Arsksa : Love And Magic

Arsksa : Love And Magic
96. Pernikahan Kilat


__ADS_3

Tentu nya Aksa dan Arsya sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar, mereka tidak melakukan perbuatan yang melanggar aturan, tapi harus di paksa untuk menikah.


Bukan hanya Aksa dan Arsya tapi sebenarnya Harraz pun cukup terkejut, sebenarnya dia hanya ingin membalas dendam dan membuat nama Aksa dan gadis cupu itu malu di hadapan kepala desa dan para warga lain nya, tapi hasil nya malah lebih luar biasa lagi. Jika ayah nya tahu Aksa menikah dengan seorang gadis yang jelek dan miskin mungkin ayah nya akan semakin membenci Aksa. Seluruh tetua keluarga Davies tidak akan mendukung mempunyai pewaris yang pasangan nya hanya dari kalangan bawah, hal ini juga yang membuat nya senang karena ini ia sudah bisa memastikan tidak akan ada satupun tetua yang akan mendukung Aksa.


" Aksa, apa yang kepala desa katakan benar. Kau harus bertanggung jawab atas masalah yang kau buat ini!"


" Benar, jika kalian masih tahu malu menikahlah!" Seru para warga lain


" Jack cepat siapkan berkas-berkas untuk menikahkan mereka berdua." Perintah kepala desa pada salah satu warga.


" Baik kepala desa."


Tidak lama dia kembali sambil membawa beberapa lembar kertas di tangan nya, ia pun memberikan berkas itu pada kepala desa.


" Sekarang kalian tanda tangani berkas ini, setelah ini kalian akan menjadi suami istri yang sah dan bisa melakukan apapun yang kalian inginkan" ucap kelapa desa sambil menyodorkan berkas itu pada Aksa.


Aksa menghela nafas nya panjang, ia tidak langsung mengambil berkas tersebut tapi menatap wajah pucat Arsya.


" Kay bagaimana menurut mu?"


" Aku serahkan semua keputusan nya pada kak Ray" ucap nya dengan lemah.


" Sudahlah pak, jika mereka tidak mau menandatangani nya, beri saja mereka hukuman cambuk seratus kali, lalu arak mereka keliling desa tanpa pakaian, setelah itu usir dari desa ini! biarkan kedua tahu apa itu rasa malu."


" Benar, benar."


Suasana yang tadi tenang kembali riuh, dan seperti nya orang itu sengaja memprovokasi keadaan agar semakin memanas.


Aksa untuk sejenak hanya terdiam, dia memikirkan nya dengan matang. Ia tentu saja ingin menikah dengan Arsya dan menjadikan gadis itu satu-satu nya milik nya, namun ia juga memikirkan bagaimana jika gadis yang di cintai nya terluka akibat pilihan nya ini.


" Aksa apa kau akan pergi dari tanggung jawab mu ini, ternyata kau sama saja dengan ibu mu yang ****** itu, kau hanya anak haram jadi tentu nya akan mendapatkan perempuan ****** seperti ibu mu, jadi tidak perlu banyak berpikir" ejek kekasih Harraz, Selly dengan nada sinis.

__ADS_1


" Baik, kami akan menandatangani dokumen itu" ucap nya mengambil berkas yang berada di tangan kepala desa dan segera menandatangani nya, ia pun memberikan berkas itu pada Arsya untuk meminta nya ikut menandatangani nya.


Meski tubuh Arsya masih sangat lemas tapi hanya untuk sebuah tanda tangan saja ia masih sanggup karena ia hanya sedang tidak sehat saja bukan lumpuh.


Aksa pun memberikan dokumen itu pada kepala desa kembali.


" Baik karena kalian sudah mendatangi surat pernyataan kalian sudah menikah! kami akan meninggalkan kalian berdua sekarang. Namun ini di desa ku, mohon kalian berpikir lebih dulu sebelum melakukan hal yang tidak senonoh" ucap kepala desa dengan tajam.


***


Setelah kembali dari asrama perempuan, Alvan sekarang sedang duduk di salah satu cafe, rasa panas masih ia rasakan di pipi nya.


" Tamparan Clara sungguh sangat mematikan" gumam Alvan sambil menyeka darah yang ada di ujung bibir nya.


" Namun apa maksud perkataan nya itu."


Ia masih ingat apa yang membuat Clara marah dan itu ada hubungan nya dengan Elma tapi apa maksud nya dengan keluarga nya.


Ia langsung pergi dari sana tanpa peduli tatapan-tatapan orang-orang yang melihat nya aneh.


***


Setelah kepergian seluruh warga desa Aksa dan Arsya hanya terdiam tanpa ada yang berbicara.


" Aksa selamat ya, sebagai saudara mu aku ikut senang atas pernikahan kalian berdua ini. Kalian tampak serasi saat bersama" ucap Harraz tersenyum tapi jelas ia sedang mengejek masih buruk Aksa.


" Benar, kalian sangat serasi. Yang satu anak haram satu nya lagi perempuan ****** yang sok suci dan sok lugu. Sungguh kalian pasangan yang sempurna." Sindir Selly dengan nada sinis dan tak kalah tajam.


Harraz dan Selly memang tidak langsung pergi, keduanya masih berada di sana ingin mengucapkan selamat pada pasangan baru tersebut, namun dibandingkan memberi selamat keduanya lebih seperti ingin mengejek Aksa, dan Aksa menyadari hal itu, hanya saja untuk saat ini ia mencoba untuk masih menolerir sikap kedua nya.


" Baiklah lebih baik kita pergi dari sini saja, sayang. jangan menganggu saudara ku yang ingin bersenang-senang dengan istri baru nya." Ejek Harraz.

__ADS_1


Aksa segera mengunci pintu kamar nya setelah kepergian semua orang.


" Uhuk-uhuk" suara Arsya langsung menyadarkan nya dari lamunan, cepat-cepat ia mengambil minum dan membantu Arsya dengan pelan.


" Terima kasih" ucap Arsya.


" Apa kau tidak marah?" Tanya Aksa dengan gugup.


" Marah? Untuk?" Arsya malah bertanya balik dengan wajah yang datar membuat Aksa semakin gugup.


" Aku membuat keputusan untuk menikahi mu tanpa mempedulikan kau setuju atau tidak." Ucap nya dengan menundukkan kepala nya tanpa berani menatap langsung pada mata Arsya, sikap nya sekarang seperti anak kecil yang ingin di belikan permen, sungguh sangat menggemaskan.


" Ini semua sudah terjadi, lagi pula bukankah aku sudah bilang sebelum nya aku menyerahkan keputusan nya pada mu, dan sekarang sebagai istri, aku akan menyerahkan kehidupan ku selanjutnya di tangan mu, tolong jangan kecewakan aku yang kak" ucap Arsya tersenyum manis, Aksa yang melihat senyuman itupun ikut tersenyum.


" Terima kasih sudah mau menerima pria yang memiliki banyak kekurangan seperti ku ini sebagai suami mu" ucap Aksa sambil memeluk tubuh Arsya dengan erat.


Astaga! Jika Aksa sendiri pria yang paras nya seperti dewa Yunani dengan segala kelebihan nya masih mengatakan memiliki banyak kekurangan, lalu apa kabar dengan orang yang jauh dari kata sempurna.


" Stsss..." Arsya meringis kesakitan saat perut nya kembali terasa kram, bahkan rasa nya lebih sakit dari sebelumnya. Seakan perut nya di cabik-cabik oleh ribuan belati.


" Kay, ada apa? Mana yang sakit?" Alsa dengan cemas memeriksa kondisi Arsya, tapi ia tidak menemukan penyakit apapun, ini membuat nya tambah panik.


" Tenanglah, tamu ku sedang datang"


" Tamu? Siapa tamu mu, berani sekali dia membuat mu kesakitan" dengan bodoh nya Aksa mengucapkan pertanyaan yang absurd.


" Kak Ray, bukan tamu yang seperti yang kau pikirkan" Arsya sangat kesal dan merasa gemas secara bersamaan dengan pria ini, mana mungkin ia mengatakan dengan gamblang bahwa ia sedang PMS pada pria ini, meski ia selalu bersikap dingin dan datar tetap saja ia akan merasa malu.


" Apa maksud mu sih Kay, aku tidak mengerti, katakan langsung saja siapa yang membuat mu kesakitan seperti ini."


" Aku sedang datang bulan" ucap Arsya cepat dan pelan sambil memejamkan mata nya menahan malu, meski pelan namun masih dapat Aksa dengar.

__ADS_1


Ia langsung mengerti apa yang membuat gadis ini kesakitan.


__ADS_2