Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
102. Melawan Monster Ular


__ADS_3

" Apa kalian tidak apa-apa?"


" Tuan muda Harraz terimakasih telah menolong kami, kau penyelamat kami!"


" Benar."


Aksa yang menjadi pelaku hanya diam dengan wajah datar nya, sedangkan Harraz yang tidak mengerti apa-apa hanya mengiyakan dan bertindak sombong seakan memang dialah penyelamat orang-orang idiot ini.


" Monster ini terlalu kuat, kita harus kembali dan menyusun rencana" seru Harraz berkeringat dingin


" Tapi bagaimana dengan teman kami itu?" Tanya seorang pemuda menunjuk pada pemuda lain yang memang masih di sandera oleh monster ular tersebut.


" Kepala desa, jika saya berhasil mengalahkan monster ini, bisakah tubuh monster ini menjadi milikku?" Tanya Aksa dengan acuh dan wajah datar nya.


" Aksa jangan bodoh, kami saja yang melawan bersamaan tidak dapat mengalahkan monster itu. Bagaimana kau bisa mengalahkan monster itu yang hanya seorang diri, karena salah satu dari kami tidak akan mau membantu mu jika kau tertangkap oleh monster ular jelek itu!" Ujar Selly dengan sinis.


" Kepala desa apa jawaban mu?" Aksa sama sekali tidak peduli dengan perkataan Selly yang ia butuhkan sekarang adalah kepastian bahwa setelah menghabisi monster tersebut, tubuh monster tersebut akan menjadi miliknya, ia tidak mau membantu tanpa memiliki imbalan apa-apa, apa lagi jika membantu hanya karena kemanusiaan karena dia bukan orang yang begitu murah hati.


" Terserah, dan tubuh monster itu akan menjadi milik mu jika kau berhasil mengalahkan nya" ujar kepala desa tidak ingin ambil pusing, bagus juga jika tubuh monster itu di bawa oleh nya, itulah pikir nya.


" Aksa aku akan membantu mu!" Ujar seorang pemuda, dia adalah pemuda yang menjadi salah satu syarat Aksa sebelum nya.


Pemuda itu bernama Randi dia merupakan salah satu murid Phoenix Class yang terbaik jika saja tidak ada Five Prince di kelas itu.


Sebagai murid Phoenix Class yang sudah lama mengenal Aksa, tentu nya ia tahu seberapa kemampuan Aksa. Bisa dikatakan kemampuan Aksa lah yang paling misterius di antara murid Phoenix Class, tidak ada yang tahu sebenarnya seberapa tinggi kemampuan Aksa dan berapa batasan kemampuan sebenarnya.


Namun dia sangat yakin Aksa dapat mengalahkan monster itu, lagi pula saat mendengar misi ini, tujuan nya mengikuti misi ini pula karena di sana ada Aksa dan dia yakin akan kemampuan yang Aksa miliki, dan dia juga bisa belajar satu dua hal dari Aksa.


" Tidak masalah."


" Tunggu!"


Arsya mencoba berbicara dengan santai dan tenang, saat tadi ia menatap tepat pada mata monster ular itu, matanya tiba-tiba berubah menjadi warna merah, seperti nya monster itu telah menghabisi banyak nyawa sebelumnya.

__ADS_1


"Ada apa Kay?" Tanya Aksa mengangkat sebelah alis nya, ia yakin gadis itu memiliki sesuatu yang ingin ia katakan karena itu menghentikan nya.


" Setiap kepala ular itu memiliki kemampuan yang berbeda, berhati-hati lah dengan kepala utama nya dia memiliki racun yang sangat mematikan!" Ujar Arsya sambil menundukkan kepala nya ke bawah.


Semua orang yang melihat tingkah Arsya berpikir bahwa sekarang gadis itu sedang ketakutan bahkan tubuh nya pun sedikit bergetar itu yang membuat mereka semakin yakin Arsya sedang ketakutan sekarang. Meski begitu mereka juga terkejut saat mendengar apa yang Arsya katakan, jika itu benar itu berarti sejak tadi monster ular itu sedang mempermainkan mereka. Kepala desa sendiri sekarang paham mengapa banyak warga nya yang terbunuh itu karena monster jelek ini memiliki racun.


" Aku mengerti, apakah ada lagi?"


" Jangan tatapan mata kepala ular, kepala yang kedua dia memiliki kemampuan ilusi dapat membuat mangsa nya masuk dalam ilusi yang indah. Dan berhati-hati juga pada tiga kepala lain nya" jawab Arsya dengan lirih.


Aksa berjalan ke arah monster itu bersama dengan Randi


" Kau alihkan perhatian nya, biar aku yang mengurus sisanya." Ujar Aksa.


" Oke"


" Pemuda itu sungguh gila, apa dia pikir Aksa lebih baik dari Harraz."


****


Heera sudah berada di depan meja resepsionis, tanpa sepengetahuan nya di belakangnya Elma sedang mengikuti nya sedari awal dia keluar dari restoran.


Elma mengikuti Heera sendirian, sedangkan teman-teman nya memilih tidak ikut campur.


" Ckckck, pria ini cukup kaya juga sampai bisa menyewa kamar di hotel bintang lima seperti ini" ujar Heera sambil memegang kartu kamar yang di berikan pria itu sebelum nya.


Heera naik lift dan pergi menuju lantai lantai 5 lantai teratas hotel tersebut.


Elma yang di belakang nya dengan cepat segera mengikuti Heera tidak lupa ia juga memotret setiap kegiatan Heera.


" Dimana dia?" Gumam Elma yang melihat ke sekeliling nya tapi tidak menemukan keberadaan Heera.


" Itu dia!" Seru nya setelah berhasil melihat Heera berada, Elma langsung bersembunyi saat Heera akan melihat ke arah nya.

__ADS_1


" Tidak ada siapapun, tapi mengapa aku merasa ada yang mengikuti ku sedari tadi?" Batinnya sambil melihat ke sekeliling.


Setelah memastikan tidak ada hal yang mencurigakan Heera segera menggunakan kartu kamar di tangan nya, saat ia akan masuk seorang pria muncul dari balik kamar. Wajah pria itu berbeda dengan pria yang di temui Heera di restoran. Heera dan pria itu terlihat cukup mesra karena setelah pintu terbuka pria itu langsung merangkul pundak Heera dengan mesra, namun yang paling tidak menyangka adalah usia pria itu sudah cukup tua, sekira nya sekitar 40-45 tahunan, meski wajah pria itu masih cukup tampan dan terlihat masih gagah.


" Heh... Memang dasar perempuan penggoda, setelah ini Alvan pasti akan meninggalkan mu. Awal nya aku ingin menyingkirkan mu tapi seperti nya kau telah memberi jalan lain untuk menyiksa mu secara perlahan, ini bahkan lebih seru lagi!" batin Elma tersenyum smirk, tidak lupa dia memotret setiap momen dari awal Heera akan masuk ke kamar hotel, kedatangan pria yang cukup tua itu hingga masuk kedalam kamar hotel berdua dengan pria itu.


****


Randi terlihat sedang mengalihkan perhatian monster ular tersebut, namun karena kepala nya yang banyak membuat monster itu dapat melihat apa yang sedang Aksa lakukan.


Monster itu menyeburkan racun dari mulut kepalanya yang pertama.


" Kak Ray awas!!"


Di antara semua orang mungkin Harraz yang akan merasa paling bahagia jika Aksa terbunuh.


Melihat pertarungan Aksa dan monster tersebut membuat mereka tidak menyadari ada keanehan dengan bola mata Arsya.


Mendengar teriakkan Arsya dengan cepat Aksa dapat menghindari serangan ular itu tepat waktu.


Bola mata Arsya dari yang berwarna merah berubah kembali menjadi warna hijau, mata nya menatap langsung pada salah satu mata ular tersebut. Kepala utama yang menatap kearah Arsya seketika langsung berperilaku aneh.


Ular itu menyeburkan racun nya pada kepala nya yang lain, pemandangan ini tentu mengejutkan orang-orang yang melihat nya. Aksa sendiri seketika menatap Arsya saat ular itu memperlihatkan perilaku yang aneh.


Aksa mengambil kesempatan ini dengan baik, dari tangan Aksa muncul bola api tanpa perlu mengucapkan mantra, ukuran bola api itu sangat kecil tidak lama satu bola api menjadi banyak dengan ukuran sekecil kelereng. Aksa melempar bola-bola api kecil itu tepat kearah mata monster ular tersebut, sedari tadi tidak ada yang memperhatikan apa yang Aksa lakukan, semua orang fokus pada monster ular yang sikap nya berubah sangat aneh.


" Randi Sekarang" seru Aksa pada pemuda yang membantu nya itu.


Mendengar seruan Aksa dia pun langsung mengeluarkan pistol yang di bawanya, dan menembak nya tepat pada kepala ular yang pertama.


Dor... Dor.... Dor


" Ssttss..." Monster itu mendesis kesakitan , mata mereka telah menjadi buta akibat serangan Aksa dan sekarang kepala utama telah terkena tembakan tepat di kepala nya meski tidak mati tetap saja kekuatan nya melemah.

__ADS_1


Pemuda yang di tangkap oleh ular raksasa itu terjatuh dan pingsan, Randi segera membawa pemuda itu ketempat yang aman.


__ADS_2