
****
Tok tok tok
Alvan mengetuk asrama tempat Arsya tinggal dengan cukup keras, untung nya tempat itu sedang sepi.
Krieet
Pintu asrama terbuka tapi bukan Arsya atau Heera yang membuka nya melainkan Valencia.
" Alvan? Ada apa kau kemari? Jika tujuan mu mencari Clara, dia sudah lama pergi!" Ujar Valencia mengernyitkan kening nya saat melihat wajah sang tamu.
" Di mana Arsya?" Alvan langsung menanyakan tujuan nya datang ke sana tanpa berbasa-basi lagi dengan Valencia.
" Kau kemari mencari Arsya?" Tanya Valencia mencoba untuk memastikan takut nya pendengaran nya itu salah.
" Ya, di mana dia?"
" Arsya tidak ada, dia sedang menjalankan misi dengan Aksa apakah kau tidak tahu itu?"
" menjalankan Misi dengan Aksa?"
" Ya, bukankah kau teman nya Aksa, kenapa kau tidak mengetahui nya."
" Aksa adalah pemuda yang dingin dan sangat tertutup, dia tidak akan pernah mengatakan tentang misi nya pada teman-teman nya. Sudahlah, jika dia sudah kembali katakan aku mencari nya!"
" Arsya kemungkinan akan pergi sangat lama, memang nya apa tujuan mu datang mencari dia?"
" Apa lagi, apa kau belum mendengar gosip di luar sana, mereka mengatakan hal-hal buruk tentang Clara dan semua itu di sebabkan oleh Arsya, gadis itu terlihat lugu dan polos tapi ternyata sangat licik, dia bahkan berani memfitnah teman nya yang sudah begitu baik pada nya...."
" Ada apa ini?" Suara seseorang yang datang dari luar menghentikan ucapan Alvan
Di belakang Alvan sudah ada Clara yang menatap kedua nya dengan heran.
__ADS_1
Ia baru saja melampiaskan kekesalan nya itu dan pulang untuk menenangkan diri, tapi siapa tahu pemuda yang tidak ingin ia temui untuk sementara waktu dan juga yang menjadi sumber masalah nya malah ada di depan asrama nya sekarang ini.
" Alvan kemari ingin mencari Arsya, Clar" ujar Valencia, meski ia tidak tahu apa yang pemuda ini maksudkan, tapi ia sedikit paham bahwa rumor yang beredar di luar sana ternyata di sebarkan oleh Arsya. Tapi ia juga tidak ingin berburuk sangka, entah itu benar atau tidak, tidak ada yang tahu, namun jika itu memang benar ia tidak tahu betapa kecewa nya Clara, dan ia juga akan sangat kecewa pada Arsya, apa lagi setelah melihat kejadian semalam, yang membuat hati nya merasa sedih sampai sekarang.
" Mencari Arsya? Untuk apa kau mencari nya!" Tentu nya Heera tidak paham untuk apa Alvan mencari Arsya, atau apakah Alvan sudah tahu desain senjata yang mereka selesaikan, di desain oleh Arsya sendiri, tapi itu tidak mungkin.
" Aku tahu kau marah, aku juga tidak menyangka Arsya yang terlihat lugu dan polos begitu licik, dia bahkan menyebarkan rumor yang begitu tidak enak di dengar tentang mu" ucap Alvan hati-hati
" Alvan masuklah kedalam!" Seru Heera, suara yang tadi masih sedikit santai berubah sangat dingin setelah tahu apa tujuan pria ini datang mencari Arsya, tanpa menunggu tanggapan pemuda itu Heera masuk lebih dulu.
Sedari tadi mereka memang sedang berbicara di depan pintu.
Tanpa membantah Alvan pun masuk kedalam di ikuti Valencia di belakang nya.
" Clar, aku tahu kau pasti sedih dan juga marah mendengar rumor itu, apa lagi.. yang menyebarkan nya adalah Arsya.."
Plak
Saat marah Heera terlihat sangat menakutkan.
" Clar, are you okay?" Tanya Valencia yang langsung mendekati nya.
" Clara, kenapa kau menamparku?" Jelas Alvan tidak mengerti dengan tindakan Clara yang begitu mengejutkan nya.
" aku juga ingin bertanya pada mu, apa kau pikir aku marah karena masalah rumor itu."
" Ya, jika tidak, memang nya apa lagi?"
" Bodoh, kau dan keluarga mu itu memang bodoh!"
" Apa kau pikir hanya dengan rumor konyol itu aku akan mempercayai nya. Apa lagi katanya yang menyebarkan rumor itu adalah Arsya, apa kau tahu jika semua orang bilang yang menyebarkan rumor itu adalah kau, aku mungkin akan langsung mempercayai, tapi jika itu Arsya sampai kapanpun aku tidak akan pernah mempercayai nya. Di dunia ini satu-satu nya orang yang tidak akan mengkhianati ku adalah Arsya, camkan itu!"
" Jika bukan karena Arsya, lalu apa yang membuat mu marah?" Tamparan Heera begitu keras sampai membuat pipi nya panas, meski begitu Alvan masih ingin tahu apa yang membuat gadis ini sangat melihat nya.
__ADS_1
" Jika kau ingin tahu kenapa tidak kau tanyakan saja pada tunangan tercinta mu dan juga nenek mu itu." Sindir Heera dengan nada sinis, setelah mengatakan itu Heera langsung pergi ke kamar nya tanpa menunggu tanggapan dari Alvan.
BAM!
Heera membanting pintu dengan keras mengejutkan Alvan dan Valencia.
" Apa!"
" Apa hubungan kemarahan nya dengan Elma, dan kenapa membawa nenek juga" gumam Alvan bingung.
" Sebaiknya kau pergi dari sini, Clara sudah masuk ke kamar nya dengan marah" ucap Valencia bermaksud mengusir pemuda ini segera dengan lembut.
***
Aksa dan Arsya baru saja sampai di sebuah desa, di depan nya terdapat sebuah gerbang kecil yang terbuat dari kayu terdapat tanaman merambat yang menghiasi pagar tersebut, di atas nya sebuah tulisan besar terpampang dengan cukup baik 'desa Reine.' kalimat itulah yang terdapat di atas gerbang.
" Desa Reine. Zaman sudah berubah namun desa ini masih menerapkan tradisi dan aturan lama. Suasana di desa ini pun masih sangat kuno!" Seru Aksa.
" Aturan lama?" Tanya Arsya tidak mengerti dengan maksud perkataan nya tersebut.
" Ya, aturan lama. Dimana pria dan wanita di larang berjalan berdampingan tanpa ikatan suami istri, di desa ini aturan pria dan wanita masih sama seperti dulu." Jelas Aksa singkat, yang langsung di mengerti oleh Arsya.
Bisa dikatakan juga desa ini menerapkan aturan dimana status pria lebih tinggi dari wanita, dan status seorang wanita hanya sebagai seseorang yang harus tunduk pada pria.
Saat mereka sedang mengobrol sebuah mobil yang membawa Harraz dan yang lain nya baru saja tiba.
Harraz dan kekasih nya sangat kesal saat melihat ternyata Aksa dan Arsya telah sampai lebih dulu dari mereka, sedangkan diri nya sendiri harus berdiri di terik nya matahari karena ban mobil yang bocor.
" Bagaimana kalian bisa sampai lebih dulu dari kami?" Tanya seseorang yang baru saja turun dari mobil.
" Pertanyaan macam apa itu, seharusnya kau bertanya dari mana dia mencuri motor itu" ujar seseorang sambil menunjuk motor yang di kendaraan oleh Aksa.
" Teman-teman sudahlah, saudara ku ini tidak mungkin mencuri, mungkin ada orang baik yang telah meminjamkan nya kendaraan" ujar Harraz mencoba melerai meski perkataan nya itu mengarah pada hal sebaliknya, ia seakan sedang membela Aksa tapi sebenarnya sedang menghina nya, tidak mungkin Aksa mendapatkan kendaraan begitu saja, apa lagi di tempat yang sepi dan jarang di lewati orang.
__ADS_1