Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
114. Arti Bunga Higanbana


__ADS_3

****


Di hutan belakang gedung academy Blue Ocean.


Arsya dan yang lain nya sedang berada di sana, mereka memutuskan untuk membicarakan masalah tersebut di dalam hutan yang menurut Kyra lebih aman karena jarang ada murid yang berani masuk ke hutan tersebut.


" Oke, sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Apa hubungan Clara dengan pria hidung belang itu? Untuk apa dia berada di hotel bersama nya? Dan kenapa pria itu bisa terbunuh tepat setelah Clara terlihat bersama nya? Dan yang lebih penting apa hubungan mu dengan semua peristiwa ini?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari Alvan hanya dengan satu kali helaan napas.


" Aku tidak akan menjawab nya" balas Arsya dengan tenang.


" Apa? Bukankah kau yang mengatakan sendiri akan menjelaskan nya pada ku, maksud ku pada kami semua.." ucap Alvan meraung marah menatap Arsya dengan nyalang, jika saja Arsya bukan wanita sudah sedari tadi dia memukul nya.


" Tuan muda Alvan kau sungguh aneh, yang pertama untuk apa aku menjelaskan nya pada mu, kedua apa hubungan mu dengan Clara sampai aku harus menjelaskan nya, ketiga masalah ini di mulai karena mu dan tunangan badut mu itu, apa hubungan nya dengan ku... Dan sebaiknya kau urus tunangan mu itu dengan baik" sahut Arsya sambil menatap Alvan dengan sinis.


Setiap kalimat Arsya begitu mengena ke dalam hati nya, membuat Alvan sendiri terdiam dan tidak bisa membalas nya.


Sedari tadi hanya suara Arsya dan Alvan yang terdengar di hutan itu, sedang yang lain nya hanya diam mendengarkan tanpa berniat menyela.


Aura di tempat itu nampak begitu suram karena aura Arsya dan Alvan yang saling beradu.


" Ekhem... Arsya bukankah kamu pulang bersama Aksa, kemana dia sekarang?" Tanya Arion yang mencoba mencairkan suasana.


" Dia pergi, ada urusan mendesak yang harus dia urus" jawab nya dengan tenang.


" O oh begitu..."


" Arsya, kita di sini untuk membahas masalah Clara, kami mungkin hanya teman-teman nya, tapi sebaiknya kau menjelaskan inti permasalahan nya agar kami dapat membantu jika di perlukan" Ivan lah yang mengatakan itu dengan ekspresi acuh dan cuek nya, tapi dia mengatakan itu dengan tulus.


Arsya terdiam dan mempertimbangkan perkataan mereka sebelum berucap " apa kalian percaya dengan rumor itu?"


" Tentu saja tidak, kami yakin Clara tidak mungkin melakukan itu" ucap Valencia dengan yakin, yang juga di angguki oleh yang lain nya.


" Kalo gitu, itu saja sudah cukup."


" Apa??"

__ADS_1


" Kalian hanya harus tahu rumor itu tidak benar, sedangkan yang lain nya kalian tidak perlu tahu" ucap Arsya serius dan dengan wajah datar nya, nada suara nya pun terdengar sangat dingin.


" Aku akan menceritakan semua nya saat kalian sudah tahu siapa itu Clara. Menceritakan nya sekarang tidak akan berguna untuk kalian." lanjut nya


Setelah itu dia berjalan dan pergi dari hadapan mereka, ia berhenti sejenak sebelum mengatakan.


" Alvan... Sebaiknya kau selesaikan masalah mu dengan tunangan mu itu lebih dulu, sebelum berniat mengejar Clara"


Arsya menghilang dari tempat itu setelah selesai mengatakan nya, ia benar-benar menghilang seakan dia tidak pernah ada di tempat itu.


" A-apa kalian memikirkan hal yang sama seperti ku" ucap Elvira terbata-bata.


" Arsya bisa menghilang.."


Semua nya menjadi terkejut akan apa yang terjadi, mereka bahkan tidak percaya dengan penglihatan mereka sendiri.


" Dia memiliki kemampuan teleportation" ucap Valencia tenang, tapi tidak dengan batin nya.


Jika memang Arsya memiliki kemampuan istimewa lain selain dapat mengendalikan elemen air, lalu mengapa batu pengujian saat itu tidak dapat mendeteksi nya.


" Ku harap kalian dapat menyembunyikan kemampuan Arsya ini dari orang lain" ucap Arion tiba-tiba mengejutkan mereka.


" Jadi kau sudah mengetahui nya lebih dulu?" Tanya Valencia terdapat nada sedikit tidak senang tanpa ia sadari.


" Ya, untuk alasan nya suatu saat nanti kalian akan mengetahui nya!"


Menurut mereka Arion begitu sama seperti Arsya, selalu mengatakan hal yang membuat orang lain bingung dan bertanya-tanya, padahal bukankah akan lebih mudah jika mengatakan nya dengan jujur.


" Saat Arsya telah mempercayai kalian sepenuhnya" ia melanjutkan ucapan nya itu di batin nya, tapi jelas Keysa dapat mendengar suara hati nya itu, tapi dia hanya diam saja.


Sedari tadi hanya Alvan yang terdiam mematung tanpa mempedulikan reaksi semua orang pada kemampuan Arsya.


****


Arsya sekarang sudah berada di kamar asrama nya, ia mengeluarkan ponsel nya dan menelpon Heera.

__ADS_1


Tuut tuuut


Sudah panggilan kelima tapi gadis itu tidak juga mengangkat panggilan nya, hal itu membuatnya cemas. Dia yakin terjadi sesuatu sampai membuat Heera tari begitu terburu-buru, serta tidak seperti biasa nya Heera mengabaikan panggilan nya.


" Aku akan menelpon nya nanti, lebih baik sekarang aku tidur. Aku sungguh sangat mengantuk sekali..." Gumam Arsya yang beberapa kali menguap.


Tidak lama dia langsung terlelap, bahkan suara dering dari ponsel nya tidak terdengar olehnya, mungkin dia sedang sangat lelah sampai membuat nya begitu terlelap.


*****


Di sebuah tempat yang gelap dan sunyi tiba-tiba muncul cahaya yang menyilaukan mata. Bersamaan dengan muncul nya cahaya tersebut, tanah yang di pijak berubah menjadi berair.


Sebuah bunga Higanbana muncul di tengah-tengah dan tersoroti oleh cahaya tersebut.


" genangan air? tapi mengapa di sini bisa tumbuh bunga Higanbana?" gumam Arsya dengan bingung.



Higanbana adalah bunga berwarna merah terang yang memiliki bentuk yang unik, bukan hanya bentuk nya saja yang unik, tapi bunga ini juga memiliki arti yang begitu memilukan, bunga ini bisa diartikan sebagai kematian atau sebuah perpisahan. Namun bunga ini tumbuh liar di darat, tapi berbeda dengan yang di lihat nya sekarang yang tumbuh di permukaan air, bahkan bunga ini hanya ada satu dan ukuran nya pun lebih besar dari seharusnya.


Arsya berjalan mendekati bunga tersebut dengan perlahan tapi pasti, suara langkah kaki nya menggema di tempat itu.


Saat ia akan meraih bunga tersebut tiba-tiba api menyelimuti seluruh bunga dan membakar nya, melihat itu tanpa sadar Arsya melangkah mundur.


Ia terpaku melihat bunga tersebut terbakar dan di selimuti oleh api, tubuh nya seakan ada yang mengendalikan meski dia berniat memadamkan api itu tapi tubuh nya terpaku di tempat tanpa bisa berbuat apa-apa.


Tempat itu berubah menjadi gelap dan hanya ada cahaya dari api yang membakar bunga Higanbana saja yang menjadi penerang.


Arsya sendiri yakin dia hanya sendiri di tempat yang tidak dia kenal itu, karena dia sama sekali tidak dapat merasakan aura kehidupan sedikitpun dari makhluk lain nya selain dirinya sendiri.


Bunga Higanbana yang terbakar oleh api, tapi tidak hangus oleh api atau api itu yang padam oleh air, ia sendiri tidak mengerti mengapa dia ada di tempat ini dan melihat semua itu.


Saat dia akan berbalik rasa nya penglihatan nya menjadi kabur dan pemandangan di sekitar nya berubah gelap.


Arsya bangun dari mimpi nya dengan wajah yang penuh dengan keringat seakan dia baru saja berada di tengah kobaran api.

__ADS_1


Meski tidak mengerti mengapa ia memimpikan hal itu, dia masih beranjak dari tempat tidur nya dan masuk ke kamar mandi dengan tenang dan santai seakan mimpi tadi tidak pernah hadir.


__ADS_2