
" kepala desa, apa kau tidak salah hanya menyajikan beberapa cemilan ini saja, ini semua juga sangat sederhana. apakah kau tidak tahu siapa tamu yang datang ke rumah kumuh mu ini... dia adalah tuan muda Harraz pemimpin baru keluarga bangsawan Davies dan dia juga yang akan menjadi penyelamat desa ini!" ucap nya dengan sombong, namun jelas ia sedang mencoba menjilat.
Harraz terlihat tidak senang mendengar perkataan pemuda itu, tapi ia sama sekali tidak menghentikan nya, sebenarnya hati nya sekarang sedang sangat senang saat pemuda itu memuji nya dan mengatakan dengan jelas identitas nya yang agung, namun ia tidak boleh memperlihatkan ekspresi senang nya itu, agar citra nya masih terlihat baik di mata orang lain.
" jangan asal bicara, saat ini aku hanyalah murid dari academy yang datang kemari untuk menjalankan tugas, jadi tidak perlu formalitas yang berlebihan." meskipun ia telah menyembunyikan dengan baik keburukan nya itu, tapi seseorang yang sudah terbiasa bersikap sombong dan angkuh akan sulit untuk menyembunyikan nya dengan rapih, seperti saat ini ia tetap menyelipkan beberapa kalimat yang menyatakan akan identitas nya.
" jadi anda adalah tuan muda Davies, maafkan atas kesalahan pria tua ini. namun beberapa minggu ini desa kami selalu mengalami banyak musibah salah satu nya panen kami yang gagal, sehingga tidak bisa menjamu para penyelamat dengan baik. tapi jika memang kali ini kalian bisa menyelematkan desa kami yang selalu di teror oleh monster mengerikan itu, tentu nya saya sebagai kepala desa tidak hanya akan berterimakasih kepada mu tapi juga akan menjamu dengan meriah" meski perkataan nya terdengar ramah namun orang cerdas akan langsung dapat mengerti dengan sangat jelas, bahwa yang ia katakan sebenarnya adalah, 'kau masih belum melakukan tugas apapun jadi jangan berharap kami menyambut nya dengan meriah'
Harraz itu bodoh, kelebihan nya hanya satu ia di besarkan di lingkungan orang-orang kelas atas sehingga ia dapat mengerti apa yang di katakan oleh kepala desa adalah sebuah sindiran tidak langsung untuk nya.
Namun pemuda bodoh itu bukan nya berhenti malah berbicara kembali yang membuat Harraz tambah marah.
" Baguslah jika kau mengerti sekarang" ucap nya dengan bangga, ia menatap Harraz seakan sedang menunggu pujian dari nya, tapi yang ia dapat malah tatapan tajam dari nya, membuat nyali nya langsung menciut seketika.
" Aku sudah tua tidak mungkin bisa menerima kebaikan yang begitu besar dari tuan muda Davies" ucap kepala desa
Dia telah menjalankan desa ini sejak muda pengalaman yang di miliki nya tentu saja tidak sedikit, menghadapi seorang tuan muda yang sombong mudah saja bagi nya.
Seorang bocah yang baru melihat dunia ingin melawan nya, tunggu sampai dia melihat kejam nya dunia baru kembali melawan nya.
" Kepala desa terlalu sungkan" ucapnya tersenyum kaku.
__ADS_1
" Kalian seharusnya tahu bukan peraturan di desa ini, dimana laki-laki dan perempuan tidak boleh melakukan kontak fisik jika bukan pasangan suami-istri, sebagai tuan muda bangsawan Davies tentu mengetahui nya bukan." Ucap kepala desa sambil melirik Harraz dan kekasih nya dengan tidak senang.
" aku mengerti pak, maafkan kelancangan kekasih ku, dia tidak tahu akan peraturan di tempat ini" ucap nya tersenyum paksa sambil melepaskan tautan manja dari kekasih nya.
" Baguslah, meski dia kekasih mu tapi ini bukan di kota di mana semua tidak memiliki aturan."
" Kirana!" Seru nya dengan kencang sampai seorang gadis berusia sekitar 20 tahunan berjalan mendekat.
" Iya, ada apa kek" jawab gadis itu dengan sopan.
" Bawa tamu wanita kita ke tempat peristirahatan para wanita, kakek akan membawa tamu lain nya ke tempat peristirahatan pria" ujar nya pada gadis itu yang di angguki oleh nya.
" Baik kek.. mari mbak, ikut saya!"
" Ini tempat orang lain, jangan bertindak sembarangan" tegur Harraz saat mendapati mata kepala desa yang sedari tadi menatap nya dengan tajam.
" Huh.." dengan terpaksa dia pun mengikuti gadis bernama Kirana itu dengan marah.
***
Di perjalanan menuju tempat peristirahatan mereka telah dijelaskan bagaimana peraturan yang ada di desa tersebut. Peraturan yang ada di desa ini sudah ada dari dulu sejak desa ini di bangun.
__ADS_1
Peraturan yang paling penting yang terdapat di desa tersebut adalah peraturan akan sikap seorang wanita pada seorang pria.
Peraturan itu hanya seputaran seorang wanita harus menundukkan kepala nya saat bertemu dengan lawan jenis, pria dan wanita yang masih lajang di larang berjalan bersama apa lagi bergandengan tangan di depan umum, bahkan melakukan sedikit kontak fisik saja tidak di perkenankan, para wanita harus selalu tunduk akan perintah pria karena pria adalah seorang pemimpin, hanya mereka yang sudah terikat dengan janji suci pernikahan saja yang boleh berjalan bersama dan melakukan segala nya dengan pasangan namun juga harus sewajarnya saja tidak perlu terlalu mengumbar kemesraan.
Di dengar dari mana pun jelas peraturan ini lebih menguntungkan kaum Adam dibandingkan kaum hawa, peraturan ini malah terkesan membuat kaum hawa hanyalah sebuah boneka yang tidak bisa mengeluarkan pendapat nya sendiri.
" Peraturan dari mana itu, bagaimana bisa aku di perlakukan seperti ini, jika itu perempuan lain itu terserah saja, tapi diri ku tidak mungkin mematuhi perintah yang begitu memuakkan, hanya aku yang bisa memerintah bukan di perintah" ucap kekasih Harraz, Selly. dengan sombong dan angkuh.
" Sstts.... Mbak jangan bicara seperti itu, jika kita tidak mematuhi nya, kita akan mendapatkan hukuman yang berat" ucap Kirana dengan pelan.
" Hukuman apa yang akan wanita itu terima jika melanggarnya?" Tanya Arsya yang sedari tadi diam menjadi pendengar yang baik.
" Jika wanita dan pria ketahuan berduaan mereka berdua akan langsung dinikahkan di tempat itu juga setelah itu di usir dari desa ini tanpa bisa membawa satupun barang, atau ada juga yang di arak-arak ke seluruh desa dengan keadaan telanjang, karena itu sebagai wanita kami sangat menjaga diri sendiri agar tidak melanggar aturan, kebanyakan wanita yang pernah mengalami hukuman akan memilih bunuh diri dibandingkan harga diri nya hancur." Ujar nya dengan sedih
Perkataan nya itu membuat Selly merinding, dia adalah wanita yang terhormat di tubuh nya mengalir darah bangsawan, mana mungkin ia mau di arak seperti itu, apa lagi di telanjangi.
" Kita sudah sampai, kalian bisa memilih kamar mana saja yang ingin digunakan." Ujar nya setelah tiba di sebuah rumah yang terlihat sederhana tapi tetap nyaman untuk di tinggali.
" Oke, terima kasih" ucap Arsya dengan tulus.
" Sama-sama, kalau begitu aku pamit undur diri"
__ADS_1
" Hmm..."