
***
" Baiklah pelatihan sudah selesai, kalian di berikan satu hari untuk beristirahat, hari berikut nya kalian akan memilih dan di pilih menjadi rekan seseorang, semoga beruntung... Apakah ada pertanyaan?" Ujar guru
" Pak, kenapa kami tidak di ajarkan teknik beladiri?" Tanya Elvira
" Pertanyaan yang bagus, teknik beladiri hanya akan di ajarkan oleh rekan kalian sendiri, apa yang dia miliki maka teknik beladiri itulah yang akan kalian pelajari!"
" Pak! jadi kita bisa menolak jika semisalnya rekan kita bukan orang yang kita mau?" Tanya Heera santai
" Itu bisa saja di lakukan, hanya saja saya menyarankan lebih baik jangan, akan sangat sulit mendapatkan seorang rekan, jika ada satu yang memilih kalian itu sudah menjadi suatu keberuntungan untuk kalian.."
" Ada pertanyaan lain?"
" Tidak ada pak..."
" Ok, kalau begitu sampa jumpa lagi, selamat beristirahat!!" Ucap nya sebelum meninggalkan lapangan.
" Ahkk... Akhir nya selesai juga, kaki ku rasa nya sudah mati rasa" keluh Naura
" Kaki dan betis ku bahkan sudah membengkak kayak kaki gajah" ucap Elvira mengerucut bibir nya dengan lesu.
" Bukan hanya kaki, tapi seluruh tubuh ku rasa nya sakit semua" keluh Valencia
" Benar, ini sakit" ucap Keysa yang terdengar seperti akan menangis
Naura, Elvira, Valencia, dan Keysa berbaring di lapangan, sedangkan Kyra, Arsya dan Heera hanya duduk saja.
Sudah banyak murid dan guru yang meninggalkan lapangan, sekarang hanya tersisa mereka bertujuh di tambah dua orang yaitu Darel dan Ezio yang berjalan mendekati mereka.
" Hah.. lelah sekali!" Seru Ezio ikut berbaring
" Kalian bertiga tidak merasa lelah?" Tanya Darel yang hanya duduk lesehan saja.
" Tidak!"
" Tentu saja lelah.."
Jawab Heera dan Kyra bersamaan
" Tapi kau terlihat tidak lelah sedikit pun Kyra sayang!" Seru Naura sinis
" Keluarga ku adalah salah satu bangsawan militer, karena itu keluarga ku selalu mendidik ku dengan keras, meski begitu pelatihan kali ini memang bisa di bilang lebih keras dari pelatihan yang di berikan ayah ku" jawab Kyra menjawab dengan jujur.
__ADS_1
" Oh, begitu.. Arsya dan Clara sendiri bagaimana!" Valencia
" Jika aku mengatakan dulu aku adalah gadis yang penakut dan pemalu apakah kalian akan percaya?" Ucap Heera santai, namun jelas ucapan nya itu memang benar
" Tentu saja tidak!" Seru Elvira sangat yakin
" Tapi itu kenyataan nya, namun sebuah tragedi mengubah segala nya dalam hidup ku, dulu aku pernah di culik, setelah kejadian itu ada seseorang yang mengajari ku hidup itu seperti rantai makanan, hanya bisa di mangsa atau memangsa. Karena itu aku harus jauh lebih kuat untuk dapat hidup dengan tenang dan melindungi apa yang ingin ku lindungi, bukan begitu Ara!" Ujar Heera terkenang semua kenangan nya bersama Arsya
" Oh, ternyata gadis aneh dan bar-bar seperti mu dulu nya adalah gadis yang begitu pemalu. Aku jadi penasaran bagaimana sikap pemalu mu dulu apakah terlihat imut atau jelek, tapi ku yakin kau pasti akan terlihat sangat jelek dengan air mata dan ingus yang terus saja keluar!" Terdengar suara seseorang yang mendekat, dia adalah Alvan dan ada yang lain nya juga. Nada suara Alvan jelas terdengar sedang mengejek Heera, juga sebagai ungkapan bahwa dia tidak mempercayai perkataan gadis itu.
" Kau cowok mesum, enak saja saat kecil aku tetap terlihat cantik, imut dan menawan, mungkin situasi itu terjadi pada diri mu sendiri, namun malah menuduh ku" ucap Heera sinis.
Mereka berdua memang seperti kucing dan tikus saat saling bertemu.
" Ah, mulai lagi" gumam Ivan
" Enak saja dari dalam kandungan aku itu sudah tampan dan berkarisma" ucap Alvan bangga
" Cih, sombong... Kak Rion dan Aksa yang lebih tampan dari mu saja diam saja!"
Jleb
Alvan yang tadi terlihat begitu bangga, langsung lesu saat Aksa dan Arion lah yang dibandingkan dengan nya, tentu saja itu sangat jauh berbeda.
" Sudahlah aku sedang malas berdebat dengan mu, ini ambillah.." ucap Alvan menyodorkan minuman
" Sianida.."
" Apa!! Kau ingin membunuh ku hah..."
" Ya ampun, aku sungguh tidak akan percaya jika kau dulu nya gadis yang pemalu, tentu saja itu air minum, mana berani aku meracuni gadis bar-bar seperti mu, yang ada meski mati kau tetap akan menghantui ku ihh.." ucap Alvan bergidik ketakutan.
" Tentu saja, tidak akan ku biarkan kau hidup dengan nyaman setelah meracuni ku.."
" Sudah, sudah sekarang minum saja, tidak perlu banyak bicara, tuh tenggorokan tidak kering apa mengoceh terus..." Tanpa peduli dengan ocehan Alvan, Heera pun meminum nya
" Arsya.."
" Kay..."
Arion dan Aksa memanggil dan menyodorkan air minum bersamaan. Membuat mereka kembali berperang dingin.
" Minumlah..." Sekali lagi mereka berkata secara bersamaan.
__ADS_1
Namun aneh nya Arsya masih menundukkan kepala nya, dan tidak menggubris perkataan kedua nya.
" Ara, tuh pangeran mu dan kuda jantan mu datang mengambilkan minuman untuk mu" ucap Heera sedikit mendelik menatap kedua orang itu.
" Enak saja siapa yang kuda jantan hah..." Kesal Arion menatap Heera dengan tajam.
" Aku tidak bilang, kau yang mengatakan nya sendiri.." jawab Heera acuh, yang membuat semua orang tertawa mendengar ucapan nya itu.
" Hahaha...." Semua orang tertawa melihat Arion yang terlihat begitu kesal, namun di antara mereka Valencia sedikit merasa kecewa, karena bukan ia yang di datangi oleh Arion, meski begitu ia tetap tersenyum menutup kesedihan nya itu.
Ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang di rasakan nya itu sekarang.
" Ara.." Heera menepuk pundak Arsya namun tak ada tanggapan dari nya membuat Heera berjongkok dan memastikan keadaan Arsya baik-baik saja.
" Enyahlah" suara Arsya terdengar parau dan dingin.
Deg
Jantung Arion dan Heera seakan berhenti mendengar suara dingin itu, mereka berdua pun saling menatap.
" Hey, Clara hanya ingin membantu, kenapa kau bersikap begitu kasar pada nya" ucap Alvan dengan nada tidak suka. Meski tahu Arsya di lindungi oleh dua orang yang paling menakutkan, tapi dia hanya merasa Arsya terlalu tidak tahu terima kasih.
" Diamm!! Lebih baik kau tutup mulut mu itu, atau aku akan menjahit nya" seru Heera kesal, tidak ada waktu untuk meladeni pria ini sekarang.
" Hey, are you okay? everything will be fine."
" Apa yang ku lupakan?" Tanya Arsya tiba-tiba dengan nada yang terdengar amat dingin.
" tidak ada yang kamu lupakan, sekarang tenang Ok, semua nya sudah baik-baik saja.." seru Arion sambil mengusap surai rambut Arsya dengan lembut.
" Menyingkir.." Arsya menyingkirkan tangan Heera dan Arion
" Hey, ada apa dengan Arsya, kenapa dia?" bisik Kenan pada Alvan.
" Entah, mungkin saja dia kerasukan jin penunggu lapangan ini" jawab Alvan asal namun ikut berbisik, melihat ekspresi Clara yang begitu serius ia tidak berani berbicara keras lagi.
" Kami bukan orang jahat, kami hanya..."
" Jangan mendekat!" Seru Arsya dengan posisi yang masih menunduk, Arion yang tadi ingin menyentuh Arsya menghentikan gerakan tangan nya.
" Kak ini gawat!! Wajah nya terdapat darah" ucap Heera pelan, namun masih dapat terdengar oleh Aksa dan yang lain nya.
Deg
__ADS_1
Mendengar ucapan Heera, Arion dapat menebak apa yang sedang terjadi pada adik nya itu, sekarang dia pasti sedang menahan rasa sakit yang begitu luar biasa, sedangkan dia tidak dapat melakukan apapun.
Bukan hanya Arion, Heera pun merasa tidak berguna di saat seperti ini, ia tidak dapat mengurangi derita yang di alami oleh sahabat nya itu.