Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
112. Menginap Bersama


__ADS_3

****


Di saat Harraz sedang bahagia setelah mengetahui kabar kematian Aksa yang bahkan dia sendiri belum melihat mayat nya, sayang nya dia terlalu meremehkan Aksa. berbeda dengan Aksa sendiri, dia malah acuh akan apa yang adik tiri nya itu lakukan dan pikirkan.


" Bagaimana kondisi nya sekarang?" Tanya Aksa, rasa cemas yang begitu besar dapat di lihat dari tatapan nya.


" pecahan kaca telah saya keluarkan, jadi seharusnya sekarang nona baik-baik saja tuan." jawab dokter muda itu dengan sopan


" lalu kenapa dia masih belum juga sadar?" Tanya Aksa dingin tapi tatapan nya tidak lepas dari wajah damai Arsya yang tidak sadarkan diri.


" Tubuh nona membutuhkan banyak istirahat, namun saya bisa memastikan keadaan nona baik-baik saja, sebentar lagi mungkin dia akan sadar. Saya juga perlu mengingat agar jangan sampai luka nya terkena air atau luka nya akan terinfeksi." Jawab nya lagi dengan tubuh yang sedikit gemetar karena aura dingin yang Aksa keluarkan.


Arsya yang sedang tertidur pulas perlahan menggerakkan jari-jari tangan nya, matanya pun mulai terbuka. saat dia membuka mata cahaya yang menyilaukan membuat ia kembali menutup matanya sebelum perlahan ia coba kembali membuka matanya.


Saat dia berhasil membuka matanya yang ia lihat tiga orang yang berdiri dan sedang menatap nya dengan intens terutama Aksa, meski wajah nya masih datar dan dingin tapi ia dapat melihat ada kekhawatiran dari sorot mata nya.


" Bagaimana perasaan mu nona?" tanya dokter muda itu lebih dulu menyapa.


Arsya dengan bingung bertanya " Siapa kau?"


" saya dokter yang di panggil tuan kemari untuk memeriksa anda" Jawab nya dengan ramah.


" Apakah ada bagian tubuh nona yang terasa sakit?"


" tidak, aku baik-baik saja."


" baiklah, meski begitu jangan sampai luka-luka anda terkena air, atau luka nya akan kembali terbuka" ucap dokter itu mengingatkan.


" Hmm... Terima kasih dokter" ucap Arsya tersenyum tipis


" ini sudah tugas saya nona."


" Ku pikir ada keadaan serius apa, hingga kau meminta ku untuk cepat kemari... Namun kau malah meminta ku untuk membawa dokter wanita kemari, ternyata karena gadis ini!" Seorang pemuda berjas putih selayaknya seorang dokter sama seperti dokter wanita yang telah mengobati Arsya.


" Bagaimana perasaan mu?" Tanya Aksa lembut pada Arsya tanpa mempedulikan dokter muda itu yang sedang mengoceh


" Aku tidak apa." Jawab Arsya


Berbeda dengan Arsya yang biasa saja, dokter muda itu malah terlihat begitu tercengang saat melihat reaksi Aksa yang begitu berbeda. Untuk pertama kali nya dia melihat pemuda itu menampilkan ekspresi lain selain wajah data rnya. Dan yang lebih membuat nya terkejut adalah ekspresi itu adalah ekspresi seseorang yang sedang cemas akan sesuatu hal yang paling berharga bagi nya terluka, dia menunjukkan ekspresi itu untuk gadis di depan nya.


Sekali lagi ia di buat terkejut saat melihat gadis itu menyentuh tangan Aksa dan Aksa sama sekali tidak menolaknya, seakan yang berada di depan nya bukanlah Aksa yang begitu gila akan kebersihan dan sentuhan orang lain.


" Aksa jangan bilang gadis yang kau ceritakan itu adalah dia!" pekik pemuda itu menunjuk Arsya dengan spontan.


" Jauhkan tatapan mu itu dari istri ku, dan jangan menunjuk nya begitu saja" ucap Aksa berbalik menatap pemuda itu dengan ekspresi yang sudah kembali datar.


" Ck, pelit amat. Dia juga tidak begitu cantik" gumam nya dengan heran.


" Tunggu! Kau bilang apa tadi.."


" D-dia istri mu!"


" Kak Ray. Siapa dia? Dia sangat berisik." Tanya Arsya acuh

__ADS_1


" Hai! Perkenalkan nama ku, Ervin. Bisa di bilang aku adalah dokter pribadi nya tapi kami juga sudah berteman sejak kecil. Nama mu siapa gadis manis..." Ia mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan Arsya, tapi hal tak terduga kembali terjadi.


Aksa menepis tangan itu dan menutupi tubuh Arsya dengan tubuh nya.


" Singkirkan tangan mu itu, dan pergilah dari pandangan istri ku." ujar Aksa dingin.


" Ayolah aku hanya ingin tahu gadis seperti apa yang sudah melelehkan kutub Utara ini"


" Jika kau terus bicara, aku akan mengirim mu pergi ke kutub Utara untuk bertemu beruang di sana, kau juga bisa mendirikan rumah sakit di sana" jawab Aksa sinis


" Hei, aku ini dokter khusus untuk merawat manusia yang sakit, bukan seorang dokter hewan untuk apa membuat rumah sakit di tempat yang hanya ada pinguin dan beruang" oceh Ervin dengan kesal. Namun dia segera berhenti bicara saat mendapatkan lirikan tajam dari sang kutub Utara, siapa lagi jika bukan Aksa.


" Kau bisa memanggil ku Arsya" ucap nya menghentikan perdebatan kedua pria itu.


" Kamu istirahat saja di sini, aku akan mengantar mereka pergi lebih dulu." Ucap Aksa dengan lembut


" Oke."


****


" Tuan muda apa gadis itu telah mengetahui identitas mu yang sebenarnya?" Tanya Ervin menatap Aksa dengan serius.


" Tidak" jawab Aksa acuh dan dingin.


" Lalu apa gadis itu telah menjebak mu sampai membuat kau harus menikahi nya?"


" tidak, ini adalah keputusan ku sendiri. Dan jangan samakan wanita ku dengan wanita lain nya yang hanya ingin harta dan kekuasaan ku saja."


Aksa hanya diam tanpa menjawab pertanyaan nya itu.


" Kau hanya harus ingat, dia satu-satu nya nyonya muda Knight. Jadi mulai sekarang bersikap sopan lah pada nya seperti kau berhadapan dengan ku" ucap Aksa dengan tenang.


" Aku mengerti, apakah tuan besar sudah mengetahui nya?"


" Belum, jangan dulu mengatakan masalah pernikahan ku pada kakek tua itu, jangan sampai membuat nya mengusik kehidupan wanita ku" sahutnya acuh.


" Kau ini, jika begitu aku tidak akan mengganggu waktu kalian lagi."


" Hmm..."


****


" Keluarlah, sampai kapan kamu akan bersembunyi di sana?"


" Kau menyadari nya kak."


" Ada apa? Apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Aksa yang berjalan mendekati Arsya


" Tidak."


" Apa kamu mendengar semua nya?"


mendapatkan pertanyaan itu Arsya terdiam dan menatap wajah Aksa dengan lekat.

__ADS_1


" Aku tidak mendengar apapun" Jawab nya dengan acuh


" Mm.. Suatu saat nanti aku akan mengenalkan mu dengan kakek ku jika waktu nya tiba."


" Oke, aku akan menantikan nya."


Untuk sejenak tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka.


" Kita berada di mana?"


" Hotel di Ibukota negara N" Jawab nya singkat


" Bawa aku ke portal menuju academy Blue Ocean ahk..."


" Hati-hati " ucap Aksa setelah menahan tubuh Arsya yang akan terjatuh.


" Kamu tidak sadarkan diri selama satu hari, dan luka-luka mu baru saja di obati. Beristirahatlah malam ini, besok kita akan kembali."


" Tapi..."


" Jangan membantah ku untuk kali ini Kay."


" Oke." Ucap nya pasrah


" Apa yang sedang kau cari?"


" Handphone ku... Seperti nya ikut meledak bersama mobil waktu itu. Apa aku bisa meminjam handphone mu kak?"


" Memang nya siapa yang akan kau telepon?"


" Kak Rion, dia pasti sedang mengkhawatirkan ku sekarang, karena aku tidak kembali tepat waktu." Jawab nya dengan tenang tanpa menyadari perubahan pada ekspresi wajah Aksa.


" Aku sudah menghubungi Arion dan mengabari nya tentang keterlambatan kepulangan kita, kamu tenang saja. Lebih baik sekarang kamu kembali ke kamar dan beristirahat."


" Oke" dengan perlahan Aksa membantu memapah Arsya untuk berbaring di kasur.


" Kenapa? Jika ada yang mengganggu pikiran mu katakan saja pada ku?" Ucap Aksa yang merasa ada yang ingin gadis itu katakan padanya.


" Siatp yang telah mengganti baju ku?" Tanya Arsya dengan tatapan menyelidik, setelah kepergian kedua orang asing itu dia baru sadar baju nya berbeda dengan yang kemarin dia pakai.


" I-tu aku. Di sini tidak ada siapapun selain kita, jadi aku mengganti baj...."


" He-hentikan jangan dilanjutkan." Meski selama ini Arsya selalu bersikap dingin dan acuh terhadap orang lain, tapi dia tetap saja seorang gadis. Tentu nya ia sangat malu saat mendengar penjelasan Aksa, apa lagi selama ini ia selalu tidak membiarkan orang lain terlalu dekat dengan nya, dan sekarang Aksa....


" Maaf aku telah lancang. Awal nya aku ingin mencari pelayan tapi aku takut akan ada yang menyadari keberadaan kita dan melaporkan nya pada Harraz. Aku juga tidak bisa membiarkan baju mu yang sudah robek dimana-mana terus di pakai. Jadi aku mencari baju mu yang ada di saku ruang mu." Ucap Aksa yang mencari alasan, sebenarnya dia tidak rela jika tubuh wanita nya di sentuh oleh orang lain selain diri nya. Tapi mana mungkin ia mengatakan hal itu yang ada Arsya bisa marah pada nya karena ia terlalu posesif dan ia tidak ingin gadis itu pergi dari nya.


blus


Pipi dan telinga Arsya telah berubah merah tomat, ia segera menarik seluk dan menutupi kepala dengan selimut.


" A-aku sudah ngantuk, kau juga tidurlah" ucap nya ia buat sedatar dan seacuh mungkin, tapi tetap saja Aksa menyadari nya.


Aksa tersenyum melihat tingkah Arsya yang begitu menggemaskan di mata nya.

__ADS_1


__ADS_2