang membuat satu academy heboh, dan berita itu tentang Arsya dan Heera.
Melihat itu teman-teman Arsya dan Heera ingin protes namun di hentikan oleh Arsya. Arsya maupun Heera masih bersikap tenang dan santai tanpa peduli dengan semua yang mereka bicarakan.
Sejak awal berita itu menyebar mereka tidak mempedulikan nya, lagi pula meski mereka dapat menghapus dan memblokir web yang mengapload berita tersebut, akan ada orang lain yang akan memfitnah mereka, jadi percuma saja, selagi tidak merugikan mereka, maka biarkan saja.
Meski Heera sangat kesal karena diri nya sekarang selalu dikaitkan dengan pemuda rese yang selalu mengganggu nya itu.
" Apakah ini semua nya benar!" Seru wakil kepala academy dengan marah.
" Jika kami mengatakan tidak. Apakah anda akan percaya pak, seperti nya tidak akan. Jadi kami tidak akan membuang-buang waktu kami hanya untuk melakukan pembelaan yang hanya akan sia-sia saja, terserah anda akan menganggap berita itu palsu atau asli. We don't care!!" Seru Arsya dengan malas yang juga di angguki oleh Heera.
Melihat ucapan Arsya yang seperti membenarkan berita tersebut membuat havika, ayah nya dan teman nya itu diam-diam tersenyum penuh kemenangan.
" Lihatlah pak, mereka bahkan tidak mengelak nya huhuhu..... Apakah pantas orang-orang seperti mereka masih berada di academy ini, bagaimana jika orang luar tahu, academy yang begitu di segani ternyata membiarkan siswi-siswi nya sendiri memanjat ranjang para pria kaya" ucap havika mulai menunjukan akting nya.
Drama yang mengharukan bukan?
Havika, ayah nya dan teman nya terus berbicara dan menghasut wakil kepala academy.
" Wooww akting mu sungguh hebat, kau mungkin akan mendapatkan piala Oscar jika bermain drama yang mengharukan seperti sekarang dengan nominasi akting teeeerrrbuuruukk!" ejek Heera dengan semangat, dan terselip sindiran di dalam nya.
" Hentikan! Kalian berdua dapat dikeluarkan jika semua berita tersebut benar" ucap wakil kepala academy membuat havika dan yang lain nya tersenyum sangat senang, namun mereka segera menyembunyikan senyuman nya itu takut ada yang melihat nya.
" Anda tidak bisa mengeluarkan kami, hanya kepala academy yang dapat melakukan nya!" Ucap Arsya malas.
Astaga apa lagi ini, mengapa orang-orang ini begitu tidak punya otak.
" saya wakil kepala academy, saya juga memiliki wewenang untuk mengeluarkan kalian.... Bukan hanya di keluarkan namun sihir kalian akan di segel untuk selamanya" ucap nya dengan marah, dia merasa anak-anak muda di depan nya ini tidak menghormati nya dan bersikap begitu tidak sopan.
" Heh... Anda hanya wakil bukan kepala academy jangan melewati batas anda sendiri pak" ujar Heera sinis, sungguh dia sangat kesal saat ini.
" Lihatlah pak, mereka bahkan tidak sopan pada mu... Apakah murid seperti mereka pantas di pertahankan" ayah havika terus memprovokasi wakil kepala academy
" Anda hanya seorang guru, apakah begini sikap guru yang mengajar di Phoenix Class, sungguh menggelikan" bukan Arsya maupun Heera yang menjawab namun Valencia yang sedari tadi diam. Dia yang melihat teman-teman nya yang disudutkan menjadi tidak senang.
Keysa, Elvira, Naura sedari tadi mencoba menghentikan perdebatan teman-teman nya, mereka hanya dari kalangan bawah jika terus melawan yang terjadi selanjutnya mungkin mereka benar-benar akan dikeluarkan, dan itulah yang tidak mereka inginkan.
__ADS_1
Tapi perkataan dari ketiga nya sama sekali tidak digubris, sedangkan Kyra hanya diam dan menyimak.
Saat mereka sedang berdebat, Arsya malah asik memainkan handphone nya tanpa peduli dengan sekitarnya.